Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Canggung


__ADS_3

Suasana di sebuah kamar mewah sangat berbeda pagi ini. Benih-benih cinta mulai bersemi untuk pasangan suami istri di dalam kamar tersebut. Memang cinta tak bisa di tebak dan tahu kapan datangnya.


Tampak pasangan suami istri saling curi-curi pandang yang tengah bersiap-siap di dalam kamarnya, yang tidak lain adalah pasangan Adelio dan Rania.


"Pilihkan dasi untukku" ucap suara bariton seorang pria.


"Ah iya suamiku."


Wanita cantik dengan wajah berseri-seri segera mengikuti perintahnya memilih dasi yang cocok untuk suaminya. Wanita tersebut tidak lain adalah Rania. Senyuman manis selalu saja terpancar di bibirnya


"Mana ya yang cocok untuknya" gumam Rania sambil memilih dasi berbagai corak dan warna.


Sementara Adelio sedang berdiri di depan cermin yang tengah mengancing kemejanya. Lirikan matanya sesekali melirik ke arah cermin yang menampilkan sosok Rania di dalamnya.


"Emm sepertinya dasi ungu ini sangat manis, hehehe."


Rania tersenyum mengambil dasi yang menjadi pilihannya. Kemudian bergegas menghampiri Adelio.


"Ini dasinya, aku sangat suka dengan warnanya" ucap Rania tersipu malu sambil menyodorkan dasi pilihannya.


Adelio mengerutkan keningnya melihat dasi pilihan Rania. Tapi sebisa mungkin dia tetap memakluminya. Adelio mengambil dasi tersebut, kemudian segera memakainya.


Rania tersenyum melihat dasi pilihannya tetap di pakai oleh Adelio.


"Sangat cocok untukmu" ucap Rania tersenyum sambil merapikan kerah kemeja Adelio.


Adelio hanya meliriknya sambil merapikan tatanan rambutnya. Sedangkan Rania memilih mundur menyadari tingkahnya kelewat batas. Rania memilih melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tersebut.


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Adelio yang berhasil menghentikan langkah Rania.


"Sedikit mendingan. Aku berencana untuk memeriksakannya setelah pulang dari salon" ucap Rania sambil menundukkan pandangannya.


"Hemm, setelah selesai kamu harus segera kembali. Aku tidak ingin bunda mengkhawatirkan mu" ucap Adelio sambil meliriknya.


"Baik, aku akan segera kembali" ucap Rania tersenyum sambil memegangi cadarnya.


Mereka keluar bersama dari ruang ganti. Rania tersenyum mengelus perutnya. Entah mengapa semenjak bangun pagi dia sangat bahagia dan selalu saja tersenyum.


"Ayo, bunda sudah menunggu kita" ucap Adelio sambil menenteng tas kerjanya.


Rania mengangguk kemudian mengikuti langkah kaki Adelio keluar kamar. Mereka berjalan beriringan dan sesekali saling curi pandang.


Hingga tanpa sadar Adelio meraih tangan Rania kemudian menggenggamnya. Rania tersenyum tipis melihat tangannya di genggam oleh Adelio. Begitu halnya yang dilakukan Adelio memilih buang muka agar senyumannya tak terlihat.


Sepertinya aku harus memanfaatkan kesempatan ini. Tapi, tidak.. tidak, aku tidak boleh terlihat menyukainya sebelum dia mengakui darah dagingnya. Batin Rania.


Rania memilih berjalan lambat di samping Adelio.


"Tak perlu menggenggam tanganku, aku tidak terbiasa....uuuu..... aaaaaa_" ucap Rania yang tidak mampu melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Bagaimana jika seperti ini" ucap Adelio yang sudah menggendong Rania.


Rania langsung berpegangan erat di leher Adelio. Wajah Rania langsung merona yang sudah tak mampu berkata-kata lagi. Ingin rasanya dia bersorak gembira sekarang juga.


"Aku berat tau, cepat turunkan aku" ucap Rania sok jual mahal.


"Aku tidak akan menurunkanmu, kamu harus terbiasa mulai sekarang" ucap Adelio tegas.


Ada apa dengannya? mengapa sikapnya berubah total. Mungkin dia lupa meminum obat arogannya. Batin Rania.


Rania senyum-senyum sendiri sambil menyembunyikan wajahnya di dada bidang Adelio. Sementara Adelio berusaha menyembunyikan senyumannya.


Pasangan suami istri itu tampak romantis masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai dasar. Mereka saling diam-diaman yang tampak canggung.


Kedua orang tua Adelio langsung membelalakkan matanya melihat Adelio menggendong Rania. Mereka langsung bangkit dari duduknya. Oma dan opa nya yang juga berada di meja makan ikut terlonjat kaget melihat pasangan suami istri itu.


"Apa yang terjadi dengan Rania" ucap Ziva khawatir sambil berjalan menghampirinya.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bunda, aku hanya ingin menggendongnya" ucap Adelio dengan tatapan hangatnya.


Seluruh keluarga Adelio bernafas lega hingga gelak tawa terdengar di ruang makan. Adelio tersenyum tipis melihat tingkah laku orang-orang tersayang nya.


"Syukurlah, bunda pikir Rania kenapa-kenapa. Kalian sangat romantis dan benar-benar cocok" ucap Ziva tersenyum lebar.


Rania tersipu malu menjadi pusat perhatian keluarga Adelio. Sementara Adelio tersenyum hangat menatap bundanya.


"Baiklah, aku akan menurunkan mu."


Adelio segera menurunkan Rania, hingga tas kerjanya ikut terjatuh. Adelio dan Rania refleks sama-sama membungkukkan badannya untuk mengambil tas tersebut, namun siapa sangka kepala mereka berbenturan.


"Awwww"


Mereka kompak memegangi kepalanya hingga jelas sekali Adelio berdengus kesal. Suasana kembali canggung di antara mereka berdua. Hingga Rania yang mengambil tas kerja Adelio lalu menyimpannya di atas meja.


Sementara Adelio memilih duduk di kursi bergabung dengan keluarganya. Kemudian Rania ikut duduk bersama mereka.


"Sayang, jangan lupa diminum susu hamilnya ya" ucap Nyonya Ira tersenyum yang kembali memperingatkan cucu menantunya.


"Iya Oma" ucap Rania sambil menarik kursi untuk didudukinya.


Adelio kembali melirik Rania yang belum juga menyentuh makanannya. Entah mengapa lirikan mata Adelio membuat jantung Rania dag dig dug.


"Emm manisnya buah strawberry" gumam Rania sambil mengunyah buah strawberry dan tak ingin terlihat canggung dengan Adelio.


Pasangan suami istri itu kembali curi-curi pandang di meja makan. Hingga kedua orang tua Adelio geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Selesai sarapan bersama, Adelio kembali menarik tangan Rania untuk mengikuti langkahnya.


"Ingat! jangan keluyuran di luar" ucap Adelio dingin sambil menunjuk kening Rania.


"Iya-iya, aku akan merekam seluruh kegiatan ku selama berada di luar biar kamu percaya" ucap Rania ketus.

__ADS_1


"Kau punya ponsel?" tanya Adelio dengan tatapan dinginnya.


"Iya dong" ucap Rania entengnya dan langsung menutup mulutnya menyadari ucapannya.


"Mana, perlihatkan kepada ku" ucap Adelio sambil mendekatkan wajahnya.


"Ponsel Adelia, ya... ponsel Adelia. Eeh maksudku ponsel Adelia_."


Rania meremas ujung hijabnya. Aduhh bagaimana ini. Batin Rania.


"Katakan sejujurnya, jangan bertele-tele" ucap Adelio sambil menyilangkan kedua tangannya menatap tajam Rania.


"Adelia memberiku hadiah ponsel. Jika kamu ingin mengambilnya dariku, ini ambil saja" ucap Rania sambil menyodorkan ponselnya.


Rania merutuki kebodohannya saat ini. Adelio mengambil ponselnya kemudian memainkannya beberapa menit. Rania yang sudah tak tahu harus berbuat apa-apa memilih memeluk Adelio.


Adelio langsung membeku di tempatnya hingga jantungnya ikut memompa lebih cepat.


"Bodoh, mengapa nomor ponsel ku tak ada dikontak mu" ucap Adelio yang merasa canggung di peluk.


"Aku tak tahu nomor ponselmu. Aku tak berani memasukkan nomor ponselmu di ponselku" ucap Rania pelan.


Adelio segera melepaskan pelukan Rania. Tiba-tiba perasaannya menjadi aneh dan canggung berdekatan dengan Rania.


"Aku berangkat ke kantor" ucap Adelio gugup.


Adelio bergegas masuk ke dalam mobilnya. Kendrick tersenyum menutup pintu mobil nya.


"Hei tunggu dulu, tas kerjamu" teriak Rania sambil berjalan menuju mobil Adelio.


Rania membuka pintu mobil Adelio, namun tiba-tiba tubuhnya ikut diseret masuk ke dalam mobil.


Tak berselang lama kemudian, Rania turun dari mobil. Sedangkan mobil Adelio mulai melaju meninggalkan kediamannya.


Rania berlari kecil masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Hijabnya sudah miring ke kanan bahkan cadarnya ikut berantakan. Rania bersandar di dinding sambil senyum-senyum, tangannya terulur menyentuh bibirnya.


"Ahhhh...dia mulai hobi menciumku" gumam Rania tersenyum.


"Bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati kepadanya jika terus seperti ini. Hatiku bahkan tak ingin lepas darinya."


Rania tersenyum sambil memejamkan matanya mendengar debaran jantungnya. Sungguh perasaannya saat ini dipenuhi bunga-bunga yang bermekaran.


Sementara suara tawa terdengar di dalam mobil Adelio. Kendrick hanya mampu memicingkan matanya melihat di kaca mobil tingkah laku atasannya di belakang sana.


Apa yang terjadi, mengapa tuan sebahagia ini. Batin Kendrick.


Bersambung.....


Terima kasih atas dukungannya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2