
~SELAMAT SIANG~
πππ
**
Vania mengajak Sinta untuk berbicara berdua di belakang sekolah.
" Sinta, tunggu." Ucap Vania memanggil Sinta.
" Vania." Ucap Sinta.
" Kita bisa bicara berdua gak."
" Emang mau bicara apa."
" Sudahh, kalau mau tahu ikut aja."
" Ok." Sinta mau mengikuti Vania.
Mereka duduk ditaman, Vania juga membawa dua minuman Boba.
" Nihh buat kamu." Vania menyodorkan Es Boba.
" Buat aku." Sinta bertanya kembali.
" Iya buat kamu, biar relex aja ngobrolnya."
" Makasih yahh." Ucap Sinta yang akhirnya mengambil Es Boba itu.
Sruuppp...
" Ahhh." Ucap Vania dan Sinta bersamaan setelah meminum Es Boba itu.
" Kamu mau bicara apa?" Tanya Sinta memulai obrolan."
" Gimana yahh, memulai obrolan yang enak. Pokoknya segala kesalahan yang pernah aku buat sama kamu, aku minta maaf." Ucap Vania.
Sinta tertegun dengan permintaan maaf Vania, menurutnya Vania tidaklah salah.
" Kamu gak salah Sinta, sebelum kamu minta maaf aku dah maafin kok." Sahut Sinta.
" Makasih ya Sin, aku nyesel banget dulu pernah jauhin kamu."
" Gak papa kok, itu dah resiko aku sebagai anak orang tuaku." Sahut Sinta tersenyum.
" Ouhh ya Sin, kamu emang mau pindah kemana?" Tanya Vania.
" Kamu tau darimana, aku kan gak cerita."
" Heheh...maaf yahh, tadi aku gak sengaja denger pembicaraan kamu sama Dito." Ucap Vania terkekeh pelan.
" Ihh kamu nguping, dosa tahu." Ucap Sinta.
" Hehehe..maaf yahh."
" Heheh gak papa kok." Sahut Sinta.
" Terus kamu mau pindah kemana."
" Belum tahu, aku ikut mamaku aja."
" Ya udah nanti kalau kamu sudah sampai di tempat tujuan, kasih tahu aku aja yahh. Kamu masihh nyimpan nomor ku gak, biar bisa ngabarin nanti." Ucap Vania lagi.
" Masih simpan kok."
" Nahh, kalau sudah clear kita bikin gelang persahabatan kita. Ini buat kamu satu, dan ini buat aku." Ucap Vania.
__ADS_1
" Makasih yahh Vania, aku bersyukur banget bisa kenal sama kamu."
" Udahh, justru aku yang bersyukur. Udah sini peluk dulu, ucuuuuu sayang cahabat achu ini." Ucap Vania lebay.
" Apaan sihh kamu Vania, Haa.. hiks hiks.." Ucap Sinta sambil tertawa dan menangis diperlukan Vania.
Kedua sahabat itu saling berpelukan, yang awalnya bersahabat terus hancur dan kembali membaik suatu peningkatan yang hebat.
Ternyata momen pelukan mereka dilihat oleh Dito, merasa senang dan sedih itulah yang dirasakan Dito.
Sedih karena harus berpisah, senang karena bisa menjadi kekasih Sinta.
" Kamu memang yang terbaik Sinta, aku kagum sama kamu." Batin Dito.
**
Chloe disekolah saat membuka brankas pribadinya, tiba-tiba ada sebuah kotak warna hitam.
" Apa ini." Ucap Chloe mengambil kotak itu.
Karena penasaran, Chloe pun membukanya. Namun apa yang terjadi, Chloe justru berteriak histeris.
" Aaaaaa...." Teriak Chloe histeris sangat keras sambil menutup matanya.
Tanpa disadari Chloe, ada tangan yang sudah bersarung warna hitam mengambil kotak itu.
Murid-murid yang mendengar teriakan histeris Chloe, mendatangi dan menanyakan.
" Lo kenapa Chlo." Tanya salah satu murid cewe.
" Itu iii..." Tunjuk Chloe ke arah bawah, tapi masih menutup matanya.
" Apa? Orang gak ada apa-apa kok, ngaco nihh." Ucap salah satu temannya juga.
" Ihh beneran tahu, itu tadi ada mawar hitam berdarah." Ucap Chloe yang masih takut, yang belum membuka matanya.
" Coba buka deh mata lo, disini itu gak ada apa-apa."
" Hah, tadi..? Tadi ada kotak disini, beneran.β Ucap Chloe."
" Ahh.. orang dari awal kita datang gak ada apa-apa, lo kebanyakan pikiran kali atau gak stres." Ucap salah satu temannya tadi, lalu semuanya tertawa terbahak-bahak.
Chloe marah dengan ejekan mereka, baru kali ini dia di bully seperti ini.
" Heh, ngomong apa kalian. Awas yahh, kalian bakalan bertekuk lutut sama gue." Ucap Chloe dengan emosi lalu pergi.
" Huuuu, dasar anak manja." Ejek yang lainnya.
**
Dila benar-benar senang hari ini, karena dia bisa merawat Rhumi dengan telaten. Dila juga melihat Rhumi tidak banyak berubah dengannya, masih manja seperti dulu.
Rhumi pamit sama Mama Dila untuk bekerja, dia juga tidak ingin membuat Mami Abila curiga pada Wana.
" Mami, Rhumi berangkat kerja dulu yahh." Ucap Rhumi.
" Kamu yakin mau kerja, padahal baru sembuh lohh." Dila memasang ekspresi wajah yang sedih.
" Kenapa Mama sedih." Tanya Rhumi.
" Kamu itu beru berumur 17 tahun, tapi dah kerja aja. Emang kamu gak mau sekolah lagi, Mama tuhh pengen siapin bekal buat kamu pengen lihat masa-masa sekolah kamu."
" Ma." Ucap Rhumi mendekati Mamanya.
" Mungkin ini sudah takdir Rhumi, jadi gak usah dipersoalkan. Kalau Mama pengen, buatin bekal buat Rhumi bisa kok."
" Beneran boleh."
__ADS_1
" Iya dong, kan Rhumi anak Mama."
" Ya sudah, kamu tunggu disini dulu Mama buatkan kamu bekal dulu sebentar aja." Ucap Dila yang terburu-buru pergi ke dapur.
" Pelan-pelan Ma." Ucap Rhumi terkekeh pelan.
Tut tut..
" Halo." Sahut Rhumi.
" Misi pertama berhasil Bos."
" Bagus, terus buat dia stres." Ucap Rhumi.
Tut tut.. Rhumi mematikan ponselnya, hari ini dia akan mendapatkan tontonan yang menarik.
**
Bahkan salah satu anggota juga mengirim sebuah ancaman ke rumah Qaza.
Prank...
Sebuah batu di lemparkan ke jendala kamar Qaza, tentu saja membuat Qaza terkejut.
" Suara apa itu." Ucap Qaza dari ruang tamu, saat dia memasuki kamarnya. Betapa terkejutnya Qaza melihat kaca jendelanya pecah.
Qaza melihat keluar, apakah ada orang jahat lalu tanpa sengaja dia melihat sebuah batu yang bergumpal dengan kertas.
Qaza mengambil batu itu, lalu membuka kertasnya. Sangat terkejut, itulah saat Qaza membuka kertas itu.
" Saya pastikan, kamu akan berpisah dengan Nyonya Dila." Tertulis di kertas itu.
Qaza mengepal kertas itu sampai tak terbentuk, kali ini dia marah.
" Keluar, hadapi saya. Jangan main kucing-kucingan seperti ini, sangat pengecut." Teriak Qaza seperti orang gila di kamar itu.
" Woyy, keluar cepat hadapi saya jangan jadi pengecut." Teriak Qaza sekali lagi, namun tidak ada jawaban sama sekali.
**
Rhumi menyuruh Wana untuk keluar, karena dia mau kembali.
" Thank yah." Ucap Rhumi kepada Wana.
" Iya." Sahut Wana lalu dia pergi.
Tok tok..
Ada yang mengetik pintu, Rhumi pun membukanya.
" Mami." Ternyata yang mengetuk adalah Mami.
" Hari ini kamu belajarnya di rumah aja yahh, Mami khawatir kamu kenapa-kenapa sayang."
" Emang kenapa."
" Sekolah gak aman buat kamu, sudah turuti aja apa kata Mami. Ouhh yaa, ayo cepat makan Mami udah masak buat kamu."
" Aduhh mampus gue, mana bekal yang di buatkan Mama udah ku makan lagi. Ahh apes banget gue, harus berperan dua orang dalam waktu bersamaan memang benar-benar menyebalkan." Batin Rhumi.
" Iya Mami." Sahut Rhumi yang terpaksa menjawab, kalau tidak di jawab maka Mami Abila akan bertanya 1001 pertanyaan.
**
~SELAMAT MEMBACA~
Maaf yahh telat upnya, ini lagi sakit cacar.
__ADS_1
πππ
πΉBERSAMBUNGπΉ