MAFIA GIRL MISTERIUS

MAFIA GIRL MISTERIUS
Part 83


__ADS_3

~SELAMAT PAGI DEAR~


💓💓💓


**


Pagi ini Denis uring-uringan masuk sekolah, dikarenakan Lili tidak ada. Denis ingin mencari Lili secepat mungkin sehabis pulang sekolah, biar bisa bercanda lagi dengannya.


Tidak hanya itu, bahkan Denis meminta brosur tentang Lili kepada Luna. Dia berencana sebelum bel sekolah lonceng, dia ingin menyebarkan brosur ini supaya Lili bisa ditemukan.


" Semoga aja dengan brosur ini, Lo balik Li." Ucap Denis memandang brosur lalu menempelkan kembali ke dinding itulah yang dilakukan Denis.


" Pak, Pak ini brosur untuk Bapak. Tolong infonya yahh, bantu Saya Pak." Mohon Denis.


" Iya Dek, Saya pergi dulu." Sahut Bapak itu.


Denis kemudian pergi ke sekolahnya setelah beberapa brosur sudah dibagikan.


**


Qaza bersiap untuk makan, tapi kemana Dila. Qaza bertanya pada para pelayan, apakah Nyonya Dila keluar dari kamar Rhumi.


" Bi, dimana Nyonya Dila?"


" Saya tidak tahu Tuan, saya gak berani masuk ke kamar Non Rhu.."


" Ahhh stop, biar saya yang panggil."


Qaza mengetuk pintu..


Tok tok..


" Dila, ayo keluar ini sudah pagi waktunya makan."


" Dila.." Panggil Qaza sekali lagi, namun tidak ada sahutan sama sekali.


" Dila.. Saya tidak suka Kamu seperti ini, ayo cepat keluar." Ucap Qaza dengan nada yang tegas.


" Dila."


Tok tok..


" Kalau kamu marah sama Saya ok, tapi tolong kamu jangan seperti ini kekanak-kanakan tau tidak!"


Sunyi, tidak ada sahutan maupun pergerakan pintu akan dibuka.


" Dila.. kalau Kamu tidak mau membuka pintunya, Saya akan dobrak."


Masih tidak ada sahutan.


Brakk brakk..


Dua kali dobrakan, pintu masih belum terbuka. Qaza membuat ancang-ancang, dia menerjang pintu dengan kuat.


Brakk…


Pintu terbuka, betapa kagetnya Qaza semua ruangan dipenuhi gambar dirinya sedang bercinta dengan Dea. Mata Qaza melotot tidak percaya, lututnya gemetar dan perlahan berjalan mengambil gambar itu.


" Dila..Kamu." Ucap Qaza terbata.


Para pelayan yang mendengar dobrakan pintu begitu keras, memeriksa siapa tau Tuannya kenapa-napa. Tapi alangkah terkejutnya mereka, bahkan mulut mereka ternganga melihat gambar yang berserakan di lantai dan di laci lalu di dinding.


Qaza melihat para pelayannya ternganga, dia marah sangat marah.


" Apa yang kalian lihat, cepat bekerja sana." Bentak Qaza.


Para pelayan itu pun pergi, dan melanjutkan pekerjaannya sedangkan Qaza dengan cepat menutup pintu itu.


" Dila, apa Kamu sudah tahu tentang hubungan Saya dengan Dea." Ucap Qaza terbata-bata.

__ADS_1


Tangan Qaza gemetar membersihkan semua gambar panasnya di kamar itu, dia berpikir keras darimana Dila mendapatkan foto itu.


" Dila." Panggil Qaza dengan berteriak.


" Kamu dimana? Dila, tolong jangan seperti ini." UcP Qaza dengan frustasi.


" Dila.." Panggil Qaza dengan suara sekeras-kerasnya.


Namun suaranya sama tidak berguna, karena Dila sekarang sudah berada di tangan Rhumi. Sebisanya, Rhumi akan mencari tahu tentang kebenaran Papanya. Jika itu memang benar sesuai dugaan Rhumi, maka Rhumi sendiri yang akan menjauhkan Mamanya dengan Tuan Qaza.


**


Dila masih tidur dalam kamarnya, karena kelelahan. Bahkan Rhumi sudah tidak berada di rumah itu lagi, ya pasti dia akan kembali ke rumah Maminya.


" Mami.. hari ini Naawa naik sepeda yah, sekalian mau olahraga."


" Apa.. naik sepeda, enggak gak. Mami gak mau, itu berbahaya buat kamu jangan macam-macam dan banyak alasan kamu."


" Ihhh.. Mami, Naawa kan sudah gede." Ucap Rhumi yang harus akting polos didepan Mami Abila.


" Udah gede, udah gede.. banyak alasan kamu yahh. Sudah, di antar sama Pak Dadang." Ucap Abila dengan tegas.


" Tapi Mami.."


Namun Abila tidak menghiraukan omongan Naawa, justru Abila memilih untuk turun ke bawah mau sarapan pagi.


" Mami denger dulu, Naawa kan sudah minta izin sama Mami." Ucap Rhumi yang tidak hati-hati turun tangga, dan kakinya terpeleset.


" Haaaa…" Teriak Rhumi yang kaget dan jatuh.


Brukkk.. takk takk..


" Naawa." Abila langsung berpaling memegang Naawa. namun perut Naawa malah tertumbuk pegangan tangga.


" Eeekhhhh." Rhumi kesakitan, bagaikan pun perutnya sudah tertumbuk pegangan tangga itu.


" Ngilunya.." Batin Rhumi sambil memegang perutnya.


" Dadang." Panggil Abila.


" Iya Nyonya."


" Bantu saya bawa Naawa ke kamar."


Pak Dadang pun membantu Abila membawa Naawa ke kamarnya.


" Naawa heyy, bisa dengar Mami sayang." Tanya Abila sambil menepuk-nepuk pipinya.


" Hmm.." Sahut Rhumi yang masih memegang perutnya, Abila yang melihat tangan Rhumi terus memegang perutnya langsung memeriksa.


" Jangan.. hik, sakit."


" Justru yang sakit itu Mami harus periksa, sudah tangan kamu diam dulu.


Abila membuka baju Rhumi, tepat di tengah pusat terlihat bekas kebiruan.


" Ahh hik.. jangan di sentuh sakit."


" Bentar dulu."


Abila mengambil kain untuk mengompres perut Rhumi, saat mengompres Rhumi malah berteriak karena nyeri.


" Aaw.. Mami sudah sakit, gak mau." Ucap Rhumi yang entah kenapa sifat manjanya di keluarkan saat bersama Abila.


" Sebentar aja, Mami kompres sayang diam dulu." Bujuk Abila.


" Aehh hik hik.. sakit Mami." Rengek Rhumi seperti anak kecil.


" Makanya kalau turun dari tangga itu dilihat, biar kakinya gak kepeleset lagi."

__ADS_1


Fuuuuhhh..


Tiup Abila dengan lembut, untuk menghilangkan rasa nyeri.


" Sudah, Naawa hari ini istirahat aja dulu."


" Tapi hari ini Naawa ada tugas Mam."


" Itukan bisa nanti, yang penting kamu dulu."


" Tapi.."


" Gak ada tapi-tapian, udah kamu istirahat dulu nanti siang kalau perutnya masih sakit kita ke dokter."


Rhumi hanya diam, kalau masalah seperti ini dia tidak bisa melawan Mami lagi.


" Mami ke kantor dulu, jangan banyak gerak."


Cup..


Abila mencium Rhumi, lalu memberi pelayan untuk mengawasi Naawa.


" Tolong awasi Naawa, kalau perutnya masih sakit jangan di kasih makanan yang keras dulu."


" Baik Nyonya." Sahut para pelayan.


Didalam kamar, Rhumi terus memikirkan cara supaya bisa keluar.


" Saya harus keluar, bagaimana caranya apa saya buat terowongan rahasia saja." Batin Rhumi.


**


Dila sudah bangun, dia lihat Rhumi sudah tidak ada lagi kemudian dia bertanya pada Art.


" Bi, anak saya mana?"


" Ouh Non Rhumi, tadi Non keluar sebentar katanya ada yang di urus. Tadi Non Rhumi juga pesan sama saya, katanya Nyonya mau apa aja bilang aja sama saya."


" Emang dia keluar mau kemana?" Tanya Dila sekali lagi.


" Wahh, kalau itu saya kurang tahu Nyonya!"


" Ouhhh."


Sayang sekali, padahal Dila ingin sarapan pagi bersama anaknya. Dila melanjutkan aktivitasnya dengan mandi lalu sarapan, setelah selesai Dila masuk ke salah satu kamar di paling ujung.


" Itu kamar siapa yahh? Masa kamar Rhumi, kok letaknya di ujung." Batin Dila.


" Boleh masuk gak yahh, ahh.. ini kan rumah Rhumi. Rhumi bilang kalau ini dia hadiahkan untukku, berarti boleh lah aku masuk ke kamar itu." Pikir Dila.


**


Sedangkan Rhumi yang dari dalam kamar, membuka ponselnya untuk memantau pergerakan Mamanya. Apakah Mamanya masuk ke kamar itu atau tidak, kalau masuk apa reaksi Mama nanti.


" Apa yahh reaksi Mama, kala melihat suami kesayangannya sedang bercinta." Batin Rhumi.


**


Dila masuk, tidak ada yang aneh dalam kamar ini. Semuanya tersusun rapi dan bersih, hanya ada sebuah laptop. Karena penasaran, Dila membuka laptop itu.


" Kebetulan ada laptop, buka aja lahh."


Saat Dila membuka, malah ada adegan..?


" Hayoo mikir apa para pembaca?" Tebak Author gabut.


Ada adegan Rhumi menghajar anak buahnya dengan sadis, di adegan itu Percakapannya lahh yang membuat Dila menangis.


Itu semua sudah disiapkan oleh Rhumi dengan sangat sempurna.

__ADS_1


~SELAMAT MEMBACA MY HEART~


🌹BERSAMBUNG🌹


__ADS_2