
Rania terus berlari hingga tak sengaja bertabrakan dengan seseorang. Rania dan orang itu sama-sama membulatkan matanya hingga terjadi aksi saling pandang-pandangan.
"Tuan Adelio" ucap Rania dengan keterkejutan dan langsung berhambur memeluknya.
Hah...Pertemuan tak terduga. Akhirnya aku menemukan gadis gila ini. Batinnya.
Ya tidak salah lagi dia adalah Adelio. Sedangkan Adelio hanya diam seribu bahasa dan sama sekali tak melakukan penolakan di peluk oleh istrinya.
"Aku merindukanmu, aku tidak menyangka kamu datang mencari ku" ucap Rania diiringi Isak tangis bahagia.
Rania memeluk tubuh Adelio dengan eratnya, menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adelio, sungguh dia sangat merindukan suaminya. Sementara Adelio tak membalas pelukannya, apalagi sekedar menyapanya.
Air mata Rania terus mengalir hingga membasahi kemeja Adelio dan sesekali Rania mencubit kecil punggung tangannya berharap semua itu bukanlah mimpi.
"Sudah puas memelukku" ucap Adelio dingin.
Rania segera melepaskan pelukannya sambil menghapus sisa-sisa air matanya. "He he he belum, aku masih ingin memelukmu" ucap Rania malu sambil menunduk.
"Kamu berhutang budi kepadaku. Jangan terlalu bahagia dengan kedatangan ku, semua ini kulakukan demi bunda dan Adelia" ucap Adelio dingin dengan tatapan tajam.
"Aah iya, aku akan membayarnya dengan segenap jiwa dan ragaku. Terima kasih sudah datang mencari ku" ucap Rania tersenyum dengan perasaan lega dan bahagia.
Adelio segera menarik tangannya untuk mengikutinya, karena beberapa bodyguard Alfhat berjalan ke arah nya. Rania sempat terkejut melihat genggaman tangan Adelio. Hingga jantungnya berdebar-debar tak karuan dengan semburat merah merona di wajahnya.
Rania tersenyum bahagia di balik cadarnya mengikuti langkah kaki Adelio. Adelio segera membawanya ke sebuah kamar yang cukup tersembunyi dan sepertinya hanya kalangan bawah.
"Diam di situ, jangan cerewet. Aku harus menghubungi Kendrick" ucap Adelio lalu menjauh darinya.
"Baik." ucap Rania tersenyum.
Berbagai cara sudah kulakukan demi bisa kabur dari Alfhat, tapi semuanya sia-sia. Tapi sekarang, suamiku datang hanya untuk menyelamatkanku. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan, karena suamiku masih mengkhawatirkan ku. Batin Rania.
Adelio mulai berbicara dengan Kendrick lewat ponselnya. Tampak raut wajah Adelio begitu serius, entah apa yang sedang mereka bicarakan. Sementara Rania terus saja menatap punggung Adelio sambil senyum-senyum.
Adelio kembali melirik ke arah nya, membuat Rania gelagapan dan segera mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Adelio kembali berbalik badan menghadap ke arah pintu, membuat Rania mau tak mau kembali mengendap-endap menghampirinya.
Sebuah jemari mungil kembali melingkar di perutnya, membuat Adelio mengerutkan keningnya melihat siapa pelakunya.
"He he he sebentar saja, aku masih belum puas memelukmu" ucap Rania yang kembali memeluk Adelio dari belakang.
"Kau benar-benar gadis gila penggoda. Apa seperti ini kelakuan mu selama bersama Alfhat, cuman bisa menggoda pria itu " ucap Adelio kesal, tapi tetap saja membiarkan Rania memeluknya. Rania sama sekali tak mendengar ucapannya, biarlah dia di cap sebagai gadis penggoda toh sah-sah saja jika menggoda suaminya sendiri.
Rania melepaskan pelukannya dan tak lupa melepaskan cadarnya. Adelio sedikit risih jika terus berduaan dengan Rania, Adelio melangkah untuk menjauhinya, namun Rania lagi-lagi menarik tangannya.
"Tuan Adelio."
Mau tak mau Adelio mengalihkan pandangannya ke arahnya. Rania langsung berjinjit mendekatkan wajahnya ke wajahnya.
Cup
__ADS_1
Rania berhasil mengecup bibirnya, Adelio hanya mampu menatap tajam Rania dengan kelakuan Rania yang semakin nakal kepadanya.
"Hadiah untukmu" ucap Rania tersenyum manis yang merasa menang bisa mengelabui Adelio.
"Kau!... arrgghhh, sana menjauh dari ku" ucap Adelio kesal dengan wajah merona.
Berani-beraninya gadis gila ini menciumku. Batin Adelio.
Adelio memilih duduk di kursi kayu sambil memijit keningnya yang tengah memikirkan cara agar bisa membawa pergi Rania, mengingat orang-orang Alfhat pasti mulai sibuk mencari keberadaan Rania.
šššš
Sementara Alfhat marah besar tak mendapati Rania di dalam kamarnya. Dua pelayan wanita yang bersama Rania menjadi amukan kemarahannya.
"Kalian tidak becus menjaganya, cari sampai dapat. Tak ada harta yang paling berharga di dunia ini selain Rania, wanita ku.. kalian paham!" ucap Alfhat kesal yang berhasil memberi mereka pelajaran satu persatu pelayan itu.
Kedua pelayan wanita begitu ketakutan sambil memegangi pipinya yang berdenyut nyeri akibat tamparan keras dari tangan Alfhat. Mereka kembali mencari keberadaan Rania.
Alfhat kembali menghubungi Samar orang kepercayaannya untuk mengerahkan anak buahnya mencari keberadaan Rania.
"Aku yakin Rania masih berkeliaran di kapal pesiar ini" ucap Alfhat kesal lalu bergegas keluar dari kamar tersebut.
Alfhat berlalu menuju kamarnya. Jika Samar sudah turun tangan semua masalahnya akan teratasi.
Rania memegangi perutnya yang keroncongan. Hingga suara cacing-cacing nya mulai berdemo. Sudah waktu jam makan siang, namun Rania belum juga mengisi perutnya dengan makanan.
Adelio yang melihat gelagat Rania berbeda segera menghampirinya. Rania yang menyadari kehadiran Adelio segera buka suara.
"Jangan mimpi mengkhayalkan semua makanan itu, ini ambil" ucap Adelio ketus sambil memberikan sebungkus roti yang sempat di berikan nelayan tadi.
Rania menggeleng pelan melihat roti berjamur yang diberikan Adelio. Rania kembali mual dan segera berlari masuk ke kamar mandi. Adelio kembali mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Rania.
"Dia semakin aneh saja" gumam Adelio.
"Bisakah kamu membantuku mencari semua makanan tadi. Aku ingin sekali mencicipinya" ucap Rania dengan wajah memelas yang kembali mendekati Adelio.
"Kau ingin tertangkap hah" ucap Adelio dengan suara satu oktaf.
"Hiks hiks hiks, aku lapar, dan hanya ingin memakan makanan yang sudah ku jelaskan tadi" ucap Rania sambil berpura-pura nangis di hadapan Adelio.
"Baiklah, aku akan meminta Kendrick mencarikan makanan untuk mu" ucap Adelio mengalah sambil menghembuskan nafasnya kasar. Lagi-lagi Rania berhambur memeluknya.
"Terima kasih, kamu sangat baik kepada ku" ucap Rania tersenyum sambil menghirup aroma tubuh Adelio yang membuatnya nyaman.
"Hemm"
"Bolehkah aku mencium mu" ucap Rania sambil mendongak menatapnya.
Tatapan tajam Adelio membuat Rania tergelak tawa dan kembali menyembunyikan wajahnya. Tak berselang lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari kamar yang berukuran kecil itu.
__ADS_1
Adelio tampak waspada sambil meminta Rania bersembunyi lewat ekor matanya. Rania yang mengerti maksudnya segera bersembunyi di kamar mandi.
Adelio membuka perlahan pintu kamar itu dengan waspada dan mendapati Kendrick berdiri di depan pintu kamar itu yang sedang menenteng bungkusan makanan.
"Ini yang anda minta tuan."
Adelio segera mengambil bungkusan makanan itu.
"Kapan kapal pesiar itu datang, aku tidak ingin terus bersembunyi seperti ini" ucap Adelio dingin.
"Kemungkinan malam ini tuan, Morgan bersama kawan-kawannya juga menumpangi kapal pesiar tuan. Mereka ingin liburan bersama sambil menjelajah lautan untuk menyaksikan dolphin di pertengahan musim semi" ucap Kendrick menjelaskan.
"Hemm, terus pantau mereka dari jauh" ucap Adelio dan segera menutup kembali pintu kamarnya.
Sementara Kendrick bergegas meninggalkannya, takutnya ada yang melihat keberadaan mereka.
Mata Rania berbinar melihat Adelio menenteng bungkusan makanan. Adelio meletakkannya di atas meja. Rania segera mendekat dan langsung menarik kursi untuk didudukinya.
Aroma lezat makanan membuat Rania sudah tak sabaran untuk mencicipinya. Rania membuka bungkusan makanan itu dan semuanya sesuai yang dia inginkan.
Tak lupa Rania berdoa dan langsung memakan makanan tersebut dengan lahapnya. Adelio tersenyum tipis melihat cara makan Rania yang belepotan mirip anak kecil.
"Ini untuk mu, sepertinya kamu juga lapar" ucap Rania sambil menyodorkan buah anggur untuk Adelio.
"Tak perlu, habiskan saja" ucap Adelio dan memilih meminum air mineral. Adelio hanya memperhatikan Rania menghabiskan makanan tanpa sisa.
"Rakus juga, kecil-kecil doyan makan" gumam Adelio menyeringai.
Rania hanya tersenyum yang kembali meminum jus buahnya. Sungguh Rania sangat bahagia bisa berduaan dengan Adelio hingga malam hari. Mereka hanya bisa duduk bersama, dan terkadang Rania bercanda gurau yang sama sekali tak pernah diladeni oleh Adelio.
Terdengar suara gebrakan pintu dari luar membuat Adelio dan Rania begitu waspada.
"Buka pintunya atau kami menghancurkan pintu kamar ini" teriak seseorang dari luar.
Adelio segera menggenggam tangan Rania dan membawanya bersembunyi di balik pintu.
Brakkk
Pintu kamar itu berhasil di gebrak ketiga pria bertubuh kekar.
"Mana mereka" ucap salah satu mereka sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Rania.
Adelio dan Rania segera menghajar mereka. Sehingga terjadi aksi perkelahian, Rania begitu lihai melawan pria bertubuh kekar itu, setelah melihat ada celah, Rania langsung melayangkan tendangannya ke tubuh terlarang si pria, hingga pria itu bertekuk lutut di hadapan nya. Sementara Adelio sudah melumpuhkan kedua pria tadi.
Adelio segera menggenggam tangan Rania dan membawanya untuk mencari tempat yang aman. Rania tertawa terbahak-bahak berlari bersama Adelio, momen tersebut membuatnya bahagia.
Bersambung.......
Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman šš¤
__ADS_1
Terima kasih ššš