MAFIA GIRL MISTERIUS

MAFIA GIRL MISTERIUS
Part 96


__ADS_3

~SELAMAT PAGI~


πŸ’“πŸ’“πŸ’“


**


Qaza dihajar oleh Zora dan yang lainnya sampai Qaza tidak tahan lagi dan mengakui semua kesalahannya, dia juga nantinya akan menceraikan Dila.


" Ampun.. saya mohon, jangan sakiti saya." Ucap Qaza berlumuran darah.


Mereka semua meninggalkan Qaza diruangan, dan mengatakan kepada yang lainnya jika tahanan sudah menyerah.


" Apa yang harus kita lakukan Tuan." Tanya Anggota.


" Kita rawat dia untuk sementara, sembuhkan luka-lukanya." Perintah Zora.


**


Pagi ini Awan datang ke kantor, dia minta penjelasan kepada pihak kantor terutama Papanya.


Awan tidak tahu jika perusahaan itu adalah milik keluarga Mamanya, Dila Azaro. Dan dia juga tidak tahu, kalau yang sekarang mengambil alih perusahaan adalah Mamanya.


Awan masuk ke gedung, saat mau masuk lift Awan melihat Mamanya.


" Mama." Ucap Awan.


" Itukan Mama, jadi Mama ada di kantor." Ulang Awan kemudian memanggil Mamanya.


" Ma." Panggil Awan.


Sedangkan Dila yang dari tadi tidak melihat Awan sedikit terkejut namanya di panggil oleh seseorang.


" Awan." Ucap Dila sambil menoleh.


Awan sangat senang bisa bertemu dengan Mamanya, dia pikir tak kan bisa bertemu Mamanya lagi.


" Mama, Awan seneng banget bisa ketemu sama Mama lagi." Ucap Awan kemudian langsung memeluk Dila.


Dila hanya diam dengan pelukan anak sulungnya, dia hanya membalas sedikit dan langsung menurunkan tangan Awan dari pelukannya.


" Kenapa." Ucap Awan heran.


" Kamu mau kemana?" Tanya Dila.


" Awan mau ketemu sama Papa, Awan ingin tahu kenapa Awan dipecat." Ucap Awan pada Mamanya.


Dila hanya diam, tapi sorot matanya sangat tajam saat memandang Awan.


" Mama sendiri mau kemana?"


" Ke ruangan Direktor."


Awan sedikit terkejut dengan jawaban Mamanya, dia berfikir bukankah ruangan Direktor itu...?


" Bukankah itu ruangan Papa, kok Mama bilang ke ruangan Direktor." Batin Awan.


" Ya sudah kita bareng aja Ma, kan tujuan kita sama."


Akhirnya Dila sama Awan pergi ke lantai atas menaiki lift untuk ke ruangan Direktor. Saat dalam lift, Awan merasa ada yang aneh dengan Mamanya.


" Dari tadi Mama hanya diam, gak biasanya." Batin Awan.


**


Laki-laki yang menolong Ara waktu itu bernama Jauhar, dia seorang Dokter. Jauhar umurnya sudah 28 tapi masih jomblo, sama kaya yang nulis cerita ini.πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ€£πŸ€£


Dokter Jauhar adalah lelaki yang penyabar, dia sangat bisa memahami perasaan lawan bicaranya.


**


Dani ternyata menyukai Feli, dia sangat kagum dengan Feli bahkan siang ini dia sangat ingin mengajak Feli makan berdua di luar.


Kebetulan Feli sedang membawa berkas-berkas yang akan ditandatangani Dani.


Tok tok..

__ADS_1


" Masuk." Sahut Dani dari dalam.


" Feli." Ucap Dani lagi.


" Pagi Dan, saya kesini cuma ngantar berkas yang akan ditandatangani oleh Bapak." Ucap Feli seraya menyerahkan beberapa lembar berkas.


Feli dan Dani jika berada dalam kantor maka pembicaraan mereka sangat formal, namun jika diluar kantor maka bahasanya macam anak setan.🀣🀣🀣


Karena tidak ada yang dibicarakan, Feli pamit keluar dari ruang Dani.


" Kalau tidak ada yang lain, saya keluar dulu." Ucap Feli.


Dengan cepat Dani memanggil Feli, dia tidak ingin Feli menjauh darinya.


" Tunggu Fel." Panggil Dani, Feli pun menoleh.


" Ada apa."


Dani berdiri dari duduknya, dan menghampiri Feli.


" Kamu siang ini ada waktu tidak."


" Emm.. kayaknya gak ada, memangnya kenapa?"


" Eee.. ini saya pengen.. ajak kamu makan diluar."


" Hmm.. gak salah ngajak saya, biasanya kan makan diluar sama teman yang lain kan." Sahut Feli yang merasa aneh dengan ajakan Dani.


" Iya.. saya tahu itu, tapi siang ini saya pengen ajak kamu."


" Ouhh, kirain."


" Bisa gak."


" Kalau cuma sekedar menemani sih bisa."


" Jadi kamu bisa."


" Iya."


Feli pun mengangguk, dan dia pamit untuk kembali ke ruang kerjanya.


**


Rhumi sangat pusing dengan masalah yang dia hadapi, sampai membuat dirinya pusing dengan masalah yang dia hadapi.


Abila yang melihat pun bertanya, kenapa wajahnya pucat.


" Naawa, kamu kenapa?"


Rhumi yang mendengar makin pusing, tapi dis berusaha untuk menjawab dengan sopan.


" Gak ada papa kok Mi, Naawa ke atas dulu yahh." Sahut Rhumi yang kemudia siap beranjak dari meja makan.


" Tunggu?" Cegah Abila.


Rhumi berhenti dan menghela nafas, lalu menghembuskannya secara kasar.


" Ada apa?" Ucap Rhumi dengan nada yang sudah capek.


Tanpa banyak bicara, Abila langsung membawa Rhumi ke kamarnya.


" Mami mau ngapain, Naawa mau dibawa kemana?" Tanya Rhumi, namun tidak di jawab oleh Abila.


Setelah sampai dikamar, Abila langsung menyuruh Naawa untuk berbaring istirahat.


" Rebahan yahh, Mami gak mau kamu sakit lagi tuhhh badan kamu." Ucap Abila sambil memeriksa badan Rhumi.


" Badan kamu panas, Mami gak mau kamu kenapa-kenapa?" Ucap Abila sambil menyelimuti Rhumi.


Rhumi hanya diam, karena memang pikirannya sedang kacau. Sedangkan Abila mulai merasa aneh dan curiga, apa sebenarnya yang disembunyikan Naawa.


" Sebaiknya aku selidiki dulu, apa yang membuatnya seperti banyak pikiran." Batin Abila.


" Mami temenin, biar kamu cepat sembuh yahh." Ucap Abila lembut, dan di anggukkan oleh Rhumi.

__ADS_1


" Iya Mi." Sahut Rhumi.


**


Sedangkan Naawa asli yang memandang dari kejauhan, dia hanya bisa mengerutkan jari-jarinya.


" Kali ini, aku harus bisa berada disamping Mami apapun yang terjadi. Tapi aku juga tidak mau menyakiti Rhumi, dia pasti sangat tersiksa dengan keadaan yang sekarang ini." Ucap Arwah Naawa.


" Apa yang harus aku lakukan, supaya tidak menyakiti Rhumi tapi selalu bisa berada disamping Mami." Pikir Arwah Naawa.


" Apa aku jadi khodam Rhumi aja, supaya aku bisa terus lihat Mami. Gak apa-apa kalau memang itu satu-satunya jalan, ehh tapi.. sekarang kan Rhumi sudah tidak percaya lagi sama aku." Ucap Rhumi lagi dengan pikirannya.


" Gak, aku yakin Rhumi pasti maafin aku. Iya aku yakin itu, aku akan bantu Rhumi secara diam-diam." Ucap Arwah Naawa sambil tersenyum.


**


Plakk..


Dila menampar Awan di ruangan Direktor, dia sangat marah dan membuat Awan terkejut.


" Ma, kenapa Mama nampar Awan Ma." Tanya Awan bingung.


" Masih berani kamu tanya begitu sama Mama, iya." Sahut Dila.


" Apa maksud Mama, Awan gak ngerti."


" Apa maksud kamu bicara sama Rhumi seperti itu hah, kamu ngatain dia pembunuh Kakek apa maksud kamu Awan."


Duarr...


Awan terkejut dengan perkataan Mamanya, jadi selama ini Mamanya sudah sering bertemu dengan Rhumi.


" Jadi.. selama ini, Mama sudah sering ketemu sama dia." Tanya Awan.


" Bener, Mama sering ketemu sama dia." Awan mengulang pertanyaannya lagi.


" Apa itu masalah, kamu sama Papa itu sama. Sama-sama gak punya hati, tega menyakiti dari belakang, bohong sama Mama, dan sering buat Mama menangis, apa kamu gak sadar hah." Ucap Dila sambil menahan air mata.


" Perusahaan ini, bukan milik Papa tapi Mama. Papa sudah Mama pecat, termasuk kamu." Ucap Dila sambil menunjuk Awan.


Degg..


" Apa maksudnya ini Ma, jangan bilang kalau selama ini Papa cuma..?"


" Iya, Papa kamu cuma menjalankan perusahaan tapi pemilik tetap Mama karena perusahaan ini milik Kakek Diev Azaro." Ucap Dila dengan tegas.


" Hah, Mama.. ternyata Mama yang anak orang kaya." Batin Awan.


" Mama ingin kamu angkat kaki dari perusahaan ini, dan ambil kesuksesan kamu sendiri. Asal kamu tahu Awan, perusahaan ini Mama sama Kakek Diev yang membangunnya." Ucap Dila.


" Mama ngusir Awan." Tanya Awan dengan mata yang berbinar.


" Mama tidak mengusir, tapi ingin mendidik kamu."


" Tapi faktanya, Mama ngusir Awan." Ucap Awan dengan suara yang sedikit tinggi.


" Pak satpam." Panggil Dila.


" Iya Bu." Sahut dua orang Pak satpam.


" Bawa orang ini keluar, dan lain kali jangan biarkan dia masuk." Perintah Dila.


Seketika Awan mematung dengan perintah Mamanya yang ia dengar sendiri, dia tidak menyangka Mamanya sebadas ini.


" Ini beneran Ma." Tanya Awan lagi yang tidak percaya.


" Bawa pak." Suruh Dila.


~BERSAMBUNG~


πŸ₯€SELAMAT MEMBACAπŸ₯€


πŸ„πŸ„πŸ„


***Maaf yahh baru up sekarang, authornya lagi kena sakit kena cacar kemarin gak bisa megang handphone. Makanya gak update beberapa hari, maaf yahh.

__ADS_1


πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™***


__ADS_2