
Adelio tampak berantakan keluar dari rumah sakit. Seharian penuh bergantian bersama kedua orang tuanya menjaga Adelia di ruang perawatan hingga hari berganti malam.
Di parkiran, Adelio kembali menghentikan langkahnya saat mendengar ponselnya berdering. Adelio membuka ponselnya dan begitu acuh melihat panggilan masuk dari sekretaris nya.
Adelio kembali berjalan menuju mobilnya, raut wajahnya tampak lelah dengan jas yang hanya di sematkan di punggungnya. Dasi nya sudah tak menempati kerah kemeja nya. Rambutnya berantakan tak karuan. Sungguh ketua mafia itu tampak menyedihkan.
Langkahnya kembali terhenti saat mendapati orang kepercayaannya sedang berdiri di samping mobilnya.
"Saya akan mengantar tuan kembali ke rumah utama" ucap Kendrick sambil menundukkan pandangannya.
Adelio segera melempar kunci mobilnya ke arah Kendrick. Dengan cepat Kendrick menangkap nya dan bergegas membukakan pintu mobil untuk atasannya.
Adelio masuk kedalam mobil tanpa menimpali ucapan Kendrick. Sedangkan Kendrick sudah sering mendapatkan perlakuan seperti itu dari atasannya, dia pun ikut bergerak masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Disepanjang perjalanan, Adelio hanya diam dengan wajah di tekuk. Sesekali menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kendrick hanya mampu meliriknya lalu kembali fokus mengemudikan mobil atasannya, dia sangat mengerti kondisi atasannya.
Hanya 40 menit perjalanan, akhirnya mereka tiba di kediaman Alexander. Adelio bergegas turun dari mobil tanpa menyapa Kendrick.
Saya turut prihatin atas musibah yang menimpa Adelia. Tolong perhatikan kondisi anda, saya tidak ingin anda sakit dan berlarut-larut dalam kesedihan.
Saya sudah mendapatkan bukti fisik orang yang sudah mencelakai Adelia. Namun waktunya belum tepat bagi anda untuk menghabisi nya. Batin Kendrick.
Kendrick hanya mampu melihat punggung atasannya yang terus menjauh hingga tak terlihat lagi di balik pintu utama.
Kendrick lalu masuk ke dalam mobilnya dan berlalu meninggalkan kediaman Alexander menuju markas besarnya.
Adelio memasuki kediamannya dengan langkah gontai. Tampak kepala pelayan menyambut kedatangannya. Adelio mengibaskan tangannya menyuruhnya pergi.
Bu Lastri dengan cepat menjauh darinya. Apalagi sorot mata tuan mudanya menyiratkan kepedihan mendalam, ditambah moodnya saat ini buruk, mengingat kembarannya terbaring koma di rumah sakit.
Adelio masuk ke dalam kamarnya, dan hal yang pertama yang mampu dia lihat adalah suasana kamarnya seperti kapal pecah. Hiasan kamarnya hancur berantakan. Botol minuman dan kaleng soda tampak berserakan di lantai, sampah plastik bekas cemilan juga berhamburan di sofa.
Rahang Adelio mulai mengeras melihat suasana kamarnya yang tampak berantakan.
"GADIS GILA!!!" teriak Adelio dengan amarah menggebu-gebu.
__ADS_1
Sementara sang empunya sudah terlelap di sofa sambil memeluk bungkusan cemilan yang tidak sempat dia habiskan, mungkin karena efek kekenyangan.
Adelio mengepalkan tangannya yang kembali menginjak kaleng soda. Dia pun berjongkok mengambil kaleng soda itu lalu membuatnya koyak.
Dengan amarah menggebu-gebu, Adelio melemparkan kaleng soda itu ke arah Rania.
Brukk
Kening Rania yang menjadi sasarannya. Gadis itu terlonjat kaget, lebih-lebih air yang entah dari mana asalnya membasahi wajahnya.
"Aish...hei hentikan" ucap Rania sambil membasuh wajahnya.
Adelio terus menyiram wajah Rania menggunakan sebotol air mineral. Sementara Rania mengepalkan tangannya dan siap menghajar Adelio.
"Ada apa ini, pulang-pulang malah nyiram aku. Dari mana saja kau? hah!" ucap Rania kesal sambil mengepalkan tangannya.
"Bersihkan seluruh kamar ini sebersih mungkin!" bentak Adelio dengan suara satu oktaf.
"Aku tidak mau, memangnya aku seorang pelayan hah. Panggil seluruh pelayan mu untuk membersihkan kamar ini" tantang Rania yang sama sekali tak kenal takut pada ketua mafia The Lion X.
Amarah Adelio sudah diatas ubun-ubun menyaksikan sifat pembangkang istrinya, dia pun kembali menjatuhkan vas bunga di atas meja.
"Kamu ingin seperti pas bunga ini hah!" ucap Adelio dengan lantang.
"Terserah, yang jelas aku tidak akan melakukannya" ucap Rania dengan tatapan tajam, setajam silet.
Adelio dengan kesalnya langsung mencengkeram lengannya lalu menghempaskan tubuh Rania hingga bersimpuh di kakinya.
Kedua telapak tangan Rania terluka akibat serpihan kaca kristal dari pas bunga yang dijatuhkan Adelio. Rania meringis kesakitan yang berusaha untuk bangkit. Kedua tangannya berdarah-darah dari serpihan kaca tersebut.
Adelio membungkukkan badannya menatap tajam Rania.
"Itu belum seberapa untuk gadis pembangkang seperti mu. Hanya setengah jam waktu yang kuberikan padamu membersihkan kamar ini, jika kau tidak membersihkannya, siap-siap tidur di kolam aligator ku " ucap Adelio sambil mencengkram kuat dagu Rania.
Rania hanya mampu diam seribu bahasa. Rasa sakit hati yang mendalam kepada pria di hadapannya tak sebanding dengan luka di telapak tangannya.
__ADS_1
Rania meringis kesakitan saat serpihan kaca itu semakin menyakitinya. Rania memalingkan wajahnya ke sembarang arah dan berusaha menahan rasa sakit itu. Adelio segera menjauh darinya. Melempar jas dan dasinya di sofa lalu berjalan menuju kamar mandi.
Tak masalah bagiku dengan luka sekecil ini. Aku berharap kembaran mu segera menjemput ajalnya. Kecelakaan yang dialaminya sama sekali tak membawanya ke akhirat, cepat atau lambat dia akan kembali ke tempat peristirahatan terakhirnya. Batin Rania menyeringai.
"Baiklah, aku akan membersihkan kamar ini, itung-itung sebagai tempat tinggal ku sementara. Walaupun terkurung di kamar ini, tapi rencana ku masih berjalan lancar" gumam Rania tersenyum sinis.
Dengan tangan terluka, Rania membersihkan kekacauan yang dia lakukan di kamar itu. Membuang bekas kaleng minuman, botol minuman dan sampah plastik lainnya dia masukkan ke keranjang sampah. Beling-beling hiasan miniatur Adelio juga dia bersihkan dengan cepat.
"Arrgghhh sial, aku seperti seorang pelayan saja" gumam nya kesal.
Adelio tampak segar keluar dari kamar mandi yang hanya mengenakan handuk terlilit di pinggang nya. Rambut basahnya dia kibaskan dengan handuk kecil yang melingkar di lehernya. Adelio mengamati suasana kamarnya yang belum juga bersih, kakinya melangkah memasuki ruang ganti untuk memakai piyama tidurnya.
"Jangan harap aku mengampuni mu atas apa yang telah kau perbuat di kamarku" ucap Adelio dingin sambil melangkah mendekati tempat tidur.
"Oh begitu, kamu pikir aku takut kepada mu! aku bisa menghancurkan apapun di sekitar mu termasuk orang terdekat mu" gumam Rania yang sedang membersihkan kamarnya.
Adelio menghentikan langkahnya dengan kepalan tangan mendengar gumaman gadis itu. Sedari tadi orang yang begitu dia curigai adalah istrinya sendiri.
Karena baginya Rania adalah mata-mata di kediamannya dan merupakan ular berbulu domba yang begitu diwaspadai.
Tanpa basa-basi, Adelio langsung menarik tangan Rania lalu menghempaskan tubuh gadis itu di sofa. Rania membelalakkan matanya dengan wajah kesalnya atas apa yang dilakukan Adelio kepadanya.
"Apa-apaan ini, kau pikir aku barang yang bisa kau hempasin!" ucap Rania ketus dan mencoba untuk bangkit. Namun Adelio kembali membungkukkan badannya sambil mengukungnya menggunakan kedua tangannya.
"Kau pelakunya!..... kau pelaku utama atas musibah yang menimpa kembaran ku" ucap Adelio dingin dengan sorot mata elangnya.
Rania membulatkan matanya dan berusaha tenang.
"Kamu ngomong apa sih, mengapa menuduh ku seperti ini. Apa kau punya bukti hah" elak Rania yang berusaha lolos dari tuduhan Adelio.
Adelio kembali mencengkeram erat dagu Rania, hingga membuat gadis itu meringis kesakitan.
"Aku tidak akan melepaskan mu, kau harus membayarnya bersama dengan keluarga mu" ucap Adelio dingin lalu meninggalkan Rania yang sudah mematung di tempatnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like, love komen dan vote ya teman-teman š¤
Terima kasih ššš