
Denis sadar bahwa dirinya itu bodoh, dia ingin memperbaiki semuanya.
" Gue harus keluar dari sini, semuanya harus kembali seperti dulu." Ucap Denis dengan ketidakberdayaan dirinya.
Denis tidak tahu ia dimana? Tapi dia ingin keluar, saat ini Denis memandang keluar dia melihat beberapa orang berjaga. Dia bingung, siapa mereka semua?
" Hey kalian, tolong buka pintunya." Ucap Denis dari dalam kamar.
Orang berjaga itu adalah anggota Mafia Galaxi itu pun menoleh, lalu membukakan pintunya.
" Saya mau keluar, tolong jangan halangi saya." Ucap Denis sekali lagi.
" Siapa yang menghalangimu." Sahut anggota itu.
" Bukankah kalian yang mengurung saya disini, dan bos kalian sudah bersikap kasar dengan saya." Ucap Denis lagi.
" Heh, manusia bodoh macam kau memang tidak bisa berfikir dengan jernih rupanya. Pantas saja, satu-persatu orang terdekatmu pergi dari sisimu. Orang bodoh sepertimu, memang pantas untuk di tinggalkan." Ucap seseorang yang baru saja datang dari luar, dia memakai topeng tentu dia adalah Rhumi.
" Kurang ajar, siapa kamu sebenarnya jangan main-main sama saya." Bentak Denis.
" Tidak berguna." Ucap Rhumi lalu pergi.
" B*jing*n kau." Denis ingin mengejar Rhumi tapi di cegah oleh anggota.
" Berhenti kau, satu langkah kau maju hancur otakmu." Ucap anggota yang memegang pistol.
Pistol yang digunakan anggota adalah palsu, itu hanya alat untuk menggertak Denis.
" Sialan." Umpat Denis dalam hatinya.
Denis mengusap wajahnya dengan kasar, lalu berteriak untuk membuang kesuntukannya kali ini.
" Aahhhh." Teriak Denis.
**
Dalam beberapa hari ini, Foni makin rajin beribadah. Sedikit demi sedikit, dia mengubah sikap dan hatinya untuk tidak menyakiti orang lain.
Bahkan cara berpakaiannya sudah berubah, jika dulunya **** dan terbuka maka kini tertutup anggun bak bidadari dengan hanya sedikit memakai polesan bedak dan lipstik.
Foni semakin giat belajar mengaji, dan tentang keagamaan. Mulai dari kebersihan diri, dan menghafal bacaan sholat, memperbanyak baca sholawat, dan tidak pernah ketinggalan wudhu.
Foni selalu berwudhu jika batal dia akan berwudhu lagi, dia sangat menjaganya kali ini. Dia merasa senang dan hati pun damai lagi tentram, selalu terukir senyuman di bibirnya.
Perubahan Foni benar-benar membuat keluarga besar pangling dan bingung, tapi berbeda dengan Haris. Justru Haris mendukung perubahan Foni anak kesayangannya, dia berharap perubahan Foni tulus dari dalam hatinya.
Vania yang melihat perubahan Foni jadi sedikit enggan berteman, dia merasa tidak pantas berteman dengan Foni yang sudah mendapat hidayah.
Berkali-kali Foni memberitahu, dia tidak pernah sedikitpun memilih teman.
" Kamu kenapa sihh begitu Vania, percaya sama aku kita bakalan tetap berteman." Ucap Foni pada Vania.
" Tapi aku malu, kamu udah berubah begini sedangkan aku masih." Ucap Vania terhenti karena ragu-ragu.
__ADS_1
" Masih apa? Masih dengan pakain terbuka gitu, dan kamu malu berteman sama aku iya begitu?"
Vania menunduk karena tebakan Foni benar, dia sangat malu.
" Kita itu sama dimata Allah, jadi jangan pernah berfikiran kita itu beda." Ucap Foni dengan tegas.
" Vania." Panggil Foni sekali lagi.
" Kita akan selalu berteman." Ucap Foni lagi.
" Benarkah, apa kamu yakin."
Foni mengangguk.
" Foni.." Teriak Vania dengan haru lalu memeluk Foni.
" Sudah sudah heheh, ouhh yahh kita telpon Sinta yuk."
" Memang untuk apa?
" Ada yang mau aku omongin, tapi kamu harus ikut yahh."
" Emmm boleh dehh."
Akhirnya Foni dan Vania sepakat untuk menemui Sinta.
**
" Darimana kamu, Naawa."
" Mami."
" Akhir-akhir ini.. Mami lihat kamu sering keluar, apa kamu lupa? Kamu itu tidak boleh kelelahan, nanti bisa sakit."
" Naawa keluar cuma main doang kok Mam."
" Tapi tidak harus selama ini kan, Mami itu khawatir sama kamu. Mami gak suka anak Mami keluyuran, Mami lebih suka kamu di rumah."
" Kalau Naawa dirumah, suntuk Mami. Makanya Naawa jalan-jalan, Naawa cuma pengen sedikit hiburan aja." Ucap Naawa sedikit memasang wajah sedih, sudah pasti itu adalah akting.
Abila menghela nafas, lalu duduk.
" Ya sudah kali ini Mami maafkan, tapi lain kali kalau mau main itu harus ada waktunya. Jangan berlebihan, tubuh kamu juga harus istirahat. Kamu sebaiknya minum vitamin sekarang, biar imun kamu kuat."
" Iya Mami." Naawa pun naik ke atas, dia kali ini lega dapat maaf dari Maminya.
" Fyuhhhh.. untung aja Mami percaya, kalau gak? Sudah dipastikan, saya tidak akan bebas untuk keluar." Guman Naawa.
" Sudah lama Saya tidak ke rumah Lili."
Begitulah omongan Rhumi yang memakai kata Saya, saat menjadi Naawa dia akan memakai Aku dan Kamu.
" Tuhh anak gak pernah lagi nelpon saya, kemana yahh." Ucap Rhumi lagi.
__ADS_1
Rhumi berusaha menelpon Lili, tapi nomornya sama sekali tidak bisa dihubungi.
" Ishhh.. masih sama gak bisa di hubungi, aneh banget sihh."
**
Dila yakin orang yang bertopeng itu adalah Rhumi, anaknya.
" Mas harus percaya sama aku, dia itu Rhumi."
" Tapi kita gak bisa langsung percaya sama dia Dila.. kita gak bisa bicara lama sama dia, dia menghilang gitu aja." Ucap Qaza.
" Kamu sebenarnya niat gak sih cari Rhumi mas, kalau kamu gak niat bilang sama aku." Ucap Dila seketika menyaringkan suaranya, saat pada kalimat bilang sama aku.
" Pa, apa yang dikatakan Mama benar. Kita selidiki aja dulu, siapa tau memang benar kan dia itu Rhumi." Ucap Awan menjelaskan kepada Qaza.
" Sudahlah Awan, kamu tidak perlu lagi menjelaskan kepada Papa kamu ini. Gak berguna tau gak, Mama tuhh ngomong sama Papa kamu kalau masalah ini kaya ngomong sama patung. Beda.. kalau dia membahas masalah sahabatnya itu, apalagi anaknya Sinta." Sindir Dila.
" Dila.." Teriak Qaza memanggil Dila.
" Kenapa mas? Tersinggung, ya jelaslah tersinggung karena itu fakta."
" Dila kamu.."
Plak...
" Papa." Ucap Awan terkejut melihat Qaza menampar Dila.
Dila sangat terkejut, suami yang dia cintai dan dia hormati tega menampar wajahnya. Qasa juga shok, tangannya dengan mudah menampar istrinya.
Tangan Qaza bergetar hebat, dia terus memandang tangannya yang bergetar.
" Di..Dila, a..aku a..ak..aku gak sengaja maafin aku." Ucap Qaza yang masih tidak percaya dengan sikapnya tadi.
Dila hanya mematung, tidak ada pergerakan sama sekali.
" Mama.." Panggil Awan karena takut melihat Mamanya yang hanya diam, Awan tidak pernah melihat Mamanya seperti ini. Biasanya, Mamanya akan terus ngoceh tanpa henti tapi kali ini diam saja.
Dila pergi melewati Qaza tanpa bicara apapun, dia pergi ke kamar anaknya yaitu Rhumi. Setiap hari kamar itu, Dila selalu membersihkannya.
" Dil..Dila." Qaza berusaha memanggil Dila, tapi tidak dihiraukan Dila.
" Sekarang Papa puas, Awan gak habis pikir? Kenapa Papa bisa begitu, dengan spontan Papa menampar Mama." Ucap Awan yang kemudian pergi.
Ternyata aksi Qaza menampar Dila sudah di awasi oleh seseorang, dia merekam aksi itu lalu mengirimnya kepada bosnya.
**
Dila mengunci kamar Rhumi, dia berbaring di tempat tidur putrinya.
" Maafkan Mama, Maafkan Mama Rhumi." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Dila, saat dia menangis dalam diam.
Bersambung
__ADS_1