Love In Hospital

Love In Hospital
BAB 72 - Mood Swing


__ADS_3

Deva kembali dengan kesibukan nya, hari ini ada beberapa calon ibu yang akan melahirkan. Deva sudah meminta kepada beberapa Bidan yang berada di ruangan, untuk melaporkan jika ada kemajuan persalinan pada pasien-pasien nya.


Sore ini setelah praktek poli dan beberapa kegiatan lain ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu, ia ingin beristirahat sejenak sebelum ponselnya kembali berdering karena beberapa pasiennya akan melahirkan.


Deva sudah sampai garasi rumah Mama Nita, saat ia akan turun dari mobil ia melihat satu pesan masuk dilayar ponselnya, Deva langsung membacanya.


+62 852 123 xxxx


Sore dok, pasien atas nama Ny. B sudah di pindahkan ke ruang bersalin, pembukaan masih 3cm.


Dokter Deva


Oke, pantau terus kemajuannya, saya tunggu perkembangan nya, jangan lupa untuk berikan sentuhan kepada ibu agar ia merasa nyaman.


Setelah membalas pesan dari bidan yang berjaga di ruang bersalin, Deva kembali menyimpan ponselnya, lalu ia turun, berjalan menuju pintu utama rumah.


Deva masuk kedalam rumah terasa sepi, sepertinya penghuni rumah sedang berada di kamar masing-masing. Deva berjalan menuju kamarnya, saat membuka pintu kamar, ia melihat Agni sedang duduk berselonjor di sofa kamar.


" Assalamu'alaikum " ucap Deva seraya menutup pintu kamar kembali.


" Wa'alaikumusalam Mas.. udah pulang ? " Agni membetulkan posisi nya.


Deva menghampiri Agni, lalu Agni meraih tangan suaminya.


" Hmm.. " Deva hanya mengangguk tersenyum.


Deva menyimpan tas, ponsel, kunci mobil nya secara sembarang, ia lalu melonggarkan kemeja yang ia pakai, berniat untuk mandi terlebih dahulu.


" Mas sudah makan ? " tanya Agni.


" Tadi siang aja sih " jawab Deva.


" Mau makan sekarang ? " tanya Agni lagi.


" Hmm.. nanti aja deh, mau mandi dulu ya gerah " jawab Deva.


Agni hanya mengangguk.


Deva berjalan menuju kamar mandi, menyimpan baju kotor pada tempat nya, lalu ia menyambar handuk yang tergantung dekat kamar mandi.


Agni bangun dari duduknya, ia berjalan untuk merapikan barang-barang suaminya.


Saat Agni mengambil ponsel dan kunci mobil Deva untuk disimpan ditempatnya, ia mendengar ada satu pesan masuk pada ponsel suaminya.


Ting..


Layar ponsel Deva menyala, terlihat satu pesan pada layar.

__ADS_1


+62 852 123 xxxx


Baik Dok, saya juga mau dong dok, di sentuh biar nyaman hehe.


Deva tidak tahu jika Bidan yang diminta untuk memantau persalinan, kembali membalas pesan Deva, sialnya Agni yang membaca pesan itu, biasanya Deva hanya menganggap itu bercanda dan tidak pernah ia tanggapi serius. Namun kali ini sepertinya Deva harus menjelaskan sedetail mungkin kepada Agni, karena mungkin Agni akan salah paham setelah ini.


" Apaan nih ? " batin Agni setelah membaca pesan itu.


Hati Agni menjadi tidak karuan, matanya terasa panas setelah membaca pesan yang tertera di layar ponsel Deva.


" Ya Tuhan Mas Deva... pesan apa ini ? " tangan Agni sedikit gemetar membaca pesan di ponsel suaminya.


Ia sudah berpikiran yang tidak-tidak kepada suaminya. Mata nya mulai berkaca-kaca, ia kembali menyimpan ponsel suaminya diatas meja, ia duduk di pinggiran kasur, masih tidak menyangka dengan pesan yang ia baca tadi.


" Apa Mas Deva ada main sama bidan itu ? arrgghhhhhh " batin Agni ia hampir saja meloloskan air mata dari pelupuk matanya.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka. Deva keluar kamar mandi, dengan hanya melilit kan handuk, ia melihat istrinya sekilas, yang diam mematung di pinggiran kasur.


Deva berjalan menuju lemari pakaian, membuka lemari pakaian mencari-cari celana rumahan favorit nya.


" Yang.. celana pendek aku mana ya ? " tanya Deva masih fokus pada tumpukan baju di hadapannya.


Agni terdiam ia enggan menjawab pertanyaan suaminya.


" Yang.. " Deva kembali memanggil istrinya.


Agni tetap diam.


Deva akhirnya menemukan celana favorit nya, ia langsung memakai nya lalu memakai kaos rumahan favorit nya juga, setelah ia mengenakan baju, ia menggantungkan handuk lalu menghampiri istrinya.


Deva merasa aneh dengan sikap Agni, ditanya tidak menjawab, masa iya tidak mendengar.


" Yang.. kenapa ? apa yang kamu rasain ? " tanya Deva berusaha lembut sambil mengelus kepala istrinya.


" Jangan sentuh aku " Agni menepis tangan Deva sedikit menjauh.


" Kami kenapa hey ? " tanya Deva melihat wajah istrinya, sudah menggenang air mata di kedua mata indah Agni.


" Ih lepasin " Agni melepaskan kedua tangan Deva dari wajahnya.


" Kamu kenapa ? barusan kamu baik-baik aja kenapa sekarang berubah kaya gini.. ck " Deva berdiri berjalan untuk mengambil ponselnya.


Agni masih terdiam ia menahan kekesalan kepada suaminya.


Saat Deva membuka ponselnya terlihat pesan dari bidan di ruangan bersalin, ia merasa kaget dengan isi pesannya, Deva berkesimpulan sepertinya Agni marah karena ini.


" Yang.. " Deva kembali menghampiri istrinya lalu duduk tepat di sebelahnya.

__ADS_1


Agni masih tetap terdiam, ia sesekali mengelus-elus perut nya yang sudah tidak rata.


" Sayang.. apa karena ini kamu jadi berubah ? " tanya Deva memperlihatkan ponselnya.


Agni merasa terpancing oleh ucapan suaminya.


" Apa maksudnya dia kirim pesan gitu sama kamu Mas ? " tanya Agni.


" Sayang, nih liat dulu pesan sebelumnya ya " Deva mengarahkan ponselnya.


Agni membaca sekilas.


" Mas aku gak pernah tahu ya isi pesan kamu kaya apa ke orang-orang dan mungkin pesan kaya gini bukan sekali, pasti udah sering kan ? " tanya Agni.


" Yang.. aku gak nyangka dia bakal balas chat nya kaya gitu, aku gak pernah respon hal-hal yang gak penting, urusan ku cuma perkerjaan diluar itu gak ada urusan sama sekali " ucap Deva.


" Ganjen banget chat nya " Agni menggerutu.


" Mungkin dia cuma bercanda Yang.. " ucap Deva berusaha untuk tenang.


" Bercanda ke laki-laki yang sudah berkeluarga dan memiliki istri ? " tanya Agni tidak terima.


" Ya Tuhan... " Deva mengacak kasar rambutnya.


" Mas aku tahu, aku sadar lingkungan kamu di tempat kerja itu hampir lebih banyak perempuan, pasien kamu dari abg, ibu hamil, sampai yang sudah menopause hampir perempuan semua kan ? aku bukan gak ngerti sama pekerjaan kamu, tapi tolong Mas hargain aku ! " ucap Agni.


" Siapa sih yang gak hargain kamu ? " tanya Deva.


" Itu chat nya ? " Agni tidak mau kalah.


" Aku cuma menyarankan Yang, apa chat aku menjurus ke hal-hal yang gak baik ? kan nggak...udah lah mungkin dia juga becanda, lagian aku juga gak bales lagi kan chat nya " ucap Deva.


" Iya gak bales, karena udah duluan aku yang baca ! " Agni berjalan keluar kamar, ia berniat untuk mengambil minum, untuk menenangkan hati dan pikirannya.


" Ya Tuhan " Deva hanya melihat istrinya berjalan keluar kamar.


Agni duduk di kursi ruang makan, ia meminum beberapa tegukan air putih yang ia bawa. Ia meloloskan air matanya hingga membasahi pipi, ia langsung menyeka kasar air matanya, khawatir Mama Nita keluar kamar dan melihat Agni sedang menangis.


Dilain tempat Deva pun menjadi gusar, ia segera menyusul istrinya keluar kamar, ia pun merasa khawatir jika Mama Nita mendengar perdebatan mereka.


Deva melihat Agni sedang duduk diam di kursi makan, Deva menghampiri nya, ia sudah berniat untuk mengalah kepada istrinya walaupun sebetulnya ia pun merasa tidak salah atas kejadian ini, karena pesan antara dirinya dan bidan di rumah sakit hanya sebatas urusan pekerjaan.


" Yang.. " Deva menghampiri Agni lalu duduk di sampingnya.


Namun disaat yang bersamaan Agni beranjak dari duduknya berjalan meninggalkan Deva tanpa menoleh sedikitpun.


Deva menjadi frustasi ia kembali mengacak rambutnya. Lalu memijat-mijat pelipisnya.

__ADS_1


" Ada-ada aja ckk .. " Gumam Deva.


💐💐💐


__ADS_2