
~SELAMAT PAGI HATI YANG SETIA~
πππ
***
Seperti biasa, Dila dikirimkan lagi di ponselnya tentang kebusukan suaminya.
" Bagaimana Nyonya Dila, apakah Nyonya tetap ingin melanjutkan pernikahan sampah ini." Kirim Zora di pesan whatsappnya.
Ting..
Pesan whatsapp masuk ke ponsel Dila, setelah dibuka dan dibaca Dila kembali sedih dan murka.
" Kurang ajar kamu mas, jadi selama ini kamu nikah sama aku supaya bisa menjadi orang kaya." Ucap Dila sambil menangis.
" Lintah darat kamu mas, aku akan ambil kembali perusahaan Papa." Ucap Dila dengan wajah yang serius dan menyeka air matanya.
" Aku tahu pernikahanku dengan Mas Qaza semata-mata hanya perjodohan orang tua, tapi aku tidak menyangka jika Mas Qaza mengkhianati pernikahan ini. Dia.. pantas saja dia tidak begitu sayang dengan Rumi, karena Rhumi mirip aku. Mas, awas kamu." Batin Dila.
**
Rhumi yang berada dirumah Mami Abila sedikit khawatir dengan video yang dia kirim kepada Mamanya.
" Moga aja Mama bisa berfikir jernih." Ucap Rhumi dalam kamarnya sambil mondar-mandir pelan.
" Pria brengsek itu aku benar-benar membencinya, jijik sekali aku mendengar namanya." Ucap Rhumi pelan.
Abila yang melihat dari arah luar bingung, tidak seperti biasanya Naawa.
" Sayang.. kenapa mondar-mandir begitu?" Tanya Abila.
" Emm.. gak papa kok Mam, Naawa lagi.. biasa aja kok." Sahut Rhumi yang sudah kehabisan alasan.
" Kok gitu jawabnya, kamu punya pikiran yah jadi jawabnya asal-asalan."
" Gak ada kok Mami, gak ada yang dipikirin."
" Bener.."
" Iya.."
Abila tidak bisa memaksa Naawa untuk jujur sekarang, tapi lambat laun Abila yakin kalau pikiran Naawa tenang dia akan cerita sama dirinya."
" Ya sudah kamu istirahat yahh, jangan capek-capek ingat apa kata dokter."
" Iya Mami."
" Ya sudah, Mami pergi ke kantor dulu yahh."
Cup.. Abilaencium dahi Rhumi dengan lembut.
Setelah memastikan Mami Abila sudah naik mobil, Rhumi langsung menyuruh anggota untuk melindungi secara diam-diam.
Tut tut..
" Halo Sang Queen."
" Ikuti Mami Abila, lindungi dia diam-diam."
" Baik."
Tut tut.. Rhumi mematikan secara sepihak, karena itu kebiasannya.
" Aku harus menemui Awan, dan kasih dia pelajaran." Batin Rhumi.
" Anak macam dia, harus dikasih efek." Gumam Rhumi pelan tapi auranya jahat.
**
__ADS_1
Perlahan mata Qaza terbuka, matanya liar melihat ke arah sekeliling.
" Apa saya masih.. disini, sial dimana ini sebenarnya gelap sekali." Gumam Qaza yang tangan dan kakinya masih terikat.
Zora dan Sima mengawasi Qaza dari ruangan lain, mereka ingin memberi pelajaran Qaza dengan tidak ada kehidupan disana.
" Sayang, coba tebak kapan dia akan berteriak lagi." Ucap Sima.
" Hmm.. Coba aku lihat dulu posisinya, ahh tunggu biar aku hitung.. 1.. 2.. 3.."
" Woy.. lepasin saya brengsek, kurang ajar kalian." Teriak Qaza.
" Wow." Sima berdecak kagum dengan hitungan suaminya ini.
" Gila, sayang hebat banget sihh." Ucap Sima.
" Hehe.. kaya kamu gak tau aja sama aku sayang, udah kita fokus buat kasih dia pelajaran." Ucap Zora.
" Emang kasih dia pelajaran seperti apa sayang." Tanya Sima.
" Kamu lihat aja." Ucap Zora yang sudah mengotak-atik komputer didepannya.
Dari ruangan Qaza terdengar suara yang mengatakan bahwan Qaza Ranoya terpaksa menikah dengam Nyonya Dila Azaro, karena mereka dijodohkan oleh Sang Kakek Dila Azaro.
" Suara siapa itu." Qaza bertanya dengan teriak.
" Woy, maksud kalian apa hah jangan macam-macam sama saya."
Namun tidak ada sahutan, semakin Qaza berteriak maka semua kebusukannya terbongkar.
Dupp... tiba-tiba lampu menyala dengan sangat terang.
" Akhh, silau." Ucap Qaza sambil menyilangkan tangan dimatanya.
Tiba-tiba layar monitor menyala dan memperlihatkan foto Rhumi Ranoya yang masih kecil, tentu Qaza dibuat bingung dengan ini semua.
" Itu foto Rhumi." Gumam Qaza.
" Apa maksud kamu." Sahut Qaza.
" Rhumi Ranoya masih hidup, dan untuk saat ini dia akan menemui Awan untuk menghajarnya karena tidak bisa melindungi Mama kesayangannya." Ucap Zora dengan mantap.
" Rhumi masih hidup, dan ingin menghajar Kakaknya sendiri. Bisa apa dia hah, dia cuma perempuan tidak bakalan bisa menghajar Kakaknya." Sahut Qaza.
" Hahah, padahal anda sendiri tidak bisa lepas dari sekapan Rhumi."
" Apa maksudnya?" Tanya Qaza dengan bingung, tapi Zora berhenti berbicara dia sengaja ingin membuat Qaza penasaran.
**
Rhumi seperti biasa dia akan mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu, jika mau pergi kali ini dia pergi hanya satu jam.
Bremm..
Siiittt...
Setelah sampai di hotel dimana Awan menginap.
Sedangkan Awan yang ada di kamar hanya menunggu kabar dari anak buahnya dalam mencari Mamanya, Rhumi naik tidak melewati pintu tapi balkon dengan memanjat walaupun itu sangat berbahaya.
Awan tidak tahu, jika Rhumi sudah ada di balkonnya.
Brakk..
Rhumi mendobrak pintunya dan langsung menghajar Awan tanpa ampun, Awan tidak bisa menghindari pukulan Rhumi karena kejadiannya begitu cepat.
Bughh tos.. satu pukulan diperut dan satu tonjokan di wajah Awan.
" Akhh, siapa kamu." Ucap Awan yang sudah terjatuh ke bawah, Rhumi langsung memegang kerah baju Awan.
__ADS_1
" Sebagai seorang laki-laki yang dilahirkan wanita, bisa-bisanya kamu membuat Mama menangis." Ucap Rhumi dengan sekali tamparan.
Plakk..
" Itu buat Mama yang sering Kau dan Papa sakiti."
Plakk..
" Itu buat kebodohan seorang Awan Ranoya yang bekerja sama membuat Mama menangis."
Plakk..
" Itu karena kamu laki-laki yang tidak berguna, dan seorang Kakak yang payah dasar saudara sialan."
" Aakhh, tunggu kau.. ini siapa hah." Awan mendorong Rhumi sampai ke dinding.
Bugh..
Rhumi menghela nafas, itu kelihatan jelas dari luar topeng. Rhumi membuka topeng secara perlahan, untuk membungkam mulut si pecundang ini.
" Mungkin kau bisa mengingat wajahku, siapa aku." Ucap Rhumi.
" Kau.. apa itu kau, Rhumi." Ucap Awan sedikit Ragu.
" Aku ada banyak pertanyaan, tapi untuk yang sekarang ini aku ajukan satu saja. Kau.. sejak kapan mengetahui perselingkuhan dia, dan berapa lama membohongi Mama." Ucap Rhumi datar.
" Akhh.. ekhemm uhuk.. Rhumi darimana kamu tahu itu semua, apa selama ini kamu mengorek informasi semua tentang Papa." Ucap Awan yang tidak menjawab pertanyaan Rhumi, malah bertanya balik.
" 12 tahun kamu bersembunyi, Mama terus mencari kamu sampai Mama mau bunuh diri hanya karena kamu." Ucap Awan sedikit emosi.
" Apa kamu tidak tahu, karena kamu juga Kakek meninggal." Ucap Awan.
Rhumi yang dari tadi bertanya tidak dijawab, malah Si Awan menyerang balik dengan mengungkit masa lalu.
Rhumi kesal, dan ingin menghajar orang ini. Dan Awan sama sekali tidak tahu apa-apa, tentang kematian Kakek.
Sedikit perlahan Rhumi menunduk dan mengangguk kepalanya dengan pelan, namun tiba-tiba Rhumi menyerang Awan dengan bengis.
" Kurang ajar." Ucap Rhumi.
Hiaa...
Bugh bugh.. Jress...
Takh takh... shiiit.. Brakk...
Brrrrre... Crakkk....
Pukulan dan hantaman yang diberiakan Rhumi sampai membuat Awan memuntahkan darahnya dari mulut, bahkan saat ini Awan tak berdaya.
" Aakhhh, Rhumi apa kau ingin membunuh Kakakmu sendiri." Ucap Awan dengan parau dan lirih sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
" Aku bertanya, tapi kau mengungkit suatu masalah yang tidak kau ketahui dan itu membuatku marah. Sikap dan katamu tadi sudah menyakitiku, jangan harap setelah ini bisa bertemu dengan Mama lagi." Ucap Rhumi bagai psikopat, lalu pergi.
" Uhuk huk.. akhh, tunggu apa kau bilang tadi Mama. Itu artinya kamu sudah bertemu dengan Mama, dimana Mama." Ucap Awan menahan sakitnya.
Rhumi berbalik dan mendekati Awan, dia pandang wajah Kakanya itu yang sudah babak belur karenanya. Rhumi tersenyum tipis, tapi dia..?
Bughh..
Rhumi menendang Awan sampai terpental melewati ranjangnya."
" Aakhhh... Uhuk huk.." Awan terbatuk karena sakit.
" Hmm.. dasar hama." Gumam Rhumi, lalu ia pergi.
Dengan sisa tenaga, Awan meraih ponselnya saat ponsel itu ingin di ambilnya tiba-tiba sudah ada yang mengambil memakai sarung tangan hitam. Awan tercengang, dan mendongak ke atas siapa yang mengambil ponselnya.
~SELAMAT MEMBACA HATI YANG SETIA~
__ADS_1
πππ
πΉBERSAMBUNGπΉ