
~SELAMAT PAGI HUJAN~
💓💓💓
**
Rhumi pingsan karena kelelahan, dirinya juga tidak ingin membuat Mamanya kecewa makanya dia memaksa untuk datang.
Dila terkejut melihat Rhumi pingsan, dirinya sangat panik.
" Rhumi, ya allah.. Rhumi sayang." Panggil Dila dengan lembut.
Dila membaringkan tubuh Rhumi ke kasur, dia sangat khawatir dengan keadaan Rhumi. Mengambil minyak telon untuk di dekatkan pada hidung Rhumi, supaya Rhumi sadar.
Karena mengendus minyak telon, Rhumi akhirnya sadar.
" Ehmm.. Mama." Ucap Rhumi.
" Syukurlah kamu sudah sadar nak, Mama senang."
" Rhumi kenapa?"
" Kamu tadi pingsan, emang kamu lupa."
" Aww.." Rhumi sambil memegang bahunya.
" Bahu kenapa?"
" Gak papa kok Ma, mungkin cedera saat Rhumi pingsan tadi."
" Kamu sebenarnya kenapa, kok bisa begini gak ada yang kamu sembunyikan dari Mama kan."
" Gak ada Ma, semuanya baik-baik aja kok."
" Bener."
" Iya."
" Ya sudah, kamu dah makan belum."
" Belum."
" Mama siapkan dulu."
Dila pergi ke dapur utama dan memasak untuk Rhumi sebentar.
" Ini Mama buatkan sup ayam kampung, kamu makan yahh."
Dila menyuapi Rhumi dengan telaten, entah kenapa Rhumi sangat lahap memakannya mungkin dia rindu dengan masakan Mamanya.
**
Wana mengetahu kejadian Rhumi, dia cukup terkejut seorang Rhumi berhasil dicelakai oleh Chloe, Wana berniat menemui Rhumi nanti.
" Aku harus ketemu sama Rhumi, untuk bertanya kenapa dia bisa tenggelam." Gumam Wana.
Tok tok..
Rhumi yang mendengar ketukan jendela dari luar terbangun, dia membuka jendela itu dan ternyata itu adalah..?
" Wana." Ucap Rhumi.
" Bolehkan aku masuk."
" Cepat masuk."
Rhumi duduk di tepi ranjang, dia menanyakan perihal Wana datang kesini.
" Tidak seperti biasanya kau menemuiku seperti ini, kau perlu uang."
" Haduhhh." Wana menghempaskan tubuhnya di kasur.
" Kurang lebihnya seperti itu, tapi tidak hanya itu."
" Apa?"
" Kenapa kau bisa tenggelam."
" Aku sedikit lengah, dia sangat licik."
" Apa ada tugas untukku."
" Hmm.. sepertinya kau memang butuh uang."
__ADS_1
" Ahh ayolah, sudah tahu sifatku hehehe."
" Berapa yang kau butuhkan."
" Tidak banyak, cuma 100 Juta."
" Sebentar, aku transfer dulu."
" Apa sudah masuk."
Wana ngecek akun Brimo-nya, benar saja uangnya sudah masuk.
" Ok sudah masuk, lalu apa yang harus aku lakukan."
" Pergi ke rumah Mami Abila."
" Hmm.. baiklah."
Wana pergi lewat jendela itu lagi, tapi saat dia ingin melompat tiba-tiba Rhumi memanggilnya lagi."
" Wana."
" Ishch.. apalagi."
" Aku sarankan jangan terlalu boros, aku tidak suka itu ingat kau harus memikirkan masa depanmu."
" Aishhh.. sejak kapan kau jadi ibu-ibu remoong, sudah aku pergi dulu."
Hiupp..
Wana melompat dari jendela dengan damage yang luar biasa.
" Anak itu.. tidak pernah berubah, kena batunya tau rasa." Dengus Rhumi.
Wana pergi ke kamar Rhumi, dia menyamar menjadi Naawa.
**
Tut tut..
" Halo, iya.. kamu tenang saja aman kok, sampai kapan kamu mau bersembunyi. Ouhhh.. ya sudah, jaga kesehatanmu." Ucap Rhumi dalam telponnya.
" Kamu nelpon siapa sayang." Ucap Dila yang baru masuk.
" Rekan bisnis Ma."
" Lagi kejar proyek aja Ma."
" Ya sudah, kamu istirahat dulu! Mau Mama temenin?"
" Aa... Rhumi lebih baik sendiri aja Ma, malu."
" Hahah, kamu lucu dehh."
" Hmm.. lucu kenapa?"
" Ya soalnya pake malu segala, padahal kan Mama sering gantiin celana kamu waktu kecil."
" itu kan waktu kecil Ma, sekarang mahh beda."
" Iya iya dehh, yang penting sekarang kamu istirahat dan jangan capek-capek Mama gak suka lihatnya."
" Siap bos."
Dila hanya geleng-geleng melihat tingkah Rhumi.
**
Sedangkan Abila sedikit was-was, memutuskan untuk mencek keadaan Naawa didalam kamarnya.
Ceklek..
" Baguslah sudah tidur, hmm." Abila menghela nafas.
" Naawa Naawa, selalu aja ada yang nyakitin kamu." Ucap Abila.
Tut tut.. ponsel Abila berbunyi, dari siang tadi memang sudah menyuruh anak buah untuk mencari tahu kenapa Naawa bisa terjatuh.
" Halo, apa kamu sudah tahu."
" Iya Nyonya, Non Muda sengaja di dorong."
" Sengaja di dorong, siapa yang melakukan itu."
__ADS_1
" Dari cctv danau yang dipasang dekat caffe, ada seorang cewek yang mengendap untuk mendorong Nona Muda saat Pak Dadang mengambil kamera.
" Ouhh begitu yahh, tolong kamu cari tahu siapa yang mendorong anak saya."
" Baik Nyonya."
" Iya terimakasih."
Tut tut.. Abila mematikan ponselnya, Abila sangat geram siapa yang berani menyakiti anaknya."
" Aku juga harus cari tahu, bagaimana pergaulannya di sekolah iya aku harus cari tahu." Batin Abila kemudian memandang Naawa yang tertidur.
Mengelus kepala Naawa, lalu pergi dari kamar itu dan kembali ke kamarnya untuk istirahat.
**
" Aaahhkkh.." Teriak Qaza sambil melempar semua barang yang didekatnya.
" Dasar gak berguna." Ucap Qaza emosi sambil menendang kursi.
Qaza mengusap wajahnya dengan kasar, kali ini dia benar-benar tidak ingin kehilangan Dila.
Brakk...
Sebuah pot melayang ke kamar Qaza, terlihat semuanya berantakan.
" Apa yang sudah Papa lakukan hah, sampai Mama pergi dari rumah." Bentak Awan yang baru mengetahui Mamanya kabur dari rumah.
" Diam kamu Awan." Sahut Qaza.
" Papa suruh aku diam, menurut Papa Awan bakalan diam begitu Pa? Awan gak nyangka, Papa mengkhianati Mama."
" Diam kamu Awan, kamu itu tahu apa-apa tentang masa lalu Papa."
" Awan memang tidak tahu apa-apa tentang masa lalu Papa, tapi sekarang? Sekarang Papa ada di masa depan sama Mama, dia hanya masa lalu Papa tapi apa Pa? Papa bikin Mama menangis, aku gak bisa bayangin sesakit apa hati Mama."
" Kurang ajar."
Plakk..
Qaza menampar Awan, karena perkataannya membuat Qaza makin sakit.
" Dasar kamu.. aakhhh, kenapa juga Papa harus menampar kamu."
Awan masih berpose saat wajahnya ke samping karena di tampar, matanya melotot ke arah Papanya sendiri.
" Sudah emosinya, saya permisi." Ucap Awan yang keluar dari rumah."
" Awan mau kemana kamu hah, jangan bilang kalau kamu mau pergi juga Awan.. Papa tegaskan sekali lagi kalau kamu keluar dari rumah ini jangan harap kamu bisa kembali."
" Papa tenang aja, Awan gak akan kembali kok Awan hanya ingin mencari Mama dan memulai hidup baru."
Crekkk...
Bagai suara petir yang sedang murka, Qaza mendengar jawaban Awan.
" Apa yang kamu.. bicarakan, jangan macam-macam kamu heyy.. jawab Papa."
Awan sama sekali tidak menjawab pertanyaan Qaza, dia terus keluar untuk sekarang dalam pikirannya hanya Mama. Hanya Mama yang dia pikirkan, tidak ada yang lain.
" Ma.. Mama dimana? Please, temui Awan maafin Awan kalau sudah bikin Mama sakit." Batin Awan menangis karena harus tahu tentang perselingkuhan Papanya sendiri dengan Tante Dea.
**
Tengah malam Dila terbangun dirinya tidak sengaja menyentuh badan Rhumi, betapa kagetnya Dila bahwa Rhumi demam.
" Astaghfirulahal'azhiim, ya allah Rhumi badan kamu." Dila ngecek suhu badan Rhumi, hampir mencapai 41°.
" Ya allah, 41° Rhumi.. apa yang sakit nak."
Dalam keadaan badan panas, Rhumi mengigau dia menangis karena takut saat kecelakaan 12 tahun yang lalu.
" Hiks..hiks..huhu..uu.."
" Rhumi.. heyy, bisa denger Mama sayang." Ucap Dila sambil menepuk pipi Rhumi.
**
Baru aja selesai up-nya, nanti saya up lagi yahh besok.
**
~SELAMAT MEMBACA~
__ADS_1
💓💓💓
🌹BERSAMBUNG🌹