
dalam setiap hubungan, baik yang legal atau ilegal. tidak semua akan berjalan mulus sesuai konsep hidup yang sudah di rencanakan jauh-jauh hari. akan ada masanya, dimana badai rumah tangga akan mengguncang hingga pondasi goyah bahkan tumbang jika pertahannya lemah.
yang paling berperan penting dalam sebuah hubungan, tidak hanya satu tapi dua. sebagaimana membuat hubungan yang melibatkan dua anak manusia. jadi kecil besar masalaha, harus di musyawarakan agar tidak ada kesalah paham yang kapan saja membuat pertahannya hancur.
dan paling penting, harus saling terbuka. jangan hanya mencari nikmatanya, setelahnya dibuang bagaikan soonggok sampah. sebesar apapun masalahnya, semua harus diselesaikan secara tenang.
karena tidak ada masalah yang menemukan jalan keluar jika menggunakan emosi dan memperbesar egoh.
mobil yang kini membawa dua manusia untuk pulang kerumah, begitu hening. El, yang melihat sikap dingin istrinya, tak lantas membuka suara sebab dia paham, perasaan istrinya tidak baik-baik saja. meskipun pada kenyataannya, itu bukan kesalahannya.
sebagai lelaki matang, El, harus banyak bersabar menghadapi tingkah gadis belia yang ada di sampingnya.
"pak, jika ada restoran terdekat, kita singgah dulu". mengingat mereka belum makan, El harus mengisi perut dan tentunya Rindu juga harus makan karena mereka melewatkan makan siang. insiden yang menimpah mereka, cukup membuatnya pusing hingga lupa waktu.
__ADS_1
rindu yang mendengar perintah El, langsung menoleh. "mau ngapain?".
"makan sayang. hubby tau, kamu juga belum makan dan hubby tidak ingin kalian kelaparan". jelasnya lembut dengan menarik tangan sang istri untuk di genggam.
"aku kenyang mas". mulanya dengan menatap lurus kedepan. meskipun sebenarnya dia juga lapar, tapi kecewanya lebih mendominasi hingga lebih memilih pura-pura.
"Ng papa, hubby juga lapar. belum makan". jelasnya. meskipun dia tahu istrinya berbohong, namun sebagai suami, El harus pintar mengikuti aturan main sang istri agar tidak tambah memusuhinya.
"aku tunggu di mobil aja".
karena emosi yang juga belum meredah, akhirnya Rindu meminta untuk tetap menunggu, meskipun sebenarnya dia juga lapar.
mendengar ucapan sang istri, El mengerutkan keningnya. "kalau gitu, kita makan di mobil saja".
__ADS_1
"Ng bisa gitu Doong mas". protes karena sebenarnya rindu Masi kesal untuk melihat wajah El.
"lah terus gimana sayang. Ng mungkin hubby ninggalin kamu disini. sekalian aja Ng usah makan kalau kayak gitu. mana bisa hubby makan, sementara istri kelaparan diluar. hubby tidak sekejam itu".
mendengar penjelasan El, membuat hati Rindu terasa di remas. bukannya ingin bertengkar, tapi hatinya yang belum singkrong dengan keadaan. entah yang terlihat kebenaran atau bukan, yang jelas apa yang sudah di lakukan suaminya tetap salah.
tidak tega dengan mimik wajah El yang terlihat memelas akhirnya rindu mencoba menepis rasa yang berkecamuk didalam hatinya.
"ya udah, kita makan di restoran". putusnya yang membuat wajah El berseri.
meskipun mara, kecewa dan sakit hati. Rindu Masih memposisikan El sebagai orang yang harus di hormati, sebagai suami. dia tidak ingin mendapat laknat karena tidak bersikap sebagai makmun untuk El.
beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di dalam ruangan VIP. El sengaja memesan ruangan khusus, selain untuk makan, El juga ingin meluruskan kesalah pahaman yang terjadi di antara mereka. El tidak ingin mamanya tahu dengan pertengkaran mereka yang di akibatkan karena mantan yang entah dari belahan bumi mana yang tiba-tiba muncul di permukaan tanpa memberikan sinyal sebelumny. dan bukan hanya itu, El juga takut jika sang mama kawatir karena mamaya ikut serta dalam trauma tersendiri yang di akibatkan oleh El sendiri. sebagai seorang mama, rasanya sangat sakit saat melihat anak terpuruk dalam rasa sakit hati yang begitu dalam. dan El tidak ingin jika mamanya mengenang masa lalu yang penuh luka itu. cukup waktu itu, hari ini dan kedepannya jangan lagi.
__ADS_1