Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Tuan bau


__ADS_3

Rania terbangun tepat pukul 5 pagi. Tidurnya begitu nyenyak membuat pagi ini semangatnya berkoar-koar. Rania dengan hati-hati memindahkan tangan Adelio yang tengah melingkar di perutnya.


Sedangkan Adelio begitu nyamannya memeluk erat tubuh Rania, hingga membuat Rania kesulitan memindahkan tangannya.


Aduhh, cara lembut tak mempan, jika aku berbuat kasar bisa-bisa dia terbangun karena aku mengganggu tidurnya. Batin Rania.


Rania kembali memindahkan tangan Adelio dengan hati-hati berharap tak membangunkannya. Rania bernapas lega bebas dari dekapan Adelio, Rania bergegas turun dari tempat tidur. Terlihat Adelio masih saja tertidur pulas.


Rania berjalan cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Lagi-lagi Rania terkejut saat membuka piyama tidurnya dan mendapati banyaknya tanda merah diarea leher dan bagian dada nya.


"Huh dasar mesum. Ternyata diam-diam dia menjadi pencuri untuk berbuat mesum kepadaku" gumam Rania, kemudian segera melaksanakan ritual mandinya.


Selesai membersihkan tubuhnya tak lupa Rania mengambil air wudhu guna melaksanakan sholat subuh. Rania segera masuk ke ruang ganti untuk memakai pakaiannya.


Setelah itu, Rania melaksanakan ibadahnya. Dengan khusyuk Rania melaksanakan sholat subuh. Selepas sholat, Rania tak henti-hentinya meminta pengampunan kepada sang pencipta atas segala dosa yang telah dia perbuat selama ini.


"Ya Allah ampunilah dosa-dosa ku, dosa kedua orang tua ku, dosa saudara ku, dosa suamiku. Selamatkan kami dari api neraka mu, hanya engkau yang maha pengasih lagi maha penyayang dan jauhkanlah marabahaya di keluarga hamba. Ya Allah, Pertemukan lah hamba dengan orang tua hamba, lindungi lah dia dimana pun berada."


"Ya Allah, bukakanlah pintu hati suami hamba untuk berada di jalan mu, jadikanlah dia menjadi imam sholat ku, menerima anak dalam rahimku hingga menuntun ku di jalan kebajikan. Hanya engkau yang bisa membolak-balikkan hati manusia... aamiin..aamiin ya rabbal Al-Amin."


Dengan berderai air mata Rania berdoa memohon pengampunan kepada sang pencipta. Cukup lama Rania duduk di atas sajadah hingga memilih mengakhiri doanya. Rania bangkit untuk membereskan peralatan sholatnya.


Rania tersenyum sambil mengelus perut ratanya.


"Yang sehat ya nak di rahim mama"ucap Rania tersenyum. Kemudian memilih keluar dari ruang ganti.


Rania mengedarkan pandangannya ke arah tempat tidur dan masih saja mendapati Adelio meringkuk di atas tempat tidur. Rania berinisiatif untuk membangunkannya.


Tiba-tiba Adelio menggeliat yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Adelio mulai mengerjapkan matanya hingga mampu melihat Rania berdiri tidak jauh darinya.


"Jam berapa sekarang?" tanya Adelio sambil bersandar di kepala tempat tidur.


Adelio mengulurkan tangannya mengambil air putih di atas nakas lalu meneguknya.


Rania sama sekali tak menjawab pertanyaannya malah berlalu membuka tirai jendela. Terlihat matahari masih malu-malu menampakkan dirinya.


"Hei kemari, ada satu hal yang ingin ku sampaikan kepada mu" ucap Adelio sambil mengusap rambutnya kebelakang.


"Tidak mau, kamu bau."

__ADS_1


Rania menutup hidungnya sambil mengibaskan tangannya. Adelio terpancing emosi mendengar ucapan Rania, dia pun ikut mengendus aroma tubuhnya.


"Kau mengejek ku" ucap Adelio dingin dengan wajah kesalnya.


Rania segera duduk di kursi meja rias dan mulai menyisir rambut panjangnya. Tampak Adelio mulai berjalan mendekatinya. Rania begitu santainya menyisir rambut panjangnya.


"Kau mengatai ku bau" ucap Adelio sambil mendekap tubuh Rania dari belakang.


"Ya, kamu memang bau tuan Adelio" ucap Rania tersenyum tipis.


Cup


Adelio langsung mencium pipi Rania, membuat Rania membulatkan matanya.


"Jangan mencium ku, kamu masih bau bantal" ucap Rania ketus dan segera menjauh dari tubuh Adelio.


Rania berlari kecil menjauhi Adelio.


"Hei, mau kemana kau gadis gila!" teriak Adelio sambil mengejar Rania.


Rania tertawa terbahak-bahak menghindari Adelio. Terjadi aksi kejar-kejaran antara Adelio dan Rania di dalam kamarnya. Hingga Adelio berhasil membekuk tubuh Rania.


"Tuan bau, uweeeek" ejek Rania sambil tergelak tawa.


"Hei! kau sudah berani mengejekku ya" ucap Adelio sambil menggelitik Rania.


"Ha ha ha... ampun tuan bau..."


Rania tertawa terbahak-bahak hingga Adelio ikut tersenyum tipis menggelitik Rania.


" Aku akan mencium bibir mu" ucap Adelio menyeringai yang masih saja menggelitik Rania.


"Ampun.... ampun...ha...ha..ha... ampun tuan Adelio" ucap Rania dengan tawanya sambil memberontak berusaha lepas dari dekapan Adelio.


Keseimbangan tubuh keduanya oleng hingga sama-sama terjatuh di atas tempat tidur. Adelio berada di atas tubuh Rania sedangkan Rania berada di bawahnya. Pandangan mata mereka kembali bertemu sepersekian detik hingga keduanya sama-sama canggung.


Adelio segera menjauh dari tubuh Rania, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Rania tersenyum tipis sambil memegangi pipinya bekas ciuman Adelio.


"Astaga jantungku, mengapa kalian selalu saja berdebar-debar jika berada di dekatnya" gumam Rania sambil memejamkan matanya.

__ADS_1


Sementara di dalam kamar mandi, Adelio tergelak tawa sambil mengendus aroma tubuhnya.


"Bisa-bisanya dia mengataiku bau dan juga menyebutku tuan bau. Aroma tubuh ku bahkan memabukkan siapa saja" gumam Adelio dengan bangganya.


"Gadis gila itu benar-benar, arghh...aku harus mematahkan tuduhannya dan membuatnya meminta maaf kepada ku" ucap Adelio sambil memandangi wajahnya di dalam cermin.


Adelio memilih membersihkan tubuhnya, dia harus mematahkan tuduhan istrinya yang mengatainya bau.


Sementara di kamar Adelia, terlihat pasangan suami istri itu saling membantu satu sama lain yang selalu saja terlihat harmonis.


Adelia sedang memasangkan dasi untuk suaminya. Sementara Malfin tersenyum sambil memandangi wajah cantik istrinya.


"Kak Malfin"


"Hemm"


"Kapan kita berangkat ke negara A?" tanya Adelia sambil memasangkan dasi suaminya.


"Emm kira-kira kapan ya!" ucap Malfin tersenyum tipis.


"Iih kak Malfin, masa ngomong nya gitu sih, aku mau kak Malfin mempersiapkan keberangkatan kita mulai dari sekarang" ucap Adelia tersenyum.


"Bagaimana kalau hari ini, apa kamu siap?" tanya Malfin tersenyum sambil menaikkan alisnya.


"Terlalu mendadak, ayah dan bunda ingin membuat syukuran atas kehamilan kakak ipar hari ini" ucap Adelia yang selesai memasangkan dasi suaminya.


"Terima kasih sayang" ucap Malfin yang kembali mencium keningnya.


Adelia tersenyum manis sambil merapikan kerah kemejanya.


" Baiklah, bagaimana kalau kita berangkat besok pagi. Apa kamu setuju sayang?" ucap Malfin tersenyum hangat.


"Emm baiklah, terserah kak Malfin saja. Aku setuju setuju saja, keputusan ada di tangan kak Malfin" ucap Adelia tersenyum. Malfin ikut tersenyum sambil mengelus punggungnya.


Adelia menenteng tas Malfin lalu bergandengan tangan keluar dari kamarnya. Mereka bersama-sama menuruni anak tangga menuju ruang makan, dimana orang tuanya sudah berkumpul di meja makan.


Bersambung....


Jangan lupa like love komen dan vote ya teman-teman šŸ™šŸ™šŸ™

__ADS_1


__ADS_2