
" Ma.. Deva dan Agni mana kok belum keluar kamar ? coba panggilkan Papa tunggu sarapan " ucap Pak Jefri.
" Euh.. Pa.. Deva dan Agni sedang ke Kota Metro " balas Mama Nita.
" Apa ? ke Kota Metro ? pantas sepi.. kok Papa gak dikabari ? " tanya Pak Jefri.
" Mmh.. iya Pa, kemaren katanya Ayah nya Agni sakit, mungkin dia khawatir jadi langsung ijin untuk pulang dulu ke rumah orangtuanya " jawab Mama Nita.
" Oh gitu.. terus Deva ? apa dia ambil cuti ya.. Papa belum dikabari oleh bagian kepegawaian rumah sakit, kalo memang dia belum mengambil cuti " balas Pak Jefri.
" Mama gak tahu Pa kalo untuk masalah itu, coba deh Papa hubungi Deva " susul Mama Nita.
Mama Nita sedikit gusar, ia khawatir Deva menceritakan kejadian kemarin kepada Pak Jefri.
Duh.. gimana ya aku cerita jangan ya ke Papa perihal kemaren, takut Deva yang cerita nanti Papa makin marah, aku aja deh yang cerita, mau marah apa nggak ya terima aja..
Batin Mama Nita.
" Oya Pa.. mmh... "
" Kenapa ? " tanya Pak Jefri menyuapkan nasi ke mulutnya.
" Kemaren itu kan sebelum Agni memutuskan untuk ke rumah orangtuanya.......... " Mama Nita menjelaskan kepada Pak Jefri.
" Apa ??!! " Pak Jefri terhenyak kaget.
" Pa..pa.. sabar dulu "
__ADS_1
" Kamu ya Ma.. kebiasaan.. suka gak bisa jaga omongan, wajar Deva marah, Agni pasti denger nih obrolan Mama sama Deva.. ck... ada-ada aja ya.. ngapain juga kamu masih selalu bahas-bahas yang dulu ! " Pak Jefri menghentikan makannya.
" Pa.. Mama minta maaf, Mama juga udah minta maaf kok ke Agni " balas Mama Nita.
" Ma.. ibarat nya gini, ini kertas putih, nih Papa remas, tetap dia masih putih, tapi apa kertas ini kembali seperti semula ? nggak kan, kertas ini jadi kusut, ini hati Agni kaya gini kalo denger ucapan Mama " Pak Jefri berapi-api.
" Ya terus Mama harus gimana ? Mama kan sudah minta maaf " ucap Mama Nita.
" Ck..... kamu gak berpikir ya Ma, gimana kalo besan kita tahu, malu kita Ma.. besan kita itu orang baik, bukan orang sembarangan juga, kamu kenapa sih ? Papa sudah bilang berkali-kali jaga ucapan.. ! " Pak Jefri hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Ia beranjak dari kursi makan menuju sofa ruang televisi, ia mengambil ponselnya lalu menghubungi Deva.
Tidak lama sambungan teleponnya diangkat oleh Deva.
Deva : " Halo Pa Assalamu'alaikum "
Deva : " Iya Pa.. maaf Deva belum pamit ke Papa "
Pak Jefri : " Berapa lama kamu disana ? kamu sudah ambil cuti ? "
Deva : " Sudah Pa, aku belum tahu sampai kapan disini, masih melihat kondisi Agni dulu, mungkin kalo dia udah agak tenang, aku kembali ke Kota Bunga "
Pak Jefri : " Oke.. kamu tenangkan dulu istri kamu, setelah kamu kembali ke Kota Bunga, Papa ingin bicara dengan kamu dan Agni "
Deva : " Iya Baik Pa "
Pak Jefri : " Oke.. salam untuk Agni dan salam juga untuk kedua mertua kamu "
__ADS_1
Klik telepon ditutup.
Pak Jefri kembali menghampiri istrinya.
" Papa berangkat " Pak Jefri mengambil tas kerjanya lalu menyoren jas putih di lengan kirinya.
Pak Jefri pun merasa kesal dengan sikap istrinya, ia sudah beberapa kali mengingatkan untuk agar bisa menjaga ucapan, namun kejadian serupa terulang kembali.
" Kasian Agni.. dia anak baik.. Deva pun sangat menyayanginya, saya tahu itu.. " Gumam Pak Jefri.
Pak Jefri mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit Kasih Ibu. Sesampainya di rumah sakit, Pak Jefri berjalan menyusuri lorong-lorong rumah sakit untuk ke ruangan nya, saat sedang berjalan ia berpapasan dengan seseorang bagian kepegawaian rumah sakit.
" Pagi Dokter Jefri "
" Pagi "
" Oya Dok, Dokter Deva hari ini cuti, dia mengambil cuti sekitar 3 hari " ucapnya.
" Oh ya saya sudah tahu, tolong bawa berkas cutinya, nanti saya tandatangani " ucap Pak Jefri.
" Baik Dok "
Pak Jefri kembali berjalan menuju ruangannya, perasaan nya masih sedikit tidak tenang, setelah ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di rumah kemarin.
" Ya Tuhan.. semoga rumah tangga anakku baik-baik saja " gumam Pak Jefri.
💐💐💐
__ADS_1