Love In Hospital

Love In Hospital
BAB 104 - Mau Melahirkan atau Reuni ?


__ADS_3

Tingtong


" Malam Pak ada yang bisa kami bantu ? "


" Istri saya akan melahirkan tolong blankar sus " ucap Deva.


Perawat di IGD dengan sigap menyusul Deva sambil membawa blankar untuk Agni nanti.


Saat Agni di turunkan dari mobil, salah satu bidan yang bertugas di IGD Kebidanan menghampiri Deva dan Agni.


" Loh.. Agni .. ! " ucap Bidan itu bernama Imel.


Agni mendongakkan wajahnya.


" Kak Imel.. " sambil meringis menahan kontraksi di perutnya, disaat yang bersamaan Deva pun menoleh ke arah Imel.


" Bidan Imel " ucap Deva.


" Iya Dok " Imel menganggukkan kepalanya kepada Deva.


" Ayo bawa masuk " ucap Imel kepada perawat yang sedikit merasa heran, karena ia adalah perawat baru, sudah dipastikan pasien kali ini adalah istri sang dokter.


Agni dibawa ke ruang IGD Kebidanan, ia diperiksa oleh Imel terlebih dahulu sebelum dikonsultasikan kepada Dokter Ramzie.


" Detak Jantung Janin nya bagus ya Gni.. Kontraksi sudah mulai sering ya, tapi ketubannya sudah mulai rembes, kamu cukup tidur miring kiri jangan dulu bangun atau jalan-jalan, yang sabar ya.. kamu tetap semangat.. " ucap Imel.


" Makasih ya Kak Imel " balas Agni.


" Ruang perawatan nya sedang disiapkan, tunggu sebentar lagi ya, aku mau konsultasi kan dulu ke dokter Ramzie atau mungkin Dokter Deva bisa langsung konsultasi kan ke Dokter Ramzie " ucap Imel.


" Oh.. Ikuti prosedur dulu aja " balas Deva kepada Imel.


" Iya baik Dok, saya tinggal dulu ya " susul Imel.


" Terima kasih Bidan Imel " ucap Deva.


" Sama-sama Dok " Imel berlalu meninggalkan Deva dan Agni, tidak lama Ayah dan Ibu masuk melihat keadaan Agni.


" Gni.. Gimana nak ? " tanya Ibu.


" Mules banget Bu " jawab Agni.


" Yang sabar ya.. Proses melahirkan ya seperti ini dulu harus mulas.. Kamu pasti bisa " ucap Ibu menyemangati Agni.


Deva tidak lepas disamping Agni, ia pun selalu memberikan semangat kepada istrinya.


" Nak Deva, Agni kan belum membawa perlengkapan persalinan termasuk perlengkapan bayi, Ibu dan Ayah pulang dulu ya untuk membawa keperluan persalinan tadi " ucap Ibu teringat jika memang tadi Agni belum membawa apapun karena seisi rumah keburu panik Agni akan melahirkan.


" Oh iya Bu, tapi bagaimana Bu Deva tidak bisa mengantar, nanti Agni disini bagaimana " ucap Deva.


" Gak apa-apa, bisa pakai angkutan online aja 24 jam kok kalo disini, lagian juga Ibu sama Ayah jadi Insyaallah aman " balas Ibu.


" Hmm.. Tunggu Bu.. Bagaimana Ayah bawa mobil Deva saja, tidak apa-apa kan Yah ? " tanya Deva.


" Oh ya.. Boleh, Ayah masih bisa kok " balas Ayah tersenyum.


" Hati-hati Yah, Bu " Deva kepada kedua mertuanya lalu menyerahkan kunci mobil kepada Ayah mertuanya.


" Iya Nak Deva, kalau ada apa-apa hubungi Ibu atau Ayah ya.. "

__ADS_1


" Iya Siap Bu "


Ayah dan Ibu meninggalkan Deva dan Agni di ruang IGD Kebidanan Rumah Sakit Husada, Agni merasa flashback dengan suasana rumah sakit, dulu ia sering bolak balik IGD untuk menjemput pasien yang akan melahirkan untuk dibawa keruang bersalin.


Lamunan Agni buyar karena Deva memanggilnya.


" Gimana ? Masih kontraksi ? Kamu mau minum ? " tanya Deva.


" Sedikit aja Mas " jawab Agni.


Deva mengambilkan air minum lalu diserahkan kepada Agni.


...****************...


Station Perawat IGD Kebidanan


Tuut.. Tuut.. Tuut..


Imel : " Malam Dok "


Dokter Ramzie : " Ya Malam "


Imel : " Maaf Dok menganggu saya Imel dari IGD Kebidanan, ada pasien baru Dok, Usia kehamilan 39 minggu, kontraksi bagus, djj bagus, ketuban sudah rembes "


Dokter Ramzie : " Oke, bawa langsung ke ruang bersalin "


Imel : " Baik Dok "


Dokter Ramzie : " Saya baru selesai operasi, saya tunggu di ruang bersalin, pasien atas nama siapa ? "


Imel : " Agni Dok, Bidan Agni "


Imel : " Iya dok "


Dokter Ramzie : " Oke oke bawa segera "


Imel : Baik Dok "


Setelah menghubungi Dokter Ramzie, Imel segera menghampiri Deva dan Agni, terlihat Agni masih meringis menahan kontraksi.


" Gni.. Gimana sekarang ? Makin sering ya kontraksi nya ? " ucap Imel.


Agni hanya mengangguk, terlihat keringat sudah mulai membasahi wajahnya.


" Kita pindah yuk.. Dokter Ramzie sudah menunggu di ruang bersalin " ucap Imel.


Agni dipindahkan ke blankar lalu ia dibawa oleh Imel dan satu petugas lagi menuju ruang bersalin.


" Dokter Ramzie nya ada ? " tanya Deva kepada Imel.


" Ada dok, beliau bilang baru selesai operasi " jawab Imel.


" Oh pantesan " susul Deva pelan.


Sesampainya di ruang bersalin. Imel masuk ke stasion perawat. Ternyata yang jaga malam itu Bu Elma dan salah satu bidan baru bernama Tiara.


" Malam Bu, pasien baru " ucap Imel.


" Oh ya bukaan berap.... a.. " Bu Elma menghentikan ucapannya saat melihat Agni yang sedang berada di blankar.

__ADS_1


" Bidan Agni.... Ya ampuunnn... " Bu Elma langsung menghampiri lalu memeluk Agni.


" Apa kabar ? " tanya Bu Elma.


" Alhamdulillah ba..ikk.. Bu " ucap Agni sambil meringis.


" Dokter Deva apa kabar ? " tanya Bu Elma.


" Alhamdulillah kabar baik Bu " jawab Deva.


" Bu.. Ini pasien mau melahirkan atau mau reuni Bu ? " ucap petugas pembawa blankar disusul tawa dari semua yang berada di ruangan itu.


" Oh yaa.. Ayo pindahkan kesini saja " ucap Bu Elma, lalu Agni dipindahkan dibantu oleh Bidan Intan dan Bidan Imel.


Setelah Agni dipindahkan Imel dan petugas blankar pamit untuk kembali ke IGD, sedangkan Agni masih menunggu untuk diperiksa oleh Dokter Ramzie.


" Gni.. Ibu kira kamu mau melahirkan di Kota Bunga " ucap Bu Elma.


Agni hanya tersenyum.


Disaat yang bersamaan Dokter Ramzie datang menghampiri Deva dan Agni.


" Malam Dokter Deva " ucap Dokter Ramzie.


Deva menoleh " Malam Dok " Deva langsung menyalami Dokter Ramzie, yang dulu sebagai konsulennya saat ia masih menjadi seorang residen.


" Sehat-sehat ya, Bagaimana di Kota Bunga ? " tanya Dokter Ramzie.


" Aman terkendali Dok " jawab Deva.


" Oke, Bidan Agni apa kabar ? " tanya Dokter Ramzie.


" Alhamdulillah kabar baik Dok " jawab Agni.


" Sudah merembes ya, oke saya periksa dulu, kira-kira mau normal apa caesar nih ? " tanya Dokter Ramzie.


" Normal aja Dok ? " jawab Agni.


" Oke, karena persalinan normal butuh waktu, yang sabar ya.. Dev saya periksa istrimu ya.. " ucap Dokter Ramzie meminta ijin.


" Silakan Dok "


" Hmm.. Apa tidak oleh Mu saja " ucap Dokter Ramzie lagi.


Deva sedikit ragu.


" Bu Elma, siapkan sarung tangan steril untuk Dokter Deva " ucap Dokter Ramzie.


" Baik Dok "


Tidak lama Deva sudah menggunakan sarung tangan steril.


" Ayo.. Ini istrimu harusnya memang kamu yang memeriksa, bukankah kamu pernah bercerita jika yang pertama kali mengetahui istrimu hamil adalah kamu sendiri ? apa salahnya hingga bayi itu lahir ke dunia kamu juga yang pertama kali menerimanya " ucap Dokter Ramzie.


Benar apa yang dikatakan oleh Dokter Ramzie, Deva pun mulai menyemangati dirinya sendiri, ia merasa tidak percaya diri jika menolong persalinan istrinya padahal sudah berapa ribu pasien ibu hamil yang akan melahirkan, yang ia bantu persalinan nya, namun kali ini berbeda karena ia akan menolong istrinya sendiri dan yang lahir adalah darah dagingnya sendiri.


Agni yang sudah pasrah apapun yang akan dilakukan suaminya dan Dokter Ramzie karena hanya satu yang ia inginkan, ia hanya ingin segera melihat anaknya terlahir ke dunia.


💐💐💐

__ADS_1


__ADS_2