
Setelah kejadian di telepon, Deva berbalik menjadi tidak peduli kepada Agni, ia merasa perjuangan nya tidak di hargai oleh Agni, sekarang giliran Agni yang ketar ketir menghadapi Deva.
Tidak ada satupun pesan dan telepon Agni yang dibalas oleh Deva, Deva benar-benar mendiamkan Agni, walaupun dalam hati nya ia masih kesal, namun ia merasa sedikit senang karena Agni terus mencarinya. Deva bukannya tega, ia hanya ingin melihat sejauh mana Agni mempertahankan hubungan nya dengan Deva.
( Gantian ya Gni.. jangan Deva mulu yang ketar ketir mikirin kamu.. hehehe )
Sepulang dari rumah sakit Agni buru-buru ingin sampai rumah, ia pun merasa tidak tenang, hubungannya dengan Deva selalu saja diuji dengan salah paham. Ia merasa harus berbicara langsung dengan Deva.
Ia sudah memesan tiket kereta untuk besok pagi menuju Kota Bunga, tempat kelahiran Deva. Ia berniat untuk mengunjungi Deva ia menginginkan kejelasan hubungannya. Ia sudah meminta ijin kepada Bu Irna untuk tukeran dinas dengan Bidan yang lain, karena besok ia tidak bisa masuk, Bu Irna mengerti ia mengijinkan Agni, begitupun Meysa saat ia tahu, Meysa siap untuk double shift demi Agni.
Saat Agni sudah menyalakan mesin motornya, ia kembali di panggil oleh Fahri.
" Agni.. " panggil Fahri.
Agni menoleh ke arah Fahri.
" Buru-buru banget, kita ngopi dulu yuk di cafe sebrang rumah sakit depan " ajak Fahri.
" Sorry aku buru-buru dan please Kak.. jangan ganggu aku lagi, oke.. " ucap Agni.
" Loh kenapa ? kamu takut sama Dokter Deva ? Lagian dianya juga gak disini, gak bakal ada yang tahu juga " balas Fahri.
" Pokonya tolong jangan ganggu aku lagi.. " Agni segera tancap gas melajukan motornya.
Fahri yang sedikit kesal karena pendekatan lagi ke Agni tidak di gubris sama sekali, ia berpikir setelah Agni jauh dari Deva ia yang selalu ada untuknya, lalu Agni akan berpindah lebih memilih Fahri daripada Deva, namun pada kenyataannya tidak, Agni tetap bertahan pada Deva walaupun hubungannya sedang tidak baik-baik saja.
Ck... susah banget deketin kamu lagi Gni....
Fahri menendang ban motor di hadapannya, yang entah motor siapa.
Dalam perjalanan Agni melajukan motornya diatas rata-rata, ia ingin segera sampai rumah lalu meminta ijin kepada kedua orangtuanya untuk ke kota Bunga.
Sesampainya di rumah Agni langsung mengutarakan maksud nya, awalnya Ayah tidak menyetujui karena ia merasa khawatir jika Agni pergi sendiri, setelah negosiasi panjang akhirnya Ayah dan Ibu mengijinkan asal kan setelah sampai kota Bunga, Deva yang harus menghubungi kedua orangtua Agni.
Agni menyetujui walaupun ia belum tahu akan seperti apa pertemuan nya besok dengan Deva. Ia tidak akan memberitahu Deva atas kedatangannya, ia akan langsung menemui Deva di Rumah Sakit tempat Deva bekerja.
...****************...
Keesokan harinya setelah salat subuh Agni sudah bersiap menuju Stasiun kereta api. Ia diantarkan oleh Ayah nya menuju stasiun, karena langit masih terlihat agak gelap matahari belum menampakkan sinar nya, orangtua nya khawatir jika Agni pergi dengan keadaan langit masih agak gelap.
Setelah sampai di stasiun, Agni langsung menaiki kereta, sebelum nya ia pamit dulu kepada Ayah nya.
" Yah.. Agni pamit " ucap Agni menyalami Ayah nya.
" Hati-hati.. jangan lupa untuk selalu kabari Ayah dan Ibu " balas Ayah.
" Siap komandan " ucap Agni dengan gaya hormatnya.
__ADS_1
Agni menikmati perjalanan nya kali ini tidak dengan derai air mata, ia sesekali teringat obrolan Mama Nita pada saat ia pertama kali ke rumah Deva, namun ia sudah mulai melupakan itu, walaupun masih sedikit membekas namun ia melihat kesungguhan Deva kepada nya.
Mas.. ayo kita sama-sama meyakinkan Mama Nita ..
Batin Agni.
Ia sesekali membuka ponselnya, ia berharap Deva menghubungi nya atau sekedar mengirim pesan, namun harapan tidak sesuai kenyataan, tidak ada pesan satu pun dari Deva.
Sekitar pukul 9.30 pagi Agni sudah sampai di stasiun Kota Bunga, ia segera memesan taksi online, lalu ia memasukkan destinasi tujuannya yaitu Rumah Sakit Kasih Ibu, ia tahu jika Deva bekerja di Rumah Sakit Kasih Ibu.
15 menit menunggu, ia dihubungi oleh driver taksi online jika ia sudah berada di depan stasiun, sesuai ciri-ciri yang sudah disebutkan, Agni berjalan menaiki taksi yang sudah ia pesan.
" Sesuai aplikasi ya Mbak " ucap drivernya.
" Iya Pak ke rumah sakit kasih Ibu " balas Agni.
" Siap Mbak "
Sesampainya di rumah sakit, perasaan Agni menjadi tidak enak, jantungnya berdetak tidak karuan.
Apakah keputusan ku ini benar dengan mengunjungi Deva ke tempat kerjanya ? Tapi masa iya aku harus ke rumah nya, lagipula aku tidak tahu alamat rumah nya dengan detail
Agni membatin, tetapi ia kembali meyakinkan hatinya, ia lalu melangkahkan kakinya menuju lobby rumah sakit, ia menuju pusat informasi untuk menanyakan jadwal praktek Deva.
" Selamat siang ada yang bisa dibantu ? " tanya resepsionis rumah sakit.
" Oh Dokter Deva spesialis kandungan ya ? " tanya resepsionis lagi.
" Iya betul "
" Baik sebentar saya lihat dulu ya "
Agni hanya mengangguk tersenyum. Ia memperhatikan wanita dihadapannya dengan cekatan mengetikkan nama Deva untuk melihat jadwal praktek Deva.
" Hmm.. hari ini sedang praktek Bu, dari jam 9 sampai jam 12 siang.. saya lihat disini baru urutan nomor 5 yang sudah di periksa, jika Ibu mau periksa, ibu bisa daftar dulu, setelah data masuk ibu tinggal menunggu di poli kandungan lantai 2 " ucap resepsionis.
" Oke baik, terima kasih informasinya " ucap Agni.
" Sama-sama "
Agni langsung berjalan menuju lift, ia berniat untuk langsung ke ruang poli kandungan dan kebidanan menggunakan lift, sesampainya di lantai 2 ia sudah disuguhi pemandangan Ibu-ibu hamil yang sedang duduk menunggu giliran, saat Agni berjalan untuk ikut duduk bersama pasien Deva yang lain, seorang Dokter, yang Agni yakin itu adalah Dokter senior berjalan berlawanan arah.
Ia sekilas melihat lalu melebarkan senyumnya, begitu pun Dokter senior itu, ia membalas senyuman Agni, Agni merasa pernah melihat dokter itu yang tidak lain adalah Dokter Jefri Ayah Deva. Dokter Jefri pun merasa tidak asing saat berpapasan dengan Agni.
Perasaan pernah liat dimana ya ??
Batin Agni, namun ia tidak terlalu menghiraukan, ia langsung menghampiri meja perawat. Ia mengutarakan maksud nya untuk bertemu Deva, ia akan menunggu sampai pasien Deva sudah selesai semua di periksa.
__ADS_1
Perawat mengerti, ia meminta Agni untuk menunggu hingga pasien-pasien Deva selesai diperiksa.
Hampir dua jam Agni menunggu, sampai akhirnya tinggal pasien terakhir yang akan di periksa oleh Deva.
" Sudah selesai semua ya ? " tanya Deva.
" Euh masih ada satu lagi dok " jawab Perawat.
" Bukannya udah selesai ya ? emang masih ada pasien lagi ? " tanya Deva penasaran.
Disaat yang bersamaan Agni masuk kedalam ruangan Deva.
" Silakan " ucap perawat kepada Agni.
" Terima kasih " jawab Agni.
Deva yang melihat Agni, sedikit kaget tapi senang. Namun kekesalannya jauh lebih besar, sehingga Deva masih bersikap dingin kepada Agni.
Agni tersenyum lebar lalu berdiri di hadapan Deva.
" Siang Dokter Deva, boleh saya duduk ? " tanya Agni.
" Silakan, ada perlu apa ya ? " tanya Deva dengan gaya cool nya.
" Hmm saya hanya ingin bertemu calon suami saya, saya ingin menjelaskan sesuatu kepadanya " jawab Agni.
Deva hanya manggut-manggut.
" Apa yang ingin kamu jelaskan kepada calon suamimu ? " tanya Deva lagi.
" Saya menjelaskan kesalahpahaman yang kemarin, itu tidak seperti apa yang dia pikirkan " jawab Agni.
" Lalu .. ? " tanya Deva lagi.
" Lalu.. saya ingin memperbaiki semuanya, tapi jika calon suami saya masih tidak ingin berbicara dengan saya, tidak apa-apa, saya akan kembali pulang, permisi "
Agni beranjak dari duduknya, ia membalikkan badan melangkahkan kakinya, namun saat Agni sudah sampai depan pintu, Deva meraih tangan Agni.
" Tunggu.. "
Agni menghentikan langkahnya. Lalu menoleh ke arah Deva.
" Jangan pulang dulu, tetap disini " ucap Deva.
Agni mengangguk.
Akhirnya Deva berbicara kepada Agni begitupun Agni kepada Deva, mereka berbicara panjang lebar kali tinggi. Deva pun mengutarakan jika Mama Nita ingin bertemu dengannya, tanpa menunggu lama Deva menghubungi Mama Nita jika mereka akan bertemu di restoran sore ini, namun sebelumnya Deva akan mengajak Agni untuk bertemu Ayah nya terlebih dahulu.
__ADS_1
💐💐💐