Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Akhir Bahagia


__ADS_3

Hari terus berlalu hingga bulan terus berganti. Tak terasa kandungan Rania sudah memasuki usia bulan yang selalu ditunggu-tunggu oleh ibu hamil. Terhitung lima hari lagi dia akan menjalani persalinan.


Rania tampak was-was menjelang persalinannya yang tinggal beberapa hari lagi. Rania mudah lelah dan lebih betah berdiam diri di rumah. Adelio sudah pasti menjalankan tugasnya sebagai suami siaga, mendampingi istrinya yang tengah hamil tua. Apapun yang dibutuhkan istrinya selalu saja dengan cepat dikabulkan.


Adelio selalu mendoakan kelancaran persalinan istrinya dan tak henti-hentinya memberikan semangat untuknya. Kini mereka tengah duduk bersantai di ruang keluarga sambil bercanda gurau.


Namun tiba-tiba raut wajah Rania berubah sambil meringis kesakitan yang tengah memegangi perut buncitnya. Rania bersandar di sofa yang mencoba tenang sambil mengatur nafasnya.


"Kamu kenapa Ani" ucap Adelio khawatir melihat gelagat istrinya.


"Akkhhhh....Perutku sakit " ucap Rania kesakitan sambil mencengkram lengannya.


Rania mulai histeris kesakitan yang sudah mengalami kontraksi mendadak. Adelio begitu panik melihat kondisi istrinya.


"Mama, Ani sakit perut. Sepertinya mau lahiran" teriak Adelio panik dan langsung meraih ponselnya untuk menghubungi dokter kandungan Rania.


Sarah tergopoh-gopoh menghampirinya dan terlonjat kaget melihat putrinya meringis kesakitan. Sarah memilih menenangkan putrinya namun dirinya juga dirundung kepanikan.


Adelio mulai berbincang dengan dokter kandungan hingga panggilan mereka berakhir. Kemudian kembali menghubungi orang tuanya bahwa istrinya akan lahiran.


"Sebaiknya kita ke rumah sakit" ucap Adelio panik, ditambah melihat bercak darah yang sudah mengotori pakaian istrinya.


"Akkhhhh....ssssaaakit,... ma" ucap Rania yang mengalami kesakitan yang luar biasa.


"Tenang nak, semuanya akan baik-baik saja. Cepat Nak Lio, Rania sudah mengalami kontraksi, kita harus segera membawanya ke rumah sakit" ucap Sarah panik.


Mereka segera membawa Rania ke rumah sakit terbaik negara A. Waktu yang selama ini mereka tunggu-tunggu akhirnya terjadi juga, dimana Rania akan melahirkan anak pertamanya.


Rania terus saja merengek mengelus perut buncitnya yang tengah duduk di kursi belakang bersama mamanya. Sedangkan Adelio duduk di kursi depan bersama sekretaris nya.


"Lebih cepat lagi" ucap Adelio khawatir kepada istrinya yang terus melihat ke belakang.


Tak terasa mobil yang membawa mereka tiba di rumah sakit terbaik negara A. Adelio segera menggendong istrinya dan membawanya masuk ke dalam rumah sakit diikuti Sarah dibelakangnya.


Dua perawat wanita menghampirinya sambil mendorong brankar. Adelio dengan hati-hati meletakkan tubuh istrinya di atas brankar kemudian mendorongnya bersama perawat.


Sarah memilih mengurus administrasi putrinya, setelah itu barulah menyusulnya. Sementara keluarga Adelio yang baru saja tiba di rumah sakit bergegas menyusul Rania yang tengah membawa beberapa perlengkapan untuk Rania dan calon bayinya.


"Huh huh.... akkhhhh"


Rania mencengkeram erat lengan Adelio yang kembali merasakan kontraksi. Adelio terus saja mendoakan keselamatan istri dan bayinya. Baru kali ini dia berdoa kepada sang pencipta.


Rania segera dibawah ke ruang persalinan. Adelio senantiasa mendampinginya. Dokter segera mengambil tindakan untuk pasiennya.


Keluarga besarnya hanya mampu menunggu di depan pintu ruang persalinan. Mereka semua hanya mampu mendoakan kelancaran persalinan Rania.


Kini Rania sudah berada di dalam ruangan dan tengah berbaring di atas tempat tidur pasien ditemani sang suami, sementara dokter sedang melakukan tugasnya memeriksa kondisi pasiennya.


Jauh-jauh hari Rania sudah berkonsultasi dengan dokter kandungannya perihal persalinannya. Namun keputusan dokter tak sesuai harapannya yakni persalinannya akan dilakukan secara Caesar. Padahal Rania ingin sekali persalinannya secara normal karena ingin merasakan kesakitan yang dialami seorang ibu.


Mata Adelio berkaca-kaca melihat perjuangan istrinya dan berusaha menenangkannya. Rania terus saja histeris kesakitan hingga cengkraman tangannya mulai kendur saat dokter mulai menyuntikkan obat bius sebelum melakukan operasi Caesar.

__ADS_1


"Tolong berjuanglah demi anak-anak kita. Selama ini aku belum pernah mengungkapkan perasaanku kepadamu. Asal kau tahu, aku sangat mencintaimu....aku sangat mencintaimu istriku" ucap Adelio dengan mata berkaca-kaca lalu mencium kening istrinya. Rania berusaha tersenyum mendengar ucapannya dan semakin semangat dengan persalinannya.


Para dokter bedah dan perawat sudah siap dengan peralatan medisnya, tapi sebelum memulainya mereka kompak memilih memanjatkan doa terlebih dahulu sebelum melakukan operasi.


Sudah hampir dua jam lamanya, belum ada tanda-tanda pintu ruang persalinan tersebut terbuka.


Raka dan Darren tampak mondar-mandir di depan pintu ruang persalinan. Keduanya terlihat khawatir dan harap-harap cemas memikirkan kondisi Rania bersama bayinya.


Ziva dan Sarah memilih duduk di kursi tunggu yang terus mendoakan putrinya di dalam sana. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang persalinan. Mereka pun tampak lega dengan perasaan campur aduk.


Pintu ruang persalinan terbuka, tampak dokter wanita yang baru saja menangani Rania berdiri di ambang pintu dengan raut wajah lelahnya.


"Bagaimana persalinan putri saya dok" ucap Sarah harap-harap cemas.


"Persalinannya berjalan lancar, nona Rania melahirkan bayi kembar berjenis kelamin laki-laki. Untuk saat ini nona Rania belum bisa ditemui. Setelah dipindahkan di ruang perawatan pihak keluarga boleh menemuinya" ucap Dokter tersebut menjelaskan.


"Alhamdulillah" ucap mereka kompak dengan penuh syukur.


Semua orang tampak bernafas lega mendengar kondisi Rania. Darren dan Ziva berpelukan dengan perasaan bahagia yang dikarunia cucu pertama, tentunya mereka bergelar kakek dan nenek. Sementara Raka dan mama nya masih di selimuti perasaan haru yang tengah duduk di kursi tunggu.


Tak lupa Ziva mengabari keluarganya yang berada di negara B. Termasuk anak dan menantunya, Adelia dan Malfin yang sudah beberapa bulan menetap di sana.


Sementara di ruang persalinan....


Adelio berulang kali menghapus air matanya yang terus menetes melihat perjuangan istrinya yang baru saja melahirkan buah hatinya. Adelio tak henti-hentinya mengucapkan kata syukur kepada Tuhan atas kelahiran bayinya.


"Terima kasih istriku, kau sudah berjuang keras untuk bayi kita" ucap Adelio lalu mencium kening istrinya. Bayangan perjuangan istrinya melahirkan buah hatinya melalui operasi caesar terus terlintas di pikirannya. Sedangkan Rania masih saja terpengaruh obat bius di dalam ruangan tersebut.


Rania begitu kekeh ingin melihat bayinya, sehingga mau tak mau Adelio membawanya ke ruangan tersebut dengan pengawasan dokter dan perawat yang menanganinya. Betapa bahagianya Rania dan Adelio melihat bayi kembarnya menempati boks bayi yang sedang tertidur pulas. Tak terasa air mata mereka mengalir dengan sendirinya melihat buah hati kembarnya.


Keesokan harinya.....


Rania sudah mendekap hangat kedua bayi kembarnya di dalam ruangannya, Adelio senantiasa mendampinginya. Rania dengan penuh kasih memberikan asi eksklusif untuk bayi kembarnya. Terlihat bayinya begitu lahap menikmati asi ibunya.


Adelio dan Rania tersenyum melihat bayi mungilnya. Mereka sangat bahagia bisa menjadi orang tua untuk anak-anaknya.


Terima kasih ya Allah atas anugerah terindah yang engkau titipkan kepada kami. Semoga anak-anak kami tumbuh dengan sehat dan menjadi anak Sholeh serta membanggakan kedua orang tuanya. Batin Rania.


"Wajahnya sangat mirip dengan mu, lihatlah persis ayahnya" ucap ucap Rania tersenyum.


"Terima kasih sayang, kau telah berjuang untuk bayi kembar kita" ucap Adelio sambil mencium kening istrinya yang begitu bahagia.


"Apa kamu sudah menyiapkan nama untuk bayi kita" ucap Rania tersenyum hangat yang masih menyusui bayinya.


"Tentu, jauh-jauh hari aku sudah menyiapkan nama untuk bayi kembar kita. Untuk anakku yang lahir pertama, aku memberinya nama Zaka Alexander dan yang lahir kedua aku memberinya nama Zaki Alexander" ucap Adelio tersenyum hangat sambil mengelus punggung bayi kembarnya yang bernama Zaka.


"Namanya sangat bagus, Zaka, Zaki. Aku sangat menyukainya dan lebih betah menyebutnya. Aku sangat bahagia bersamamu, ayah dari anak-anakku" ucap Rania tersenyum sambil mengelus punggung anaknya yang masih menikmati ASI-nya.


Adelio tersenyum sambil menggendong baby Zaka.


"Aku tak bisa menggambarkan kebahagiaan ku saat ini. Yang jelas, aku sangat-sangat bahagia bersama istri tercintaku, Rania Putri Ibrahim, ibu dari anak-anakku" ucap Adelio entengnya lalu mendaratkan ciumannya di kening istrinya. Rania tergelak tawa mendengar ucapan Adelio yang penuh cinta.

__ADS_1


Adelio dan Rania mulai bercanda gurau dan mulai memanggil nama bayi kembarnya.


Mereka mulai menikmati perannya sebagai orang tua. Merawat anak-anaknya dengan penuh kasih sayang dan penuh cinta. Bayi kembarnya adalah bukti cinta mereka berdua.


Adelio semakin dewasa dan semakin bijak menjadi kepala rumah tangga. Adelio mulai meninggalkan dunia hitamnya dan memilih kembali ke jalan benar. Adelio semakin cinta kepada istrinya dan senantiasa membantu istrinya merawat anak-anaknya, mereka begitu kompak membesarkan anak-anaknya.


Rania tak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan atas nikmat yang dilimpahkan kepada keluarganya. Suaminya sudah taat beribadah kepada Tuhan dan menjauhi segala larangan-nya.


Kebahagiaan terus menghampiri keluarga Alexander. Tahun berikutnya, giliran Adelia menjalani persalinan di negara B. Seluruh keluarga Alexander kembali berbondong-bondong ke negara B untuk menemani persalinan kesayangan Alexander.


Dan Alhamdulillah persalinan Adelia berjalan lancar tanpa adanya kendala. Pasangan Adelia dan Malfin dikaruniai sepasang bayi kembar yang sangat menggemaskan. Seluruh keluarga begitu bahagia atas kelahiran anak pertama pasangan Adelia dan Malfin.


Untuk Raka sendiri sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Raka memutuskan menikahi Sinta, perawat cantik yang merawatnya selama berada di klinik Alexander. Raka begitu bersikeras untuk mendapatkan cinta Sinta dan melakukan berbagai cara demi mendapatkan wanita pujaan hatinya. Kurang lebih satu tahun lamanya, hingga mampu meluluhkan hati wanita lugu yang berprofesi mulia yakni seorang perawat.


Penampilan yang sederhana namun terkesan menarik di mata seorang mantan cassanova seperti Raka. Hingga pilihannya jatuh kepada perawatnya sendiri dan memutuskan untuk menikahi nya. Raka sangat mencintai Sinta dan memilih membangun rumah tangga bersamanya di negara A. Dimana keluarganya berkumpul di negara tersebut.


šŸšŸšŸšŸ


Angin sepoi-sepoi berhembus kencang hingga menerbangkan topi pantai wanita bercadar. Gelak tawa anak kecil terdengar heboh berlarian mengambil topi pantai tersebut yang tergeletak di atas pasir putih. Sementara sosok pria di sampingnya dengan leluasa merangkul pinggangnya dan sesekali menciumi puncak kepalanya.


"Zaka, Zaki, kemari sayang" teriaknya memanggil anak kembar yang berlarian memegangi topi pantainya bahkan membawanya bermain pasir.


"Biarkan saja Ani, sebaiknya kita nikmati kebersamaan kita" ucap Pria tersebut lalu menggandeng tangannya.


"Tidak bisa mas Deli, lihatlah, anak-anak kita sedang bermain pasir kita harus menghampirinya" ucap wanita bercadar tersebut lalu menggandeng tangannya untuk menemui anak-anaknya.


Mereka adalah pasangan Adelio dan Rania yang begitu bahagia bersama keluarga kecilnya. Rumah tangganya pun semakin harmonis. Kini anak kembarnya sudah berusia tiga tahun yang sedang aktif-aktifnya menjajal dunia luar.


"Papa, mama, lihatlah kami membuat rumah pasir" ucap anak kembar tersebut dengan kompaknya.


"Masya Allah, bagus sekali. Ayo dilanjut sayang" ucap Rania sambil mengacungkan jempol untuk anak kembarnya.


Adelio tersenyum melihat tingkah menggemaskan anak kembarnya yang begitu bersemangat menikmati liburannya di pantai.


"Siapa yang berhasil menangkap mama, maka akan mendapatkan hadiah dari papa" ucap Adelio dengan seringai licik diwajahnya.


Zaka dan Zaki langsung melirik ke arah ibunya, kemudian mereka segera berlari untuk menangkapnya. Adelio tersenyum sinis dan juga melakukan hal yang sama seperti anak kembarnya.


"Apaan sih kamu mas" ucap Rania dengan mata melotot menatap suaminya, kemudian memilih memundurkan langkahnya.


Rania segera berlari kecil diiringi gelak tawa, anak kembarnya ikut tertawa terbahak-bahak mengejarnya. Sementara Adelio sudah menghadangnya di depan dan langsung menangkap tangannya kemudian mendekap tubuhnya.


"Yes kita berhasil" ucap Zaka dan Zaki dengan kompaknya melihat aksi heroik ayahnya, lalu mereka ikut menghambur memeluk ibunya.


Suara tawa bahagia keluarga kecil Adelio mulai terdengar di pinggir pantai. Adelio dan Rania tertawa terbahak-bahak bersama anak kembarnya. Sungguh kebahagiaan yang hakiki bagi pasangan suami istri itu bersama anak-anaknya. Bisa tertawa bersama dan menikmati momen kebersamaannya dengan penuh kegembiraan. Berawal dari luka dan berakhir dengan kebahagiaan.


TAMAT


Terima kasih untuk seluruh teman-teman yang selalu memberikan dukungannya terhadap cerita Mafia vs Gadis Bercadar Season 2 šŸ™šŸ™šŸ™


Baik berupa, like, love, komen dan vote serta berbagai dukungan lainnya, author sangat berterima kasih šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


Akhir kata, sampai jumpa di lain kesempatan šŸ¤—šŸ™


__ADS_2