Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Baby twins


__ADS_3

Sehari pasca kejadian yang hampir membahayakan nyawa Rania membuatnya harus menjalani perawatan di klinik Alexander selama tiga hari lamanya.


Seluruh keluarga Alexander begitu mengkhawatirkannya bahkan mulai ekstra menjaganya. Mereka mulai berbondong-bondong menjenguk Rania setiap harinya untuk memastikan kondisi Rania yang sebenarnya.


Terutama Adelio dan Raka begitu ekstra menjaga Rania. Mereka saling akrab dan mulai kompak jika Rania menginginkan sesuatu. Itulah hikmah dibalik kejadian yang hampir meredang nyawa istri Adelio Alexander Damanik, mendamaikan dua pihak yang saling bermusuhan.


Untuk Raka sendiri kondisinya semakin membaik. Raka tetap menempati ruang perawatannya, akan tetapi hampir setiap waktu Raka menjenguk adik kesayangannya.


Seperti malam ini, Raka kembali berkeliaran untuk menjenguk Rania yang masih dalam pengawasan Sinta sang perawat yang selalu merawatnya selama berada di klinik.


"Dimana dokterku? seharian ini aku tak pernah melihatnya" ucap Raka yang sedari pagi tak melihat Dokter Nisa.


"Maksud mas Raka dokter Nisa?" ucap Sinta pelan yang memperjelas ucapan Raka. Sinta dengan setia mengikuti langkahnya.


"Hemm" ucap Raka acuh dan terdengar kesal.


"Dokter Nisa mulai cuti hari ini mas. Seminggu lagi pesta pernikahan dokter Nisa akan dilaksanakan" ucap Sinta menjelaskan. Pasalnya dia begitu akrab dengan dokter Nisa dan mampu mengetahui perihal pernikahan sahabatnya.


"Oh, kamu boleh pergi" ucap Raka yang menghentikan langkahnya pas di depan pintu ruangan Rania.


"Baik mas, Eehh..... sebenarnya Dokter Nisa menitipkan undangan untuk mas Raka beserta keluarga. Nanti saya bawakan di ruangan mas Raka" ucap Sinta tersenyum ramah.


Raka hanya diam dan terlihat cuek mendengar ucapan Sinta. Kemudian dia pun berlalu masuk ke ruangan tersebut.


"Sial, bisakah kalian tak bermesraan di ruangan. Aku jadi iri hampir setiap waktu melihat kalian bercumbu mesra. Kalau perlu pulang ke rumah sekalian untuk melakukannya" ucap Raka kesal memergoki pasangan suami istri itu bermesraan.


Rania tersenyum mendengar ucapan kakaknya, sedangkan Adelio terlihat kesal karena aksinya kembali diganggu.


"Dasar sirik, sana nikah jangan terus menjomblo." ejek Adelio sambil mendekap hangat istrinya.


"Iya-iya, nanti aku cari wanita yang terbaik, bisa menerima kekurangan ku dan menerima keluarga ku" timpal Raka kesal yang semakin cemburu melihat kemesraan mereka.


Raka memilih keluar dari ruangan tersebut, jika terus berada di dalam sana matanya ikut ternodai. Kebetulan orang tua mereka tak menginap di klinik tersebut. Sedangkan Rania tertawa bersama Adelio.


"Kasian kak Raka, setiap waktu memergoki kita bermesraan. Terlebih lagi dokter Nisa akan segera menikah. Semoga kak Raka cepat mendapatkan pasangan yang terbaik" ucap Rania tersenyum sambil mengelus lengan kekar suaminya.


"Hemm, sebaiknya kita tidur Ani" ucap Adelio lalu mencium puncak kepala istrinya.


Rania tersenyum sambil membelai wajahnya. Sementara Adelio mengelus perut buncitnya.


"Aku ingin sekali melihat anak kita. Bukankah besok jadwal untuk memeriksakan kandungan mu" ucap Adelio sambil memejamkan matanya.


"Benar, darimana kamu tahu. Biasanya kamu tak pernah tahu jadwalku memeriksakan kandungan" timpal Rania curiga.

__ADS_1


"Semua tentangmu aku tahu, jadi jangan heran jika aku tahu jadwal penting itu" ucap Adelio tersenyum tipis yang tetap memejamkan matanya.


Rania tersenyum tipis lalu berbalik badan menghadap ke arahnya. Rania membelai wajahnya dari mata hingga turun di rahangnya.


"Jangan menggodaku Ani, aku tidak bisa mengontrol diriku jika kau terus melakukannya" ucap Adelio memperingatkan yang sudah membuka matanya.


"Kamu takut melakukannya di ruangan ini?" tanya Rania dengan suara menggoda yang tak menghentikan aksinya.


"Ruangan ini tak nyaman untuk melakukannya Ani" tegas Adelio yang langsung menangkap tangannya.


Rania menatap manik mata Adelio yang sedang diselimuti gairah nafsu. Rania menjadi kasihan dengannya yang hampir seminggu tak menuntaskan hasratnya.


"Ya sudah, bawa aku kabur. Besok pagi kita kembali kesini" ucap Rania tersenyum sinis. Sedangkan Adelio segera melepaskan tangannya dan memilih menundukkan pandangannya.


"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Kau sedang sakit dan butuh_"


Adelio tak mampu melanjutkan ucapannya, telunjuk Rania sudah menempel di bibirnya.


"Benarkah, terus apa yang menggelitik pahaku" ucap Rania mengejek sambil mengelus dadanya.


"Hentikan Ani! Baiklah, aku akan membawamu kabur. Ingat, aku tidak akan melepaskanmu malam ini" tegas Adelio dengan tatapan tajam.


Rania tergelak tawa sambil memukul pundaknya.


Rania membulatkan matanya saat tubuhnya sudah di gendong oleh suaminya. Dia pikir Adelio tidak tergoda dengan rayuannya. Rania tersenyum tipis sambil berpegangan erat di leher Adelio.


Mereka meninggalkan klinik tersebut menuju kediaman orang tua Adelio.Tempat tersebut tak cocok bagi mereka untuk melakukan aktivitas malam bersama.


Sedangkan Raka kembali ke ruangannya yang sudah menjadi kamar tidur ternyamannya selama berada di klinik. Raka duduk di tempat tidur sambil menghadap ke arah jendela.


Kondisinya semakin membaik dan tak ada lagi yang perlu dikhawatirkan, namun dia masih perlu mengonsumsi obat-obatan sesuai anjuran dokter. Dan masih butuh pengawasan oleh pihak medis.


Puas memandangi langit malam, Raka memilih mengistirahatkan tubuhnya sambil meringkuk di atas tempat tidur tanpa mengenakan selimut. Sementara di luar bangunan hujan turun semakin deras nya. Jendela ruangannya tak tertutup hingga angin malam leluasa masuk di dalam ruangan yang menjadi kamarnya.


Kebetulan Sinta yang melakukan shift malam mulai mengecek satu persatu pasiennya untuk memastikan kondisinya.


Saat berada di depan pintu ruangan Raka. Sinta dengan pelan membuka pintu ruangan tersebut, kemudian bergegas masuk. Sinta segera menutup jendela, kemudian kembali mengepel air hujan yang menggenang di lantai.


Setelah selesai, Sinta mengatur suhu ruangan itu menjadi normal, lalu berjalan mendekati tempat tidur. Undangan dokter Nisa diletakkan di atas nakas. Sinta kembali melirik ke arah tempat tidur dimana Raka sudah tertidur pulas.


Sinta membungkukkan badannya lalu menyelimuti tubuh Raka. Saat berbalik badan, tiba-tiba Raka menggenggam erat tangannya. Sinta terkejut lalu berbalik badan kearahnya. Dengan hati-hati Sinta mencoba melepaskan tangan Raka yang tengah menggenggam erat tangannya, namun begitu sulit melepaskannya.


"Mas Raka" ucap Sinta membangunkannya. Sayangnya Raka tertidur dengan pulas nya sambil menggenggam erat tangannya. Sinta jadi kasihan jika harus membangunkan tidurnya.

__ADS_1


Dengan terpaksa Sinta duduk di kursi samping tempat tidur dan membiarkan Raka menggenggam tangannya. Berkali-kali Sinta menguap dengan rasa kantuk mulai menyerangnya hingga pada akhirnya dirinya pun ikut tertidur di kursi.


šŸšŸšŸšŸšŸ


Keesokan harinya.....


Rania sudah kembali di klinik Alexander pagi-pagi buta bersama sang suami. Kini Mereka menempati ruang perawatan dengan wajah berseri-seri.


Mereka terlihat bahagia layaknya pengantin baru yang habis melakukan malam pengantin. Sampai-sampai Adelio terus menempel kepadanya.


Kebetulan hari ini, Rania sudah di perbolehkan pulang mengingat kondisinya sudah membaik. Mereka begitu antusias menunggu dokter spesialis kandungan untuk memeriksakan kandungan Rania yang sudah memasuki bulan kelima.


Rania terus saja memancarkan senyuman bahagia sambil mengelus perut buncitnya, sedangkan Adelio ikut bahagia melihat senyuman istrinya.


Tak berselang lama kemudian datanglah wanita paruh baya yang merupakan dokter spesialis kandungan di klinik Alexander tersenyum ramah menghampirinya. Mereka sempat berbincang perihal kondisi kandungan Rania, kemudian mulai memeriksanya.


Adelio terus mendampingi istrinya dan begitu bahagia bisa menemaninya. Selesai melakukan pemeriksaan, dilanjutkan dengan USG. Adelio dan Rania tersenyum dengan perasaan haru melihat calon bayinya di layar monitor.


"Mengapa di dalam perutmu terdapat dua bayi yang_" ucap Adelio dengan mata berkaca-kaca yang terkejut dan tak mampu melanjutkan ucapannya.


"Baby twins"


"Baby twins" ucap Adelio yang mengulang ucapan istrinya.


"Hemm, aku mengandung bayi kembar, didalam rahimku terdapat dua calon anak kita. Aku merahasiakanmu dan juga merahasiakannya dari keluarga" ucap Rania tersenyum lebar.


Adelio tak bisa berkata-kata mendengar ucapan istrinya. Ternyata dia benar-benar tak memperhatikan dengan baik kondisi istrinya selama ini, sampai-sampai dua malaikat kecil di rahim Istrinya tak diketahui olehnya.


"Dari hasil pemeriksaan, tak ada yang perlu di khawatirkan mengenai kondisi kehamilan nona Rania. Bayinya sehat-sehat, semoga persalinan nona Rania kedepannya berjalan lancar" ucap Dokter tersebut dengan ramahnya.


"Aamiin ya Allah" timpal Rania mengaminkannya.


"Terima kasih dok" ucap Adelio dengan perasaan bahagia.


Dokter tersebut hanya mengangguk dan ikut bahagia melihat pasangan muda yang tidak lama lagi dikaruniai bayi kembar.


"Terima kasih Ani, kau ibu hebat yang akan melahirkan anak-anakku. Aku berjanji akan menjaga kalian dengan baik, tak ada yang boleh menyakiti kalian" ucap Adelio dengan mata berkaca-kaca sambil menggenggam erat tangan istrinya.


Rania tersenyum sambil mengedipkan matanya. Dokter tersebut ikut tersenyum melihat kebahagiaan pasangan suami istri itu yang sudah menjadi seorang ayah dan ibu.


Bersambung.....


Jangan lupa, like love komen dan vote ya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


Terima kasih šŸ™šŸ™šŸ™


__ADS_2