
___________________
HAPPY READING!!
____________________
Varka sedang mengerjakan beberapa tugas dikamarnya, ia lebih memilih menghabiskan waktu dikamarnya agar tidak melihat hal yang bisa membuatnya sedih dan terluka.
Tok... Tok... tok
Varka menoleh saat mendengar suara ketukan pintu, tidak biasanya ada yang datang ke kamarnya.
"Masuk..." Ucap Varka tanpa ingin repot-repot membukakan pintu
Saat pintu terbuka munculah wajah yang tidak asing bagi Varka, seseorang yang selalu membuat ia cemburu, seseorang yang selalu dibandingkan dengan dirinya.
"Ada apa Kak?" Tanya Varka
"Mau ikut main gak??"
"Kemana?"
"Ya jalan-jalan aja, Kebetulan motor Kaka baru datang"
"Mau banget kak" ucap Varka gembira
"Yaudah ayo,, kenapa diem aja" ucap Gibran
"Tapi kalau mama marah gimana Kak? Aku takut"
"Makannya de, kalau disuruh belajar tuh belajar jangan ngelawan. Kan kalau kamu bisa kayak Kaka mama sama papa juga pasti seneng"
Senyum diwajah Varka hilang begitu saja saat mendengar perkataan Gibran. Bahkan kakak'nya sendiri malah membandingkan diri mereka.
"Harus ya Kakak juga ngomong kayak gitu?"
"Maksud kamu?"
"Lupain aja deh, Kaka gak bakal ngerti" ucap Varka
"Yaudah kalau gitu. Kaka maen sama temen yang lain aja..."
"Iya Kak"
"Yaudah Bye, jangan lupa belajar kamu biar bisa kayak Kakak" ucap Gibran lalu pergi begitu saja.
Varka terdiam sejenak memandang langit-langit kamarnya. Semangat belajar yang tadi ia punya tiba-tiba menghilang begitu saja, dadanya terasa sesak mendengar ucapan Kakanya. Mungkin Varka akan sedikit baik-baik saja jika hanya kedua orangtuanya yang membandingkan mereka tapi Varka tidak akan baik-baik saja jika sodaranya sendiri juga membandingkan dirinya dengan Varka.
Yang Varka inginkan hanyalah dihibur oleh Kakanya ketika ada yang membandingkan mereka. Ia hanya ingin mendengar Kakaknya membelanya dan mengatakan Bahwa tidak apa-apa jika dia tidak seperti dirinya. Tapi nyatanya Kakanya sendiri juga membandingkan mereka.
Varka bangkit lalu mengambil jaketnya dan berlalu keluar kamar, ia tidak bisa tetap diam dirumah, ia butuh udara segar.
Varka menuruni anak tangga dan melihat Kakanya sedang makan.
"Jangan belajar terus sayang nanti kamu cape, sesekali kamu juga harus nyari udara segar" ucap mama sambil mengelus rambut Gibran
__ADS_1
Varka hanya tersenyum, senyuman yang amat menyakitkan. Disaat dirinya dituntut harus terus belajar sedangkan kakaknya bisa dengan santai pergi kemana saja tanpa takut dimarahi.
"Ma, Varka keluar sebentar ya" ucap Varka
Hening....
Tidak ada sautan apapun dari mamanya yang hanya sibuk dengan Gibran.
"Aku pergi dulu, aku pasti pulang nanti sore" ucap Varka lalu pergi tanpa menunggu jawaban karena ia tahu tidak akan pernah ada jawaban.
____
Pantai...
Ya tempat itulah yang selalu bisa membuat seorang Varka Adibumi tersenyum dengan tenang, Angin yang berhembus dan suara air bisa membuat hatinya merasa tenang..
"Indah sekali..." Gumam nya
Varka berjalan menyusuri pasir pantai setelah menaruh sepeda yang ia gunakan, ini sudah hampir sore jadi tidak terlalu banyak orang yang datang. Ia lalu duduk dipasir memandang lurus lautan yang begitu tenang serta beberapa orang didepannya yang terlihat begitu bahagia. Orang-orang disana tertawa dan bersenang-senang sambil menikmati indahnya pantai disore hari, Sedangkan dirinya hanya duduk seorang diri tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Lagi-lagi Varka menghela napas panjang. Mengingat semua hal yang terjadi pada hidupnya, kenapa setiap kali ia berusaha yang terbaik tapi tetap saja ia tidak bisa mendapatkan hasil yang baik. Dimanapun ia berada mengapa ia selalu saja merasa Sendirian.
Terkadang ia juga bosan jika harus terus menangis sendirian ditengah malam hanya karena mamah dan papah marah. Ia lelah harus selalu terlihat baik-baik saja disekolah tanpa ada seorang pun teman disisinya. Sejak kecil Varka memang selalu disalahkan, dibentak, dimarahi dengan alasan bahwa dirinya sangatlah nakal, dirinya tidak pintar dan dirinya tidak seperti Kakanya. Semua orang selalu membandingkan mereka berdua, apakah dirinya terlalu buruk sehingga semua orang menginginkan ia agar seperti Kakanya.
Varka tersenyum samar saat mengingat masa kecilnya. Sudah 15 tahun ia hidup dan selama itu pula Varka tak pernah merasakan apa itu kasih sayang, Tidak ada yang pernah menyayanginya dan memperhatikan nya. Ia hanya menanggung semua luka dan kesedihan seorang diri.
"Semua orang mengatakan rumah adalah tempat paling hangat, paling nyaman, tempat berkeluh kesah. Tapi kenapa hanya aku yang tidak bisa merasakan semua hal itu? Kenapa hanya kak Gibran yang bisa merasakan semua itu,, bukankah aku juga bagian dari keluarga mereka?" Gumam Varka
Tanpa disadari air mata keluar begitu saja, rasanya sesak sekali menahan semua hal yang menyakitkan seorang diri, tidak ada tempat untuknya berkeluh kesah. Ia hanya ingin didengar tanpa dihakimi. Varka semakin terisak, ia membenamkan wajahnya diantara lutut kakinya...
Varka langsung mengusap air matanya kasar, ia tidak boleh lemah seperti ini. Semesta tidak boleh tau bahwa dia terluka, Ya dia harus baik-baik saja ditengah-tengah dunia yang kejam. Ia yakin suatu saat nanti Keluarga dan semua orang di dunia ini akan menyayangi nya.
"Tidak apa-apa Varka, Kamu hebat..." Ucapnya pada diri sendiri
"Ma Pa aku tetap akan menyayangi kalian. Semoga saja aku bisa menjadi seperti apa yang kalian inginkan." Gumam Varka menatap lurus kedepan.
____
Helsha berjalan menyusuri pantai sore ini, entahlah rasanya menyenangkan berjalan-jalan di pantai seperti ini. Ada beberapa orang yang bisa ia hitung jumlahnya juga sedang berada dipantai ini, semuanya terlihat sangat bahagia tapi tidak dengan satu orang laki-laki didepannya
Tanpa disadari oleh laki-laki itu, Helsha memperhatikan nya dan Helsha yakin laki-laki itu sedang sedih, bisa Helsha lihat wajahnya begitu sendu menatap lurus kedepan.
"Dia menangis lagi...." Gumam Helsha
Ya bukan pertama kalinya ia melihat laki-laki itu terduduk dipantai ini seorang diri sambil menangis, Entah sudah berapa kali ia melihatnya menangis namun selama itu pula Helsha hanya Berani melihat dari kejauhan tanpa sanggup untuk menghiburnya.
Namun kali ini Entah mendapat keberanian darimana Helsha memutuskan untuk duduk disamping Varka dan ikut menatap kedepan,
"Indah ya." Ucap Helsha
Varka sedikit terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang duduk disampingnya dan mengajaknya bicara.
"Maaf kaget ya?" Tanya Helsha
Varka hanya menatap lama Helsha dan mengalihkan kembali pandangannya kedepan untuk menikmati langit sore yang indah,
__ADS_1
"menangis saja tidak perlu ditahan" ucap Helsha
Varka kembali menatap Helsha dengan tatapan bingung, bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh perempuan didepannya ini.
"Setiap orang pasti punya masalah kok.. Bunda ku bilang kalau mau nangis, ya nangis aja jangan di tahan"
Lagi-lagi Varka tidak menjawab dan hanya melihat ke arah Helsha. Ada sesuatu yang tidak Varka mengerti, kenapa perempuan ini mengatakan hal itu? Apa perempuan ini melihatnya menangis? Sungguh Varka tidak nyaman dengan situasi sekarang
"Kenalin Namaku Helsha Anatasya"
Helsha mengulurkan tangannya kearah Varka sambil tersenyum tulus, sedangkan Varka hanya menatap uluran tangan itu tanpa berniat untuk menjabatnya atau menjawab pertanyaan Helsha
"Maaf." Ucap Varka
Setelah mengatakan hal itu Varka langsung bangkit dan berjalan menjauh meninggalkan Helsha yang masih mematung tidak menyangka karena ajakan untuk berkenalan nya malah diabaikan.
Helsha menatap punggung Varka yang kini sudah semakin jauh dari tempatnya berdiri, kenapa setelah ia punya keberanian untuk menghampiri laki-laki yang selama ini selalu diam-diam ia perhatikan dari jauh malah seperti ini akhirnya. Apa ada yang salah dengan kata-katanya atau sikapnya?? Atau justru laki-laki itu memang tertutup.
"Aku dengan jelas mendengar nya minta maaf.. " gumam Helsha.
Ada sesuatu Hal yang selalu Helsha rasakan saat melihat laki-laki itu.. SAKIT ... Ya entah kenapa ia merasa sakit setiap kali melihat laki-laki yang bahkan belum ia kenal itu menangis. Ia ingin mencoba untuk bisa membuatnya tersenyum karena Helsha yakin senyuman laki-laki itu pasti Begitu manis.
_____
Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Varka baru saja kembali ke rumah. Saat memasuki rumah Varka langsung disambut dengan tatapan penuh kebencian dari Mamanya. Mama sedang berdiri dengan tangan menyilang didepan dada sambil menatapnya tajam seakan siap untuk memarahinya habis-habisan.
"Dari mana aja kamu?" Tanya Mama
"Dari luar Ma" jawab Varka singkat
"Keluyuran aja terus... Pantes aja nilai kamu gak naik-naik, Kamu gak tau Waktu banget ya. Sekarang tuh waktunya belajar, Lihat tuh Kaka Kamu dari tadi udah belajar dikamarnya sedangkan kamu malah baru pulang... Emang nya ngapain aja diluar sana Hah?!! Sampe gak inget waktu ya kamu"
"Maaf Ma."
"Sini kamu!"
Mama menarik paksa tangan Varka dan menghempaskannya dengan keras, membuat Varka langsung terhuyung kelantai dengan begitu keras
"Denger ya kamu!! Jangan sekali-kali lagi Kamu keluyuran gak jelas, Jangan malu-maluin nama keluarga tau!!! Bisa gak sih sekali aja kamu gak bikin masalah" bentak Mama
"I__Ya. ma, Maaf"
"Sini kamu!!"
"Ampun Ma.. sakit... Maaafin Varka.. ahkk.. Iya Ma ... Udah Sakit..."
Namun seakan tuli dengan ringisan dan teriakan kesakitan Varka, Mama terus saja memukul lengan dan kaki Varka menggunakan Sapu. Tak ada rasa kasihan terhadap Varka, Padahal Varka juga merupakan anak dirumah ini, tapi mengapa selalu mendapatkan perlakuan yang berbeda.
"Ini hukuman buat kamu karena kamu udah keluyuran gak jelas!! Awas kalau kamu ngulangin lagi"
Mama melempar sapu kearah Varka dan langsung pergi begitu saja meninggalkan Varka diruang tengah yang masih tersungkur merasakan sakit. Haruskah semesta sejahat ini Padanya, Tidak bisakah sehari saja semesta memihak nya?? Tidak kah semesta merasa kasihan padanya.
Varka bangkit, dengan susah payah ia berusaha berjalan agar bisa sampai dikamarnya. Tidak ada yang membelanya, tidak ada yang datang menolongnya, padahal Varka tau betul Kaka dan Papa nya ada dikamar mereka. Tapi nyatanya mereka acuh dan pura-pura tidak mendengar dengan apa yang barusan terjadi.
Didalam kamar yang gelap gulita Varka menangis sendirian dibalik pintu, Ia membukam mulutnya sebisa mungkin agar tangisnya tak begitu terdengar. Dengan rasa sakit yang ia rasakan disekujur tubuhnya dan rasa sesak yang terasa sangat menyakitkan.. hanya satu harapan Varka Agar hari esok ia Bisa sedikit merasakan kebahagiaan walaupun sedikit.
__ADS_1