
Sesuai jadwal Agni sudah harus kontrol kehamilan nya hari ini, ia diingatkan oleh alarm pengingat di ponselnya. Deva biasanya akan cerewet untuk mengingatkan Agni, namun entah karena ia sedang sibuk akhir-akhir ini sehingga ia pun lupa jadwal kontrol kehamilan istrinya.
๐นKontrol My Baby ๐น
" Mas Deva kok gak ngingetin aku ya, tadi pagi aja sebelum berangkat dia gak bilang apa-apa " gumam Agni menatap layar ponselnya.
Agni segera mengirim pesan kepada suaminya, ia memberitahu jika hari ini jadwal nya kontrol kehamilan, saat pesan sekitar satu menit terkirim, Deva langsung menghubungi Agni.
Agni : " Halo Mas "
Deva : " Yang.. aku hampir lupa, gimana untuk kontrol sore aja ya ke klinik biar kamu gak terlalu lama menunggu, nanti aku yang daftarkan, kamu tinggal datang aja "
Agni : " Oke Mas "
Deva : " Oke see you aku lanjut lagi ya "
Agni : " Ya Mas "
Klik telepon di tutup.
Agni kembali menyimpan ponselnya, ia berjalan keluar kamar untuk mengambil minum, ia merasa haus kali ini. Saat ia berjalan melewati ruangan televisi, ia melihat Dhena sedang menonton film sambil bersantai.
" Serius banget Dhen " ucap Agni sambil berjalan mengambil air minum.
" Eh Mbak hehehe lagi seru nih film nya, jarang-jarang aku bisa nonton santai gini, mumpung masih ada waktu " balas Dhena.
Karena semenjak ia kuliah kedokteran waktunya banyak tersita untuk belajar dan belajar, sangat jarang sekali ia menikmati waktu santai seperti sekarang ini.
Agni duduk tepat di sebelah Dhena, sambil memegangi perutnya.
" Hati-hati Mbak " Dhena dengan sigap bangun dari duduk nya membantu Agni.
" Makasih Dhen " ucap Agni.
" Iya Mbak "
Mereka kembali ngobrol dengan akrab, bercengkrama sesekali di susul oleh tawa keduanya.
...****************...
Tepat pukul 4 sore Agni sudah siap untuk pergi ke klinik, sebelum nya Deva memberitahu jika ia sudah berada di klinik dan sekitar 8 pasien lagi yang harus ia periksa.
" Hmm.. cukuplah ya jam segini ke klinik jadi aku gak harus nunggu lama " batin Agni sambil melihat arloji dipergelangan tangan nya.
Setelah siap Agni berjalan keluar kamar, ia melihat Mama Nita sedang berada di ruang keluarga bersama Dhena.
" Mbak mau kemana udah rapi ? " tanya Dhena.
" Iya kamu mau kemana Gni ? " tanya Mama Nita.
" Agni mau periksa kadungan Ma " jawab Agni.
" Ke rumah sakit Mbak ? " tanya Dhena lagi.
" Ke Klinik Dhen, biar gak terlalu lama ngantri kata Mas Deva " jawab Agni.
" Oh oke, sama siapa ? sendiri ? aku anter deh Mbak " susul Dhena.
" Gak usah Dhen, Mbak sendiri aja lagian deket kok kan klinik nya di simpangan depan " balas Agni.
" Jangan.. aku anter aja tunggu sebentar " Dhena beranjak dari duduk nya.
" Iya Gni.. kamu dianter Dhena aja ya " ucap Mama Nita.
__ADS_1
" Iya Ma.. " Agni mengangguk sambil menunggu Dhena.
Tidak lama Dhena sudah kembali sambil membawa kunci mobilnya.
" Ma.. Dhena anter Mbak Agni dulu ya " ucap Dhena.
" Iya hati-hati " balas Mama Nita.
" Agni pamit dulu Ma " Agni menyalami Mama mertuanya.
" Iya hati-hati ya "
Dhena mengantarkan Agni sampai klinik, benar saja disana sudah terparkir mobil Deva.
" Dhen, makasih banyak ya.. Mbak masuk dulu " ucap Agni.
" Iya santai Mbak.. aku pulang ya Mbak, hati-hati turunnya " susul Dhena.
" Iya.. kamu hati-hati di jalan "
Bug
Pintu mobil Agni tutup, ia melihat Dhena melajukan kembali mobilnya, ia lalu masuk kedalam klinik, menuju ruang pemeriksaan kandungan.
Disisi lain, Dhena yang baru melajukan mobilnya melihat sekilas ada seseorang yang tidak dikenal terus mengintai mobil kakaknya.
" Eh itu siapa, muter-muter di mobil Mas Deva, mencurigakan.. " Dhena memelankan laju kendaraan nya, ia berniat untuk mengambil ponsel untuk merekam kejadian itu.
Saat Dhena mencari-cari ponselnya ia baru teringat jika ia tidak membawa ponsel, ponsel nya tertinggal di meja ruang keluarga.
" Sial.. gak bawa hp lagi, ck.. siapa ya itu.. gak bisa didiemin pasti di komplotan yang mau nyuri barang di dalam mobil " gumam Dhena.
Lalu ia berinisiatif untuk mengklakson dengan keras.
" Woy... ngapain lo !! " Dhena dengan berani membuka sedikit kaca mobilnya lalu berteriak dari dalam mobil.
Dengan sigap, orang tidak dikenal itu berlari menjauh dari parkiran Klinik, mendengar sedikit teriakan Dhena seorang security menghampiri Dhena yang berada di dalam mobil.
Tuk.. tukk..
" Permisi Mbak " ucap security itu mengetuk kaca pintu mobil Dhena.
Dhena membuka kaca pintu mobilnya.
" Ya Pak "
" Maaf Mbak ada apa ya sepertinya tadi berteriak "
" Itu Pak, tadi ada yang mencurigakan muter-muter di mobil abu-abu tua itu, tolong ya Pak takutnya itu komplotan yang mau mencuri barang didalam mobil " ucap Dhena.
" Oh begitu, baik terima kasih informasinya nya Mbak "
" Sama-sama Pak, saya lanjut jalan ya " ucap Dhena.
Dhena kembali melanjutkan perjalanan menuju rumah, ia masih berpikir jika pria tadi memang berniat untuk mencuri barang-barang yang berada di dalam mobil Deva, karena Dhena sangat tahu isi mobil kakaknya selain jas putih dan baju ganti juga sepatu dan sandal juga alat-alat medis lainnya biasanya di dalam mobil Deva ada laptop yang selalu ia simpan di jok belakang.
" Harus lebih hati-hati Mas Deva " gumam Dhena
...****************...
Di depan ruangan pemeriksaan. Agni sedang duduk menunggu tadi ia menanyakan jika setelah ini adalah gilirannya untuk dipanggil untuk di periksa.
Di klinik belum ada yang tahu jika Agni adalah istri dari Deva, berbeda dengan di rumah sakit, hampir semua sudah tahu jika Agni adalah istri dari Deva, Dokter kandungan terbaik di rumah sakit Kasih Ibu.
__ADS_1
" Ibu Agni "
Agni langsung beranjak dari duduknya, ia berjalan membuka pintu ruangan.
" Silakan Bu " ucap perawat sedikit jutek.
" Ya terima kasih "
Agni melihat Deva sedang duduk mencatat di lembar status pasien, biasanya ia akan disambut oleh senyum manis dari suaminya, namun kali ini Deva masih sibuk mencatat.
Agni setia menunggu, hingga akhirnya Deva tersadar dengan seseorang di hadapannya. Diawali dengan senyum manisnya Deva mempersilakan istrinya untuk duduk.
" Silakan duduk Bu Agni " ucap Deva.
" Terima kasih dok " balas Agni.
" Sus, maaf ini lembar status pasien tadi " Deva menyerahkan beberapa lembaran kepada perawat.
Deva lalu membuka status pasien atas nama istrinya..
" Kehamilan 23-24 minggu atau 6 bulan ya, ayo silakan ke bed " ucap Deva.
Agni menuruti, ia hanya ingin tertawa melihat tingkah Deva, ia sudah biasa Deva selalu menggodanya jika ia akan memeriksa kandungannya.
Agni dibantu oleh perawat, tidur di bed pemeriksaan. Deva mulai menggerakkan alat usg diperut istrinya yang sudah membesar. Seperti biasa Deva hanya asyik sendiri, lalu tersenyum kecil.
" Oke sudah "
Deva hanya tersenyum. Lalu berjalan ke meja Konsultasi.
" Sudah selesai Bu, ditunggu kemeja konsultasi " ucap perawat dengan nada ketus.
Setelah dibersihkan Agni kembali dibantu oleh perawat.
" Ketus banget.. ada masalah apa sih bu ? " batin Agni, ia sedikit bete dengan perlakuan susternya.
Lalu Agni kembali duduk di meja Konsultasi.
" Nanti aku jelasin di rumah ya.. " ucap Deva kembali tersenyum, ia tahu seperti nya Agni bete dengan sikap perawat itu.
Agni hanya tersenyum malas, ngapain dia capek-capek ke klinik kalo ujung-ujungnya selalu dijelaskan di rumah hahahaha Agni yang sabar ya..
" Oya.. ini " Deva mengambil kunci mobil lalu diserahkan kepada Agni.
Perawat yang masih menunggu untuk mengambil status pasien Agni menjadi heran, jadi ini siapa ? istrinya kah ?
" Sayang.. Kamu tunggu di mobil ya, aku beres-beres dulu.. " ucap Deva.
" Oke Mas " balas Agni.
" Sayang ? Ya Tuhan ini istri dokter Deva, mati aku... kenapa juga aku gak bisa mengenyampingkan rasa lelah aku, apa barusan aku jutek ya " batin perawat gusar.
" Kenapa sus ? " tanya Deva yang melihat perawat masih bengong melihat Deva dan Agni.
" O..oh.. tidak dok tidak apa-apa " jawab perawat kikuk.
" Dia istri saya sus, nanti lain kali kalo dia kesini gak usah heran, dia istri saya " ucap Deva.
" Oh ya dok, mohon maaf ya Bu "
" Tidak apa-apa sus, lain kali kepada siapapun pasiennya, jangan ketus ya.. pelayanan tetap pelayanan mau kita capek atau lelah sekalipun tetap kita harus tersenyum dihadapan pasien, apalagi mood ibu hamil yang berubah-ubah, kadang di jutekin kaya gitu gak enak loh sus.. " ucap Agni tersenyum.
" Mohon maaf Bu, mohon maaf dok " ucap perawat itu.
__ADS_1
๐๐๐