
~SELAMAT PAGI TERINDAH ~
πππ
**
Abila telah sampai dirumah sakit, dia menemui Pak Dadang.
" Pak Dadang, bagaimana Naawa bisa tenggelam." Ucap Abila dengan nafas yang masih tidak beraturan.
" Maafkan saya Nyonya, saya tidak tahu jika Nona Mudah tenggelam." Ucap Dadang yang merasa bersalah.
" Pertanyaan saya, kenapa Naawa bisa tenggelam main dimana dia."
" Tepi danau."
" Apa.. Dadang, saya kasih tahu kamu beberapa kali untuk tidak membiarkan Naawa main dekat danau meskipun dia merengek mau main ke danau."
" Maaf Nyonya, sekali lagi saya minta maaf."
Dokter yang memeriksa Naawa keluar, dia menanyakan keluarga pasien.
" Siapa keluarga pasien."
" Saya Dok, saya maminya."
" Ouhh, pasien sudah sadar."
" Terimakasih Dok." Abila langsung masuk.
Rhumi sudah sadar, dia juga melihat Mami Abila masuk.
" Sayang, kamu gak papa?" Tanya Abila khawatir.
Naawa mengangguk sedikit.
" Naawa gak papa kok Mami."
" Ya ampun, Mami gak habis pikir baru aja Mami tinggal udah kaya begini. Ada yang lecet gak, hmm mana yang sakit.
" Gak ada? Gak ada Mam, Naawa cuma mau istirahat aja tapi sebelumnya Naawa mau pulang."
" Kamu masih sakit sayang, kenapa harus pulang sihh sudah.. tunggu dokter dulu yahh."
Abila keluar untuk menanyakan kondisi Naawa.
" Dok, saya boleh tanya."
" Tanya apa Bu."
" Anak saya mau pulang, apa boleh."
" Boleh saja Bu, asalkan benar-benar istirahat di rumah."
" Ouhh terimakasih ya dok, saya urus administrasi dulu permisi."
" Iya Bu."
Abila mengurus administrasi untuk kepulangan Naawa.
" Sudah sus."
" Terimakasih ya Bu."
" Iya."
Abila kembali ke ruangan Naawa dan memberitahu bahwa dia di izinkan pulang.
" Kamu boleh pulang sayang."
" Benarkah, ayo cepat Mami Naawa udah gak tahan di rumah sakit."
" Iya tunggu sebentar, Mami siapkan dulu."
Abila mengambil kursi roda, dia ingin Naawa pakai itu.
" Naawa jalan aja Mam, gak usah pakai kursi roda kaki Naawa baik-baik aja kok."
" Takutnya nanti kamu pusing, sudah ayo cepat naik."
" Iya."
Rhumi menuruti ucapannya Abila, dia naik kursi roda. Saat di dorong, Rhumi sangat ingat waktu didanau dia sempat melihat Chloe mendorongnya. Kali ini, dia akan memberi pelajaran terhadap si tukang bully itu.
" Chloe, saya pastikan kamu menderita." Batin Rhumi.
Rhumi jadi ingat dengan Mama Dila, dia tidak boleh mengingkari janjinya.
__ADS_1
**
Dila merasa hatinya tidak enak, apalagi saat dia menelpon Rhumi.
" Apa yang terjadi, hatiku rasanya tidak nyaman. Ya allah, semoga anak hamba baik-baik aja."
Dila berusaha menelpon Rhumi, dia sangat khawatir.
Tut tut..
Tut tut..
Lagi-lagi ponsel tidak tersambung, itu membuat Dila sangat gelisah.
" Rhumi.. kenapa kamu tidak angkat telpon Mama nak." Rasa khawatir Dila makin menjadi saat ini, apalagi sekarang hari sudah sore biasanya Rhumi selalu mengangkat telpon darinya.
**
Qaza menemui Dea, dia ingin menanyakan perihal video panas yang baru ini dilihat di kamar Rhumi.
" Ngapain lagi kamu kesini." Betak Dea.
" Aku mau bicara sama kamu."
" Bicara apa? Setelah yang kamu lakukan sama saya, masih berani kamu ngomong sama saya."
" Ini.. masalah video."
" Video apa, saya tidak mau tau mending sekarang kamu pergi. Kamu sudah menghancurkan hidup saya, pergi kamu." Teriak Dea sampai Sinta melihat Papa angkatnya.
" Om Qaza ngapain kesini." Ucap Sinta dari kejauhan.
" Sinta." Ucap Qaza pelan.
" Ngapain Om kesini, jangan ganggu Mama saya." Sinta melindungi Mamanya.
" Sinta.. ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Papa bisa jelasin."
" Kita sudah gak ada hubungan apa-apa lagi Om, jadi tolong jangan ganggu keluarga Sinta Om." Ucap Sinta dengan memohon untuk tidak di ganggu oleh Papa angkatnya lagi.
" Ya ampun Sinta ini."
" Om pergi sekarang." Sarkas Sinta.
" Dea.. tolong kamu jelaskan kepada Sinta dong Dea, please jangan kayak gini."
" Om pergi." Dorong Sinta terhadap Qaza.
**
" Ok ok, apa mau kamu."
" Aku cuma pengen kamu bagi waktu, kita udah tunangan Lun tolonglah."
" Apa kamu bilang, sadar kamu bilang apa tadi hah? Sadar gak kamu Wan, kamu tuhh kurang ajar tau gak.
" Apa.. kurang ajar kamu bilang, hey Luna saya sampai kapan nungguin kamu hah."
" Kamu.."
Luna langsung mematikan ponselnya, dia sangat kesal dengan Awan.
" Sialan, dia mematikan telponnya."
Tut tut..
Tut tut..
Awan kembali menelpon Luna.
" Apalagi sih Wan, belum puas kamu hah."
" Kita putus." Ucap Awan dari speaker ponsel Luna.
" Apa kamu serius."
" Iya, aku gak bisa menjalani hubungan tanpa kepastian."
" Hmm.. semoga keputusan kamu ini tidak buat kamu menyesal, dan ini adalah yang terbaik untuk aku bye." Ucap Luna lalu mematikan ponselnya, dan membuka nomor kontal Awan dan... memblokade dan menghapus kontak Awan.
Luna menangis dalam kamarnya, dia tidak menyangka Awan lelaki baik yang dia kenal ternyata sangat pecundang dan jauh dari kata tanggung jawab.
" Aku tidak akan pernah menoleh sedikitpun ke arahnya." Batin Luna yang berjanji dengan dirinya sendiri.
**
Chloe sangat senang bisa memberi pelajaran pada Naawa.
__ADS_1
" Hahahah.. rasain lo Naw, siapa suruh sok jagoan hmm.. gue pastiin lo nyesel setelah ini." Ucap Chloe dengan percaya dirinya.
Chloe memeriksa ponselnya, dia mendapat ancaman dari nomor yang tidak dikenal.
" Permainan baru dimulai cantik." Isi pesan dari nomor yang tak dikenal.
" Hah, nomor siapa ini." Chloe cukup terkejut mendapat ancaman seperti itu, dia tidak terima di ancam lalu membalasnya.
" Ehh lo siapa?"
Namun pesan dari Chloe tidak dapat terkirim, itu membuat Chloe kesal.
" Aahhh, siapa sih berani banget ngancem gue."
Chloe memeriksa satu-persatu kontak, dia tidak mengenal kontak ini lalu kontak siapa ini?
**
Abila lebih cepat menyuapin Naawa, karena tidak ingin Naawa terlalu malam makannya.
" Naawa dah kenyang Mam."
" Ini masih tinggal dua suap lagi, makan yahh." Bujuk Abila.
" Hmmm.." Rhumi menggeleng pelan.
" Ya sudah, kamu langsung istirahat yahh."
" Mami."
" Hmm.. apa sayang."
" Naawa ngantuk, mau istirahat jangan ganggu Naawa dulu yahh."
" Kok gitu, apa ada yang kamu sembunyikan sayang."
" Gak ada Mam, tapi Naawa ngantuk aja."
" Ada yang sakit sayang, jangan kamu sembunyikan dari Mami yahh."
" Gak ada kok Mam, gak ada yang Naawa sembunyikan. Sudahh, Mami istirahat pasti Mami capek dari tadi siang jagain Naawa."
" Naawa, jujur sama Mami."
" Gak ada yang ditutup-tutupi Mami, percaya sama Naawa."
" Ya sudah, Mami bantu kamu ganti baju dulu yahh itu tangannya pasti sakit bekas di infus tadi.
Akhirnya Abila membiarkan Naawa tenang dulu, dia akan menanyakan kembali jika sudah membaik.
**
Cukup aman untuk pergi, Rhumi mengunci kamarnya dan membiarkan guling untuk menempati posisi tidur.
Rhumi membawakan sesuatu untuk ke rumah samping.
" Assalamualaikum, Ma.." Panggil Rhumi.
" Wa alaikumsalam, Rhumi."
Rhumi duduk di ruang tamu, dia melepaskan kacamatanya.
" Kok kamu lama sayang." Tanya Dila.
" Rhumi lagi banyak tugas Ma."
" Bener, tapi kamu gak kenapa-kenapa kan." Tanya Dila mulai curiga karena wajah Rhumi sedikit pucat.
" Rhumi gak papa." Sahut Rhumi dengan senyuman tipis.
" Tapi wajah kamu pucat loh, yakin gak papa."
" Gak papa."
" Sini.. Mama periksa yahh." Dila memaksa untuk memeriksa tubuh Rhumi.
" Ma.. gak papa, Rhumi gak papa."
" Mama akan percaya, setelah periksan badan kamu."
Saat ingin melepaskan diri dari pegangan Mamanya, Rhumi kehilangan keseimbangan dirinya pingsan.
Brakk..
" Rhumi.. astaghfirullah." Pekik Dila sangat terkejut.
~SELAMAT MEMBACA~
__ADS_1
πππ
πΉBERSAMBUNGπΉ