
Sesampainya di rumah, rumah terasa sepi, Mama Nita sudah berada dikamar nya begitupun Papa Jefri. Deva masuk lebih dulu ke kamar, Agni langsung menutup dan mengunci pintu rumah, memeriksa kembali jendela-jendela dan pintu-pintu yang lain, setelah di rasa aman ia langsung menyusul suaminya ke dalam kamar.
Ceklek..
Pintu kamar terbuka, Agni masuk kedalam kamar ia sekilas melihat Deva duduk di sofa kamar sambil melipat kedua tangannya di dada.
Agni tidak menghiraukan, ia langsung menuju lemari pakaian mengambil pakaian tidurnya, lalu menuju kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah menyelesaikan aktivitas nya di kamar mandi, Agni segera keluar kamar mandi, ia melihat Deva masih pada posisinya. Agni langsung menghampiri suaminya duduk tepat di samping nya.
" Mas.. " panggil Agni.
" Hmm.. " Deva menoleh ke arah Agni.
" Mas.. ka..kamu kenapa ? sakit ? kamu kok beda " Agni memberanikan diri.
Deva hanya menggeleng.
" Lalu kenapa ? " tanya Agni lagi.
" Bisa gak kamu ikuti apa kataku ? " tanya Deva.
" Katamu yang mana Mas ? " tanya Agni balik.
" Untuk tidak dulu bekerja saat ini " ucap Deva.
" Kok gitu Mas ? kan kamu udah ngijinin aku, kenapa jadi berubah sekarang ? " tanya Agni tidak terima.
__ADS_1
Deva terdiam, banyak yang ingin ia katakan salah satunya mengenai anak, namun sepertinya saat ini belum tepat, itu akan membuat dirinya dan Agni masuk kedalam polemik rumah tangga, yang sebetulnya sangat Deva hindari.
" Aku cuma tanya kamu bisa ikuti apa kata ku atau tidak ? " Deva menegaskan.
Giliran Agni yang terdiam, ia pun bingung disatu sisi ia tidak ingin melepaskan pekerjaannya disisi lain ia pun harus menuruti apa kata suaminya, dilema yang Agni rasakan.
" Kenapa kamu diem ? ya udah .. " Deva beranjak dari sofa berjalan menuju kasur, Deva naik ke atas kasur langsung merebahkan tubuhnya.
Agni yang memperhatikan Deva, semakin bingung ada sebenarnya.
Agni langsung menyusul Deva ke atas kasur ia duduk tepat disebelah Deva.
" Mas .. ada apa sih sebenernya ? kenapa kamu kaya gini ? " ucap Agni.
Deva bangun lalu duduk menyender ke senderan kasur, ia menghela nafas dalam.
" Mas.. bukannya kita udah berkomitmen ya sebelumnya, kamu kan tahu di rumah sakit pola kerja nya seperti apa, tapi aku menikmati itu Mas.. " balas Agni.
" Ya.. kamu bisa enjoy dan menikmati pekerjaan kamu, tapi.. kamu gak bisa menikmati tugas utama kamu yaitu istri dari aku ! " ucap Deva.
Jaagg
Agni terhenyak kaget dengan ucapan Deva, ia tidak menyangka Deva akan berbicara seperti itu, ia semakin dibuat bingung, Deva sepertinya tidak main-main kali ini.
" Ma..Mas.. kenapa kamu bicara seperti itu " ucap Agni.
__ADS_1
Deva tidak menghiraukan Agni, ia kembali merebahkan tubuhnya membelakangi istrinya.
" Mas jangan gini dong, kalo bicara itu sampai selesai jangan kaya gini, aku cuma pengen kamu jelasin dulu kenapa tiba-tiba kamu kaya gini " ucap Agni menggoyangkan tubuh suaminya.
" Aku cuma pengen kamu gak usah kerja kaya awal kita nikah " ucap Deva singkat.
" Iya apa alasan nya ? " tanya Agni keukeuh.
" Alasannya agar kamu bisa segera hamil ! " ucap Deva yang lolos dari mulutnya, tadinya ia tidak ingin berkata seperti itu, ia khawatir akan menyinggung istrinya.
Namun nasi sudah menjadi bubur, Agni pun terdiam, ia menyadari mereka menikah sudah hampir 1 tahun tapi tanda-tanda dirinya hamil belum juga ada.
Agni terdiam dengan mata yang sedikit berkaca-kaca. Lalu memegangi perutnya.
Kapan kamu hadir di perut Mama nak.. ini alasan Papa kamu melarang Mama bekerja, karena kamu belum kunjung hadir, ini pasti pertanyaan dari Mama Nita juga.. Mama juga menginginkan kehadiran kamu.. sangat menginginkan Tuhan..
Air mata Agni lolos membasahi pipinya, Deva tidak melihat karena membelakangi Agni. Agni segera menyeka kasar air mata yang jatuh ke pipinya.
" Oke Mas.. aku bakal ikutin apa kata kamu, besok aku akan membuat surat pengunduran diri aku " ucap Agni lalu ia berlalu meninggalkan Deva.
Agni pergi ke balkon kamar, ia duduk di kursi yang berada di sana, kursi yang biasa Deva gunakan untuk merenung, menurut Deva.
Ia duduk menerawang jauh. Ia tidak pernah terpikirkan rumah tangganya akan seperti ini, memang selama ia menikah ia merasa sangat bahagia Deva selalu menuruti keinginannya, jarang sekali Deva marah atau mereka berselisih, ini kali pertama perselisihan mereka.
Dulu ia selalu berkhayal setelah menikah ia tidak ingin menunda kehamilan, ia ingin segera memiliki anak. Karena ia sering melihat bayi lucu dan mungil yang terlahir dari seorang Ibu-ibu hebat. Namun kita tidak pernah tahu ketentuan sang Maha Kuasa, Sang Pencipta masih menunda Agni dan Deva untuk memiliki momongan agar mereka tidak henti-hentinya untuk memohon dan meminta juga memaksimalkan usaha.
__ADS_1
Bukankah tugas kita sebagai manusia selain berusaha dan berdoa, juga berpasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa..
💐💐💐