
"Hey David, kok malah bengong."Kata Dito.
"Ahh..ini..anu, gu gue mau ke kelas dulu yah."Jawab David sedikit gugup.
"Eh tunggu."Kata David.
"Apalagi."Kata David.
"Temenin gue yuk."Kata Dito.
"Kemana emang."Kata Dito.
"Udah ikut aja."Kata Dito.
Karena penasaran, David pun mengikuti apa kata Dito.
"Apa yang mau lo omongin."Kata David yang kini mereka sudah ditempat sepi.
"Gue mau nanyak aja sama lo, gini waktu itu gue pernah datang ke rumah lo tapi lo gak ada.Gue tanya sama bokap lo, bokap lo bilang."
"Bokap gue bilang apa."Kata David langsung menyela.
"Lo lagi gak ada dirumah, dan lagi menyelesaikan masalah."Kata Dito.
"Syukurlah, Papa gak ngomong langsung sama Dito."Batin David.
"Ouhh gitu yah, terus lo tanya apa lagi."Kata David.
"Gue gak tanya apa-apa lagi."Kata Dito.
"Ouhh syukurlah."Kata David keceplosan.
"Heh, apa tadi lo bilang."Kata Dito samar mendengarnya.
"Ouh gak ada kok, ya udah gue pergi dulu yahh ada yang gue urus."Kata David terburu-buru.
"Ehh tunggu gue belum selesai tau."Kata Dito kesal.
......................
Sinta sangat tertutup disekolah sejak kejadian Papanya, tapi meski begitu dia berubah jadi murid yang menonjol hingga buat Chloe makin benci padanya.Tapi, Chloe menganggap Sinta hanyalah debu yang harus dibersihkan.
Mengingat status Sinta sekarang yang bukan lagi anak orang kaya, makin mudahkah Si Chloe memberi sebuah kenangan pahit untuk Sinta.Tapi sebelum itu, Chloe merasa musuh yang paling sulit dihadapi adalah Naawa Alastar.
Apalagi saat ini Naawa sudah menunjukkan taringnya di sekolah, karena sebelumnya Naawa menyembunyikan identitasnya kepada publik.
Meskipun sekolah ini milik keluarga Dirga, tetap membuat Chloe khawatir.Karena Naawa adalah ancaman besar baginya.
"Hari ini gue gak lihat Naawa, apa yang terjadi yahh.Ahh sudah lahh, tidak usah di pikirkan.Yang paling penting sekarang, gue harus buat semua orang yang ada disekolah ini segan sama gue termasuk Naawa."Batin jahat Chloe.
Foni dan Vania melihat Chloe.
"Aishhhh jij*knya gue lihat dia Fon."Bisik Vania yang duduk berdua dengan Foni.
"Bukan lo aja, gue juga enek lihat dis sok banget orangnya."Bisik Foni lagi.
Chloe melihat Foni dan Vania sedang berbisik.
"Yah,yah, dia lihat kita Fon."Kata Vania.
"Iya Vania, udah kita cuekin aja."Kata Foni.
Chloe sangat sensitif orangnya, dia yakin pasti Foni dan Vania membicarakan dirinya.
"Ya elah dia pake acara kesini lagi."Kata Vania males.
"Udah deh, kita cuekin aja ayo pergi."Kata Foni.
Saat Foni dan Vania mau pergi, sudah dipanggil Chloe duluan.
"Heh tunggu."Panggil Chloe.
__ADS_1
Tapi Vania dan Foni tidak mendengarkan panggilan Chloe, karena mereka malas berurusan dengan ratu drama.
"Wahhh, berani banget mereka."Kata Chloe yang tidak percaya, karena dia memanggil gak di sahut.
"Hemmmm ..awas aja nanti."Kata Chloe.
Seperti biasa, Sinta pergi ke perpustakaan.Dia akhir-akhir ini sering pergi ke perpustakaan untuk belajar, saat di perpustakaan banyak gunjingan murid lain hingga membuat keributan.Penjaga perpustakaan memarahi Sinta, karena jadi biang kerok keributan di perpustakaan.
Sinta mulai memilih buku, lalu membacanya.
"Eh coba deh lihat si anak pembunuh baca buku disini."Bisik mereka.
"Gak malu apa dia, gue aja malu sekolah kalau sudah begini."Bisik mereka lagi.
Sinta berusaha menahan bisikan-bisikan yang membuatnya jengah.
Ada satu murid yang membisikkan suatu yang buruk tentang Mamanya.
"Tau gak mereka tinggal dimana sekarang."
"Aku dengar mereka sekarang tinggal dirumah yang kecil, terus Mamanya kerja sebagai tukang cuci piring Di Restoran."
"Benarkah, hmmmm ..ngeri juga yahh dari yang selangit ehh jatuh kaya sampai tanah."
"Gue yakin deh, mereka itu pasti punya pekerjaan sampingan."
"Maksud lo ngejalang."
"Mungkin."
"Soalnya kemarin, gue lihat Mamanya jalan sama laki-laki lain."
"Hahh, yang bener lo kalau emang bener ahh parah banget."
Itulah yang mereka bisikkan, Sinta kesal dan marah mendengar Mamanya di jadikan bahan obrolan murahan seperti itu.
"Udah selesai gosipnya."Kata Sinta dengan mata intens dan tajam.
Seketika mereka yang menggosip tadi, jadi salah tingkah.
"Ihhh apaan sih Sin, sensian banget jadi orang."Kata salah satu murid yang menggosip tadi.
Sinta mulai jengah, lalu tiba-tiba beranjak berdiri hingga kursi yang diduduki Sinta jatuh.
Brakk...
"Ahhhh."Kata mereka berteriak.
"Ihhh brutal banget sihh."Kata murid yang satunya.
"Ehh jangan ribut dong, ini perpustakaan."Sindir murid lainnya.
"Yang brutal itu mulut kalian."Kata Sinta menahan emosi.
Tiba-tiba penjaga perpustakaan datang, dan memarahi mereka semua.
"Apa-apaan ini, kalian niat membaca gak sih."Kata penjaga perpustakaan itu.
"Maaf Kak."Kata murid lain.
"Ini semua itu gara-gara dia Kak."Kata murid yang menggosip tadi.
"Ehh kalian jangan sembarangan yah."Kata Sinta tidak terima.
"Sudah cukup, kalian bikin ribut di perpustakaan ini."Kata penjaga perpustakaan itu dengan tegas.
Mereka semua tertunduk.
"Saya akan laporkan kalian ke Guru, biar kalian kapok dan tidak mengulangi perbuatan kalian lagi."Kata penjaga perpustakaan itu.
Mendengar mau di laporkan ke Guru, mereka semua merengek layaknya anak kecil.
__ADS_1
"Aduhh Kak, jangan Kak please."Kata mereka.
Bukan penjaga perpustakaan killer namanya, kalau memiliki perasaan kasihan.Penjaga itu melaporkan mereka yang ribut di perpustakaan, sehingga mereka dihukum berdiri di lapangan.
"Ini semua itu gara-gara lo tau gak."Kata mereka sambil nunjuk Sinta.
"Ehh sadar dong, kalau kalian gak bisik-bisik gue gak akan kayak gini."Kata Sinta.
"Alah lo sengaja kan, biar kita dihukum."Sahutnya lagi.
"Ngapain gue sengaja, kalau gue juga bakalan ikut dihukum."Kata Sinta membela dirinya.
"Lo yahh, awas aja nanti."Kata mereka.
Sinta hanya diam, karena dia malas melawan.
Dito melihat Sinta dihukum, dia berinisiatif membeli minuman untuk Sinta.
"Nihh, lo pasti haus."Kata Dito sambil memberikan botol minuman segar.
"Dito."Kata Sinta.
"Udah minum aja, lo pasti haus apalagi berdiri di lapangan dengan terik matahari yang begini lagi."Kata Dito sambil melindungi matanya yang silau.
Sinta pun menerima minuman dari Dito.
"Lo ngapain masih disini."Kata Sinta.
"Nungguin kamu minum."Kata Dito.
"Isssshhh emang kenapa harus ditungguin."Kata Sinta kesal.
"Ya jaga-jaga aja, kalau nanti ada yang jahatin atau rebut minuman lo."Kata Dito sambil melirik murid yang juga dihukum."
"Ishhh apaan sihh Dito, nyindir kami yahh."Kata murid itu kesal.
"Emang ngerasa yah."Kata Dito.
"Dito lo."Kata mereka yang kemudian menginjak tanah bertubi-tubi.
"Ihhhh Dito...lo nyebelin banget sihh lagian lo ngapain perhatian banget sama Sinta, dia kan anak pembunuh."Kata salah satu dari mereka yang keceplosan.
Murid itu kemudian sadar, lalu menutup mulutnya.
"Ups ..."
Dito yang dari tadi santai, tiba-tiba sorot matanya berubah bagaikan elang Haris.
"Jaga ya mulut kalian."Kata Dito dengan nada yang datar dan menyeramkan.
"Ya ampun Dito kalau marah seram banget sih."
"Ihh seram banget."
"Aduhh kok gue takut yahh natap matanya."
Batin mereka satu persatu.
"Dito kenapa lo belain gue sampai segininya."Batin Sinta.
"Dito, udah gue gak papa kok."Kata Sinta menenangkan suasana.
Tiba-tiba Dito tersenyum hangat ke arah Sinta.
"Iya, tapi lo harus janji yahh nanti pulang bareng."Kata Dito dengan senyum yang merekah.
"Ouhh kok gitu."Kata Sinta.
"Udah turutin aja, mending minum tu minuman gue latihan basket dulu yahh daachh."Kata Dito lalu pergi.
"Dito terimakasih."Batin Sinta.
__ADS_1
***BERSAMBUNG ...
JANGAN LUPA LIKE AND KOMEN YAHH, SELAMAT MEMBACA YA GANTENG DAN TETEH CANTIK.JANGAN BOSAN BACA CERITAKU JUGA, HEHEHHE***.