MAFIA GIRL MISTERIUS

MAFIA GIRL MISTERIUS
Part 89


__ADS_3

~SELAMAT PAGI KESAKITAN~


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


**


Mama Dila mengompres Rhumi, karena tidak ingin terjadi sesuatu Dila rela tidak tidur sampai pagi.


Rhumi merasa bersalah pada Mamanya, karena dirinya sakit Mama Dila harus begadang.


" Sebaiknya aku gak bangunin Mama dulu, kasihan Mama pasti kecapekan." Gumam Rhumi yang sudah bangun dari tidurnya.


Rhumi mendapati kain didahinya, sudah pasti Mamanya yang telah mengompres. Sudah pasti juga tidak tidur semalaman, itulah yang dipikirkan Rhumi.


" Ehm.. badanku benar-benar seperti dipukuli ratusan orang." Ucap Rhumi yang berdiri.


Rhumi masuk ke kamar mandi supaya segar kembali, dan bisa melakukan aktivitas seperti biasa.


" Chloe, gara-gara dia aku jadi begini awas saja aku beri perhitungan dia." Batin Rhumi saat tubuhnya dihujani shower.


Rhumi menelpon anggota untuk mengawasi Chloe.


Tut tut..


" Halo."


" Saya ada tugas."


Tut tut..


" Kali ini kamu tidak akan lepas dari saya Chloe, habis kamu." Ucap pelan Rhumi.


**


Naawa alias Wana, masih dalam kamar karena Wana ini sangat suka tidur.


" Naawa sayang, hari ini mau sekolah atau gak?" Tanya Abila.


" Hmm.. Naawa mau tidur dulu, badan Naawa sakit semua."


" Sakit? Dimana yang sakit hmm.. apa perlu kita ke dokter, Mami takut terjadi apa-apa sama kamu."


Wana sedikit kaget, tidak mungkin dirinya periksa ke rumah sakit.


" Naawa dah gak papa kok Mami, coba lihat nihh gak papa kan." Ucap Wana sambil menggerakkan badannya.


" Eleechh, kamu kan paling takut sama dokter jangan bohongi Mami. Nanti kita ke rumah sakit yahh, siap-siap."


" Ahh.. apahh, Mami apa-apaan sihh Naawa gak papa kok."


" Mami.." Panggil Wana.


Wana agak panik, dia merasa Mami Abila ini tipikal orang yang sangat over protective.


" Mampus aku, ahh.. Tante Abila protektif banget sihh sama Naawa. Naw Naw, susah banget sih jadi Lo." Ucap Wana.


**


Awan menginap di hotel, dia ingin lebih fokus mencari Mamanya. Bahkan Awan bertekad untuk tidak lagi menjadi lelaki lemah, selama ini dia hanya diam saat Papanya melakukan sesuatu yang bertolak belakang dengan Mamanya. Awan menelpon Siya, untuk membantunya mencari Mama.


Tut tut..


" Halo." Terdengar suara Siya.


" Siya, kamu lagi ngapain sekarang?"


" Saya ada di rumah."


" Bisa temui saya."


" Bisa."


" Temui saya di hotel."


" Alamatnya."


" Di..."


**

__ADS_1


Denis bingung harus mencari kemana lagi, tak mungkin Lili pergi jauh.


" Lo kemana sihh Li, kenapa lo ngilang bengini."


" Please jangan jauhin gue, maafin gue kalau dah bikin lo sedih tapi tolong temui gue sekarang."


Tut tut.. Denis mendapatkan telpon dari anak buahnya, dia menanyakan apakah sudah menemukan temannya.


" Halo, apa kau sudah menemukan temanku."


" Belum Bos."


" Ouhh begitu, lanjutkan."


Tiba-tiba Denis membanting ponselnya ke dinding.


" Aahh, gak berguna." Teriak Denis.


**


Kusuma membawa Reani untuk berobat kepada Dokter Also, salah satu Dokter kejiwaan yang ahli usianya kisaran 50 an.


" Dokter, tolong istri saya sembuh dia. Saya tidak bisa hidup disaat dia tertekan seperti ini, saya sangat menyayanginya." Pinta Kusuma.


" Mohon maaf Pak, kalau boleh saya tahu apa penyebab istri bapak mengalami gangguan seperti ini."


" Itu.. karena anak kami, bunuh diri."


" Hmm.. iya saya mengerti, seperti apa rasanya kehilangan seorang anak." Sahut Dokter Also.


" Apa kemungkinan istri saya bisa sembuh dok."


" Kalau dalam fase ini, masih belum terlalu lama juga mengidapnya mungkin 75% bisa disembuhkan."


" Benarkah Dok."


" Iya, tapi itu juga tergantung keinginan hati istri anda juga. Apakah dia ingin terus begini atau tidak, yang paling penting kita beri dia ketenangan dan terus ajak obrol dia."


" Baiklah Dok, terimakasih atas sarannya besok saya bawa lagi."


" Iya." Mereka saling berjabat tangan.


**


" Sin, Mama mau bicara sama kamu."


" Kenapa Ma, apa ada hal yang penting."


" Iya, tapi ini sudah Mama pikirkan jauh-jauh hari."


" Apa yang ingin Mama bicarakan." Ucap Sinta, lalu Dea menghela nafasnya dalam-dalam lalu dihembuskannya.


" Tapi kamu jangan marah dulu yahh."


" Iya.. Sinta janji, gak akan marah."


" Gimana kalau kita pindah." Ucap Dea, dan Sinta cukup tercengang mendengar ajakan Mamanya ini.


" Maksud Mama."


" Kita pindah dari sini, kita bisa ke Medan atau Kalimantan."


" Tapi kok mendadak begini, emang apa yang terjadi."


" Mama cuma pengen melupakan kenangan pahit yang ada disini, kita hidup dikota yang baru biar bisa hidup dengan tenang."


" Ouhh." Sinta mengerti apa yang dipikirkan Mamanya, dia juga sebenarnya sudah terlalu lelah dengan olokan-olokan teman di sekolah.


" Gimana?"


" Nanti Sinta pikirkan dulu."


" Iya."


**


Luna kini sedikit sedih, antara galau dan sakit. Putus dari Awan, sekarang keadaan keluarganya begini.


" Hmm.. semua laki-laki itu sama saja, selalu buat susah." Ucap Luna di ruang kerjanya.

__ADS_1


Tiba-tiba ada suster yang memanggil, katanya ada pasien yang baru datang.


" Dok, ada pasien tabrakan."


" Ouhh ya, saya kesana."


" Baik."


Luna mendatangi pasien tabrakan itu, betapa terkejutnya dia ternyata pasien yang tabrakan itu.


" Rashad." Ucap Dokter Luna.


" Dokter kenapa diam aja, ini anak saya sekarat." Desak wanit paruh baya itu.


" Ahh iya Bu, maaf." Luna langsung menarik brankar itu dan masuk ke UGD.


**


Mama Dila terbangun dari tidurnya, dia melihat Rhumi sudah tidak ada lagi di sampingku.


" Rhumi kok gak ada." Gumam Mama Dila.


" Rhumi..." Panggil Mama Dila.


" Iya Ma..Rhumi di kamar mandi."


" Ehh kamu keramas gak." Tanya Mama Dila yang sedikit kaget mendengar Rhumi mandi.


" Iya.. ini mau keramas."


" Ehh no, Rhumi jangan kamu tadi malam demam jangan keramas dulu."


" Emang kenapa Ma?"


" Udah gak usah banyak tanyak, turutin aja."


" Iya, ini Rhumi pakai handuk dulu."


" Hmm..."


Rhumi pun keluar dengan badannya di lilit handuk.


" Untung aja Mama sempet larang kamu tadi."


" Emang kalau keramas kenapa?"


" Nanti kepala kamu bisa sakit."


" Ouhh."


" Udah makan belum?"


" Belum Ma."


" Ya sudah, kamu mau minta masakin apa?"


Rhumi sedikit berfikir, selama ini dia ingin sekali makan rica-rica buatan Mamanya.


" Rhumi pengen dimasakin rica-rica."


Mama Dila terdiam mendengar permintaan anaknya, Rhumi yang melihat wajah Mamanya menjadi bertanya-tanya.


" Jangan bilang kalau Mama seperti Mami Abila juga, melarang aku makan." Batin Rhumi.


" Ok." Ucap Mama Dila sambil memberikan kedua jempolnya.


" Ahh Mama, kirain tadi." Kaget Rhumi.


" Ya pastilah Mama bakalan bikinin, tapi Mama bikinnya gak terlalu pedas yahh biar aman perut kamu."


" Siap Mama, paling baik sedunia dehh." Aku memuji Mama.


" Hahahah.." Kami berdua tertawa hangat di pagi hari ini.


Aku melihat senyuman Mama yang begitu tulus dan hangat, aku berjanji akan terus menjaga senyum Mama.


" Lihatlah senyum Mama yang indah ini, akan aku jaga selamanya." Batin Rhumi.


~SELAMAT MEMBACA~

__ADS_1


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


🌹BERSAMBUNG🌹


__ADS_2