
Adelio segera menjauh dari Rania, sebisa mungkin Rania terus menyeret tubuhnya bersimpuh di kaki Adelio. Rania bahkan memeluk erat kaki Adelio.
Suara teriakan yang menyayat hati terdengar pilu di indra pendengarannya. Sang kakak dan Bodyguardnya sudah histeris merasakan kesakitan yang teramat dalam dari siksaan ketua mafia The Tiger.
"Ku mohon ampuni mereka tuan, aku siap menjadi budak di keluarga mu seumur hidup ku. Jangan bunuh mereka, hiks hiks hiks" ucap Rania disertai isak tangisnya.
Rania luruh memeluk erat kaki Adelio dan tak ingin melepaskan nya.
"Minggir, kau menghalangi jalanku" ucap Adelio dingin sambil menarik kesal kakinya yang dipeluk oleh Rania.
"Aku minta maaf atas perbuatan ku, aku benar-benar menyesal menyelakai kembaran mu tuan"Ucap Rania memilih menurunkan egonya demi keselamatan orang terdekatnya.
Adelio hanya menyeringai, lalu mendorong kesal tubuh gadis itu agar menjauh darinya.
"Aku tak butuh kata maaf mu, dia akan mendapatkan penyiksaan selama Adelia masih terbaring koma. Mau itu sebulan, setahun, kami tidak akan membunuh mereka, selagi mereka sendiri yang memilih mengakhiri hidupnya" ucap Adelio dingin dan berlalu menuju ruang kerjanya.
"Tuan, jangan lakukan itu, Ku mohon!" Rania menangis tersedu-sedu menatap Adelio yang semakin menjauh darinya.
Rania berusaha bangkit dan segera mengejar Adelio.
Brakkk
Adelio membanting pintu ruang kerjanya. Rania segera berlari untuk bisa masuk di ruang kerja Adelio, tapi sayang nya pintu itu sudah tertutup rapat.
"Ku mohon buka pintunya!, tolong maafkan aku. Aku yang bersalah disini, aku tak ingin mereka menderita karena ulahku."
Rania berusaha menggedor pintu ruangan itu. Sebisa mungkin Rania berteriak memohon ampun kepada kebanggaan Alexander. Sedangkan Adelio sama sekali acuh dan tak ingin mendengarkan suara gadis licik itu yang sudah mencelakai kembaran nya.
"Jangan sakiti kak Raka, Min, paman dan mama, hanya mereka yang ku sayangi. Mama....mama.....hiks hiks hiks, tidak...jangan buat mama ku ikut menderita....hiks hiks hiks ku mohon...maaf.... maafkan aku."
Rania terus menggedor pintu ruangan itu dengan tangis yang semakin pecah. Rania kembali merosot ke lantai sambil memegangi dadanya yang begitu sesak.
Hanya semalam, seluruh keluarganya harus menanggung derita akibat perbuatannya sendiri. Sifat tamak, dendam membara dan merasa paling kuat di negeri ini membuatnya harus menelan pil pahit yang teramat dalam. Dan mungkin dia terus mengingat mimpi buruk itu sepanjang masa.
Rania memeluk lututnya yang berderai air mata. Air matanya ikut membanjir membasahi wajahnya yang tengah berduka, padahal dirinya tipikal orang yang susah nangis dan tak ingin air matanya ikut merasakan kesedihannya.
Sekarang, air matanya ikut turun tangan menghiasi kesedihannya. Rania terus saja menangis dan memohon ampun kepada Adelio sambil terus menggedor pintu ruangan itu, berharap orang di dalam sana masih memberinya sedikit keringanan terhadap keluarganya.
__ADS_1
Tak henti-hentinya Rania menangis hingga dia pun begitu lemas dan langsung terbaring di depan pintu ruangan itu. Tak peduli dengan tubuhnya saat ini, karena hati dan mentalnya sudah tergores belati tajam yang semakin dalam.
Pagi menyapa, tak ada yang berubah di kediaman Alexander. Para pelayan kembali disibukkan dengan pekerjaannya, begitu halnya dengan pekerja lainnya.
Hanya saja, sang majikan belum juga kembali hingga detik ini. Mereka semua ikut prihatin atas musibah yang menimpa nona muda nya dan berharap nona muda nya segera diberikan kesembuhan.
Sementara di lantai 3, tak ada tanda-tanda akan bangun nya penghuni di lantai itu. Sepasang suami istri yang bermusuhan dan tak ada titik terang keduanya bisa berbaikan.
Tampak gadis meringkuk di depan pintu yang terdengar masih terisak, namun tubuhnya sepertinya sedang beristirahat dengan mata terpejam. Kondisi gadis itu benar-benar tersiksa dan memperihatinkan.
Tiba-tiba pintu ruangan yang semalaman di gedor-gedor terbuka lebar. Sang pemilik ruangan itu, hanya menyelonong keluar tanpa ingin melihat gadis yang tengah berbaring di depan pintu ruangannya.
Adelio berjalan menuju kamar mandi, raut wajahnya juga terlihat lelah. Mungkin pria itu semalaman kurang tidur dengan musibah yang menimpa keluarganya.
Adelio menanggalkan seluruh pakaiannya dan memilih berdiri di bawah shower. Guyuran air dari shower mulai membasahi seluruh tubuhnya dan mampu menjernihkan pikirannya. Adelio melanjutkan ritual mandinya dengan tenang dan rileks.
Selesai membersihkan tubuhnya, Adelio menyambar handuk yang tersedia di kamar mandi. Adelio segera keluar dan kembali mendapati Rania masih meringkuk di tempatnya semula.
Tak ingin membangunkan gadis itu, Adelio memilih berjalan ke ruang ganti untuk mengenakan pakaiannya. Kini Adelio sudah rapi dengan setelan jasnya. Pria tampan itu segera melangkahkan kakinya keluar kamar.
"Tidak tuan, tuan Fino dan nyonya Milan kembali di kediamannya. Nyonya Milan sempat mengabari saya bahwa dia akan menginap di kediamannya" ucap Bu Lastri.
"Oh. Ehh bekal makanan dan baju ganti untuk ayah dan bunda sudah kamu siapkan apa belum?" ucap Adelio kembali.
"Sudah tuan muda, saya dan pak Kuncoro sudah siap-siap ke rumah sakit." ucap Bu Lastri.
"Hemm ya sudah, pergilah" ucap Adelio dingin dan berlalu menuju ruang makan untuk sarapan pagi.
Adelio duduk di meja makan seorang diri dengan makanan yang sudah tersaji. Biasanya dia berkumpul bersama keluarganya, tapi kali ini momen bahagia itu tidak terjadi lagi. Adelio segera menikmati sarapannya, secangkir kopi hitam dan sepotong sandwich.
Selesai sarapan, Adelio segera melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Tampak Kendrick sudah berdiri di samping mobilnya.
"Kita ke rumah sakit" ucap Adelio lalu bergegas masuk ke dalam mobil.
"Baik tuan" ucap Kendrick cepat dan ikut menyusul masuk ke dalam mobil.
Mobil yang mereka tumpangi mulai melaju kencang meninggalkan kediamannya. Tujuannya kali ini adalah ke rumah sakit untuk menjenguk Adelia.
__ADS_1
Hanya 40 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Kendrick terlebih dahulu memarkirkan mobilnya di area parkir, setelah itu membukakan pintu mobil untuk atasannya.
"Aku tidak ke kantor, urus segalanya dengan baik" ucap Adelio.
"Baik tuan, ku harap Adelia cepat sembuh. Saya belum menjenguknya sampai detik ini berhubung_"
"Aku memaklumi mu dan tak sembarang orang bisa menjenguk Adelia" potong Adelio lalu melangkahkan kakinya masuk ke rumah sakit.
Sementara Kendrick kembali melajukan mobilnya menuju perusahaan Lion Group.
Adelio tak jadi masuk di ruang perawatan Adelia, dia sudah memegang handel pintu ruangan itu, namun suara ayahnya menghentikannya.
"Malfin dan bunda yang sedang menjaga Adelia. Kita tunggu saja sampai mereka keluar" ucap Darren lalu memilih duduk di kursi tunggu khusus untuk kamar perawatan kelas terbaik.
Adelio ikut duduk di samping ayahnya. Dia bersandar sambil bersikadap menatap ke arah pintu masuk.
"Kamu tidak ke kantor?" tanya Ayahnya.
"Aku ingin menjaga Lia ayah" ucap Adelio.
"Baiklah, jangan terlalu pusing dengan masalah ini, kita bisa bersama-sama melewatinya" ucap Darren sambil menepuk pundak putranya.
Adelio hanya manggut-manggut mendengar ucapan ayahnya.
Sementara di dalam sana. Malfin duduk di kursi samping tempat tidur Adelia. Sementara di sofa, bunda Ziva sedang menjalankan ibadah sunahnya.
Malfin menatap wajah Adelia yang pucat pasih dengan kain perban yang melilit di kepala Adelia. Malfin mengulurkan tangannya menggenggam tangan Adelia.
"Lia, ku mohon bangunlah. Aku ingin melihat mata indahmu. Bukankah sebentar lagi kita akan berumah tangga, tolong bangunlah, Aku ingin hidup bersamamu dalam berumah tangga, aku berjanji akan membahagiakan mu. Aku benar-benar tersiksa melihat mu terbaring seperti ini. Cepat sembuh, aku sangat menyayangimu" ucap Malfin dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh Malfin tak sanggup melihat orang yang disayanginya menderita. Sekejam-kejamnya dirinya, hatinya tetap lunak melihat kondisi keluarganya seperti ini.
Bersambung
Jangan lupa like, love komen dan vote ya π€
Insyaallah, kalau ada waktu, author bakal lanjut lagiπ
__ADS_1