
ā¼ļø Warning ā¼ļø
Terdapat adegan kekerasan pada part ini. Harap bijaklah membaca !!!!
Adelio melangkah pelan berjalan di balkon kamarnya. Dari balik jendela, dia mampu melihat siluet bayangan seseorang sedang bersembunyi di sana.
Tanpa basa-basi, Adelio langsung menyergap orang misterius itu.
Hap
"Mau lari kemana kau!" ucap Adelio sambil mengunci pergerakan orang misterius itu.
Sehingga sang empunya terus memberontak. Terjadi aksi saling dorong diantara keduanya. Adelio tidak tinggal diam, dia langsung menyeret paksa tubuh orang itu hingga membentur dinding.
Orang misterius itu kembali melakukan perlawanan kepada Adelio. Kaki kanannya begitu lincah melakukan tendangan ke wajah Adelio. Untungnya Adelio selalu menghindari serangan balik dari lawannya.
Teknik bela dirinya lumayan juga. Batin Adelio.
Aku harus segera membereskan orang ini. Batin orang misterius itu.
Orang misterius itu kembali menyerang balik Adelio. Dia pun kembali mengeluarkan kemampuannya. Teknik bergulat dilancarkan kali ini, tanpa ampun dia mencengkeram erat kedua pundak Adelio dan siap mengangkat tubuh Adelio lalu membantingnya.
Namun diluar dugaan, Adelio tidak tinggal diam, malahan dia yang lebih unggul mengangkat tubuh lawannya, lalu membantingnya ke lantai.
Brukk
Awww
Orang itu hanya mampu meringis kesakitan. Dan kembali bangkit untuk melawan Adelio. Lagi-lagi Adelio kembali melakukan aksi yang sama. Kali ini membenturkannya ke dinding dengan kerasnya.
"Katakan, siapa yang menyuruhmu!" ucap Adelio dengan sorot mata elangnya.
Orang misterius itu kembali bangkit, namun Adelio kembali mencengkeram kuat lengannya lalu mengurungnya di dinding menggunakan kedua tangannya. Kaki kirinya dia gunakan mengunci pergerakan lawannya. Membuat orang itu begitu sulit untuk bergerak.
"Lepaskan aku"ucapnya.
Adelio tercengang mendengar suara gadis yang cukup familiar dia dengar.
"Kau!"
Adelio mampu mengenali suara itu. Tanpa basa-basi Adelio langsung mencekik leher gadis bercadar itu. Sedangkan si gadis bercadar tak tinggal diam, dia berusaha memberontak sambil terbatuk-batuk.
Tangan kanannya berusaha menahan tangan Adelio yang mencekik lehernya. Sedangkan tangan kirinya terulur mencari sesuatu dari saku celananya. Untungnya dia masih memiliki senjata tajam, belati kecil satu-satunya menjadi benda pusaka nya.
Dengan cepat belati kecil itu dia tancapkan ke dada kanan Adelio.
Srekkk
Adelio sama sekali tak peduli dengan tusukan di dada kanannya. Adelio malah semakin menggila mencekik leher gadis itu untuk mempercepat kematiannya.
Srekkk
Gadis bercadar itu tak tinggal diam, dia pun kembali menekan belati kecil itu dengan kuat hingga terus menancap dalam di tubuh Adelio. Darah segar mulai bercucuran dari balik pakaian Adelio. Membuat Adelio menghentikan aksinya dan langsung mendorong keras tubuh gadis itu hingga membentur tiang penyangga.
__ADS_1
Adelio dengan kesal melepaskan belati kecil itu dari tubuhnya.
Srekkk
Kembali terdengar suara gesekan yang menyayat dada kanannya. Dada kanan Adelio sudah berlumuran darah. Raut wajah Adelio tampak pucat, bahkan keringatnya ikut bercucuran membasahi wajahnya.
Adelio segera merobek pakaiannya lalu melilitkannya pada tubuhnya yang terluka untuk menghentikan pendarahan yang keluar.
Adelio kembali menendang kecil kaki gadis yang tengah jatuh pingsan itu. Dan sama sekali tak ada respon yang dilakukan gadis itu. Dialah gadis pertama yang membuatnya terluka seperti sekarang ini.
"Bedebah sialan" ucap Adelio sambil berdengus kesal.
Jika sampai ibunya tahu dia sedang terluka, sudah tidak dapat dipastikan lagi, ibunya terus saja mengkhawatirkannya sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lamanya.
Adelio segera mencari kotak obat untuk mengobati luka tusukan di dada kanannya. Adelio sudah terbiasa mendapati luka seperti itu. Adelio begitu telaten menjahit lukanya sendiri. Sesekali dia meringis kesakitan merasakan perih yang cukup hebat itu. Hingga lukanya benar-benar tertutupi dengan kain kasa.
"Sangat merepotkan, aku bahkan begitu malas mengobati lukaku" gumam Adelio sambil membereskan kembali kotak obatnya.
Adelio kembali melirik ke arah gadis yang masih tergeletak di lantai dan tak kunjung bangun.
Syurrrr
Adelio menyiramkan air ke wajah gadis bercadar itu. Hingga membuat gadis itu terlonjat kaget sambil terbatuk-batuk memegangi lehernya yang masih berdenyut nyeri.
"Masalah kau dan aku belum selesai" ucap Adelio dingin.
Gadis bercadar itu masih berusaha mengingat kejadian barusan.
"Apa! aku pikir dia sudah tewas"gumamnya.
"Sekarang giliran mu yang harus merasakan belati kecil ini" ucap Adelio menyeringai, sambil membungkukkan badannya menatap tajam gadis bercadar di hadapannya.
Gadis bercadar itu mulai mengamati di sekelilingnya, dia ingin segera keluar dari kamar tersebut.
"Tak ada celah bagimu untuk kabur dari kamarku. Sekarang menyerah lah! aku yang menyayat belati ini di wajah mu atau kau sendiri yang akan melakukannya di hadapan ku" ucap Adelio sambil melipat kedua tangannya.
Bagaimana ini, rencana ku bersama Min bisa saja gagal malam ini. Batin gadis bercadar itu yang tidak salah lagi adalah Rania.
Rania sedikit linglung mengamati kamar Adelio yang sama sekali tidak ada celah baginya untuk kabur.
"Aku bukan pecundang, sebaiknya pertarungan kau dan aku yang berlanjut" ucap Rania, kemudian bersusah payah bangkit dengan kondisi tubuhnya yang masih oleng.
"Baiklah, jika kau tewas dalam kamarku, aku hanya perlu melempar mu lewat balkon tadi" ucap Adelio entengnya.
Tanpa basa-basi, Rania langsung melayangkan pukulannya ke wajah Adelio. Dengan sigap Adelio menangkisnya, lalu menarik pinggang Rania hingga bersentuhan dengan tubuhnya.
Pandangan mata mereka bertemu sepersekian detik. Hingga Rania cepat-cepat menundukkan pandangannya dan kembali memukuli Adelio.
Bugh
Bugh
"Hanya seperti itu kemampuanmu" ucap Adelio meremehkan.
__ADS_1
Rania tak terima dengan ucapan Adelio, dia pun kembali melakukan perlawanan. Namun lagi-lagi Rania terjatuh, saat kaki Adelio dengan sengaja menyenggol kakinya.
"Arrgghhh, sial."
Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar. Sungguh dia kewalahan menghadapi ketua mafia The Lion X.
Adelio kembali berjongkok di hadapan Rania, lalu dengan paksa menarik cadar Rania. Tampaklah wajah cantik dan ayu gadis itu dan Masya Allah, Adelio sampai dibuat terkagum-kagum melihatnya.
Rania memejamkan matanya dan tak berani bersitatap dengan musuhnya. Apalagi saat ini, wajah aslinya kini diketahui oleh musuhnya, Adelio.
Adelio segera tersadar dan menepis seluruh kecantikan yang dimiliki Rania. Baginya cantik tak menjadi masalah baginya, yang jelas gadis ini harus dibereskan segera.
"Kita mulai darimana ya? sepertinya wajahmu sangat cocok untuk di kuliti" ucap Adelio menyeringai.
"Adelio, buka pintunya nak."
Terdengar suara seseorang dari luar kamarnya. Adelio terkejut mendengar suara yang begitu dikenalinya.
"Ayah."
Rania mampu mendengar ucapan Adelio yang menyebut ayahnya. Rania langsung menyeringai, entah apa yang direncanakan gadis itu saat ini.
Sementara Adelio tampak berpikir keras, apa yang harus dia lakukan. Sedangkan dirinya bersama seorang gadis di dalam kamarnya.
"Cepat pergi, aku melepaskan mu" ucap Adelio sambil menarik tangan Rania menuju balkon kamarnya.
Sementara Darren yang masih berdiri di depan pintu kamar Adelio, tampak curiga dengan putranya. Dia meminta kepala pelayan untuk mengambil kunci cadangan kamar itu.
Rania tanpa ragu merobek pakaiannya, lalu menarik tangan Adelio, hingga keseimbangan tubuh Adelio oleng dan jatuh bersamaan. Adelio terlonjat kaget melihat reaksi gadis itu.
"Tolong.... "
"Tolong..apa ada orang diluar_"
"Tolong saya.... saya mau dilecehkan" teriak Rania menggebu-gebu.
Adelio dengan kesal mendorong tubuh Rania, namun lagi-lagi Rania terus memepet erat tubuh Adelio sambil melingkarkan tangannya di pinggang Adelio.
"Hei apa yang kau lakukan, dasar gadis gila" ucap Adelio kesal yang berusaha menghindari Rania.
Aksi Rania benar-benar di luar batas, dia kembali menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Membuat Adelio semakin kesal melihatnya.
"Bangun, kau sudah melewati batas mu" teriak Adelio dengan sorot mata tajam.
Rania hanya tersenyum meledek, sambil membolak-balikkan tubuhnya di atas tempat tidur. Adelio mulai geram dan langsung menggendong paksa Rania.
"ADELIO!!"
Adelio hanya mampu membelalakkan matanya melihat orang yang masuk ke dalam kamarnya.
Bersambung.....
Jangan lupa like, love, komen dan vote yang sebanyak-banyaknya š¤
__ADS_1
Terima kasih š šš