
Gilang pun mulai bercerita, awal pertemuannya dengan Julian.
Gilang dulunya pengangguran tanpa arah, kadang mengamen kadang malak orang demi sesuap nasi.Dia suka merokok dan minum-minuman keras.
Kemudian Julian memberikannya pekerjaan, yang pertama kali adalah menyebar brosur dan spanduk tentang usaha sablonnya ini.
Julian selalu memberi nasehat pada Gilang untuk tidak minum dan merokok.
"Anehnya, Julian suka menasehati orang. Tapi giliran disuruh kemo tidak mau" gumam Gilang.
"Kemo..Julian sakit apa?" tanya Kiran penasaran
"Kangker..." belum sempat Gilang melanjutkan kata-katanya, Julian masuk rumah
"Gilang...!" teriak Julian dengan wajah agak memerah. "Ma..maaf Julian" kata Gilang ketakutan.
Melihat hal tersebut, Kiran dan Atun saling berpandangan.
Kiran pun segera berdiri, dan menuntun Julian untuk duduk bersama mereka.
"Julian, jangan salahkan Gilang.Tapi salahkan aku, aku yang ingin tahu..." Kata Kiran
Julian menatap gadis pujaannya dengan berkaca-kaca.
"Aku kan mau jadi istrimu, jadi aku ingin tahu tentang kamu,kamu sakit apa?" Tanya Kiran sambil mengusap air mata Julian.
"Setelah kamu tahu, apa mungkin kamu mencintaiku.aku yang pesakitan??" tanya Julian dengan suara parau karena merasakan sesak di dadanya.
"Aku sakit kangker darah, puasss....!!" teriak Julian sambil berdiri, berusaha menjauhi teman-temannya.
Kiran kaget, tapi dia sadar dan segera mengikuti Julian.
Gilang dan Atun saling pandang, ada perasaan bersalah dari lubuk Gilang.
__ADS_1
Julian menuju kamarnya. Dia mengamuk, melempar semua yang ada.
"Kenapa aku harus sakit, aku nggak mau sakit seperti ini...aku benci hidupku!" teriak Julian.
Ketika hendak melempar gelas yang ada di meja, tiba-tiba ada yang memeluknya dari belakang.
"Julian, hentikan..! kau membuatku takut" kata gadis yang memeluk Julian dari belakang yang tak lain adalah Kiran.
Sadar ada gadis pujaannya, Julian berusaha menenangkan dirinya.
Melihat Julian sudah tenang, Kiran memposisikan dirinya berhadapan dengan Julian.
"Aku bersedia jadi istrimu, jadi terima apa pun yang akan terjadi padamu. Kalaupun kamu sakit parah,aku ingin merawatmu. Aku ingin selalu bersamamu.." Kata Kiran menyakinkan Julian.
Tubuh Julian gemetar, dia terduduk bersimpuh di depan Kiran. Kiran pun ikut duduk mensejajarkan dirinya dengan Julian.
Dada Julian bergejolak, dia takut mengecewakan pujaan hatinya.
"Yang aku takutkan, aku akan meninggal disaat kita cinta kita sedang bersemi..." kata Julian lirih.
"Lusa papa dan mama ku pulang dari Singapur.kita jemput mereka ya?!" pinta Julian
"iya sayang" kata Kiran sambil mengelus pipi Julian.
"Aku lapar, makan yuk..!" lanjut Kiran.
Julian mengangguk, merekapun berdiri melangkah keluar kamar.
Gilang dan Atun yang semula mengintip, setengah berlari kembali ketempat semula.
"Memang yang bisa mengendalikan Julian hanya Kiran, orang tuanya saja angkat tangan dengan sikap keras kepalanya Julian" kata Gilang berbisik pada Atun. Gadis itu pun paham dan tersenyum.
"Sudah selesai acaranya?" tanya Atun saat Kiran dan Julian datang.
__ADS_1
"Apaan sih Tun.." jawab Kiran sambil tersenyum.
Dan merekapun menyantap makanan yang tadi di beli oleh Julian.
"Julian, kamu kan ada jadwal ngajar hari ini" kata Gilang mengingatkan.
"Oh iya..wah setengah jam lagi" kata Julian.
"Memangnya kemana sih?" tanya Kiran.
"Ke sekolah anak jalanan' jawab Gilang.
"Kamu ikut Ran..?" ajak Julian
"Boleh, berangkat sekarang?"tanya Kiran.
"Ayo, Gilang tolong bereskan semuanya kalau bisa. Jadi besok tinggal kirim-kirim. Lusa aku jemput Papa dan mama di Bandara Juanda." perintah Julian
"Siap bos..!" Kata Gilang
"Atun kamu mau ikut?" tanya Kiran.
."Kamu jangan ikut mereka, nanti menggangu. lebih baik disini bantuin aku biar cepat selesai"kata Gilang sama Atun.
"Iya deh, aku disini saja Ran. Lagian banyak banget kerjaan Gilang" kata Atun.
"Maunya tuh biar bisa berduaan..ha..ha" goda Kiran.
"Biarkan saja, kita kan juga bisa berduaan." kata Julian. Dan semua pun yertawa dibuatnya.
***
"**Aku sakit kangker darah, puaaasss....!!"
__ADS_1
Mohon like, komentar, favorite dan votenya ya
Terima kasih**..