
Sudah 15 menit berlalu, tetapi orang yang di tunggu tak juga terlihat. Gelisah campur kawatir akan pertemuannya yang kemungkinan besar gagal. Padahal sudah direncanakan dengan matang untuk bisa meluluhkan sedikit tepat di hati sang Mantang untuknya. Jiwa kepemilikan kini muncul ke permukaan, menyentil hatinya agar tidak menyerah sebelum berjuang biarpun kalah asalkan tak mengalah di detik-detik perang. Segala konsep telah di tata rapi untuk di sampaikan sebagai khutba yang akan menghasilkan banyak bab, tapi berhubung waktu yang di gunakan kemungkinan sedikit, jadi hanya akan menggunakan rangkuman, Dimana Hanya ada poin-poin penting yang akan di singkat dalam hitungan waktu cepat.
Dengan percaya diri, meyakinkan hatinya yang sempat pesimis beberapa detik yang lalu. Membolak-balik buku menu yang sudah Ter sedia di atas meja. Ada beberapa makanan kesukaan yang biasa di pesan untuk di jadikan penjanggal perut, terutama makanan kesukaan sang mantan si penghuni relung hati.
Sebuah langkah mengalihkan fokusnya, mengangkat wajahnya untuk memastikan si pemilik sepatu yang kini berjalan ke arahnya. Melihat sosok yang ada di hadapannya membuat senyumannya mengenang, namun itu hanya bertahan beberapa menit setelah wanita mungil muncul.dari balik punggung si pemilik badan tegap.
"Maaf, uda lama ya nunggu nya?". Duduk mengbil kurus di hadapan perempuan yang sempat di sapa.
" Tidak apa-apa". Dengan senyum di paksakan, agar tidak meninggalkan kesan tidak sopan kepada tamu.
"Duduk sayang". Manis pangkat kayak madu. Bikin hati si perempuan mencelos. Segitu bahagianya si El, hingga dirinya di anggap patung yang tak berhati, eh!.
"Makasih, by". Dengan senyuman yang begitu manis di persembahkan Rindu kepada lelaki tampan sang pemilik hati.
"Sama-sama, sayangku". Jawabnya dengan memperbaiki rambut rindu yang sedikit menganggu fokusnya. Lupa pada satu mahluk yang ingin menceburkan diri dari manusia tak punya hati di hadapannya. Tau gini, mending pastiin dulu agar si istri mudanya Ng ikut.
__ADS_1
"Udah pesan makanan". Dengan bertanya tanpa peka dengan situasi.
"Belum. Lagi nunggu kalian, supaya pesan sekalian aja". Terpaksa bahasa ganda yang di gunakan, meski hati ngilu. Ng papa agar imej tetap terjaga, meskipun hati sudah memanas.
"Ya udah sekarang kita pesan makanan". Dengan menyodorkan satu menu buku ke hadapan rindu yang langsung di terima dengan gembira. "Sayang, pesanya yang biasa aja ya? Hubby, Ng mau kalian kenapa-kenapa". Ternyata ji overprotektif El masih ngikut di restoran. Tentu saja rindu cemberut dengan ultimatum yang Ng ada lawan keluar dari mulut sang suami.
"By, sekali-kali aja. Kenapa sih, rindu juga pingin makan ala-ala restoran. Anak kamu nanti ileran Lo kalau ayahnya banyak membatasi. Kan, kasihan". Mode alasan sang bayi sudah aktif dan mau tak mau, El harus pasrah. Karena menolakoun percuma. Istrinya ini, selain jago ngambek dia juga jago bikin sebagian nyawa El tersedot kalau udah pake mode diam. Degan perasaan gusar dan terpaksa, El memesan makanan kesukaan sang istri. Lupa kepada kehadiran mahluk lain disana yang sudah menatap dengan perasaan di sayat belati. Posisi El, saat ini sungguh menakjubkan.
Pemandangan dua sejoli yang terlihat begitu bahagia. Dengan saling melempar senyuman dan sentuhan manis, tanpa lihat kondisi. Mau mengatakan, gerakan mereka adalah unsur provokasi, situasi, tapi pembawaannya begitu natural karena perannya sangat di hayati.
Bolehkan dirnyay bertingkah lebih saat ini? Merebut yang sudah di klaim sebagai miliknya dari awal, sebelum badai itu menjadi penentu jarak dari mereka yang begitu jauh. Hingga membawa kepada perpisahan yang nyata.
"Ini tuan, nyonya. Pesananaya". Di tengah lamunannya, menguap begitu saja setelah seorang pelayan datang membawa pesanan mereka.
El, lantas menarik piring yang terisi pesananta.
__ADS_1
"Kita makan dulu ya". Yang di angguki oleh orang-orang yang ada di sana. "Ini sayang. Ganti ya, sama hubby".
"Makasi hubby". Ucap rindu yang lagsuy melahap setiap potongan yang ada.
Mereka makan dengan khitma tanpa gangguan, yang ada hanya suara dentinga ln sendok jika bersentuhan dengan piring dan sekali-kali El, melap bibir sang istri penuh saus, yang langsung di hadia senyuman manis dari Rindu. Momen romantis mereka tidak luput dari pandangan
Setelah beberapa menit dalam situasi mengunya makanan hingu berseluncur turun keusu dan sampai ka dalam lambung, kini El, menatap lurus kedepan, memandangi wanita pembawa luka dalam hidupnya.
"Mau ngomong apa". Demi mempercepat waktu, akhirnya El, membuka suara sebagai sambutan pertama sebelum masuk ke acara inti yang cukup menegangkan.
"Maaf El. sebenarnya, aku mau ngomong empat mata aja sama kamu, soalnya ini menyangkut kita berdua".
DOAR
Bagai di sambar petir, lantas rindu memasang wajah sangat di hadapan wanita tidak tahu diri yang sesukanya membuat opini perusak keadaan hatinya
__ADS_1