
suara sepatu menggelegar di penjuru ruangan, dengan nafas ngos-ngosan dan jantung berpacu begitu cepat. dadanya seperti di tikam hingga ke ulu hati. kabar yang di dapatkan, membuat dirinya meninggalkan setumpukkan kesibukan yang tidak ada apa-apanya dengan kabar yang membuatnya seperti orang kesetanan. tidak perduli berapa banyak orang yang kini menjadi sasaran tabrak larinya. tidak perduli reaksi mereka. Karena yang ada di fikirannya sekarang, Rindu istrinya yang kini berada di ruangan persalinan. bukan itu yang membuat El,enjadi begini. tapi istrinya jatuh dari tangga di saat dia ingin mengambil sesuatu di kamar lama mereka sebelum pindah ke lantai bawah.
"ma?! bagaimana dengan istri, El!!!". bertanya dengan Nanda meninggi di hadapan sang mama yang kini bercucuran air mata.
El, yakin. semuanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. dari sorot mata wanita paru baya di depannya, sudah mencerminkan ada kecemasan besar yang sedang di pukul.
tanpa menunggunya jawaban, El lantas merasa lemas. biasanya merosot bagaikan jeli yang tak bertulang. memegang kepalanya dengan air mata yang kini mulai mengalir. orang-orang yang melihat itu, ikut merasakan sesak yang sama. El, bukanlah manusia mellow, yang mudah menyumbangkan air matanya.
untuk pertama kalinya, El, terlihat menyedihkan di mata orang-orang. Arka yang melihat itu, hanya bisa berdoa' semogah isteri dari saudaranya selamat.
"El, Bagun. kita juga sama kawatirnya dengan keadaan Rindu yang kini berada di meja operasi. tapi kamu tahu sendiri, sedih tidak akan memberikan solusi. lebih kita sama-sama mendoakan keselamatan dua manusia yang saat ini bertarung nyawa didalam sana". mendengar suara seorang perempuan yang tak asing, membuat El, mengangkat wajahnya dengan keadaan kacau.
"bu". yah, orang yang sempat m meberikan nasehat, adalah ketuanya. "El, kalut. bagaimana caranya El bisa tenang disaat fikiran El, berada di ruangan operasi. El tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya istri El, yang kini berjuang untuk melawan peralatan medis yang menggores tubuhnya. andaikan bisa, El ikhlas menggantikan rindu di dalam sana". untuk pertama kalinya, El tidak malu menangis bak anak kecil di hadapan orang banyak.
melihat Petapa rapuhnya sang menantu, ibu Rindu, Langsung memeluk El, dan dengan perasaan pilu, El memasrahkan dirinya untuk di peluk karena memang dia butuh tempat untuk bersandar.
untuk pertama kalinya, El menjadi lemah dan tak berdaya, dan untuk pertama kalinya juga, El memeluk mertuanya selama dia menjadi seorang menantu. perasaan canggung tidak lagi berada di sana, yang ada hanya perasaan ingin melalui masa yang cukup menggores hati.
__ADS_1
"apa yang sebenarnya terjadi sehingga istri El, melahirkan sebelum waktunya". ibu El hanya bisa menggelengkan kepalanya, sebab dia juga tidak tahu dengan apa yang telah terjadi. yang dia tahu, El hanya kecelakaan dengan jatuh dari tangga. tapi dia tidak tahu persis kronologi nya seperti apa?
melihat tidak ada jawaban dari sang mertua, kini El, beralih kepada sang mama yang kini menunduk. "ma? bisa jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?". meminta sedikit informasi dari sang mama terkait peristiwa yang sudah menyulitkan istrinya.
Sinta yang mendengar itu, lantas mengangkat wajahnya, lalu menatap manik mata sang anak yang begitu rapuh. tentu juga Rita tidak tahu kronologi yang sebenarnya seperti apa? tapi yang pasti, rindu terpleset lalu terjun dari atas hingga membuatnya harus melahirkan sebelum waktunya.
"yang mama tahu, rindu jatuh dari atas tangga. karena pas kejadian itu, mama lagi di belakang ruma". Sinta sebagai orang yang di berikan amanah, merasa bersalah atas apa kelalaiannya, setelah di tinggal El, besannya juga pamit pulang tapi hanya sebentar untuk mengambil sesuatu, jadilah rindu dan Sinta yang tinggal dirumah serta satu dokter kandungan. tapi pas kejadian itu terjadi, semua orang tidak ada yang mengawasi rindu. dan qadarullah, semua terjadi begitu saja tanpa di rencanakan.
mendengar penjelasan sang mama, membuat dada El, sangat sesak. harusnya dia tidak kekantor pagi tadi, meskipun rindu yang meminta, tapi karena sangat mencintai sang istri dan mempercayai nya, maka El berani mengambil tindakan.
"ini salah, El. sebagai suami, harusnya El, tetap berada di dekat rindu. seharusnya El, tidak serakah untuk tetap menyetujui rapat hari ini. apa lah artinya harta, jika istri dan anak El yang harus mempertahankan nyawanya". dengan mengutuk dirinya yang tidak berguna di saat-saat terakhir istrinya berjuang melawan sakit. demi tuhan, El tidak akan sanggup berdiri atas kakinya tanpa dekapan sang istri. karena selain dirinya, rindu adalah nyawanya.
cekleat.
pintu di ruangan operasi di buka, yang menampakka. wajah kelelahan seorang dokter dengan jas kebesarannya, warnah putih, identitas orang dokter serta pekerjaan mereka seputih seragam mereka. berusaha menyelamatkan orang-orang yang membutuhkan kehidupan lebih lama, meskipun mereka hanya perantara, tapi meskipun begitu, mereka tetap bangga. di saat ada nyawa yang berhasil mereka selamatkan.
"dok, bagaimana dengan istri saya".
__ADS_1
"bagaimana dengan anak saya".
"bagaimana dengan menantu saya".
pertanyaan yang sama di lontarkan, lantas dokter menatap wajah mereka satu persat dengan perasaan campur aduk, entah harus seperti apa menyampaikan berita yang tak mengenakkan ini, atau bahkan terbilang sangat buruk.
"maafkan saya. tapi dengan perasaan menyesal dan terpukul, saya hanya bisa mengatakan, bahwa ibu dan anak tidak bisa di selamatkan".
DEG
tidak hanya satu atau dua orang yang merasakan pacuan jantung tersebut, tapi semua orang yang mendengarkan nya. ibu dan anak tidak bisa di selamatkan?
nafas El, selama menipis, kepalanya berdenyut sakit dan dadanya sangat sesak.
"dok, dokter tahukan siapa saya? saya cucunya wijaya!! saya Erlangga Wijaya!!. dokter tahu apa yang akan saya lakukan jika berani bermain-main dengan keluarga Wijaya bukan?". dengan gigi saling menekan dan sorot mata yang tajam dan rahang mengeras, El menarik kerah sang dokter untuk memberikan peringatan.
"maaf tua, ta__tapi itulah kenyataannya". runtuh sudah tubuh El, mendengar kenyataan pahit tersebut. istrinya pergi tanpa berpamitan kepadanya dengan membawa sejuta cinta mereka. air matanya luruh tanpa henti. sakit dan sesak, itu lah yang El rasakan. di tinggal saat hati benar-benar di persembahkan seluruhnya kepada wanita yang kini terbujur kaku di hadapannya dengan di sampingnya, ada bayi mungil yang Samay tak bernyawa.
__ADS_1
AND