
Ruang Poli Kandungan Rumah Sakit Kasih Ibu
" Jangan lupa vitamin nya diminun ya Bu, semua sehat kontrol satu bulan lagi " ucap Deva kepada pasien di hadapannya.
" Iya baik, terima kasih banyak dok, permisi.. "
" Ya sama-sama "
Deva melihat ke arah suster yang masih menghitung status pasien dihadapan nya.
" Berapa orang lagi sus ? " tanya Deva.
" Hmm.. 3 orang lagi dok " jawab suster yang membantu Deva di poli.
" Oke.. lanjut aja "
Perawat memanggil pasien berikutnya, Deva kembali memeriksa pasien-pasien nya sampai akhirnya pada pasien terakhir, ia seorang wanita muda.
" Selamat siang Dok " ucap wanita itu.
" Siang Bu " Deva menyambutnya.
Buseet.. ganteng juga nih dokter, masih muda kayanya.
Batin wanita itu, walaupun sebagian wajah Deva tertutup masker namun tetap saja aura tampan nya dapat terlihat.
" Hmm.. saya masih nona loh dok " ucap wanita itu karena tidak terima Deva memanggil nya dengan sebutan Bu.
" Oh ya sorry, ada keluhan apa ya ? " tanya Deva.
" Dok, menstruasi saya tidak teratur, itu kenapa ya ? " tanya wanita itu.
" Banyak faktor, bisa karena hormon, bisa karena diet, kehamilan atau alat kontrasepsi, apa sebelumnya mengkonsumsi obat ? " tanya Deva.
" Tidak dok, oke kalau begitu silakan saya periksa dulu menggunakan alat usg ya " Deva mengarahkan pasiennya, lalu dibantu oleh perawat yang jaga disana.
Deva menggeser-geser alat usg di perut pasiennya, tidak ada kelainan yang nampak pada layar monitor.
" Oke.. semua aman, tidak ada kelainan kemungkinan ini karena faktor hormonal saja, saya akan berikan resep untuk menyeimbangkan hormonnya ya " Deva kembali duduk di kursinya.
Disusul oleh pasien nya ia pun duduk di tepat di depan Deva. Ia memperhatikan Deva saat sedang menulis resep untuknya.
" Ini silakan resepnya " ucap Deva.
__ADS_1
" Oh ya terima kasih banyak dok, mmh.. tapi dok apakah ini berpengaruh jika nanti saya menikah lalu ingin hamil ? " tanya wanita itu lagi ".
" Tidak perlu khawatir selama anda masih mengalami menstruasi, kemungkinan hamil dan memiliki anak masih tinggi, tenang saja " jawab Deva.
Wanita itu terus saja bertanya kepada Deva, Deva walaupun sudah sedikit merasa lelah ia tetap profesional dan setia menjawab setiap pertanyaan dari pasiennya.
" Hmm.. terima kasih ya Pak Dokter atas penjelasannya nya, saya harus kontrol lagi kapan ? "
" Habiskan dulu saja obat yang saya berikan, jika sudah mendapatkan menstruasi tolong hentikan dulu penggunaan nya, namun jika belum mendapatkan menstruasi silakan kembali kesini " ucap Deva.
" Oke baik, terima kasih, saya permisi "
" Ya silakan.. "
Selepas kepergian pasien yang terakhir Deva sedikit menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi, ia sedikit memijat-mijat keningnya, ia sedikit pening ditambah semalam ia kurang tidur, sampai detik ini pun belum ada kabar dari Agni, padahal sedari pagi Deva sudah menghubunginya.
" Dok, tadi pasien terakhir " ucap perawat menghampiri.
" Oh ya ok.. "
" Saya permisi dok "
Deva hanya mengangguk, sedikit tersenyum. Ia kembali mengambil ponselnya berniat untuk menghubungi Agni lama tidak ada jawaban sampai akhirnya terdengar suara dari ujung telepon.
Deva : " Agni.. kamu baik-baik aja kan ? aku khawatir sama kamu "
Agni : " Aku baik-baik aja Mas "
Deva : " Kenapa kamu gak hubungi aku balik ? "
Agni : " Maaf aku sudah kembali bekerja "
Deva : " Oh Maaf kalau aku ganggu "
Agni : " Mas .. tolong untuk jangan terlalu sering menghubungi ku, aku khawatir akan sulit melepaskan dan melupakan kamu "
Deva : " Kenapa kamu berbicara seperti itu ? aku tidak pernah mengharap kan itu Agni "
Agni : " Aku pun Mas, tapi maaf aku gak bisa ngelanjutin ini kalo tanpa restu "
Deva : " Agni please.. kasih aku waktu.. aku cuma mau sama kamu "
Agni tak kuasa membendung kembali air matanya, air mata kembali lolos dari pelupuk matanya, namun segera ia seka dengan kasar, karena ia tidak ingin rekan kerja nya tahu jika ia baru saja menangis.
__ADS_1
Agni : " Mas.. maaf aku harus kembali bekerja, Assalamu'alaikum "
Agni menutup sambungan teleponnya.
Deva : " Wa'alaikumusalam.. Gni.. tunggu jangan dulu di tutup "
Tuut... tuut..tuut...
Shhiittttt !!!!
Deva frustasi ia mengacak kasar rambutnya. Disaat yang bersamaan pintu ruangan nya di ketuk.
" Masuk ".
" Permisi Dok, Dokter diminta menemui Dokter Jefri di ruangan nya ".
" Oh ya.. baik.. terima kasih " ucap Deva.
" Sama-sama Dok "
Deva merapikan kembali rambutnya yang kusut, mau bagaimana pun di rumah sakit ini ia harus berpenampilan selalu rapi dan menarik, agar tidak di tegur oleh Ayah nya sendiri.
Deva keluar ruangan menuju ruangan Dokter Jefri. Deva mengetuk ruangan Ayah nya, lalu membuka pintu terlihat Ayah nya sedang duduk santai di kursi kebesaran nya.
" Permisi Pah "
" Duduk Dev " Pak Jefri pindah duduk mendekati Deva.
" Bagaimana Agni ? " tanya Pak Jefri.
" Sulit Pah.. mungkin dia terlanjur kecewa " jawab Deva.
" Jangan patah semangat, ambil lagi hatinya, Papa yakin Agni anak yang baik, ia bisa mengerti, Papa mendukung keputusan kamu untuk meminang Agni, apapun itu pilihan mu, kamu bicara baik-baik dengan Mama mu ya.. " ucap Pak Jefri.
Deva terdiam ia mencerna ucapan Ayah nya.
" Deva usahakan Pah " balas Deva.
" Hmm.. bukankah cinta itu harus di perjuangkan ? Papa harap dengan permasalahan ini tidak mempengaruhi kinerja kamu disini.. " ucap Pak Jefri menyemangati anak sulungnya.
" Ya Pah.. terima kasih " Deva tersenyum lega, Ayah nya sudah merestuinya dengan Agni, tinggal bagaimana ia kembali berbicara dan meyakinkan Mama Nita.
💐💐💐
__ADS_1