
~SELAMAT PAGI HUBBY~
πππ
**
Malam ini aku akan pergi membawa Mama Dila jauh dari Tuan Qaza, aku tidak akan membiarkan Tuan Qaza alias Papaku sendiri menyakiti Mama.
Aku sudah menyiapkan mobil jauh dari kediaman rumah Papa, untuk jaga-jaga aku membawa beberapa anggota.
" Mama."
" Rhumi."
" Mama sudah siapkan, Rhumi gak mau tersakiti lagi."
" Iya.. Mama sudah siap kok, tuhh koper Mama."
" Ya sudah, sekarang ikut Rhumi."
Mama mengangguk, aku turun jendela lebih dulu dan membantu Mama untuk keluar. Sampai didepan mobil, aku menyuruh Mama untuk masuk.
" Ma, masuk duluan ada yang ingin Rhumi urus sebentar yahh."
" Emang kamu mau ngapain."
" Sebentar aja kok Ma, gak lama."
om
Aku balik ke rumah Tuan Qaza, dan masuk kembali ke kamar. Karena aku ingin saat si brengs*k itu masuk,.dapat kejutan yang dasyat.
Aku memasukkan beberapa foto panas Tuan Qaza dan Nyonya Dea di laci, juga menempelnya di dinding setelah selesai aku pergi.
" Rasakan kamu, Tuan Qaza." Batin Rhumi puas.
Aku kembali ke mobil, dan semuanya baik-baik saja.
" Jalan." Ucapku pada anggota.
Aku lihat Mama masih bingung, dengan apa yang aku lakukan.
" Rhum, mereka ini siapa? Dari tadi mereka hanya mendengarkan perintah kamu, Mama jadi bingung."
" Aku tidak mungkin jujur sama Mama, kalau mereka adalah anggota mafiaku sendiri."
" Rhumi."
" Iya Ma."
" Kok kamu diam aja, pertanyaan Mama belum di jawab."
" Mereka yang kerja di rumah Rhumi Ma, sudah pokoknya Mama gak usah bingung sebentar lagi kita sampai dirumah.
" Ouhh."
Mama kemudian memeluku dengan erat dalam mobil, seperti tidak ingin terpisah.
" Jangan tinggalin Mama lagi yahh, sudah cukup Mama kehilangan kamu waktu itu."
" Iya Ma." Sahut mengelus punggung tangan Mama.
**
Sedangkan Abila di ruangannya sedang mengerjakan pekerjaan, dia sudah bertatap muka dengan layar laptop dari tadi. Dan semakin membuatnya kesal, ketika Pak Yato terus menelponnya.
" Apa sihh tuh orang, gila apa? Malam-malam nelpon, apa tidak ada kerjaan dia." Gerutu Abila.
Thupp..
Abila mematikan ponselnya, dan menaruh kembali di meja. Saat ingin mengetik, ponselnya berbunyi lagi.
Tut tut..
Tut tut..
" Isshhhh.." Abila kesal lalu dia membuka ponselnya, dan mematah sim card miliknya begitu saja.
" Hah..hah.. ekhem, itu lebih baik."
Abila sama sekali tidak mengetahu, bahwa anaknya keluar rumah malam ini.
**
Luna sedang mencari info tentang Lili, keluarga mereka juga sudah melapor kepada pihak berwajib.
" Li, kamu dimana Dek. Please, kembali!" Tulis Luna di akun media sosialnya.
" Aku tau, Lili sangat terluka malam itu. Karena dia tidak diperhatikan, ditambah Papa menamparnya. Iya kan Li, kamu marah sama Kakak." Batin Luna.
Luna mendapat pesan dari Awan.
Ting..
" Luna, kamu sedang apa? Jangan terlalu begadang, tidak baik untuk kesehatanmu."
__ADS_1
Luna hanya tersenyum tipis mendapat pesan dari tunangannya itu, lalu membalas.
" Sudah tenang saja, aku selalu menjaga kesehatan kok."
Ting..
" Benarkah, itu harus. Karena kamu tidak boleh capek, apalagi sakit."
" Kau terlalu khawatir padaku, sebaliknya kamu juga harus jaga kesehatan."
Ting..
" Apa kau mengkhawatirkan diriku."
" Tidak."
Ting..
" Ahh.. ayolah, jujur saja."π
" Aku tidak akan membalas pesanmu lagi."
Ting..
" Begitu saja cemberut, jangan begitu nanti hilang cantiknya."πππ€£
" Kau menyebalkan."π©
Ting..
" π€£π€£π€£π€£ Tapi aku menyayangimu."
" Bye."ππ
Luna tidak lagi membalas pesan Awan, dia sangat kesal dengan kelakuan Awan. Tapi dia juga senang, Awan dia memperhatikan dirinya.
" Ahhh.. ya ampun, dia tidak membalas lagi hahha dia sangat lucu." Gumam Awan dikamarnya, tanpa mengetahui bahwa Mama Dila sudah dibawa oleh Rhumi.
**
Denis termenung di dalam kamarnya, dia ingat sore tadi ke rumah Lili.
" Maaf Om, Lilinya ada."
" Kamu siapa?"
" Oiyah, kenalin nama saya Denis temannya Lili."
" Ouhh jadi kamu temannya Lili, kalau begitu silahkan masuk."
" Sekali lagi Om, di sekolah saya tidak melihat Lili lagi kira-kira Lili kemana Om?"
" Lili tidak ada di rumah." Sahut seseorang yang tak lain adalah Mamanya Lili.
" Tante, maksud tante apa?"
" Lili kabur dari rumah." Sahut Om Ranu.
" Apa.." Ucapku dengan kaget.
Itulah ingatan Denis sore tadi, dia bingung apa alasan Lili kabur dari rumah.
" Li, lo dimana sekarang? Apa lo marah sama gue, karena waktu itu.. gue dorong lo." Batin Denis.
" Maaf Li, kalau gue bikin hati lo sakit." Ucap batin Denis lagi.
**
Dito juga chatingan sama Sinta, dia sekarang tergila-gila dengan Sinta.
" Hey."
Ting..
" Hmm.."
" Lagi apa sekarang?"
Ting..
" Balas chat lo."
" Emmm, ahh yang bener."
Ting..
" Emang napa?"
" Kangen."
Ting..
" Idih, najis."
" Gue kangen sama lo."
__ADS_1
Ting..
" ππKok bisa kangen sama gue, bukannya tadi disekolah ketemu yahh."
" Gue kan bucinin lo."
Ting..
" Jangan gombal dehh, gue gak mau salting. Terus terang aja, napa chat gue."
" Ishh kamu mahh, kan tadi dah di bilang gue kangen sama lo."
Ting..
" Kok bisa?"
" Ya bisalah, kan sekarang hati gue udah lo bawa pergi."
Ting..
" Jangan gombal."
" Gue gak gombal, ehh.. Sinta.. gue mau ngomong nih sama lo boleh gak."
Ting..
" Apa?"
" Bisa gak sihh, kita ngomongnya gak pakai lo gue gitu."
Ting..
" Emang kenapa pakai lo gue."
" Biar sopan aja gitu, lo lahir tahun berapa?"
Ting..
" 2006, 17 Juli."
" Ehh tuaan gue dong, nahh pas nihh lo harus sopan panggil gue."
Ting..
" Mulut lo, gue tendang lo sampai Antartika."
" Beneran, gue 2006, 1 Juni."
Ting..
" Cuma sebulan doang, gak ada bedanya."
" Bedalah, pokoknya besok kita panggil aku kamu yahh nanti aku jemput." Balas Dito sambil memberikan emot.πππ
Ting..
" Ihh apaan sihh."
Dito melihat balasan Sinta, dia sengaja tidak membalas bahkan mematikan ponselnya kali ini.
" Hahah, dahh dibilangin gak percaya. Tuh anak ternyata duluan gue sebulan lebih." Ucap Dito cengar-cengir di kamarnya.
Sinta menunggu balasan Dito, 3 menit dia menunggu tidak ada balasan bahkan sekarang tidak online.
" Kok Dito gak balas lagi yahh, apa dia marah. Ahh sudahlah, biarin aja." Gumam Sinta.
**
Sekarang aku sampai dirumah mewah milikku sendiri untuk Mama.
" Tolong barang-barangnya di keluarin, taruh aja didepan setelah itu kalian boleh pulang." Perintahku.
" Ayo Ma, kita masuk."
Aku mengajak Mama masuk, dia terperangah dengan isi rumah ini.
" Rhumi, ini benar rumah kamu sayang."
" Bukan."
" Terus, ini rumah siapa?"
" Hihihiβ¦ini rumah Mama, khusus Rhumi belikan untuk Mama." Ucapku.
" Rhumi.. kamu.." Mata Dila berkaca-kaca, dia terharu.
" Sudah.. ini hadiah dari Rhumi untuk Mama, karena selama ini Rhumi sudah membuat Mama menderita."
" Enggak.. kamu gak pernah bikin Mama menderita, justru Mama dan Papa yang buat kamu menderita. Pasti kamu selama ini sulit kan, kamu jauh dari Mama, makannya kamu bagaimana, tidurnya dimana? Mama terus memikirkan itu, Mama gak pernah sedikitpun absen memikirkan kamu." Ucap Dila sambil menangis haru.
" Sudah Ma." Ucap Rhumi lalu memeluknya dengan erat.
Dalam pelukan Rhumi, tersirat matanya yang tajam.
" Wanita sebaik Mama saya kamu sakiti, dan kamu Awan? Kamu adakah anak bodoh yang paling bodoh di antara yang terbodoh." Batin Rhumi membenci dua laki-laki yang telah menyakiti Mamanya ini.
__ADS_1
~SELAMAT SIANG CINTA MY KISS~
πΉBERSAMBUNGπΉ