
Rania duduk bersama dengan Min si bodyguard kompleks yang sangat menyayanginya di sebuah kursi kayu. Rania membuka cadar yang digunakannya lalu melemparkannya dengan asal.
Min terkejut melihat tingkah ketuanya, namun dengan perlahan, dia mulai membuka pakaian ketuanya untuk mengobati lukanya.
Tampak punggung mulus Rania dipenuhi luka cambuk. Kulit putihnya yang seputih susu tampak lebam yang sudah keunguan, bahkan darah segar tampak mengering di permukaan kulitnya.
Rania hanya mampu meringis kesakitan saat permukaan kulitnya dibaluti salep luka.
"Akkhhhh"
Rania menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan matanya merasakan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Bodyguardnya dengan telaten dan begitu hati-hati mengobati lukanya.
"Bagaimana jika tuan Raka mencari nona" ucap Min.
"Min Min, kakakku tak pernah tahu kepergian ku. Aku sudah mengatakan kepadanya untuk tidak ikut campur dengan urusanku" ucap Rania.
Min kembali mengolesi salep luka di punggung majikannya. Dia seperti seorang ibu yang sedang mengurusi putrinya.
"Pemuda tadi sempat berbaik hati memberikan salep lukanya, nona" ucap Min sambil membaluri punggung ketuanya dengan salep luka.
"Tak ada yang berbaik hati kepada kita, mereka semua adalah musuhku" ucap Rania dengan mata terpejam.
"Nona, kita tak tahu bagaimana nasib kita selanjutnya" ucap Min sambil menunduk.
"Apa kamu tak percaya kepadaku, selama aku masih bernafas, aku masih bisa memiliki kekuatan untuk melawan siapapun" ucap Rania dingin.
"Aku sangat mempercayai mu nona. Terus, bagaimana rencana kita selanjutnya, sedangkan kita sudah terkurung di tempat ini" ucap Min dengan wajah memelas.
"Masih ada hari esok, semuanya akan baik-baik saja" ucap Rania yang tidak ingin ambil pusing.
Rania merupakan gadis yang tak kenal takut, walaupun ia di ujung kematian sekalipun nyali nya masih gencar.
******
Terjadi perdebatan hebat di sebuah ruangan khusus antara Darren bersama putranya, Adelio.
"Ayah tidak setuju jika kamu kembali menyiksa kedua gadis itu" ucap Darren yang tengah duduk di kursi kerjanya.
"Ayah, mereka harus dihukum agar jera dan tidak mengusik kembali keluarga kita" ucap Adelio tegas.
"Bukan cara seperti itu menghukum seseorang. Ayah juga pernah muda seperti mu dan melakukan hal yang sama seperti mu pula. Tapi, ayah sadar, dengan cara seperti itu bukanlah yang tepat menghukum seseorang. Sebaiknya kita hanya perlu memberikan didikan yang baik, seperti mempekerjakannya dengan layak agar sifat buruknya lambat laun akan berubah menjadi baik" ucap Darren menasihati putranya.
"Aku tak bisa mempercayai seseorang jika sudah melakukan kesalahan fatal" ucap Adelio.
"Bagaimana jika menurut mu kesalahan yang diperbuat tak disengaja atau hanya melakukan pekerjaan dari suruhan seseorang yang ingin menjatuhkannya di hadapan kita" ucap Darren sambil menaikkan alisnya.
Adelio menjadi diam seribu bahasa mencerna ucapan ayahnya.
"Bebaskan mereka, tak ada gunanya jika kamu terus mengurungnya dalam gudang. Atau gunakan cara ayah saja mempekerjakan mereka di kediaman kita. Karena hal tersebut cukup menguntungkan bagi kita, kita bisa mengetahui gerak-geriknya seperti apa di kediaman kita. Kepala pelayan bisa mengurusnya setelah ini" ucap Darren sambil menepuk pundak putranya.
"Aku tak bisa memilih salah satu keputusan ayah. Semuanya tidak sesuai prinsip ku" ucap Adelio sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Apa yang kamu anggap benar belum tentu baik, begitu pula sebaliknya. Ingat kata-kata ayah" ucap Darren, lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut.
Adelio tidak lagi membantah ucapan ayahnya.
Brakk
__ADS_1
Adelio menendang kursi kayu di sampingnya dengan kesal.
"Seharusnya aku menghabisinya tadi, beginilah jadinya, jika ayah selalu ikut campur dengan urusanku" ucap Adelio kesal.
Adelio mendekati jendela sambil menatap langit malam yang tampak gelap gulita. Ia berusaha untuk tenang dan mengalihkan perhatiannya dengan menatap langit malam.
"Tak ada cara lain, aku harus mengikuti ucapan ayah. Jangan sampai ayah tahu segala kelakuanku selama ini. Aku bahkan berusaha menutupinya dari ayah dan bunda sampai detik ini, jangan sampai semuanya menjadi kacau balau" ucap Adelio.
Adelio memilih melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut. Dia pun memilih melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
*****
Sementara di tempat lain.....
Raka begitu marah besar yang baru saja mengetahui informasi dari mata-matanya bahwa adik kesayangannya tertangkap di kediaman Alexander.
"Apa kalian sudah bosan bekerja, sampai-sampai kalian semua begitu lalai menjaga adikku hah" teriak Raka dengan amarah menggebu-gebu, kemudian menghajar satu persatu anak buahnya tanpa ampun.
Bugh
Bugh
"Ampun tuan" ucap anak buahnya yang mulai meminta pengampunan.
Raka kembali menendang nya lalu memukulinya hingga babak belur. Setelah itu, mulai mengeluarkan pistolnya lalu menembaki ketiga anak buahnya yang kerjanya tidak becus.
Dor
dor
dor
"Tenang tuan, kita bisa mencari jalan keluarnya. Nona Rania gadis yang hebat, dia pasti bisa menjaga dirinya dengan baik" ucap Viktor sang tangan kanannya.
"Aku tahu bodoh! masalahnya dia sedang berada di kediaman Alexander. Sesuatu bisa saja terjadi kepadanya, aku tidak akan pernah mengampuni diriku jika adikku sampai kenapa-kenapa. Seluruh keluarga Alexander harus membayarnya" ucap Raka dengan penuh amarah.
"Tuan, rencana anda sudah hampir di depan mata. Tak perlu anda risau seperti ini. Jika Adelio Alexander menyakiti nona Rania, masih ada hal yang berharga yang selalu dia jaga yang bisa kita hancurkan" ucap Viktor dengan seringai licik diwajahnya.
Raka berbalik badan menatap Viktor hingga dia pun ikut menyeringai. Viktor lalu memberikan sebatang rokok untuk bos nya. Raka tak segan-segan menerimanya dan mulai menghisap dalam-dalam rokok tersebut hingga asapnya di kepulkan di wajah Viktor.
"Kamu patut diandalkan" ucap Raka diiringi gelak tawa.
Mereka pun saling tertawa bersama di markas besarnya.
*****
Keesokan harinya.....
Tampak keluarga Alexander mulai berkumpul di meja makan untuk sarapan bersama. Seluruh anggota keluarga begitu menikmati sarapannya.
Adelia merasa canggung kepada Malfin karena tak sengaja menginjak kaki Malfin saat ia sedang berjalan terburu-buru memasuki lift. Mereka semua menikmati sarapannya dengan tenang dan penuh khidmat.
Adelio mulai berpamitan kepada orang tuanya beserta paman dan bibinya yang akan berangkat ke kantor.
"Lia, nanti Kendrick dan lainnya akan melakukan pengawalan kepada mu" ucap Adelia sambil melirik ke arah saudarinya yang sedang berdiri tak jauh darinya.
"Emm iya deh" ucap Adelia.
__ADS_1
Adelio melangkahkan kakinya menuju pintu utama diikuti Morgan yang juga mengekor di belakangnya.
"Morgan, kamu mau kemana?" tanya Adelia.
"Aku mau berkunjung ke kantor kak Lio, bye...aku pergi dulu" ucap Morgan dan mulai berlari kecil mengikuti Adelio.
Adelia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah lucu Morgan yang sedang mengejar Adelio. Adelia berbalik badan namun lagi-lagi dia tak sengaja bertabrakan dengan Malfin.
"Maaf kak Malfin, aduh...dari tadi aku berbuat masalah kepada kak Malfin" ucap Adelia menunduk.
"Tak apa, aku juga salah kok" ucap Malfin tersenyum tipis.
"Aku ke dalam dulu" ucap Adelia yang masih saja canggung kepada Malfin.
"Hemm"
Adelia berjalan cepat meninggalkan Malfin. Sedangkan Malfin memilih menghirup udara segar di pagi hari di teras depan.
"Mengapa aku menjadi canggung jika terus bertemu Kak Malfin" ucap Adelia sambil mengintip Malfin dari balik jendela.
"Apa yang kamu lakukan di sini nak, bukannya kamu ingin siap-siap berangkat ke desa terpencil kota Pereira " ucap Ziva yang memergoki putrinya.
Adelia langsung terlonjat kaget mendengar suara bundanya. Adelia hanya mampu cengengesan sambil garuk-garuk kepala.
"Iya bunda, Adelia ke kamar dulu" ucap Adelia, lalu bergegas berjalan menuju lift yang akan membawanya ke kamarnya.
Ziva geleng-geleng kepala melihat tingkah laku putrinya.
Sementara di mes pelayan. Kepala pelayan sedang memberikan pelatihan kepada dua pelayan wanita yang baru saja bergabung menjadi bawahannya.
Mereka adalah Rania dan Min yang merupakan tawanan Adelio yang siap melakukan pekerjaan menjadi seorang pelayan di kediaman Alexander. Tak ada cara baginya untuk kabur dari kediaman Alexander.
"Kalian akan mendapatkan pelatihan pertama, yakni cara bertata Krama dengan baik di depan majikan" ucap Kepala pelayan.
Rania hanya bermasa bodoh mendengar ucapan kepala pelayan.
" Tak perlu memberiku pelatihan seperti itu, aku hanya sebagai tawanan dalam rumah ini. Cepat katakan saja apa yang akan kami kerjakan" ucap Rania.
"Saya memiliki wewenang tinggi mejadi kepala pelayan di rumah mewah ini. Silahkan anda mengikuti pelatihan ini dengan tertib, jika anda tak ingin mendapat masalah kedepannya" ucap kepala pelayan sambil menyerahkan buku tentang bertata Krama dengan baik.
Rania berdengus kesal mengambil buku tersebut, lalu dengan perlahan mulai merobeknya di hadapan kepala pelayan.
"Berapa gaji yang kamu dapatkan menjadi kepala pelayan di kediaman Alexander" ucap Rania sambil menatap tajam kepala pelayan tersebut.
"Apa maksud mu, kami tak pernah memandang uang dalam bekerja di kediaman Alexander" ucap pelayan itu.
"Aku bisa membayar mu lebih bahkan sepuluh kali lipat dari gaji yang kau dapatkan di rumah ini. Asalkan kamu menjadi orang ku, bagaimana?" ucap Rania dingin yang mencoba bernegosiasi dengan kepala pelayan.
"Uang tak bisa di beli dengan apapun, pengabdian ku kepada keluarga Alexander benar-benar tulus" ucap Kepala pelayan dengan tulus.
"Pintar juga bicara mu" ucap Rania kesal.
"Tak semua bisa dibeli dengan uang nona. Sekarang kamu menjadi tawanan putraku, ada baiknya jika kamu mengikuti aturan di rumah ini, termasuk aturan kepala pelayan" ucap suara bariton seseorang di ambang pintu.
Rania mengepalkan tangannya melihat orang tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa dukungannya teman-teman ššš