
"Sebaiknya di bawa keluar kamar saja. Kalau di sini, dia akan selalu mengingat Julian" kata Bunda Kiran. Dan Kiran pun di bawa ke kamar Helen.
"Bunda, Ayah apa sebaiknya Kiran diajak pulang ke Solo.Agar dia tidak larut dalam kesedihan" kata Ana."Kita pikirkan setelah tujuh harinya Julian" kata Bunda Kiran.
Malam ini mereka mengadakan pengajian di ruang tamu.Kiran yang masih pingsan di kamar Helen, di temani Atun dan Gio.
"Julian...Julian...jangan pergi...jangan pergi.." tiba-tiba Kiran mengigau.
"Kiran...Kiran kamu sudah sadar?!" seru Atun sambil menggoyangkan tubuh sahabatnya.
Kiran membuka matanya.
"Aku di mana?" tanya Kiran.
"Kamu di kamar mbak Helen"jawab Atun.
"Istirahatlah dulu.." kata Gio.
"Di luar ada apa ya?!"tanya Kiran.
"ohw,..om Dani mengadakan pengajian" kata Atun.
"Aku ingin kesana, ingin berdoa bersama" pinta Kiran.
"Apa kamu sudah sehat? jangan memaksakan diri" kata Atun
."Nggak apa-apa. Aku mencoba untuk move on. Menangis bagaimanapun Julian tidak akan kembal, iya kan?" kata Kiran lirih.
"Betul..Kamu memang harus kuat..! Atun mencoba menyemangati sahabatnya itu. we
Mereka pun keluar dan mengikuti pengajian yang di adakan Keluarga Julian.
Selesai Pengajian, semua masih berkumpul dan berbincang-bincang.
"Kalian semua menginap di sini aja dulu, kalau bisa sampai tujuh harinya Julian" pinta Mama Julian
__ADS_1
."Terima kasih,nanti malah merepotkan" jawab Ibunda Kiran.
"Papa Ayah,Kiran boleh usul nih..!" tiba-tiba Kiran bersuara.
"Ada apa sayang.." jawab Ibunda Kiran.
"Setelah tujuh harinya Julian,Mas ILO dan Mbak Helen tunangan aja dulu. Bagaimana?"usul Kiran.
Semuanya saling pandang. "Boleh saja, agar silahturahmi kita tidak terputus.Lagi pula aku butuh seseorang yang akan menggantikan aku di perusahaan ku. Aku kepingin pensiun ha...ha.." jawab Papa Helen.
"Bagaimana Helen, Nak ILO?" tanya Mama Julian.
"Dengan senang hati,saya juga ada niatan demikian. Tapi saya selama habis kecelakaan kemarin,belum punya usaha.Dan Helen juga masih ambil cuti dari merawat Julian sampai hari ini." kata ILO.
"Kalau masalah itu, kan sudah saya bilang.Kamu bisa bekerja di perusahaan ku" kata Papa Helen.
"Kalau begitu, bolehkah saya mulai dari nol dulu om,jadi karyawan maksud saya?" pinta ILO.
"Terserah kamulah, asal kamu tiap tahun ada peningkatan kerja" jawab Papa Helen.
"Atun...temani aku ke kamar Julian sebentaur ya?". bisik Kiran pada sahabatnya, karena ada perasaan ada sesuatu uang harus dia cari di kamar itu.
."Tapi apa kamu sudah tidak apa-apa?" tanya Atun.
"Insya Allah aku sudah tidak apa-apa" jawab Kiran.
"Mama, Bunda saya ke kamar Julian sebentar ya.." pamit Kiran.
"Kami mengkhawatirkan kamu kamu nggak apa-apa saya g?" kata bunda Kiran.
'Jangan kuatir bunda, Kiran sudah tidak kenapa-kenapa. Kiran minta ditemani Atun" jelas Kiran agar kedua orang tuanya tidak mengkhawatir keadaannya.
"Iyaa jaga hati dan pikiran kami, jangan memaksa diri ya" pesan bunda Kiran
"iya bunda" jawab Kiran.
__ADS_1
Lalu mereka berdua melangkah menuju ke kamar Julian.
"Kemarin aku biasa saja masuk kamar ini, sekarang kok jadi merinding ya..." kata Kiran pelan.
"Aku juga merasakannya" kata Atun.
Kiran mencoba mengingat sesuatu dan dia terus melihat sekeliling kamar.
Di setiap sudut kamar, ingatannya selalu tertuju pada Julian.
"Julian...apa yang kamu katakan sebelum kamu meninggal? kata Kiran dalam hati.
"Apa ya...?" Kiran terus berpikir,dia duduk di tempat tidur Julian. Atun hanya melihat, apa yang sedang dilakukan sahabatnya.
Karena sepertinya sahabatnya itu sedang berpikir keras.
"Apa sih yang sebenarnya kamu cari Ran?" tanya Atun.
"Pesan dari Julian Tun, aku lupa pesan terakhirnya sebelum dia meninggal" jawab Kiran.
"Gitar....oh iya gitar Julian...!" kata Kiran sambil menoleh ke arah gitar Julian.
Kiran pun segera mengambil gitar milik Julian yang ada di sudut kamar.
"Apakah ada sesuatu dalam gitar itu Ran?!" tanya Atun.
."Entah lah,coba kita lihat.." jawab Kiran sambil memeriksa gitar yang di sudah pegangnya.
***
Ada apa dengan gitar Julian?
Mohon like, komentar dan dukungannya ya,
Terima kasih.
__ADS_1