MAFIA GIRL MISTERIUS

MAFIA GIRL MISTERIUS
Part 71


__ADS_3

Saat keluarga Ranu dan yang lainnya pulang, didalam mobil Ranu menanyakan Lili.


" Qila, kenapa Lili tidak ada?" Tanya Ranu.


" Itu juga yang aku pikirin dari tadi mas, setelah Lili pamit mau ke toilet dia gak balik-balik." Jawab Qila dengan cemas.


" Kemana anak itu, apa dia pulang duluan." Ucap Ranu yang kesal dengan tingkah Lili.


" Sudahlah Pa Ma, jangan di ributin. Lili mungkin sudah ada di rumah, biarin ajalah." Ucap Luna yang mengerti Lili.


" Gak bisa begitu Luna.. Lili itu harus di kasih tau apa yang dia lakukan itu salah." Jelas Ranu.


" Mas sudahlah, nanti kita cari dirumah." Ucap Qila.


" Kalau sampai dia ada dirumah lebih dahulu, awas saja." Ucap Ranu.


" Mas kamu jangan macam-macam ya sama Lili, aku gak mau ada keributan nantinya." Qila mengingatkan suaminya itu.


Sesampainya di rumah, Lili memang sudah ada didalam kamarnya.


" Tuh kan.. anak itu pulang duluan, gak sopan tau gak." Ucap Ranu kesal.


" Kita tanyain dulu Lilinya, kenapa dia pulang duluan?" Saran Qila.


" Lili.. Lili, kenapa kamu pulang duluan." Ucap Ranu sambil membuka pintu kamar Lili.


" Papa! Ucap Lili kaget.


" Dasar anak nakal, bisanya cuma bikin ulah saja." Hardik Ranu.


" Maksud Papa apa?, ngatain Lili begitu." Ucap Lili dengan nada manantang.


" Kamu anak gak tau di untung, sukanya bikin susah dan malu orang tua. Apa yang kamu inginkan Li, pulang tanpa pamit keterlaluan kamu." Ucap Ranu emosi.


" Papa keterlaluan sama Lili, Papa jahat." Teriak Lili.


Plakk... Ranu menampar wajah Lili.


" Papa." Teriak Luna yang melihat Lili di tampar.


" Luna." Ucap Qila.


" Pa, cukup. Kasihan Lili Pa, dari tadi dimarahi terus biarinlah ini juga udah malam." Ucap Luna yang lelah dengan sikap Ayahnya.


" Kalian bertiga sama saja." Ucap Ranu lalu pergi.


" Hiks..hiks." Lili memegang pipinya.


" Lili kamu gak papa." Tanya Luna terhenti setelah Lili menutup pintu dengan cepat dan keras.


Brakkk..


" Aaw." Kaget Luna.


" Ma gimana ini, Lili pasti marah sama Luna." Takut Luna, jika Lili marah padanya.


" Sudah sudah, ini sudah malam besok nanti kita bicarakan yah." Jawab Qila menenangkan Luna.


" Iya Ma, makasih yah." Ucap Luna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di gedung tua Denis terikat, mulutnya juga di lakban. Seorang bertopeng datang, dan membuka topengnya.

__ADS_1


Denis membulatkan matanya karena kaget, yang dia lihat tak lain adalah David sendiri.


" David." Batin Denis.


" Maaf, gue membawa lu dengan cara seperti ini. Gue bingung, harus ngapain lagi. Gue kehabisan ide, untuk minta maaf sama lu." Ucap David.


David menuju pinggir Gedung, kemudian berbalik mengarah ke Denis.


" Gue bakalan bayar nyawa adik lu." Ucap David.


" Apa yang lu lakuin." Teriak Batin Denis.


" Mungkin dengan cara ini, lu bisa maafin gue." Ucap David dengan tatapan kosong.


" Gue minta maaf sedalam-dalamnya, kalau gue selama ini gak bisa jadi teman lu yang baik.


" Gue pamit sama lo, gue harap ini bisa buat lo memaafkan gue" Ucap David sekali lagi.


" Permintaan terakhir gue sama lo." David menghela nafas pelan-pelan dan lebih ke tepi lagi.


" Mmmmmm hmmmm." Teriak Denis karena mulutnya di lakban.


" Apa yang mau lo lakuin Vid." Batin Denis berteriak sekuat-kuatnya, karena hatinya tidak nyaman.


" Maafin gue." Ucap David kemudian lompat ke bawah.


Mata Denis kosong melihat pemandangan itu, tiba-tiba Rhumi datang menggunakan topeng.


" Aaaahkkk." Ucap Rhumi kemudian menatap Denis.


Rhumi membawa Denis ke tempat aman, biar bagaimana pun Rhumi tidak mau Denis terlibat pembunuhan.


" David, apa yang lo pikirin." Batin Rhumi.


Denis memberontak, dia ingin sekali menangis. Rhumi memandang Denis, dia tahu Denis tidak salah begitu juga dengan David. Ini hanya kecelakaan, karena takut David meninggalkan Divanna begitu sama. Usia mereka kala itu, terbilang masih muda.


Setelah Rhumi pergi, dengan cepat Denis membuka lakban yang ada dimulutnya. Dia melihat sekitar, tempat ini Denis tidak mengenalinya. Denis sangat shok dengan apa yang dia lihat malam ini, David sahabatnya bunuh diri tepat dihadapannya.


" Apa yang lo lakuin Vid, maaf kalau sikap gue selama ini bikin lo stres. Maafin gue, sekali lagi gue minta maaf." Ucap Denis sambil menangis.


David bunuh diri karena rasa frustasinya yang selalu menhantui dirinya, ditambah lagi Denis tidak pernah mau bicara dengannya. David selalu berusaha untuk bisa bicara secara baik-baik dengan Denis, akan tetapi hanya penolakan yang didapat David. Apalagi orang tuanya sendiri, tidak peduli dengan dirinya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tepat jam 4 pagi subuh, Lili mengemas semua barangnya ke dalam ransel. Dia meninggalkan handphone, dan juga fasilitas yang diberikan orang tuanya.


Dompet segala isinya tidak dibawa olehnya, Lili bertekad untuk tidak mau lagi ikut campur dengan keluarga yang tidak pernah mengerti dirinya.


Lili memandang foto Naawa dengan seksama, sakit dan merasa bersalah. Lili sakit hati dengan sikap Papanya, merasa bersalah karena harus meninggalkan sahabatnya yaitu Naawa.


" Naawa, lo adalah sahabat gue yang baik walaupun kadang lo dingin kaya kutub utara." Batin Lili.


Lili menyeka air matanya, dia mengunci pintunya dan pergi lewat jendela yang langsung keluar. Lili pergi melewati dinding pembatas di samping, jalanan agak sepi karena waktu masih sangat pagi.


Lili tau dia harus kemana, dan orang tuanya tidak akan menemukan dirinya sekalipun memakai hacker untuk melacak keberadaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terdengar berita pagi ini, tentang orang yang bunuh diri dari gedung. Ciri-ciri yang disebutkan sama persis dengan David, Kusuma dan Reani panik mendengar berita itu.


" Tolong kamu cek berita pagi ini." Ucap Kusuma ditelpon menyuruh anak buahnya.


" Papa.. ciri-cirinya mirip David Pa." Ucap Reani yang mau menangis.

__ADS_1


" Sudah Ma, jangan nangis ya ini hanya perkiraan? Kita kan belum cek, siapa yang bunuh diri itu siapa tau orang lain." Ucap Kusuma menenangkan istrinya.


Garis polisi nampak terpampang jelas mengelilingi tubuh yang sudah patah, tidak jelas lagi bentuknya.


Semua warga dikagetkan dengan adanya penemuan mayat didekat gedung, mereka bilang baru kali ini ada yang bunuh diri didekat situ.


Wartawan menanyakan perihal kepada warga, yang terlebih dahulu menemukan mayat itu.


" Apa yang bapak lakukan didekat sini." Tanya wartawan.


" Saya kan pemulung mbak, saya sering mulung disini terus saya lihat ada bercak darah. Ehh tau-taunya ada mayat yang udah kagak jelas lagi bentuknya, saya kaget ya udah saya laporkan kepada rt yang ada disini. Mereka yang melapor ke kantor polisi, gak ada saksi yang melihat kejadian ini." Ucap warga itu.


" Ok terimakasih atas penjelasannya bapak, nahh pemirsa itu tadi sekilas info yang bisa kami berikan. Ya cukup sampai disini dulu kita bertemu, jangan lupa saksikan sekilas info indonesia saya Furnama sampai jumpa." Ucap wartawan itu berpamitan di depan kamera.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Qila sudah menyiapkan makanan di atas meja, Ranu dan Luna juga sudah siap sedia untuk makan.


" Kok Lili gak keluar Ma, dia kan mesti sekolah pagi ini." Ucap Luna sambil mengambil telur dadar.


" Tunggu sebentar yahh, Mama panggilin dulu.


Qila mengetuk pintu kamar Lili.


Tok tok ..


Tok tok ..


" Lili sayang, makan nak nanti kamu telat loh sekolahnya." Ucap Qila sambil mengetuk pintu.


" Kok gak ada sahutan, Lili Mama masuk yah." Ucap Qila, masih tidak ada sahutan sama sekali.


Karena penasaran, Qila membuka pintunya tapi pintunya terkunci.


" Lili tolong buka pintunya sayang, Lili.. buka sayang pintunya. Ayo dong Lili, kamu jangan ngambek dong ayo buka pintunya.


Luna mendengar suara Mamanya memanggil Lili, karena penasaran Luna akhirnya ikut ke kamar Lili.


" Ada apa Ma, kok panik gitu?" Tanya Luna.


" Ini Lun, Lili gak mau bukain pintunya." Ucap Qila mulai cemas.


" Ada sahutan gak dari tadi Ma." Tanya Luna lagi.


" Gak ada Lun, dari tadi Mama ketuk-ketuk gak ada sahutan.


" Ya ampun Ma, jangan-jangan Lili. Li buka Li, please kamu jangan kayak gini." Teriak Luna sambil berusaha membuka pintunya.


" Papa.." Teriak Qila memanggil Ranu.


" Ada apa sih, teriak-teriak." Ranu datang sedikit tergesa-gesa.


" Papa tolong dobrak pintunya Lili." Pinta Luna.


" Memang ada apa sih." Tanya Ranu.


" Udah deh mas, gak usah banyak tanya dorong aja." Emosi Qila.


Ranu mendorong pintu kamar Lili, sekali dorong belum terbuka.


" Minggir." Ucap Ranu.


Brakk .. pintu akhirnya terbuka.

__ADS_1


" Lili." Panggil Qila dan Luna bersamaan, saat mereka masuk langsung terkejut.


BERSAMBUNG.


__ADS_2