MAFIA GIRL MISTERIUS

MAFIA GIRL MISTERIUS
Part 22


__ADS_3

~SELAMAT PAGI MANIS~


💓💓


**


Selama 24 jam aku dirumah sakit ternyata sesak nafasku masih kambuh.


" Udah dehh gaK usah menggerutu begitu." Ucap Sahara.


" Udah dehh arang gosong, kayaknya lo seneng banget gue di rumah sakit."


" Iya gue seneng banget lo ada di rumah sakit, karena gue bisa nindas lo. Ngekang lo, da...n yang paling penting gue bisa komporin tante Abila buat bikin lo di kurung di kamar. Cerdas gak gue?"


" Ihhhhh, Sahara " Ucapku emosi.


" Makanya diam kalau yang tua nasehatin."


" Memememeememem." Ucapku yang mengikuti omongan Sahara walaupun gak jelas.


Mami Abila pun datang membawa makanan.


" Ra kamu makan nihh, tante udah beli ini."


" Iya tante."


Aku melihat makanan yang dibeli mami.


" Apaan tuhh Mam."


" Nasi goreng."


" Wehh enak tuhh Naawa mau dong."


" Gak ah, kamu masih sakit makan yang disediakan pihak rumah sakit aja dulu." Ucap Mami


" Apaan sih mam, itu makanan hambar tau gak? Sehambar Naawa lihat mukanya si arang." Ucapku sambil mengarah Ke Sahara.


" Ehhh curut ngata-ngatain gue lagi, sakit sakit aja terus ikuti resep dokter." Kesal Sahara yang lagi makan nasgor.


" Apahh gue, no why."


" Sahara, Naawa sudah cukup." Lerai Mami.


" Dia duluan tuh Mam."


" Ehh enak aja, yang tadi duluan ngatain gue si arang siapa?"


" Hmmmmmm." Sahutku malas.


Abila menyuapi Naawa makan.


" Naawa dah kenyang Mam."


" Baru juga 10 suap, kamu dari kemaren lo belum makan ayo cepat makan lagi biar sembuhhh. Aaaaaaa..., ayo makan,


" Tapi kan Naawa dah kenyang Mami."


" Baru 10 suap Naawaaaaa Alastar."


Aku benar-benar kesal hari ini tiba-tiba


Tok tok..


" Itu siapa tante, kayaknya ada tamu." Ucap Sahara.


" Iya Ra, kayaknya ada tamu tapi siapa yahh perasaan tante gak menghubungi siapapun."


" Ya udah aku bukain ya tante."


Aku hanya diam, dan yang datang adalah ...?


" Lili." Ucapku


" Kamu kenal dia." Sahut mami


" Iya Mam, Naawa kenal. Dia teman Naawa, di sekolah."

__ADS_1


" Pagi tante, pagi Kak, pagi Naawa." Sapa Lili.


" Kok Lili kesini darimana dia tau, apa jangan-jangan Si Naawa yang kasih tau yah." Batinku.


Lili datang ke rumah sakit untuk menjenguk Naawa.


" Gila, gue gak nyangka ternyata Naawa..."


" Kamu temannya Naawa yahh disekolah." Sapa Abila


" Iya tante."


" Adik sepupu gue punya temen disekolah, emang itu bener yahh." Sindir Sahara.


" Apaan sih lo arang." Ucapku.


" Serah gue lahh."


" Dasar lo yah."


Lili hanya tersenyum melihat perubahan sifat Naawa didepan keluarga.


" Maaf yahh Li, memang si Naawa ini anaknya agak rese plus petakilan." Ucap Sahara.


" Ehh jaga mulut loh yahh." Ucapku sambil melempar bantal ke arah Sahara.


" Eh Naawa, itu tangannya jangan main kemana-mana udah tau ada infus di tangan." Tegur Mami.


" Dia duluan makanya Naawa lempar."


" Udah-udah."


Aku mendengus tapi aku paham dengan kedatangan Lili.


" Mam, Naawa mau ngomong berdua sama Lili."


" Lahh bocah kayak lo apa yang di omongin pake segala berdua lagi." Sela Sahara.


" Justru karena ada lo kakak sepupu laknat, makanya gue harus waspada takutnya temen gue ini { sambil menunjuk ke arah Lili } lo racunin lagi."


" Emang iya."


" Wahhh curut lohh."


" Bodo, bisa kan Mami." Ucapku yang memandang Mami.


" Sebenarnya mami masih khawatir sama kamu, tapi kalau kamu ada yang mau di omongin gak papa sihh sekalian Mami juga mau pulang mandi dan ganti baju habis itu Mami kesini lagi."


" Iya Mami, gak papa kok aku bentar aja."


" Tapi Mami suruh pengawal buat jagain kamu yahh, selama Mami pulang."


" Gak usah Mam, aku gak papa kok."


" Gak untuk kali ini yahh, kalau masalah keselamatan kamu itu nomor satu." Ucap Mami yang menelpon pengawalnya, untuk menjagaku.


" Tapi jaganya diluar rumah sakit aja yah Mam." Ucapku.


" Iya, ayo Ra kita pulang kamu juga pasti capek."


Mami pun menciumku.


" Mami pulang dulu ya sayang, Li tolong yahh."


" Iya tante." Sahut Lili dengan sopan.


" Ingat ya Li, Naawa itu anaknya gak bisa diem awasin yahh." Ucap Sahara yang mulai keluar dengan Abila.


" Ehh arang lo yahh." Aku teriak membalas ucapan Sahara.


Mereka berdua pun pergi, dan sekarang hanya aku dan Lili di kamar. Lili diam melihatku.


" Kamu kenapa Li." Aku bertanya.


" Kok lo gak bilang sama gue, kalau lo itu anak-" Belum selesai Lili ngomong aku langsung sambung.


" Anak Abila." Ucapku.

__ADS_1


" Itu yang gue maksud."


" Emang kenapa Li, kalau aku anak Abila apa kamu masih mau temenan sama aku."


" Seharusnya gue yang bilang begitu." Ucap Lili.


" Kok gitu." Tanyaku heran.


" Ya ampun Wa... emang lo gak tau apah? Kekayaan nyokap lo kaya gimana? Banyak diluar sana, yang mau jadi anak Nyonya Abila bahkan mereka sering halu tau gak."


" Aku tau, tapi aku males ngebahas kekayaan." Ucapku.


" Tapi kenapa lo nyamar disekolah, kan lo bisa kenalin diri lo sebagai Naawa Alastar. Anak Nyonya Abila, pasti mereka gak akan ganggu lo terutama Si David."


" Ya aku sengaja aja, biar aku dapet teman yang tulus dan gak mandang harta."


" Ya tapi kan gak kayak gini juga caranya, lo dibully."


" Tapikan aku dah dapat temen kayak kamu, kamu kan nerima aku apa adanya." Ucapku pada Lili yang membuatnya terharu.


" Naawa lo.."


" Udahhhh, sini peluk." Ucapku.


Lili menangis haru dipelukanku sambil berkata:


" Lo ya Naawa dasar yahhh, hiks...hiks ...hiks..."


" Udah-udah, udah gede kok masih nangis." Godaku pada Lili.


" Ihh Naawaaa." Ucapnya.


**


Lili pun menceritakan pengalamannya selama berkemah, termasuk David dan Denis.


" Gitu Wa, gue gak nyangka David jahat banget."


" Aku dah tau dari Awal."


" Kok lo gak bilang-bilang sihh sama gue."


" Ya kan aku awalnya mau menyelesaikannya sendiri."


" Tapi karna gue dah tau, berarti boleh dong bantu lo,"


" Iya iya."


" Ehh ngomong-ngomong kok lo bisa gini, dan tadi malam lo ke perkemahan bantu gue tapi lo bilang tadi malam lo diruma sakit. Sebenarnya mana sihh yang bener." Bingung Lili.


Hati gue dah duga pasti si curut gentayangan itu yang bilang.


" Dua-duanya bener kok." Ucapku pada Lili.


" Hah kok bisa? Gimana ceritanya Wa, lo berada didua tempat dengan waktu yang sama."


" Gam mungkin gue cerita tentang ini ke Lili , sebaiknya aku menceritakan yang lain saja." Batinku.


" Udah lupain aja itu, tapi kamu mau bantuin aku gak."


" Bantuin apa?"


" Bantu aku buat David jera sejera mungkin."


" Emang bisa."


" Makanya aku perlu bantuan kamu." Ucapku sambil menjentik dahi Lili.


" Aduhh Wa sakit tau." Ucap Lili yang sama sekali dahinya itu tidak sakit.


Aku dan Lili pun tertawa lepas.


~SELAMAT MEMBACA~


💓💓💓


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2