
Deva sedang berada di rumah sakit, seperti biasa ia masih praktek poli saat ini, walaupun ia merasa tubuhnya tidak baik-baik saja, tapi tetap ia harus menjalankan tugasnya pasca cuti kemarin, sedangkan Agni ia duduk di sofa kamar ia sendiri di rumah karena Mama Nita tadi pamit untuk arisan bersama sahabat-sahabatnya.
Agni sedang memainkan ponselnya, ia sudah lama tidak berkomunikasi dengan Meysa dan Imel, Agni sedang bertukar pesan dengan Meysa dan Imel, walaupun Agni sudah lama tidak bekerja namun Agni selalu menyempatkan bertukar pesan dengan Meysa dan Imel, lagipula hubungan Meysa dan Ibnu sepupu Agni berlanjut, dari semenjak perkenalan mereka berdua di acara pernikahan Agni, Ibnu dengan gencar terus mendekati Meysa sampai akhirnya Meysa dan Ibnu menjalin hubungan hingga sekarang.
Saat Agni sedang berkirim pesan, ia merasakan perutnya sakit dan tidak nyaman, lama kelamaan perutnya semakin sakit, ia pun heran apa yang terjadi pada tubuhnya, sampai akhirnya ia harus menghubungi Deva karena ia di rumah hanya sendiri.
Tuut... Tuutt.. lama tidak diangkat.
" Mas Deva kemana sih ? Mas..perut aku sakit banget ini " Agni meringis kesakitan.
Tidak lama Deva menghubungi Agni, karena tadi ia melihat ada panggilan tidak terjawab dari istrinya.
Agni : " Mas.. "
Deva : " Iya sayang, ada apa ? "
Agni : " Mas.. perut aku sakit banget Mas.. bisa tol..ong pul..ang gak ? "
Deva : " Hah.. perut kamu sakit, Mama gak ada ? "
Agni : " Mama arisan.. "
Deva : " Oke.. tunggu aku datang, sabar ya sebentar.. oke.. kamu bisa tahan ? jangan di tutup telepon nya "
Agni : " Mas cepet aku gak kuat "
Deva langsung menghampiri perawat yang membantunya di ruang poli.
" Sus, berapa pasien lagi ? " tanya Deva.
" 6 orang lagi dok " jawab perawat.
" Duh masih banyak lagi, bisa di pending gak ? " ucap Deva.
" Dipending gimana ya Dok ? "
" Istriku sedang sakit di rumah, dipending satu jam bisa ? " ucap Deva.
" Oh gitu baik dok "
" Oke makasih " Deva bergegas setengah berlari menuju parkiran mobil, saat ia berjalan menyusuri koridor-koridor rumah sakit, ia berpapasan dengan Pak Jefri.
" Dev ada apa ? kok lari-lari " tanya Pak Jefri.
" Agni Pa, di rumah ia lagi kesakitan " jawab Deva.
" Kesakitan gimana ? " tanya Pak Jefri.
" Aduh.. nanti deh Pa ceritanya, aku ke rumah dulu ya " Deva kembali bejalan setengah berlari menuju parkiran mobil.
" Ada apa ya dengan Agni.. ck... bikin khawatir " gumam Pak Jefri.
...****************...
Deva melajukan kendaraan nya diatas rata-rata karena ia ingin segera sampai rumah. Hanya sekitar 15 menit Deva akhirnya sampai rumah, ia bergegas masuk kedalam rumah, berjalan menuju kamar, karena ia pastikan Agni berada di kamar.
Saat membuka pintu kamar, Agni sedang berselonjor duduk di lantai sambil memegangi perutnya.
" Mas... " panggil Agni saat melihat Deva sudah berada di depan pintu.
" Ya Tuhan.. Agni kamu kenapa ? " tanya Deva.
Ia melihat istrinya sudah pucat dan penuh dengan keringat mungkin karena menahan sakit di perutnya.
__ADS_1
Deva langsung menggendong istrinya, ia bawa keluar rumah menuju mobil, ia akan segera membawa Agni ke rumah sakit.
" Sabar yaa.. tahan sebentar lagi sampe rumah sakit " ucap Deva.
Sesampainya di rumah sakit, Deva langsung membawa Agni ke Instalasi Gawat Darurat, saat Deva masuk perawat jaga langsung menghampiri nya.
" Ada apa dok ? " tanya salah satu perawat.
" Tolong istri saya " jawab Deva menidurkan Agni pada bed yang kosong.
Agni ditangani oleh dokter jaga di IGD, Deva terus memperhatikan dokter jaga merawat Agni membuat dokter yang jaga itu sedikit gugup karena di perhatikan oleh Deva.
" Gimana ? " tanya Deva.
" Euh Dok.. bagaimana kalau di usg saja ? " ucap dokter jaga.
" Oke.. tolong bawa ke ruangan saya " ucap Deva, ia masih tidak sadar apa yang sedang istrinya alami.
Agni langsung dibawa ke ruangan Deva, disana perawat merasa heran, tadi Deva meminta untuk pending satu jam, namun tiba-tiba ia kembali dengan pasien baru.
Agni kembali di tidurkan di bed pemeriksaan, ini kali pertama ia diperiksa oleh suaminya. Ia tidak menyadari apa yang sedang dialami oleh dirinya, Agni setengah sadar dan tidak karena menahan sakit perut yang teramat.
" Dok, pasien atas nama siapa dok dan ini kehamilan berapa minggu ? " tanya perawat karena ia akan mengisi di buku pasien baru, ia tidak tahu jika pasien yang datang bersama Deva itu adalah istrinya.
" Dia istriku " ucap Deva.
" Oh ya .. maaf Dok " ucap perawat sedikit kaget, karena ia hanya tahu Deva sudah memiliki istri namun ia tidak tahu istri Deva yang mana.
Deva tersadar, ia akan memeriksa keadaan istrinya. Ia baru ngeh dengan ucapan perawat.
Ya tuhan.. apakah Agni sedang mengandung ?
Batin Deva.
" Dok bisa dimulai ? " ucap perawat.
" Oh.. ya.. " Deva mulai menggerakkan alat usg di perut istrinya, ia fokus pada layar monitor, lalu ia melihat ada bulatan kantong kehamilan yang sudah berisi janin dengan jantung yang sudah berdetak.
Seketika tangan Deva gemetar, ia meneteskan air matanya.
Alhamdulillah ya Allah...
" Dok... " ucap perawat menyadarkan Deva.
" Mas kenapa ? " tanya Agni, ia melihat wajah suaminya menjadi berubah.
" Coba kamu liat " Deva mengarahkan layar monitor kepada istrinya.
Saat Agni melihat ia terus memperhatikan layar monitor itu dan...
" Mas.... aku hamil... " Agni berseru, ia pun tak kuasa menahan air matanya.
Perawat yang menyaksikan Deva dan Agni menangis bahagia ikut terharu, perawat itu pun meneteskan air matanya.
" Sayang.... Alhamdulillah ya Allah.. " ucap Deva mengecup kening istrinya.
" Selamat Dokter Deva dan Istri " ucap perawat.
" Terima kasih "
Deva merasa sangat bahagia karena ia yang pertama kali mengetahui jika istrinya hamil, Deva kembali melanjutkan pemeriksaan kepada Agni.
Menurut hasil pemeriksaan usia kehamilan Agni sudah 8 minggu, sudah sekitar 2 bulan namun Agni tidak menyadari nya begitupun Deva. Pantas akhir-akhir ini Agni sering merasa lelah dan penciuman nya sangat sensitif.
__ADS_1
Namun ada kendala sedikit pada kehamilannya, Agni harus istirahat total, mungkin karena Agni kelelahan setelah liburan kemarin dengan kondisi kandungan yang masih rentan, Deva memutuskan agar Agni menjalani perawatan intensif di rumah sakit selama beberapa hari kedepan sampai kondisi Agni dan janin nya aman.
...****************...
Agni sudah dipindahkan ke ruang perawatan, disana sudah ada Pak Jefri dan Deva yang menunggui Agni.
Deva tidak lepas berada di samping Agni. Ia duduk menelungkup kan wajah di sebelah istrinya.
" Selamat ya Dev.. Gni.. akhirnya yang kalian nantikan dan Papa juga sangat bahagia karena sebentar lagi Papa akan memiliki cucu " ucap Pak Jefri.
" Terima kasih Pa " balas Agni.
" Dev, hubungi Mama mu, beritahu jika Agni sedang di rumah sakit " ucap Pak Jefri.
" Iya Pa " Deva mendongakkan sedikit wajahnya.
Pak Jefri merasa aneh melihat anaknya.
" Kamu kenapa ? sakit ? harus nya kamu bahagia dong calon Ayah " ucap Pak Jefri.
" Gak apa-apa kok Pa.. hmmm.. aku bahagia banget malah " ucap Deva tersenyum.
Pak Jefri pun membalas senyuman anaknya, ia kembali ke ruangannya, sedangkan Deva langsung menghubungi kedua orangtua Agni dan Mama Nita. Orangtua Agni sangat bahagia mendengar Agni sedang mengandung, begitupun Mama Nita ia akan segera datang ke rumah sakit untuk menemui Agni.
Tidak lama pintu ruangan di ketuk, seorang perawat masuk menghampiri Deva.
" Permisi Dok "
" Ya, ada apa ? " tanya Deva kembali mendongak kan wajahnya, karena ia duduk sambil menelungkup kembali.
" Maaf Dok, 15 menit lagi jadwal tindakan operasi dok " ucap perawat itu.
Deva menoleh ke arah istrinya. Agni hanya mengangguk tersenyum.
" Oke.. saya segera kesana "
" Baik dok, saya permisi "
Perawat keluar kembali menutup pintu kamar perawatan.
" Mas.. kamu kenapa ? sakit ? " tanya Agni.
" Nggak kok, aku cuma lemes aja " jawab Deva.
Agni berusaha untuk bangun.
" Mau ngapain kamu ? jangan bangun ! " ucap Deva.
" Hmm.. " Agni kembali memposisikan tubuhnya berbaring.
" Aku operasi dulu ya " ucap Deva ke Agni.
" Iya Mas "
" Kamu jangan bangun, kalo mau apa-apa pencet bel minta sama perawat ya, kamu harus tetep bedrest kaya gini " ucap Deva.
" Iya Mas "
Deva berjalan keluar ruang perawatan Agni, walaupun entah mengapa tubuhnya seperti enggan untuk melakukan aktifitas apapun namun bagaimana pun ia harus tetap menjalankan tugasnya di rumah sakit.
Alhamdulillah ya Allah.. akhirnya kamu hadir juga di perut Mama.. Maafkan Mama ya nak.. Mama gak sadar kalo kamu udah ada di perut Mama.. Kamu pasti protes ya kemarin Mama pecicilan di Maldives, kamu pasti mau ngasih tahu kalo kamu udah ada di perut Mama.. Sehat selalu ya sayang..
Batin Agni mengelus-elus perutnya.
__ADS_1
💐💐💐