
Entah apa yang terjadi, Rhumi merasakan tubuhnya sedikit tidak nyaman.
" Badanku terasa sangat pegal, apa ini efek kelelahan." Ucap Rhumi.
Rhumi menuruni anak tangga, dia melihat Ratna sedang membersihkan beberapa debu di sofa.
" Ehh Nona Muda sudah bangun." Ratna menyapa Rhumi.
" Pagi ini saya tidak masuk sekolah Kak, bilang sama Pak Dadang yahh." Ucap Rhumi.
" Ouhh iya Non." Ucap Ratna.
Rhumi pergi ke dapur mengambil air putih untuk minum, memang sudah kebiasaannya sehabis tidur langsung minum air putih.
" Sepertinya Mami sudah berangkat ke kantor, saya harus menemui Mama Dila." Batin Naawa.
Padahal Naawa itu harus sekolah, tapi dia terus libur dalam sekolahnya.
**
Denis di perbolehkan pulang oleh anggota, tapi dengan satu syarat jangan membuat ulah."
" Kau boleh pergi dari sini." Ucap anggota itu.
" Tapi dengan satu syarat, jangan berulah yang macam-macam lagi jika itu terjadi kami akan membunuhmu." Ucap teman anggota yang satunya.
" Sebenarnya kalian ini siapa? Kenapa ikut campur urusanku, dan kalian ada hubungan apa denganku." Tanya Denis.
" Jika masih ingin pulang pergilah, dan jangan banyak bertanya." Jawab anggota itu lagi
Denis mendengus kesal, karena dia tidak mendapat informasi apa-apa.
**
Luna dan Awan sudah berada diruangan kepala sekolah, perihal untuk menanyakan tentang Lili.
" Apa bapak tahu, bagaiman pergaulan Lili di sekolah." Tanya Luna.
" Setahu saya, Lili itu anak yang pendiam disekolah. Tapi akhir-akhir ini dia sedikit ceria setelah berteman dengan anak yang bernama Naawa, namun beberapa hari ini Lili di sekolah terlihat diam. Dia seperti kembali seperti dulu, saya tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin karena dia sering di bully oleh anak pemilik sekolah ini, atau memiliki masalah lain di rumah." Ucap Kepala Sekolah.
" Lili di bully di sekolah." Tanya Luna sekali lagi.
" Iya, kami tidak berani mengantisipasi karena.." Ucapan Kepala Sekolah terhenti.
" Karena anak pemilik sekolah ini yang membeli, iya begitu?" Sahut Luna dengan ketus.
Kepala sekolah itu mengangguk karena bersalah, sudah membiarkan pembullyan di sekolah ini merajalela.
" Sekolah macam apa ini? Pembullyan dibiarkan, hanya karena mewah ohh tidak saya rasa bukan begitu? Sekolah ini tidak pantas mendapatkan hak untuk menjadi sekolah favorit, harus di coret." Ucap Luna emosi.
" Lun sudah, ini sekolah." Ucap Awan yang merasa tidak enak dengan luapan emosi Luna.
__ADS_1
" Biarin aja mas, biar mereka semua tau kalau selama ini diamnya mereka itu salah. Sekolah gak berguna begini, di ajukan menjadi favorit bangsa hmm tidak pantas. Ayo mas kita pergi, enek aku kalau disini terus." Ucap Luna.
Saat Luna mau keluar, dia berpapasan dengan guru. Guru itu bingung, kenapa ada tamu yang memasang ekspresi tidak suka.
Guru itu duduk didepan meja kepala sekolah, kemudian menanyakan orang yang berpapasan dengannya tadi.
" Ada apa ini Pak, saya lihat orang tadi habis marah." Tanya Guru itu, yang di ketahui bernama Rama.
" Sekolah kita terancam, Pak Rama." Ucap Kepala sekolah itu dengan sedih.
" Kok bisa Pak, ini sebenarnya kenapa?" Ucap Rama dengan bingung.
" Nanti siang kita rapat besar-besaran bersama semua guru, untuk mempertimbangkan masa depan High School Company." Ucap Kepala sekolah itu dengan lesu.
Rama menghela nafasnya.
**
Mama Dila memasak di rumah tapi dia tidak ikut makan di meja, dia membawa makanan ke kamar Rhumi.
" Tidak bisakah kau menemaniku makan sebentar disini." Ucap Tuan Qaza.
" Kau bisa makan sendiri, jangan manja." Sahut Mama Dila tanpa menoleh, dan melanjutkan jalannya ke kamar.
Tuan Qaza sangat kesal pagi ini karena Mama Dila, tidak habis pikir Dila akan seperti ini.
Prakk teng teng…
Tuan Qaza membanting sendok dan garpu, sampai membuat pelayan yang ada di dekatnya terkejut. Dila mendengar suara dentingan garpu dan sendok cukup keras, tapi Dila juga merasa sakit hati dengan suaminya.
" Hari ini aku mau naik sepeda." Ucap Rhumi.
" Baik Nona Muda, tapi kami akan menemani." Ucap pengawal.
" Tidak usah, aku main ditaman dekat rumah sini aja. Nanti aku kalau capek bisa hubungi kalian, jangan bikin aku malu dong sama orang di sekitar taman. Masa? Sudah gede masih di kawal, malu sama anak-anak." Ucap Rhumi yang berbohong.
Pengawal itu menaikkan alisnya yang satu, mereka ingin tertawa tapi takut.
" Nona, Nona.. padahal dirinya sendiri tidak kuat jalan jauh. Sok-sokan malu lagi sama anak-anak, hmm lucu sekali bentar juga pasti masuk angin." Batin pengawal itu.
Naawa menaiki sepedanya, batinnya selalu berkata.
" Apa kalian pikir, saya ini Nona Muda kalian yang lemah." Batin Rhumi.
**
Keadaan Reani makin memburuk, dia terus berteriak, melempar barang kemana-kemana, bahkan melukai dirinya sendiri.
" Nyonya tolong berhenti nyonya, jangan melukai diri anda." Ucap pelayan yang merasa Nyonya Reani sekarang makin hari makin tidak waras.
" David.. hiks..hiks.. jangan tinggalin Mama nak, Mama mau nyusul kamu aja." Ucap Reani meracau.
__ADS_1
" Aku harus menghubungi Tuan Kusuma." Ucap pelayan itu, keluar dari kamar nyonya.
Tut tut…
Tut tut…
" Ahh sial, kenapa tidak di angkat." Ucap pelayan itu sedikit cemas.
Sekali lagi pelayan itu menghubungi Tuan Kusuma, namun tetap tidak di angkat.
Tut tut…
Tut tut…
" Ayo dong Tuan Kusuma, di angkat telponnya." Ucap pelayan itu sambil panik dan marah.
Tuan Kusuma tidak mengangkat telpon dari pelayan, karena sedang rapat bersama kolega bisnis yang sangat penting.
" Aduh gimana ini, Nyonya Reani ngamuknya makin parah." Ucap Pelayan itu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, bolak-balik jalan di tempat memikirkan cara untuk menghentikan Nyonya Reani.
" Aku tau apa yang harus aku lakukan." Ucap pelayan itu.
**
Rhumi sampai di samping jendela kamarnya, dia membuka dengan sangat hati-hati.
" Rhumi." Ucap Mama Dila sangat senang.
" Iya Ma." Sahut Rhumi.
Mama Dila memeluk Rhumi dengan erat, padahal baru tadi malam bertemu tapi rasanya sudah sangat lama tidak bertemu. Mungkin karena takut di tinggalkan lagi, makanya Mama Dila sangat rindu yang berlimpah.
" Kamu kembali sayang." Ucap Mama Dila.
" Iya Ma, Rhumi kembali." Sahut Rhumi yang kemudian duduk di kasur.
" Kamu sudah makan sayang." Tanya Mama Dila.
Rhumi menggeleng pelan, Rhumi sengaja tidak makan di rumah Mami Abila. Karena dia yakin, Mama Dila pasti akan membuatkan makanan untuknya.
" Kebetulan Mama buatkan makanan kesukaan kamu nasi goreng ayam." Ucap Mama Dila sambil menyiapkan nasi goreng yang di masaknya tadi.
" Makasih Ma." Sahut Rhumi menyambut makanan itu.
Rhumi menyuap makanan itu, dia sangat lahap.
" Hmmm.. enak seperti biasa makanan Mama, Rhumi suka." Ucap Rhumi dengan lahapnya makan nasi goreng buatan Mama Dila, Mama kandungnya.
Mama Dila menatap Rhumi dengan tatapan penuh cinta,💓 dia sangat senang melihat anaknya yang menghilang 12 tahun yang lalu kini makan didepannya sekarang.
" Mama tidak akan membiarkan kamu menderita lagi sayang, walaupun harus bercerai dari Papa kamu yang bodoh itu." Batin Mama Dila.
__ADS_1
**
~BERSAMBUNG~