
Agni dan Deva menikmati perjalanannya dari Kota Bunga menuju Kota Metro, ia tidak menyangka kepulangannya kali ini didasari sesuatu yang tidak mengenakkan, sampai detik ini kedua orangtua Agni tidak pernah mengetahui apa yang sudah menimpa Agni dan Deva.
Agni meminta Deva untuk menyembunyikan kejadian ini kepada kedua orangtuanya, awalnya Deva tidak setuju bagaimana pun orangtua harus tetap di beritahu walaupun sekarang permasalahan sudah selesai namun tetap Agni memohon agar kedua orangtuanya tidak perlu tahu, Agni tidak ingin kedua orangtuanya menjadi khawatir.
" Kamu ngantuk ? " tanya Deva kepada Agni yang sedari tadi diam memperhatikan jalan yang lama-kelamaan menjadi gelap.
" Mhh.. Nggak Mas.. " jawab Agni tersenyum.
" Mau shalat dimana ? " tanya Deva lagi, karena memang waktu sudah memasuki waktu Maghrib.
" Mesjid yang kita lewati saja Mas, sekalian aku juga mau meluruskan punggung sedikit, akhir-akhir ini punggungku selalu terasa pegal dan agak panas " ucap Agni.
" Iya.. Karena semakin hari anak kita semakin besar, itu membuat pembuluh darah dan saraf di area punggung tertekan, itu yang membuat punggung kamu terasa sakit atau pegal " susul Deva menjelaskan.
Deva selalu menjelaskan jika Agni mengeluhkan sesuatu, seperti dokter kepada pasiennya atau mungkin seorang dosen kepada mahasiswanya, ya begitulah Deva, semenjak istrinya hamil ia pun selalu memantau kehamilannya bahkan tidak boleh dokter lain untuk memeriksa kehamilan istrinya.
" Terima kasih pak Dokter atas penjelasannya " balas Agni menggoda suaminya.
" Sama-sama Bu Bidan " susul Deva kembali fokus mengemudi.
Agni kembali memposisikan tubuhnya lebih dekat dengan suaminya, Deva yang melirik sedikit melihat istrinya yang sedang salah tingkah untuk meraih kaki bagian bawahnya.
" Kenapa ? mau istirahat dulu ? " tanya Deva.
" Euh nggak Mas, ini kaki ku gatal tapi sulit aku raih " jawab Agni.
Deva langsung memarkir mobilnya di pinggir jalan, ia langsung membungkukkan badannya ke arah kaki Agni.
" Sini.. Yang mana yang gatal ? " Deva meraih kaki istrinya.
__ADS_1
" Ini deket tumit, jadi aku susah kehalang perutku " ucap Agni.
Deva hanya tertawa kecil.
" Udah ? " tanya Deva sambil menggaruk kaki istrinya.
" Udah Mas.. Makasih " jawab Agni.
Deva kembali beranjak, lalu ia mengelus-elus perut istrinya yang sudah semakin membesar, hanya tinggal sekitar 2 bln lagi, Deva dan Agni akan segera bertemu dengan anaknya.
Deva kembali memposisikan tubuhnya, menyalakan mesin mobil untuk kembali melanjutkan perjalan, baru seperempat perjalan mereka, dalam perjalanan Deva melihat satu buah masjid yang cukup besar, ia segera memarkirkan mobilnya di halaman depan masjid untuk melaksanakan kewajibannya terlebih dahulu.
...****************...
Sekitar pukul 10 malam Deva dan Agni sudah sampai di kota Metro. Agni tersadar saat jalan yang dilalui suaminya bukan jalan yang biasa dilalui menuju rumah orangtuanya.
" Mas ... Kok lewat sini ? Kita mau kemana ? Kalo lewat sini ke rumah kejauhan " ucap Agni.
" Aku udah bangun dan baru sadar kalo ini bukan jalan arah ke rumah Mas.. Ini sih jalan ke rumah sakit " ucap Agni.
Deva tersenyum.
" Memang niat aku lewat sini untuk flashback ke masa dimana aku bekerja di rumah sakit disini dan..... " Deva menghentikan ucapannya.
" Dan apa ? " susul Agni.
" Dan aku ketemu kamu " ucap Deva.
" Hmm.. " Agni tersenyum memutar bola matanya.
__ADS_1
" Kenapa ? " tanya Deva.
" Kamu dokter residen yang... " giliran ucapan Agni yang terhenti.
" Yang apa ? "
" Yang menyebalkan " ucap Agni di susul oleh tawanya sendiri.
" Hmm.. Menyebalkan.. Tapi akhirnya kamu hamil anaknya kan ? " balas Deva.
" Ih.. Mas Deva... " Agni mencubit lengan suaminya.
" Aw.. " Deva meringis karena tangannya dicubit.
Saat mobil Deva memasuki area pintu masuk utama rumah sakit dan tepat di halte yang pada saat itu Agni kehujanan lalu Deva menawarkan Agni untuk ikut dengannya, ingatan Deva membuat dirinya tertawa kecil. Agni heran melihat suaminya yang tertawa namun tidak mengajaknya.
" Mas.. Ngapain ketawa-ketawa sendiri " tanya Agni.
" Hmm.. Nggak... Aku cuma inget aja.. " jawab Deva.
" Inget apa ? " Agni penasaran.
" Inget sama bidan yang kehujanan di halte itu " Deva menunjuk halte tepat berada di samping nya.
" Hmmm... " Agni kembali menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi, ia pun sudah tidak penasaran karena bidan yang dimaksud oleh Deva adalah dirinya.
Ingatan Deva dan Agni tentang story mereka berdua di Rumah Sakit Kota Bunga membuat pikiran Deva sedikit terobati, ia pun merasa nyaman dan tenang sesaat setelah sampai di Kota Metro, entah mengapa selama ia masih berada di Kota kelahiran nya ia selalu merasa was-was dan khawatir akan keselamatan istrinya.
Sekitar 1 jam Deva muter-muter di Kota Metro akhirnya mobil Deva melaju ke arah jalan rumah mertuanya yaitu orangtua Agni, tepat pukul 11 lebih 10 menit, mobil Deva sudah terparkir di halaman rumah orangtua Agni.
__ADS_1
Mereka berdua turun dari mobil, lalu berjalan masuk kedalam rumah dengan perlahan karena malam sudah larut, khawatir akan mengganggu tetangga sekitar jika mereka terdengar berisik.
💐💐💐