
Kiran menaruh makanan di meja samping tempat tidur Julian.
Setelah mengambil makanan untuk Julian, Kiran duduk di samping Julian.
"Mas makan dulu. Aku suapin ya" kata Kiran
."Aku tidak mau makan, aku maunya mencium kamu" kata Julian.
"Aist ...ngomong itu lagi"kata Kiran dalam hati.
"Iya, tapi habiskan dulu ya" pinta Kiran.
Julian pun makan dengan lahapnya.
"eh pelan-pelan mas" kata Kiran.
Setelah selesai makan, Julian menagih janji Kiran.
"Sudah selesai, ayo kesini.." kata Julian menyuruh Kiran lebih dekat dengannya.
"Sebentar ya, aku kan belum makan. Lapar banget nih.!" kata Kiran mencari alasan.
Kiran bingung, apa yang akan dilakukan selanjutnya setelah habis makan nanti.
"Lama amat, sini aku suapin." kata ILO sambil mengambil piring Kiran dan menyuapi Kiran.
"Mas kamu kok lain sekarang?" tanya Kiran di sela-sela makan.
"Kalau makan jangan banyak ngomong, biar cepat habis" kata Julian yang terus menyuapi Kiran.
Gadis itu tersedak "sebentar aku minum dulu" kata Kiran.
"Ah..dasar mengulur waktu...!!" gerutu Julian.
"Nah sudah habis, janji adalah hutang. Ayo sini.."Julian mengingatkan
."Maaf mas janji saya, saya lunasi besok habis dari KUA ya.." kata berdiri dan mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Julian marah merasa di tipu Kiran.
Julian berdiri, berusaha meraih Kiran, Gadis itu menghindar.
"Kamu menipuku...!!!" teriak Julian geram.
Kiran ketakutan ,dia berlari menuju pintu kamar.
"Kiraaaaaann....!!" Julian meraih bantal dan melemparkannya ke arah Kiran.
Tapi gadis itu sudah keluar kamar dan menutup pintu kamar.
Alhasil bantal hanya mengenai pintu kamar Julian.
Tubuh Kiran gemetar, kemudian dia menarik nafas panjang berusaha menenangkan diri.
Semua mata tertuju pada Kiran
"Ada apa?kenapa Julian teriak-teriak?" tanya ILO.
Memerahlah muka Jullian.Dia pun kembali ke kamarnya.
"Kalian bertengkar? Julian menyakitimu? atau kamu menyakitinya?" tanya ILO berusaha melepaskan pelukan Kiran.
"Aku takut mas, Julian tidak seperti yang Kiran kenal"Jawab Kiran terbata-bata.
"Selesaikanlah dengan baik-baik, besok pagi kalian menikah" kata Ibunda Julian.
"Bunda..Kiran nggak mau ketemu Julian dulu. Kiran takut...Kiran ingin pulang bunda" Isak Kiran dan memeluk bundanya.
"Apa Julian melukaimu?" tanya Helen.
Kiran semakin menenggelamkan dirinya dalam pelukan Bundanya.
Tidak mendapatkan jawaban dari Kiran, Helen menjadi penasaran.
"Julian,Kenapa kamu dek"gumam Helen dalam hati.
__ADS_1
Helen bergegas menuju kamar Julian. Dia mengetuk pintu kamar adiknya.
"Julian ini mbak Helen.mbak boleh masuk?" tanya Helen.
"Masuk saja mbak, tidak di kunci" jawab Julian dari dalam kamar.
Helen segera masuk, dia melihat adiknya duduk di bawah samping tempat tidur dengan kepala menengadah menatap langit-langit kamar.
"Apa yang kamu lakukan,tahu tidak? Kiran sampai minta pulang?" tanya Helen.
"Apa aku terlalu jahat, sehingga Kiran menjauhiku?" gumam Julian.
"Aku tidak suka Kiran dekat dengan kakaknya" jawab Julian pelan.
Helen tersenyum, dia sudah tahu titik masalahnya.
"oh..kalau itu pun mbak juga sama dengan kamu." kata Helen sambil duduk disamping Julian.
Mendengar kata-kata Helen, Julian menoleh ke arah kakak perempuannya itu.
"Kamu tahu kan, mbak mencintai mas ILO. Begitu sayangnya mas ILO pada adiknya, padahal Mas ILO nggak pernah seperti itu pada mbak.." Kata Helen menghela nafas.
"Tapi mbak berpikir positif. Mungkin Kiran butuh sosok yang mengayomi dan melindunginya. Dia butuh itu dari kamu.Jadi hilangkan lah kekanak-kanakan kamu. Sebentar lagi kamu menikah, kamu yang harus bisa mengayomi, melindungi dan memberinya nafkah. Maka dia akan merasa aman dan nyaman bila selalu dekat denganmu" nasehat Helen pada Julian.
Julian mengangguk mengerti maksud dari kakaknya
"Kendalikan emosi kamu... cemburu boleh. asal jangan melukai orang yang kita cintai.. Minta maaflah pada Kiran , agar dia bisa mengurungkan niatnya untuk pulang" kata Helen.
"Iya mbak.." jawab Julian.
***
**Cemburu boleh, asal tak melukai orang yang kita cintai..
Mohon dukungannya ya...
Terima kasih**
__ADS_1