
Sementara Adelio masih saja betah di dalam kamar Kendrick. Seharian mengelilingi kapal pesiar bersama orang kepercayaannya, hingga memilih beristirahat di kamarnya.
Adelio tak ingin kembali ke kamarnya, kabar kehamilan Rania lagi-lagi membuatnya pusing dan begitu kesal menerima kenyataan tersebut.
Kendrick berdiri tidak jauh dari nya merasa bingung dengan sikap atasannya yang tak kunjung kembali ke kamarnya.
"Sepertinya nona Rania sedang menunggu kedatangan anda" ucap Kendrick hati-hati.
Adelio meliriknya sambil menghela nafas panjang.
"Apa yang akan kau lakukan jika menghancurkan masa depan seorang wanita" ucap Adelio sambil menatap lurus ke depan melihat panorama alam.
"Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatan ku" ucap Kendrick enteng dan merasa curiga dengan ucapan atasannya.
"Jika kalian saling benci?" tanya balik Adelio.
"Ya aku tetap bertanggung jawab kepadanya tuan. Walaupun kami saling membenci tetap saja perbuatan ku salah, karena merusak masa depannya" ucap Kendrick yakin.
Sepertinya pembicaraan tuan ada kaitannya dengan nona Rania. Batin Kendrick curiga.
"Bagaimana jika dia mengandung anak orang lain" ucap Adelio dingin.
Kendrick terlonjat kaget mendengar ucapan atasannya.
"Aku tak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya, karena aku pun sudah ikut campur merusak masa depannya" ucap Kendrick hati-hati yang merasa bimbang dengan ucapannya.
"Sial!"
Adelio mengepalkan tangannya lalu bangkit dari duduknya. Adelio memilih meninggalkan Kendrick sambil membanting pintu kamar Kendrick.
"Ada apa denganmu tuan, mengapa sikapmu aneh. Apa jangan-jangan semua yang anda katakan ada kaitannya dengan nona Rania."
"Apa nona Rania hamil dan kamu meyakini bahwa anak dikandungnya anak orang lain, apa seperti itu" gumam Kendrick dan langsung menutup mulutnya yang hanya menduga-duga.
"Aku yakin Adelia pasti tahu masalah ini" ucap Kendrick yakin. Kendrick harus mencari tahu masalah yang dialami atasannya.
__ADS_1
šššš
Rania menengok ke arah pintu saat mendapati seseorang melangkah masuk di kamarnya. Rania segera bangkit dari duduknya melihat sosok yang dirindukannya berjalan ke arahnya.
Rania sedikit merapikan pakaiannya, sungguh dia ingin terlihat menarik di depan suaminya.
Dia semakin tampan saja, aku ingin kembali memeluknya. Batin Rania.
Sorot mata Adelio menatapnya tajam yang terus melangkah ke arahnya. Sementara Rania terus memancarkan senyuman manisnya di hadapan suaminya, pria yang sudah mengambil hatinya.
"Akhirnya kamu kembali, aku seharian ini bersama Adelia dan terus menayakan keberadaan mu" ucap Rania tersenyum manis.
Adelio sama sekali tak menimpali ucapannya. Adelio semakin tajam menatapnya. Rania mengulurkan tangannya untuk meraih tangan Adelio, namun terjadi aksi penolakan keras yang dilayangkan Adelio kepadanya yang memilih bersikadap.
Rania masih saja tersenyum manis tanpa rasa malu mendapati penolakan suaminya, hingga akhirnya Adelio memilih buka suara.
"Katakan siapa pria yang menghamili mu" ucap Adelio dingin sambil bersikadap menatap tajam Rania.
Senyuman Rania memudar di wajahnya saat mendengar ucapan Adelio yang langsung menuduh nya hamil anak orang lain.
"Bohong! Sebulan kamu tinggal bersama pria itu tidak mungkin kamu tidak menggodanya. Atau mungkin kalian sudah tidur bersama sampai kau mengandung anaknya" ucap Adelio dingin dengan wajah kesalnya.
"Aku meragukan kehamilan mu!" ucap Adelio dingin sambil mengepalkan tangannya.
Deg!
Sebilah pisau seperti menusuk jantung dan hatinya saat ini membuat Rania tersulut api amarah.
Rania langsung melayangkan tangannya menampar wajah Adelio yang tiba-tiba kembali diberikan keberanian.
Plakkk
Adelio mengepalkan tangannya menatap tajam Rania. Rania gadis pertama yang berani melayangkan tamparan di wajahnya.
"Aku bukan wanita hina yang kau maksud. Seujung kuku pun aku tak pernah membiarkan Alfhat menyentuh ku. Aku selalu menjaga kehormatan ku dari para pria. Kamu lelaki pertama yang menyentuhku bahkan melakukan nya secara paksa kepada ku" ucap Rania dengan mata memerah.
__ADS_1
"Memang aku sering menggoda mu karena kamu suamiku, apa aku salah. Aku hanya ingin membuat mu menyukaiku. Tapi, ternyata dugaan ku salah."
Rania begitu sakit hati mengatakannya hingga air mata bodohnya ikut mengalir dengan sendirinya. Rania begitu kesal menghapusnya.
"Baiklah, jika kamu meragukan kehamilan ku kita bisa membuktikannya dengan cara tes DNA. Yang jelas jika anak ku terbukti darah daging mu aku berjanji tak akan pernah menganggap mu sebagai ayahnya, ingat itu!" ucap Rania dengan amarah menggebu-gebu yang begitu sakit hati dengan tuduhan suaminya.
Rania berbalik badan yang tak ingin menunjukkan kesedihannya.
"Aku setuju! Kita buktikan dengan cara tes DNA. Jika anak itu terbukti bukan anakku, aku bersumpah akan membunuh kalian berdua dengan tanganku sendiri" ucap Adelio dengan amarahnya lalu bergegas meninggalkannya.
Rania menutup mulutnya agar suara isak tangisnya tidak terdengar. Hatinya benar-benar sakit seperti teriris pisau belati. Tubuhnya merosot di lantai, baru kali ini merasakan sakit hati yang teramat dalam.
"Aku salah mencintaimu..hiks..hiks...hiks, mulai sekarang aku tak akan pernah lagi mengais-gais mendapatkan cintamu. Hatiku terlalu bodoh hingga memilih mu."
Rania terisak dengan perasaan sesak di dada.
Seluruh perasaannya akan dia kubur dalam-dalam, dia akan berusaha menghapus nama Adelio di dalam relung hatinya.
Janinnya dalam kandungannya sudah diragukan kehadirannya.
"Aku akan terus menjaga janin dalam perutku. Dengar sayang, mama akan menjagamu, mama akan berusaha kuat menjagamu di dalam rahim mama" ucap Rania sambil mengelus perut ratanya yang tak ingin lagi menjadi lemah di hadapan Adelio.
Belum juga lahir, keberadaan janinnya sudah diragukan oleh ayah kandungnya. Cukup lama Rania menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.
Rania memilih menghentikan tangisnya, dia segera menghapus sisa-sisa air matanya dan kembali tersenyum. Rania dengan susah payah berdiri kembali.
"Tak baik jika aku terus bersedih seperti ini, ayo semangat Rania, kamu bisa melewati semua ini. Anak dalam rahimmu pasti ikut bersedih jika melihat mu bersedih. Aku harus menjaganya dengan baik, anak ini masa depanku" ucap Rania yang berusaha tersenyum.
Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar dan memilih berjalan masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Dia tak peduli lagi dengan Adelio. Anak yang dikandungnya sudah di ragukan keberadaan nya oleh suaminya sendiri. Biarlah waktu yang berbicara dengan semua ini.
Bersambung...
Jangan lupa like, love komen dan vote ya teman-teman ššš
Terima kasih ššš
__ADS_1