
Setelah dari parkiran rumah sakit, Mereka pun berpisah.
Dani,Eva,Helen,Julian dan Kiran dalam satu mobil menuju rumah Dani.
Sementara Gilang dan Atun menuju ke tempat kos Atun.
"Mungkin kalau aku jadi Kiran, hatiku juga hancur...bagaimana tidak? Semalam bertunangan dan bercanda gurau, esok harinya menerima kabar di rumah sakit?!" cerita Atun menahan air matanya.
Gilang mengelus pundak kekasihnya, dengan tangan kirinya dan tangan kanannya masih dalam posisi mengemudi.
"Sudahlah..kita do'akan saja yang terbaik untuk mereka" kata Gilang, berusaha menenangkan hati kekasihnya.
"Kalau boleh aku menebak, kemungkinan pernikahan Julian dan Kiran akan di percepat." kata Gilang.
"Kenapa kamu bisa bilang begitu?" kata Atun yang heran kenapa Gilang berkata demikian.
"Julian itu sebenarnya sudah di vonis meninggal enam bulan yang lalu. Dalam komanya enam bulan yang lalu, dia di datangi seorang gadis. Mukjizat pun terjadi, Julian siuman dan sampai sekarang. Kamu tahu siapa gadis dalam mimpinya itu?" cerita Gilang.
"Kiran ya?" tebakan Atun.
"Hei..kok kamu tahu?" tanya Gilang.
"Kiran pernah cerita, kalau dia juga bermimpi ketemu Julian saat dalam perjalanan dari Solo ke Surabaya. Dan saat dia bertemu Julian laki-laki dalam mimpinya di Warung bakso.
Dan katanya Julian juga bermimpi bertemu Kiran" jelas Atun
"Semoga mereka berjodoh ya.." kata Gilang
"Aamiin" sahut Atun.
Tak berapa lama, mereka sampai di depan kawasan kos Atun.
Gadis itu pun segera turun dari mobil. "Tunggu sebentar ya" kata Atun sambil menengok Gio dari luar jendela mobil.
Atun dengan setengah berlari segera menuju kamarnya. Dan mengambil tas ransel Kiran lalu memasukan beberapa baju Kiran dan benda-benda lainnya milik Kiran.
__ADS_1
"Salam untuk Kiran ya, suruh jaga kesehatannya" kata Atun sambil memberikan tas Kiran pada Gilang.
."Beres ibu negara" gurau Gilang berusaha mencairkan suasana. Atun pun tersenyum simpul.
Gilang pun menjalankan mobilnya ke rumah Ana.
Dan Atun segera masuk ke kawasan kos.
***
Di rumah Ana, semua anggota keluarga berkumpul di ruang keluarga.
"Besok kita jenguk Julian ya" kata Ayah Kiran.
"Iya yah" jawab Ana dan Ilo.
"Ngomong-ngomong Kiran belum pulang juga ya?" tanya Bunda Kiran.
"Mungkin dalam perjalanan. Anak ini, dalam situasi seperti ini ponsel selalu tidak aktif" keluh Ana.
"Wa'alaikumsalam..eh nak Gilanh, masuk-masuk" jawab Ayah Kiran.
Semuanya pindah ke ruang tamu, kecuali Ana yang menyiapkan minum serta makanan untuk tamu dan keluarganya.
"Sebelumnya saya minta maaf bila kedatangan saya menggangu" kata Gilang.
"Ah biasa aja nggak nganggu kok. Kebetulan kami juga lagi santai, ngobrol-ngobrol. ohya Kiran mana?" kata ILO yang kemudian menanyakan Kiran.
"Begini, Kiran tadi di ajak keluarga Julian menginap di rumah Papanya Julian karena Julian di bawa pulang" kata Gilang.
"Menginap? mereka belum sah, nggak baik itu." kata Ayah Kiran agak keras.
"Sekali lagi mohon maaf. Mengingat kondisi Julian, keluarga Julian ingin agar Kiran selalu dekat dengan Julian, sampai akhir hayatnya" kata Gilang memelankan suaranya.
"Akhir hayat? Sebenarnya Julian sakit apa?" tanya Ana yang belum tahu tentang sakit Julian sambil menaruh minuman dan makanan di meja.
__ADS_1
"Leukimia atau Kangker darah stadium empat, dokter pun sampai angkat tangan dalam menangani penyakit Julian" Gilang menjelaskan.
"Julian...Kiran...nasib kalian bagaimana selanjutnya?!" desah ILO, tak bisa
membayangkan apa yang di rasakan adiknya saat ini.
"Sebelum kami meninggalkan rumah sakit tadi, mbak Helen memberitahu rencana keluarga mereka" kata Gio terbata-bata.
"Mereka akan segera menikahkan Julian dan Kiran langsung, setelah Julian sudah bisa bicara" kata Gio.
"Menikah?" kata mereka berempat serempak.
"Iya yang penting Ijab Kobul dulu, karena mereka kuatir tak ada waktu untuk Julian."Jelas Gilang.
"Iya itu untuk Julian, Bagaimana dengan Kiran?apa dia siap, setelah menikah langsung menjanda?" tanya Ayah Kiran yang mengkhawatirkan nasib anaknya.
"Kita tak tahu yang terjadi esok hari, siapa tahu setelah menikah Julian langsung pulih" kata Mama Kiran menengahi.
"yang penting kita datang dan memberi restu kepada mereka, semoga mereka bahagia" lanjut mama Kiran.
"Kita berdoa semoga yang terbaik untuk mereka" kata ILO.
"Gilang..besok pagi bisa jemput kami. Aku dan ayah bunda ingin menjenguk Julian, sekalian ingin melihat keadaan Kiran. Nanti mbak Ana menyusul kami pas pulang kerja." pinta ILO.
"iya mas"jawab Gilang menyanggupi.
"Iya, aku akan mengurus pengunduran diri Kiran. Sebaiknya Kiran berhenti bekerja, biar fokus pada Julian dan pernikahan" kata Ana
Semuanya mengangguk tanda setuju dengan keputusan Ana.
***
Mohon like dan komentarnya ya..
Terima kasih..
__ADS_1