Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Terbongkarnya rahasia selama bertahun-tahun


__ADS_3

Adelia dan Malfin duduk bersama di balkom kamarnya menikmati langit malam. Keduanya hanya saling diam tanpa memulai obrolan sesekali mereka saling curi-curi pandang.


“Ehemm”


Malfin memilih berdehem untuk mengurangi kecanggungan mereka. Malfin mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Adelia. Adelia yang merasakan tangan dingin Malfin segera menoleh ke arahnya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan? “ tanya Malfin sambil menatap bola mata istrinya.


“Aku memikirkan kakak ipar, mengapa sampai sekarang belum ada kabar tentangnya” ucap Adelia dengan wajah murung nya.


Malfin segera menarik tubuh istrinya lalu memeluknya erat. Adelia hanya mampu menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


“Sudah berapa kali aku katakana bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kita pasti akan menemukan Rania. Aku tidak bisa melihatmu terus murung seperti ini”ucap Malfin sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar.


Adelia segera melepaskan pelukannya, tak sengaja pandangannya tertuju pada bercak darah di pakaian Malfin. Adelia terkejut lalu menyentuhnya dengan pelan. Pandangan Malfin ikut mengekori tangan Adelia yang sedang menyentuh lukanya.


“Kak Malfin” ucap Adelia lembut sambil mendongak menatap suaminya.


“Hemm” ucap Malfin dengan tatapan sendunya.


“Darah, apa kak Malfin terluka?” tanya Adelia dengan perasaan khawatir.


“Ooh ini luka lama dan sebentar lagi akan sembuh” ucap Malfin tersenyum tipis.


“Tunggu sebentar, aku akan mengobatinya” ucap Adelia dan segera bangkit dari duduknya.


Malfin hanya mampu menatap punggung Adelia masuk ke dalam kamar. Tak berselang lama kemudian, Adelia kembali muncul membawa kotak obat untuk mengobati luka Malfin.


Adelia kembali duduk di samping Malfin dan perlahan mendekat untuk membuka kancing kemeja Malfin. Sedangkan Malfin hanya mampu memperhatikan tingkah Adelia yang membuka satu persatu kancing kemejanya.


Deg!


Jantung Malfin langsung berdegup kencang manatap Adelia dengan jarak super dekat. Wajah cantik Adelia mengalihkan dunianya, Malfin begitu terpesona dan tak bisa mengalihkan pandangannya. Sedangkan Adelia dengan telaten mulai mengobati lukanya, memberinya obat merah lalu melilitkan kain kasa di dadanya yang hanya beberapa menit mampu mengobati lukanya.


Adelia mengerutkan keningnya menatap Malfin yang masih saja senyum-senyum menatapnya. Adelia melambaikan tangannya ke wajahnya untuk mengalihkan konsetrasi Malfin namun tetap saja tak bergeming dengan dunianya.


“Kak Malfin” ucap Adelia lembut sambil menyentuh pundaknya.


Malfin tersadar dari lamunannya dan langsung gelagapan. Malfin segera memegangi tengkuknya untuk mengurangi debaran jantungnya.

__ADS_1


“Terima kasih, kamu sudah mengobati luka ku” ucap Malfin tersenyum tipis.


Adelia ikut tersenyum dan senyumanya begitu manis di mata Malfin.


Sial, kalau seperti ini aku tak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya. Batin Malfin.


“Ayo kita masuk, udara di luar semakin dingin” ucap Adelia sambil membantu Malfin berdiri hingga pandangannya kembali bertemu dengan manik mata suaminya.


Adelia segera menundukkan pandangannya, dia begitu malu jika terus bersitatap dengan Malfin. Malfin membelai wajahnya membuat Adelia kembali menatapnya.


“Jangan terus menghindariku” ucap Malfin sambil membelai wajahnya, membuat Adelia semakin gugup saja dengan rona wajah memerah. Malfin yang mengerti sikap Adelia segera mencolek hidungnya.


“Iih kak Malfin” ucap Adelia cemberut sambil memukul kecil lengannya.


Malfin cengegesan melihat tingkah lucu Adelia lalu segera berjalan masuk ke dalam kamarnya, Adelia bergegas menyusulnya. Setelah itu mereka bergantian masuk ke dalam kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum tidur. Adelia sudah duduk di pinggir tempat tidur sambil menunggu kedatangan Malfin.


Adelia masih saja terlihat gugup, mengingat malam ini adalah malam pengantinnya bersama Malfin. Tampak Malfin baru saja keluar dari kamar mandi dan mendapati Adelia sedang melamun di pinggir tempat tidur. Malfin segera mendekatinya.


“Mengapa belum tidur” ucap Malfin tersenyum hangat.


“Ak-aku menunggumu, aku tidak ingin_” ucap Adelia menunduk yang begitu gugup berduaan dengan Malfin di dalam kamarnya.


“Aku tahu kita belum mengenal lebih jauh, aku tidak ingin kamu terbebani dengan hubungan ini. Biarlah waktu yang menjawabnya. Tapi bisakah kita memulai hubungan ini dengan cara berpacaran terlebih dahulu” ucap Malfin serius.


Malfin menaruh telunjuknya di bibir Adelia, sehingga Adelia tak mampu melanjutkan ucapannya.


“Aku tak ingin terlalu terburu-buru menjalani pernikahan ini. Aku ingin kita melakukannya jika sudah saling mencintai dan sama-sama menginginkannya. Jangan terbebani, sebaiknya kamu tidur terlebih dahulu, ada sesuatu hal yang harus ku urus” ucap Malfin dengan tatapan hangatnya sambil mengelus puncak kepala istrinya.


“Kak Malfin.”


Adelia kembali berhambur memeluknya sedangkan Malfin hanya bisa tersenyum tipis memeluknya. Setelah cukup lama saling berpelukan, Malfin memilih berpamitan kepadanya karena ada sesuatu hal penting yang harus dia urus.


Sementara di negara C....


Rania membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya berada di sebuah ruangan yang cukup luas. Rania menatap di sekelilingnya yang terasa asing baginya.


“Aku dimana” ucapnya dengan kepala sedikit pusing.


Rania terlonjat kaget melihat pakaiannya sudah berganti piyama tidur. Rania kembali mengingat kejadian sebelum dirinya dibawa kabur oleh Alfhat.

__ADS_1


“Alfhat.”


“Ya..Alfhat yang melakukannya dan aku sama sekali tidak mengingat kejadian setelahnya.”


Rania bergegas turun dari tempat tidur lalu bergegas masuk ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelah selesai, Rania melangkah mendekati pintu kamarnya dan kebetulan sekali tidak terkunci.


Rania melangkah keluar kamar untuk mencari keberadaan Alfhat.


Samar-samar Rania mendengar suara pembicaraan seseorang di lantai bawah. Rania bergegas untuk menemui mereka, Rania mengendap-endap menuruni anak tangga hingga dia mampu mendengar dengan jelas suara seseorang yang begitu di kenalin nya. Rania menghentikan langkahnya dan memilih untuk menguping.


“Bagaimana? Apa kau puas mendapatkan ponakan ku? “ ucap seseorang di bawah sana.


“Tentu, aku sangat bahagia bisa mendapatkan Rania. Asal kau tahu, aku melakukan segala cara demi bisa mendapatkannya. Membantu perusahaan kakak tersayangnya, membawanya bergabung dalam kelompok mafia The Posse dan demi cintaku padanya aku rela menjadikannya sebagai ketua mafia The Posse demi bisa melihatnya menjadi wanita hebat dan tangguh dengan motif balas dendamnya kepada keluarga Alexander. Tapi apa balasannya, Rania sama sekali tak pernah menganggapku ada, dia selalu saja menghindariku dan hanya mengaggapku sebagai sahabatnya, padahal aku menginginkan lebih dari itu” timpal teman bicaranya.


Rania langsung menutup mulutnya mendengar obrolan mereka.


Jadi selama ini Alfhat bersikap baik kepadaku hanya karena menyukai ku. Batin Rania.


Rania tak menyangka Alfhat melakukan semua itu karena menyukainya, dia pikir Alfhat membantunya dengan tulus tanpa adanya imbalan. Rania kembali mencodongkan kepalanya untuk melihat mereka. Rania kembali terkejut melihat paman nya bersama Alfhat duduk bersantai di sofa yang sedang menikmati minuman Alkohol.


Mengapa paman berada di sini dan mengapa paman seolah mendukung Alfhat? jelas-jelas aku sudah memiliki suami. Apa sebenarnya yang mereka inginkan dariku.


“Alfhat..Alfhat apapun harus dikorbankan demi sesuatu yang kau inginkan. Lihatlah diriku, Aku menjadikan ponakan tersayangku menjadi imbalan dalam kesepakatan kita. Sesuatu yang mahal harus dibayar dengan mahal. Sedari dulu aku meracuni pikiran kedua ponakan ku, Rania dan Raka, demi membalaskan dendam ku kepada keluarga Alexander."


"Aku terus menghasutnya dan memanas manasi mereka untuk mengikuti rencanaku dan selalu melakukan tipu muslihat tentang kematian ayah tersayang nya untuk mengadu domba mereka dengan keluarga Alexander. Tapi, tetap saja mereka begitu bodoh persis seperti ayahnya."


"Akulah penyebab ayahnya tewas! dengan cerdiknya aku memanipulasi keadaan dan mengkambing hitamkan keluarga Alexander. Aku sendiri yang mendorong ayahnya dari atas gedung lantai 30 milik Darren Alexander. Karena ayahnya sudah tak bisa di andalkan dan hanya menyusahkan ku, makanya aku membunuhnya ” ucap Zayn dengan seringai licik diwajahnya.


Rania yang mendengar ucapan pamannya begitu marah besar sambil mengepalkan tangannya. Orang yang selama ini dia percayai dan sangat bangga-banggakan rupanya duri dalam keluarganya.


Jadi rahasia sebesar ini di sembunyikan paman selama bertahun-tahun. Paman sendiri yang membunuh ayahku bukan keluarga Alexander. Dan paman terus mengatakan bahwa keluarga Alexander penyebab kematian ayahku, padahal paman lah pengkhianat di keluarga kami. Batin Rania.


Rania memejamkan matanya dengan emosi menggebu-gebu. Dia ingin menghajar mereka berdua. Namun Rania tidak ingin mengedepankan emosinya. Rania tetap berdiri di tempat persembunyiannya mendengar seluruh pembicaraan mereka.


“Ha ha ha…kau sangat cerdik. Apa kedua ponakanmu sudah mengetahui sifat asli mu? Ternyata paman yang mereka banggakan orang yang melenyapkan ayahnya sendiri. Dan Mengapa kau begitu terobsesi untuk membalaskan dendam mu kepada keluarga Alexander?” ucap Alfhat tersenyum sinis.


“Huh keluarga Alexander mengambil segalanya dariku. Darren Alexander merebut calon istriku dan menghancurkan pernikahan ku, harusnya aku yang menjadi suami Zivanna bukan dia. Segalanya dia hancurkan, bisnis, orang terkasihku semuanya hilang tak tersisa. Kematian kedua orang tuaku disebabkan oleh keluarga Alexander. Selama aku masih bernafas, aku akan terus membalaskan dendamku kepada Alexander” ucap Zayn dengan mata berkaca-kaca yang kembali mengingat masa lalunya.


Rania menutup mulutnya dengan mata berkaca-kaca. Dia tak menyangka Paman nya sendiri dalang di balik kehancuran keluarganya.

__ADS_1


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman 🙏🙏🙏


__ADS_2