Love In Hospital

Love In Hospital
BAB 85 - Agni.. Jangan Ngambek Dong.. !


__ADS_3

1 minggu kemudian..


Agni seperti biasa sedang berada di rumah, ia merasa bosan kali ini, karena Dhena sudah mulai bekerja menjadi dokter Intership di salah satu rumah sakit pemerintah. Mama Nita pun sedang berkegiatan di luar rumah bersama teman-teman nya.


" Apa yang harus aku lakukan di rumah sebesar ini, sangat membosankan " gumam Agni.


" Dek.. kita susul Papa yuk ke rumah sakit " ucap Agni mengelus perutnya yang sudah tidak rata.


Agni mempunyai ide untuk membawa makan siang untuk suaminya, ia akan datang ke Rumah Sakit menemui Deva.


Ia beranjak dari duduknya, mempersiapkan makan siang untuk Deva ia akan membawa makanan menggunakan kotak makanan lalu ia simpan di dalam tas khusus agar makanan yang ia bawa tetap hangat.


" Sudah selesai semuanya, pintu dan jendela sudah aman, aku kabarin dulu Mama Nita deh, aku mau keluar dulu sebentar, takutnya dia pulang nanti nyari-nyari " gumam Agni sambil mengeluarkan ponselnya ia mengirim pesan kepada Mama Nita.


Setelah mengirim pesan, Agni menenteng tas berisi makanan yang akan ia bawa untuk Deva, ia melihat ke arah garasi disana hanya ada motor Deva.


" Hmm.. ada motor Mas Deva, tapi .. aku gak bisa pake kalo motor kopling gitu, aku pesan taxi online aja " gumam Agni, ia tidak sadar jika ia sedang hamil dan perutnya pun sudah membesar.


Mungkin jika yang terparkir motor matic, Agni akan segera mencari kunci motor nya, lalu ia gunakan menuju rumah sakit untuk menemui Deva.


Tidak lama taxi pesanan nya datang.


" Mbak Agni ya ? " tanya supir taxi.


" Iya Pak "


" Silakan Bu hati-hati "


Agni masuk kedalam taxi, lalu taxi berjalan meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Didalam perjalan ia teringat, ia akan menghubungi Deva memberitahu jika dirinya akan kerumah sakit.


Beberapa kali Agni menghubungi suaminya namun tidak ada jawaban.


" Kemana sih Mas Deva, kok gak diangkat " gumam Agni.


Lalu ia pun berinisiatif untuk mengirimkan pesan, khawatir memang Deva sedang ada operasi atau sedang dengan pasien.


Sekitar 30 menit Agni sudah sampai di rumah sakit, ia membayar taxi lalu turun. Ia kembali melihat ponselnya namun tidak ada balasan pesan atau pun telepon balik dari suaminya.


" Mas Deva sebenernya masih di Rumah Sakit atau nggak sih ? nanti aku kesini dia gak ada lagi " batin Agni.


Namun ia memutuskan untuk tetap masuk kedalam rumah sakit, ia disambut oleh satpam dengan anggukan, satpam pun tidak terlalu ngeh kepada Agni karena ia menggunakan masker saat masuk kedalam rumah sakit.


Ia berjalan lalu menaiki lift ke lantai 3, karena ruangan Deva berada di lantai 3.


Dilain tempat Deva sedang bimbingan dengan para koas, karena jadwal poli Deva sudah selesai, ia sudah ditunggu oleh beberapa koas untuk bimbingan, sehingga ia langsung menerima bimbingan dari koas di ruangannya, ia pun tidak tahu jika Agni terus menghubunginya, karena ponselnya ia simpan di saku jas putihnya, jas nya ia gantung di senderan kursi.


" Oke.. Mega bagaimana apa yang kamu temui dari pasien bernama Ny. T di kamar 102 B ? " tanya Deva.


" Pasien yang bernama Ny. T Postpartum 2 hari dok " jawab Mega seorang mahasiswa koas.

__ADS_1


" Oke.. ada masalah atau normal ? "


" Begini dok..... " Mega menjelaskan kepada Deva.


Dilanjut dengan beberapa koas yang lain, hingga akhirnya beberapa koas diperbolehkan untuk pulang sedangkan satu koas lagi yang bernama Safira ia belum selesai bimbingan dengan Deva.


" Jadi bagaimana Saf, apa diagnosa kamu untuk pasien ny. B ? " tanya Deva.


" Euh.. itu dok.. " Safira menjelaskan kepada Deva, namun belum ada jawaban yang tepat bagi Deva.


" Coba kamu telaah lagi " Deva sambil mengetuk-ngetuk ballpoint pada meja di hadapannya.


Entah mengapa Safira merasa blank saat ditanya oleh Deva, padahal ia sudah mempersiapkan semua, tidak lama tangannya mengeluarkan keringat tubuhnya terasa panas dingin dan sedikit bergetar.


" Coba kamu ingat-ingat materi yang sudah di sampaikan, santai tidak perlu takut, saya tunggu sampai kamu bisa menjawab pertanyaan saya " ucap Deva tegas.


Ia pun sudah tahu jika Safira grogi berhadapan dengan dirinya, namun Deva hanya ingin tahu sampai mana dokter muda ini akan menjelaskan, karena bagaimana pun ini termasuk penilaian untuk menentukan dokter muda ini layak atau tidak untuk lanjut ke tahap selanjutnya.


" Kamu kan sudah paham bagaimana cara pemeriksaan fisik kepada pasien, lalu membuat rekam medis dan sekarang bagaimana kamu mengambil keputusan klinis jika dihadapkan pada pasien seperti Ny. B ? " Deva terus mencecar Safira.


Keringat Safira semakin deras bercucuran, ia sesekali melap pelipisnya karena keringat yang terus menentes padahal ruangan Deva ber AC saat itu.


" Ya Tuhan.. semakin sini aku semakin tegang dan gak fokus " batin Safira.


Deva terkenal sebagai Konsulen yang baik sebetulnya, banyak mengajarkan dan memberi ilmunya kepada junior-junior nya, tapi jika sedang responsif atau ujian Deva akan berubah 180 derajat.


" Jadi bagaimana ? " Deva agak meninggi.


Bugh


" Eh.. kamu kenapa ? " Deva beranjak dari duduk nya meraih tubuh Safira yang terjatuh pingsan.


" Ada-ada aja nih koas pake pingsan lagi " gumam Deva.


Disaat yang bersamaan Agni sudah berada di depan ruangan Deva, ia sudah memposisikan tangannya untuk menarik handle pintu ruangan, sebelum nya ia menanyakan keberadaan Deva kepada perawat yang sedang berjaga di lantai 3, mereka menyebutkan jika Deva berada di ruangannya karena jam poli sudah selesai.


Kreekkk


" Assalamu'alaikum Mas.. " ucap Agni dengan wajah yang ceria.


Namun seketika wajahnya berubah, Agni membulatkan matanya melihat adegan di depannya.


Deva yang secara bersamaan melihat ke arah istrinya, sontak kaget bukan tanpa alasan karena pada saat itu posisi Deva masih dengan menahan tubuh Safira yang jatuh pingsan, belum lagi jika dilihat dari arah pintu masuk, posisi Deva seakan sangat dekat dengan wajah Safira, sudah dipastikan akan salah paham lagi antara Deva dan Agni.


" Mas Deva !!!!!!! Astagfirullah.... !!!! kamu ngapain Mas ? pantes ya aku hubungin kamu gak diangkat-angkat " ucap Agni menjatuhkan kotak makanan yang ia bawa.


" Sayang.. sayang tunggu.. ini gak yang seperti kamu kira " ucap Deva.


" Mas Deva... kamu ngapain ? " bulir bening langsung membasahi pipinya ia langsung keluar ruangan Deva.

__ADS_1


" Yang.. jangan pergi tunggu ! " Deva langsung melepaskan tangannya, lalu menidurkan Safira dilantai, ia langsung berlari mengejar istrinya.


" Aduh.. Agni kamu kenapa jalan nya cepet, awas aja kalo lari, kamu lagi hamil.. shittttt " Deva mengejar istrinya.


Deva lalu menemui perawat yang sedang berjaga di lantai 3.


" Sus, koas yang bernama Safira di ruangan saya pingsan, tolong bantu " ucap Deva sedikit berlari.


" Hah.. lalu dokter mau kemana ? " tanya perawat.


" Ngejar istri saya " jawab Deva secepat kilat.


" Hah.. ngejar istri, koas pingsan ? ada apa ini ckckckck.. " perawat langsung berlari menuju ruangan Deva.


Dilain tempat Agni masih berjalan, lalu ia masuk kedalam lift dengan emosi yang sudah di ubun-ubun.


" Sayang tunggu jangan masuk lift " panggil Deva.


Ia melihat lift sudah tertutup, tidak hilang akal Deva langsung menuruni tangga darurat, ia berharap ia akan lebih dulu sampai lantai bawah sebelum istrinya.


Deva sampai di lantai 1 rumah sakit, posisinya berada di lift sebelah lobby, ia dengan nafas yang tersengal-sengal menunggu lift terbuka, beberapa karyawan yang berpapasan dengan Deva merasa heran.


Ting..


Lift terbuka.


Benar saja Agni yang berada di dalam lift, Deva menunjukkan senyum termanisnya dihadapan Agni, namun tetap tidak membuat Agni bergeming.


" Sayang.. " ucap Deva melemahkan suaranya.


Agni terlihat tidak menghiraukan Deva ia berjalan dari lobby menuju keluar rumah sakit.


" Sayang.. aku mau jelasin " ucap Deva menyusul Agni.


Agni masih tetap terdiam.


" Sayang.. "


" Siang Dok Dev " ucap salah satu dokter yang berpapasan.


" Oh ya.. siang "


" Kenapa Dok kok kaya habis lari di lapangan ? " tanya Dokter Ricko.


" Oh nggak, ini lagi gerah aja, saya duluan ya "


" Oke "


" Agni... Jangan ngambek dong ! " ucap Deva dan berhasil membuat Agni menghentikan langkahnya.

__ADS_1


💐💐💐


__ADS_2