
Helsha menarik tangan Varka keluar dari kamarnya, ada hal yang ingin Helsha perlihatkan pada Varka. Ia sudah menyiapkan hal ini bersama Ayah dan Bunda kemarin malam.
"Mau kemana sih?" Tanya Varka
"Bentar dong sabar" ucap Helsha karena sejak tadi Varka terus bertanya.
Varka sendiri bingung karena tiba-tiba Helsha menariknya untuk ikut pergi.
Helsha berhenti di depan sebuah pintu ruangan yang masih tertutup, ruangan yang tak jauh dari kamar Helsha mungkin hanya berjarak 5 meter saja.
"Nah sampe.." ucap Helsha
Varka hanya mengerutkan dahinya bingung tak mengerti dengan maksud Helsha
"Ih.. ayo masuk"
"Kemana?" Tanya Varka kebingungan
"Ke kamar kamu lah, ini kuncinya" ucap Helsha menyerahkan kunci pada Varka
"Kamar? Aku? Maksudnya?"
"Ihh.. udah buka aja dulu.." ucap Helsha mendorong Varka agar cepat membuka ruangannya
Walaupun masih belum mengerti Varka akhirnya membuka ruangan yang kini ada dihadapannya, sebelum membukanya Varka menatap Helsha terlebih dahulu dan perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
Saat pintu terbuka Varka sedikit terkejut, ruangan ini adalah kamar. Kamar yang dibuat khusus oleh Helsha untuk Varka, Dengan dekorasi dan isi yang semuanya Helsha pilihkan. Varka berjalan masuk dan melihat-lihat isi kamar yang mungkin menjadi miliknya nanti.
"Suka gak?" Tanya Helsha lembut
"Ini kamar siapa?"
"Buat kamu, Tinggal disini ya sama Helsha?"
Varka menatap Helsha ketika mendengar ucapan perempuan itu. Ia tinggal disini? Bersama Helsha? Apa tidak masalah?
"Kalau kamu gak tinggal disini mau dimana lagi? Mau pulang kerumah lagi? Emang mereka bakal Nerima kamu?" Tanya Helsha beruntun
"Emangnya gapapa? Aku nanti ngerepotin loh Sha, gak enak sama Ayah, Bunda"
"Gapapa dong, aku bikin kamar ini juga Ayah yang saranin kok. Anggap aja sekarang kamu bagian dari keluarga aku, tinggal disini mau kan? Seenggaknya kamu bisa tinggal disini sampai Perasaan kamu tenang lagi"
"Mau ya?" Tanya Helsha kembali
Varka akhirnya mengangguk, untuk saat ini perasaan nya memang belum sepenuhnya tenang masih ada pikiran-pikiran aneh yang datang. Dengan bersama Helsha semoga saja perasaan nya bisa membaik, tidak selamanya ia akan tinggal disini tapi Untuk saat ini biarkan Varka merasakan kehangatan dikeluarga ini.
"Besok sekolah kan? Helsha kesepian banget kalau gak ada Varka tau.." ucap Helsha yang kini sedang sibuk mengerjakan tugasnya dikamar Varka.
"Iya sekolah"
"Susah banget tugasnya... Bantuin dong Varka, daritadi main game mulu" ucap Helsha.
Varka terkekeh melihat raut wajah kesal Helsha karena dirinya malah asyik bermain game diatas kasur. Varka beranjak turun dari kasur dan duduk disamping Helsha.
"Tugas apa emang?"
"Tugas matematika.. aku gak ngerti-ngerti tau,, ih pusing banget" gerutu Helsha
"Mana sini aku liat"
Varka mencondongkan tubuhnya mendekat kearah Helsha agar bisa melihat materi apa yang sedang dikerjakan oleh Helsha.
Helsha langsung memundurkan tubuhnya sedikit saat Varka mendekat, Kalau jaraknya seperti ini sih bukannya konsen belajar malah jadi gagal fokus. Helsha mengelus dadanya yang tiba-tiba saja berdebar tak karuan.
"Ihh.... Jangan deket-deket" ucap Helsha sambil mendorong tubuh Varka menjauh
"Kenapa sih? Aku kan lagi liat ini" protes Varka
"Gak boleh pokoknya, aku bisa jantungan Varka.."
Varka menatap Helsha curiga, sedetik kemudian Varka langsung tertawa keras. Bagaimana tidak saat ini wajah Helsha bersemu merah dihadapannya
"Gak lucu... Varka... Ihh..." Ucap Helsha
"Berhenti gak ketawanya... Varka..."
"Abisnya muka kamu lucu Sha, kayak...."
"Apa? Ayo lanjutin... " Ucap Helsha menantang
"Cantikkk... Helsha"
"Tau ah gombal terus... Aku lagi ngerjain tugas"
Helsha langsung kembali Berpura-pura mengerjakan tugasnya, padahal ia tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Helsha merutuki dirinya sendiri karena selalu saja salah tingkah jika Varka sudah memujinya seperti tadi.
Untuk beberapa saat hanya ada keheningan diantara keduanya, Helsha sibuk mengerjakan tugasnya dengan sesekali bertanya pada Varka. Helsha merasa lega karena Varka mau tinggal dirumahnya, jadi Helsha bisa memperhatikan dan memastikan lelaki ini baik-baik saja.
"Sha.."
"Iya?"
"Kalo misalkan aku join Band gimana?"
"Band?" Tanya Helsha menatap Varka.
"Iya ada yang ngajak" ucap Varka
Helsha menghentikan kegiatan menulisnya lalu fokus melihat Varka dengan tatapan sedikit terkejut
__ADS_1
"Seriusan?!"
"Iya Helsha...."
"IHH... JOIN AJA GAPAPA VARKA, TUH HELSHA BILANG JUGA APA!" Ucap Helsha antusias
"Hahahaha...Ngegas banget Sha ngomongnya..."
"SENENG TAU DENGERNYA.. Join ya?"
"Beneran? Aku ikut join aja?" Tanya Varka
"Iya beneran"
"Hmm oke deh aku bakalan Join" ucap Varka
Varka tersenyum senang, melihat Helsha begitu antusias hanya karena dirinya akan ikut dalam sebuah band membuat Varka begitu bahagia, ia merasa dianggap ada dan selalu dihargai oleh perempuan ini. Helsha selalu mengapresiasi apapun yang Varka lakukan.
____
Varka menghampiri Nathan yang kini tengah sibuk mengerjakan tugasnya, Kebiasaan Nathan ya seperti ini selalu lupa jika ada tugas dan berakhir dengan mengerjakan pagi-pagi sekali disekolah
"Than..." Panggil varka
Nathan mengangkat kepalanya menatap orang yang kini berada dihadapannya dan langsung menghentikan aktivitas darurat mengerjakan tugas yang sejak tadi ia lakukan
"Eh Lo udah sehat?" Tanya Nathan
"Iya nih, Eum soal tawaran Lo masih berlaku?"
"Masih lah, gimana mau?" Tanya Nathan
"Kenapa harus gue?"
"Ya karena suara Lo bagus, sayang kalau di sia-siain. Lo itu berbakat cuma gak bisa nunjukin nya, lagian gue juga udah merhatiin Lo dari lama kok. Jadi gimana mau?"
"Oke deh gue mau"
"Seriusan ini? Gak bohong!!" Ucap Nathan sambil berdiri dan berteriak membuat hampir seisi kelas menoleh kearahnya.
"Jangan teriak-teriak juga kali."
"Yaudah ikut gue yuk!! Anak-anak pasti udah pada disana deh kayaknya" ucap Nathan sambil membereskan bukunya
"Kemana?" Tanya varka
"Ke ruangan biasa kita latihan band"
_
Dan disinilah Varka sekarang, diruangan tempat anak band Latihan. Benar saja apa yang dikatakan Nathan jika teman-temannya sudah ada disini. Varka hanya diam sejak tadi, ia bingung harus mengatakan apa. Seumur hidupnya baru kali ini Varka berinteraksi dengan orang lain sedekat ini, biasanya ia hanya sering menyendiri ya walaupun sekarang ada Helsha di hidupnya.
"Siapa than?" Tanya Tama
"Yang kemaren di telpon bukan sih?" Tanya Reyhan
"Iya" jawab Nathan
"WAHHH... UDAH JOIN AJA!!" Teriak Reyhan
"Berisik Lo ah teriak-teriak segala, diem!!" Protes Eza
Semuanya menatap kearah Varka yang sejak tadi diam saja membuat Varka semakin Canggung dibuatnya. Varka menggaruk tekuknya yang tak gatal
"Hai.. gue Varka.." ucap Varka
"Yahh... Gak usah kaku gitu lah bro" ucap Eza
"Bentar, ini yang waktu itu nyanyi terus bilang sayang sama anak OSIS itu kan?" Tanya Tama
"Hah? Kapan anjirr.... Kok gue gak tau?" Ucap Reyhan ngegas
"Ah Lo ngegas Mulu dari tadi... Sakit nih kuping gue dengernya" protes Eza yang memang duduk disebelah Reyhan
"Ya maaf sensi amat sih Za"
"Bisa gak kalian akur sehari aja!" Ucap Nathan
"Hahaha sorry ya" ucap Reyhan cengengesan
"Maaf ya Varka, anak berdua itu emang kayak gitu, rada sengklek deh. Maklum titisan setan" ucap Tama
"Wahhh Lo... Sini Lo Tama" ucap Eza berdiri
"Kebangetan Lo mah Ma" ucap Reyhan yang juga ikut-ikutan berdiri
Varka hanya tertawa melihat keributan kecil yang dilakukan oleh Reyhan dan Eza.
"Makasih ya sebelumnya udah mau ngajak gue gabung."
"Santai aja bro, sekarang kita temenan" ucap Tama
"Nah bener banget tuh..." Tambah Eza dan Reyhan bersamaan
Ketiganya tersenyum kearah Varka dengan begitu tulus. Varka sedikit terkejut melihat hal itu, baru kali ini ada orang yang mau berteman dengannya. Rasanya menyenangkan tenyata.
"Thanks ya, baru kali ini ada yang mau temenan sama gue. Tapi sorry ya kalau gue kaku" ucap varka
"Santai aja, Namanya juga baru kenal" ucap Reyhan
__ADS_1
"Nah ntar kita makan siang bareng gimana. Di kantin cuy" ajak Tama
"Berangkat lah.. gimana Varka?" Tanya Nathan
"Gimana nanti deh"
"Oh yaudah, bubar deh udah mau bel nih" ucap Eza
Semuanya mengangguk setuju lalu berjalan bersama keluar dari ruangan itu dan pergi menuju kelas masing-masing.
"Ternyata gini ya rasanya punya temen" ucap Varka dalam hati sambil tersenyum
"Kenapa Lo senyum-senyum?" Tanya Nathan
"Gapapa kok"
"Sekarang kita temenan ya, jadi kalau ada apa-apa Lo bisa cerita sama gue" ucap Nathan
Varka hanya tersenyum menanggapinya. Ada perasaan senang dihatinya kala mendengar ucapan Nathan, terdengar sekali jika Nathan tulus saat mengucapkan kalimat itu. Semoga saja Varka bisa berteman dengan mereka seperti ia berteman dengan Helsha. Semoga saja ya.
____
"Sha, jangan lupa ya besok ada rapat OSIS" ucap Gibran yang tiba-tiba ada didepan Helsha
Nadia mengernyitkan dahinya bingung, ia menatap kearah Gibran dan Helsha secara bergantian.
"Gak usah di ingetin kayak gini juga saya inget kok kak. Saya juga punya jadwal nya" ucap Helsha
"Sha, aku ini ketua OSIS kamu"
"Ya terus?!!" Ucap Helsha ketus
"Dia kenapa si Sha?" Bisik Nadia
Helsha langsung memegang tangan Nadia untuk mengajaknya pergi dari tempat ini tapi Saat hendak melangkah pergi Gibran malah menghadang jalannya, kemanapun Helsha hendak berjalan Gibran selalu menghalanginya.
"Kak..."
"Kamu masih marah sama aku?" Tanya Gibran
"Apa sih kak? Minggir aku mau lewat!"
"Jangan marah Sha, jangan benci sama aku, ya?" Pinta Gibran
Helsha memutar bola matanya malas kemudian melangkah pergi dari sana bersama Nadia, muak sekali rasanya karena Gibran terus-menerus menggangu nya seperti ini. Mau lelaki itu apa coba? Mau Helsha tidak marah? Tidak benci? Bagaimana bisa Helsha seperti itu setelah apa yang dilakukan Gibran kepada lelaki kesayangannya.
"Lo kenapa sensi banget sama kak Gibran?" Tanya Nadia
"Gak suka pokoknya, dan gue harap Lo gak suka sama dia. Jangan sampe Nad" ucap Helsha memperingatkan
"Ngelarang tapi gak ngasih tau alasannya... Nyebelin ah"
"Ga usah tau nanti malah ikutan gak suka..."
"Gimana sih? Kan tadi Lo bilang gue jangan suka, Koslet deh otak Lo..." ucap Nadia geleng-geleng kepala
Helsha hanya nyengir mendengar hal itu, sudahlah cukup ia saja yang tahu tentang kelakuan Gibran. Rasanya akan terlalu jahat jika Helsha harus menceritakan kejelekan lelaki itu pada orang lain.
__
"Gibran..." Panggil Nathan saat melihat Gibran yang berjalan melewati dirinya yang kini duduk dibangku parkiran
Gibran hanya menoleh sekilas lalu menghampiri Nathan, sudah lama juga ia tidak menemui bocah satu ini.
"Belum pulang Than?" Tanya Gibran
"Bentar lagi, lagi nungguin si Eza lama bener"
"Oh.. ada apa nih? Tumben manggil gue"
"Mau nanya, Varka beneran adek Lo kan?"
"Kenapa?" Tanya Gibran
"Gue ngajak dia join band"
"Setelah gue keluar dari band, Lo rekrut Varka? Gak salah Lo?"
Ya memang sebelumnya Gibran tergabung dalam band yang dibentuk Nathan, tapi karena kesibukannya membuat Gibran jarang ikut latihan.
"Emang apa salahnya? Menurut gue dia bagus kok"
Gibran tertawa meremehkan mendengar ucapan Nathan, Varka bagus? Sejak kapan Varka lebih bagus dari Gibran.
"Hahaha Lo gak tau aja Than, cari yang bagusan dikit kek"
"Lo kenapa deh, tiap gue nanyain Varka Lo kayak gak suka gitu"
"Engga lah gue biasa aja kok, Perasaan Lo aja itu mah. Inget aja kata gue waktu itu apa" ucap Gibran
"Engga, dia kayaknya gak gitu deh anaknya. Gue yakin"
"Tapi gue kakaknya"
"Tapi Lo gak Deket deh kayaknya sama dia"
"Terserah Lo deh"
"Tapi seriusan? Masa sih dia kayak gitu? Keliatannya gak gitu deh"
__ADS_1
"Percaya sama gue than, hati-hati pokoknya kalau sama dia. Gue duluan deh, udah dijemput tuh" ucap Gibran
Nathan hanya mengangguk mengerti. Sebenarnya Nathan juga tidak terlalu tahu bagaimana hubungan antara Gibran dan Varka. Sejak dulu sebenarnya ia ingin dekat dengan Varka tapi selalu terhalang perkataan Gibran yang begitu menganggu dipikiran nya.