LENTERA

LENTERA
part 23


__ADS_3

Happy Reading


_______________________________


Gibran menghampiri Varka yang kini tengah berlatih memainkan gitar di kamarnya, untuk acara tahunan sekolah akan dilaksanakan Nanti malam. Sejak pagi pun sudah banyak sekali acara yang diadakan, mulai dari bajar, perlombaan, serta banyak sekali tempat yang bisa kita gunakan untuk berfoto.


"Lo mau nyanyi ntar?" Tanya Gibran bersandar di pintu kamar Varka


"Soalnya Helsha daftarin Lo" lanjutnya


"Iya" jawab Varka langsung menghentikan permainan gitarnya


"Emang Lo bisa nyanyi?"


"Engga kok, suara gue jelek banget malah. Gue cuma pengen bikin Helsha bahagia aja"


Gibran tertawa meremehkan


"Gak usah tampil deh, nanti Helsha kecewa Ngeliat nya" ucap Gibran


"Lo sengaja ya ngomong gitu? Lo pengen gue down dan gak percaya diri?" Tanya Varka menatap Gibran


"Hahaha... Sensi banget sih Lo, gue bercanda"


"Candaan Lo Asik banget Kak" sindir Varka


Gibran menggedigkan bahunya acuh, toh dia hanya ingin mengingatkan adiknya agar nanti tidak membuat dirinya sendiri malu.


"Kalo Lo udah tampil, temuin gue di kelas ya, ada yang mau gue omongin" ucap Gibran lalu berlalu pergi.


Entah apa yang akan dikatakan kakaknya itu kepadanya, tapi semoga saja itu bukanlah hal yang akan menyakitinya.


Sekarang sudah pukul tujuh malam tapi Varka belum juga berangkat, ia masih Bingung harus mengenakan pakaian yang mana. Masalahnya tidak ada baju yang sekiranya cocok untuk dipakai malam ini ke sekolah, temanya adalah Black and White. Varka menghela napasnya bingung, siswa laki-laki yang lain pasti mengenakan setelan jas berwarna hitam.


"Aduh... Jas aku kan udah kecil mana muat. Gimana coba? Masa pake kemeja aja" keluh Varka menatap jas yang ukurannya sudah kekecilan


Tok... Tok...


Varka langsung berjalan kearah pintu saat ada yang mengetuk, rasanya kak Gibran sudah berangkat tadi. Lalu siapa yang datang ke kamarnya? Karena selama ini hanya Gibran yang sering sekali datang ke kamarnya walaupun hanya untuk mengoceh tidak jelas.


Varka sedikit tersentak saat melihat yang kini berada dihadapannya adalah Juna, Papanya.


"Pa__pa..," ucap Varka


"Ini, kebetulan Tadi papa beli buat Kak Gibran jadi sekalian beliin buat kamu juga" ucap Juna menyodorkan sebuah kotak


"Ini apa Pa?" Tanya Varka menerimanya


"Semoga aja Cukup dikamu, papah gak terlalu tau ukuran kamu. Yaudah Papa pergi dulu" ucap Juna langsung pergi begitu saja


Varka duduk disofa kamarnya, kemudian membuka kotak yang diberikan Juna, lengkung indah langsung terpatri diwajah Varka. Bagaimana tidak, isi dari kotak yang diberikan Juna adalah Setelan Jas lengkap dengan celana dan kemeja serta Dasinya. Baru kali ini Juna memberikan Varka hadiah seperti ini.


Demi apa? Juna memberikannya sebuah hadiah? Hal yang begitu jarang bahkan tidak pernah Varka dapatkan.


Varka menghapus pelan air mata yang hampir jatuh, rasanya bahagia sekali melihat Juna yang akhir-akhir ini sudah tidak memarahi nya dan mulai sedikit peduli terhadapnya. Semoga saja yang dilakukan oleh Juna bukan kepura-puraan semata.


Varka langsung bergegas mengganti pakaiannya agar bisa langsung berangkat ke sekolah, malam ini ia tidak perlu menjemput Helsha karena perempuan itu bilang akan berangkat lebih dulu bersama Nadia.


____


Acara festival musik sebentar lagi akan dimulai, jika tidak salah rasanya baru kemaren Varka masuk SMA, tapi sekarang ia sudah akan naik ke kelas sebelas.


Oh iya, kalian tidak lupa kan dengan acara tahunan ini? Ya malam ini untuk pertama kalinya Varka akan menampilkan kemampuannya didepan banyak orang karena permintaan Helsha. Kalau saja perempuan itu tidak memintanya untuk tampil Varka pasti tidak tertarik.


Kerumunan para siswa yang sudah datang mulai memenuhi lapangan yang digunakan untuk acara ini. Beberapa siswa yang akan menampilkan bakat mereka juga sudah bersiap-siap didekat panggung, termasuk Varka


Disana Varka juga sedang sibuk memainkan gitarnya dengan Begitu pelan untuk menghafal kunci-kunci dari lagu yang akan ia nyanyikan.


"Fokus banget yang mau tampil..." Ucap Helsha yang tiba-tiba sudah berada dihadapan Varka.


"Mau nyanyi lagu apa emang?" Tanya Helsha kemudian duduk dikursi yang kosong


"Rahasia wleee..." Ucap Varka


"Eh iya Lupa...."


"Pokoknya spesial.."


"Iya, Pokoknya nanti Helsha bakalan berdiri paling depan buat liat Varka. Semangat ya!!"


"Iya Sha... pasti"


"Nih... Biar suaranya gak kering" ucap Helsha menyodorkan sebotol minuman yang sudah ia persiapkan


Varka tersenyum lalu menerima botol minum itu. Lagi-lagi Varka bersyukur karena memiliki Helsha disampingnya.


"Makasih ya..."


"Iya, tau gak? Varka Ganteng Banget malam ini, apalagi pake jas kayak gini makin ganteng..." Ucap Helsha


"Ini baju yang Varka pake dikasih sama papah Sha, Varka seneng banget" ucap Varka


"Seriusan? Papah kamu ngasih ini?"


"Iya, Kaget kan? Apalagi aku Sha, wahh pokoknya gak bisa di ungkapkan sama kata-kata" ucap Varka antusias


Matanya begitu bersinar terang memancarkan kebahagiaan yang saat ini dirasakannya, Helsha tersenyum melihatnya. Syukurlah karena ternyata Keluarga Varka sepertinya sudah sedikit lebih baik terhadap Varka.


Disisi lain Gibran mengepalkan tangannya kesal karena melihat kedekatan Varka dan Helsha. Gibran paling tidak suka melihat Varka memiliki hal yang bahkan ia tidak punya, Tidak ada dalam sejarah hidupnya jika Ia kalah dari Varka.

__ADS_1


"Gue udah muak pura-pura baik.." gumam Gibran


Seluruh siswa saat ini sudah memenuhi lapangan, mereka berbaris dengan rapih didepan panggung menunggu acara yang sebentar lagi akan dimulai.


Jujur saja Perasaan Varka saat ini sangat Takut, setelah Helsha pergi tadi ia jadi merasa khawatir lagi. Entahlah tapi rasanya Varka takut sekali


'Jangan tampil deh, nanti Helsha malah kecewa'


Kalimat itu terus saja berputar dikepala Varka. Apa benar kata Gibran? Jika seharusnya ia tidak tampil, bagaimana jika nanti ia malah mengecewakan Helsha? Bagaimana jika nanti penampilan nya tidak seperti apa yang diharapkan perempuan itu? Bagaimana Jika ia lagi-lagi gagal untuk menjadi orang yang dibanggakan?


Ketakutan karena takut tidak bisa membuat Helsha bangga timbul karena selama ini Varka selalu gagal dalam membanggakan kedua orangtuanya, Trauma itu ada dan nyata bagi Varka. Buktinya Varka selalu takut melakukan hal seperti ini karena ia takut tidak bisa membuat orang-orang disekitarnya bangga.


Acara sudah dimulai, bahkan beberapa orang sudah maju dan menampilkan bakatnya. Varka masih duduk menunggu gilirannya, dan kini tinggal ia seorang dan dua orang siswa lainnya.


"Varka, abis ini giliran Lo. Siap-siap ya" ucap seorang panitia acara padanya.


Jantung Varka berdetak sangat cepat, ah Rasanya ia takut dan tidak percaya diri. Haruskah ia Maju atau mundur?


Akhirnya Varka memutuskan untuk tetap maju, ia tidak ingin mengecewakan perempuan kesayangannya. Persetan dengan rasa takut yang ia rasakan.


"Oke, sekarang giliran murid dari kelas IPA 3 nih yang bakal nampilin bakatnya. Langsung aja kita panggil ya, ini dia Varka Adibumi" ucap MC


Varka menarik napasnya dalam-dalam kemudian menghembuskannya,


"Lo pasti bisa Varka!! Pasti bisa!!" Ucap Varka dalam hati berusaha menyemangati diri sendiri


Varka berjalan ke atas panggung, lalu duduk dikursi yang sudah disediakan Disana sambil membawa gitar yang ia pinjam dari Papahnya.


Varka mengedarkan pandangannya mencari Helsha dan berharap bisa menemukan keberadaan perempuan itu.


"VARKAAA...!!"


Varka tersenyum saat netranya bertemu dengan mata perempuan yang ia cari.


"SEMANGATT..!!" Teriak Helsha


Lagi- lagi Varka menghela napas kemudian memegang mikrofon didepannya


"Selamat malam semuanya, kenalin nama Gue Varka" ucap Varka


Varka kembali menghela napas kemudian memejamkan matanya sejenak dan mulai memainkan gitarnya


Alunan musik dari petikan gitar mulai terdengar, semua penonton diam menyaksikan penampilan Varka. Begitupun dengan Helsha, ia tersenyum kala mendengar suara lembut Varka.


Entah mengapa tiba-tiba saja air mata Helsha jatuh, ia benar-benar bahagia karena akhirnya Varka bisa menampilkan bakatnya didepan semuanya orang. Sungguh, lelaki yang kini tengah bernyanyi diatas panggung terlihat begitu indah, sangat indah.


Varka mengalihkan pandangannya menatap Helsha yang kini tersenyum kearahnya, perempuan dihadapannya kini terlihat begitu cantik.


Suara lembut menyapa Aku


Lembutnya selembut hatimu


Tulus yang setulus cinta padaku


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhKu


Berbagi suka duka


saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuhKu


Mata Varka tidak lepas menatap Helsha. Rasanya begitu tenang kala ia menatap mata coklat milik perempuan itu.


Separuh Jalan HidupKu


Kau separuhKu


Tak ada penyesalan


Hidup lebih mudah bila kita Berdua


Jalaninya....


Hidupku tanpamu


Takkan pernah terisi sepenuhnya


Karena kau separuhKu


Berbagi suka duka


saling mengisi dan menyempurnakan


Karena kau separuhKu


Hingga didetik terakhir lagu itu Varka tidak berhenti menatap Helsha.


"Untuk Helsha, Terimakasih Untuk semuanya. Varka sayang sama Helsha" ucap Varka setelah menyelesaikan lagunya


Helsha tersenyum mendengarnya, Teriakan-teriakan dari para siswa seakan tidak terdengar oleh mereka berdua.


"Selamat malam, terimakasih semuanya" ucap Varka kemudian turun dari panggung


____

__ADS_1


"Varka... Dimana ih? Kok malah pergi gitu aja sih? Helsha mau ketemu" omel Helsha saat akhir nya Varka mengangkat telpon darinya


"Sha, jangan ketemu dulu ya. Varka malu"


"Jangan malu dong... Dimana kasih tau"


"Sha maaf ya tadi aku lancang banget bilang sayang sama kamu didepan banyak orang. Maaf juga kalau penampilan aku ngecewain kamu"


"Kok minta maaf? Sekarang kamu dimana? Helsha mau ngomong, nangis nih..." Ucap Helsha


"Aku di rooftop gedung kelas X Sha"


"Tunggu disitu ya"


Helsha langsung mematikan telponnya dan berjalan menuju rooftop gedung kelas X. Tempat itu adalah tempat favorit Varka di SMA.


"Varka..."


Varka menoleh saat mendengar suara Helsha, ia langsung tersenyum lebar pada Helsha dan langsung menyuruh Helsha untuk duduk disampingnya


"Langitnya indah Banget. Banyak bintangnya" Ucap Helsha


"Iya.."


"Varka.."


"Hmm??"


"Kenapa tadi langsung pergi? Kenapa juga harus minta maaf?" Tanya Helsha


Varka Menoleh pada Helsha yang kini menatapnya


"Eumm.. kenapa ya? Mungkin karena aku takut"


Helsha langsung meraih tangan Varka dan mengusapnya lembut


"Varka..."


"Iya Sha.."


"Kenapa mesti takut? emangnya Varka ngelakuin kesalahan apa?"


"Aku takut kamu kecewa liat penampilan aku tadi, maaf ya? Maaf kalau gak sesuai sama harapan Helsha.." lirih Varka


Helsha terkekeh mendengar nya


"Siapa bilang aku kecewa? Tadi aku nangis tau!"


Helsha menggenggam erat tangan Varka


"Varka denger ya? Jangan takut, apapun yang Varka lakuin Helsha pasti bangga banget, asalkan itu gak merugikan diri Varka. Lirik dari lagu yang kamu nyanyiin tadi, inget kan? Kamu kayak mau bilang ke semua orang kalau kamu udah nemuin separuh diri kamu... Yang kamu maksud separuh kamu i___"


"Kamu..." Potong Varka


Helsha mengerutkan keningnya


"Apa?"


Varka menatap dalam manik cokelat milik Helsha, lalu tangannya terulur untuk merapihkan Helaian rambut yang menutupi wajah Helsha karena angin.


"Itu kamu Sha. Separuh dari Aku adalah Kamu"


"Kenapa aku?"


"Karena cuma kamu tempat dimana aku bisa luapin semuanya, cuma kamu tempat dimana aku bisa ngerasa aman dan tenang, Cuma kamu Sha. Kamu itu ibarat rumah paling nyaman yang saat ini aku punya, setiap kata yang kamu ucapkan, tatapan kamu, senyum kamu, pelukan kamu. Itu semua udah aku anggap sebagai rumah, cuma kamu satu-satunya yang bisa nopang aku saat aku lagi Rapuh. Kamu itu rumah paling aman buat aku Sha..."


"Selama ini, aku menjalani hidup dibalik pintu yang tertutup bahkan aku ngerasa semua pintu buat aku udah ketutup. Dulu aku gak bisa tidur dengan tenang, bahkan bernapas sekalipun rasanya susah Banget. Awalnya emang gelap banget Sha, aku ngerasa gak diterima dimanapun tapi setelah aku ketemu sama kamu perlahan pintu-pintu yang dulunya tertutup mulai terbuka perlahan dan akhirnya cahaya bisa masuk. Hidup aku berubah semenjak kedatangan kamu Sha"


Helsha dengan setia mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut Varka, Perasaan yang selama ini selalu pria ini sembunyikan


"Aku gak pernah punya uang untuk dibelanjakan, Impian untuk digapai, bahkan aku gak pernah punya cinta untuk aku jaga. Aku ngerasa kesepian banget, aku cuma berharap setidaknya ada satu orang aja yang bisa mengerti perasaan aku, Satu orang aja udah cukup buat aku Sha."


Helsha mengelus lembut tangan Varka, berusaha menguatkan lelaki itu. Pasti sangat sulit untuk mengatakan semua ini.


"Selama ini aku gak mau nunjukin diri aku yang lemah didepan kamu, Meskipun aku tau kalau kamu itu tau segalanya tentang gimana Rapuhnya aku tapi aku mau coba buat selalu tersenyum didepan Kamu"


Varka menghela napasnya sebelum melanjutkan perkataannya


"Engga semua hal bisa aku jelasin sama kamu, engga semua hal bisa aku ungkapin sama kamu Sha. Beberapa hal cuma bisa aku simpan dan lewati sendirian, Ada perasaan yang masih belum bisa aku ceritakan. So tired of feeling this feeling, Maafin aku Sha" lirih Varka


"Varka dengerin Helsha, gak perlu memaksakan diri buat cerita semuanya sama aku. Apalagi kalau itu jadi ngebuat kamu berubah jadi orang lain, kapanpun kamu mau cerita Helsha bakalan selalu siap baut dengerin. Setiap orang itu pasti punya kekurangan dan keunikan masing-masing, Itulah manusia dan Itulah Kamu Varka..."


Keduanya terdiam untuk beberapa saat, merasakan hembusan angin yang begitu menenangkan dan musik dari lapangan sekolah yang masih terdengar.


"Helsha..."


"Iya?"


"Aku sadar kok, bahkan diumur kita yang masih terbilang muda, seharusnya aku gak ngomongin hal kayak gini. Tapi Sha, aku serius tentang itu. Kamu Separuh aku, kamu rumah Aku, kamu adalah tempat aku pulang"


Helsha tersenyum


"Sha, tetap disamping aku ya? Tolong jangan pernah ninggalin aku sendirian, bantu aku buat buka semua pintu yang tertutup, bantu aku buat bahagia, bantu aku ngeraih semua mimpi yang aku punya sekarang. Aku janji, nanti kalau Aku sama kamu udah sama-sama dewasa, aku bakal bawa kamu ke tempat dimana cuma ada aku sama kamu. Nanti disana kita bangun rumah untuk kita berdua ya?"


Helsha mengangguk


"Helsha, makasih ya. Makasih karena sejauh ini kamu selalu berhasil bikin aku tenang. Jangan ninggalin aku ya? Promise?"


Helsha tersenyum kemudian langsung mendekap tubuh Varka erat.

__ADS_1


"Promise. Helsha janji gak akan ninggalin Varka. Helsha sayang banget sama Varka, makasih udah bertahan sampai sejauh ini. Ayo tetep kuat dan bertahan ya Varka"


Untuk semuanya Jangan pernah meremehkan mental seseorang, kita tidak pernah tau apa yang telah mereka lalui sejauh ini. Mari tetap bertahan untuk orang-orang yang kita sayangi, setidaknya bertahanlah untuk hal-hal yang membuatmu bahagia.


__ADS_2