
Dua insan muda duduk berhadapan di dalam ruangan. Mereka sedari tadi mengikuti sidang mendadak dari orang tuanya, dan menjelaskan ini itu yang terus berulang-ulang tak ada habisnya.
Tampak wanita paruh baya sedari tadi hanya bisa menatapnya dengan penuh intimidasi bersama gadis muda di sampingnya. Sesekali wanita paruh baya itu memijit pelipisnya dengan pelan mendengar semua pembelaan diri keduanya.
Sosok gadis muda disampingnya yang merupakan putrinya, ikut membantunya memijit lengan kirinya. Jika sewaktu-waktu akan dia gunakan untuk menghajar salah satu insan muda itu, jika sudah tersulut emosi.
"Adelio, jelaskan semuanya dengan jujur tanpa basa-basi. Ayah benar-benar kecewa sama kamu" ucap ayahnya yang tengah bersandar di kursi kebesarannya sambil melirik ke arah istri tercintanya.
"Ini tidak sesuai yang ayah lihat. Semuanya hanya kebohongan ayah. Gadis ini gila dan melakukan hal gila kepada ku" ucap Adelio sambil mengepalkan tangannya.
"Kau yang berbohong, kau yang mengunci ku di dalam kamar, bahkan ingin melecehkan ku. Aku bahkan berusaha melawan mu, tapi, kau malah mencekik leher ku. Agar aku tidak bisa meminta tolong.....hiks hiks hiks....ini buktinya" ucap Rania menjelaskan dengan kebohongannya.
Luka di lehernya juga ditunjukkan dengan cepat. Ayah dan bundanya hanya mampu menutup mulutnya melihat semua itu. Adelia benar-benar tidak menyangka dengan kelakuan kembarannya. Semuanya tampak percaya dengan bukti yang ditunjukkan Rania.
"Itu tidak benar, katakan yang sebenarnya hei!" Adelio berucap dengan suara lantang bahkan mencengkeram erat tangan Rania.
Rania bersikeras menarik tangannya dan terlihat dia sudah berganti baju. Sepertinya Adelia dengan senang hati memberikan baju untuknya di kenakan. Berhubung karena pakaian lengkap Rania sudah tak layak pakai.
“Berkata lah yang jujur!!! jangan sampai aku merobek mulut licik mu”teriak Adelio yang tersulut emosi yang ingin melayangkan pukulan ke wajah Rania.
“Cukup, bunda tidak menyangka kamu berkata kasar seperti ini. Bunda seperti tidak mengenal kamu Adelio. Ya Allah, dosa apa yang ku perbuat hingga putraku menjadi sekasar ini dan tak beradab.”
Ziva mengucapkannya dengan mata berkaca-kaca. Adelio menghempaskan tangan Rania, lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia beberapa kali meyakinkan keluarganya, tapi semuanya lebih mempercayai ucapan Rania.
Sedangkan Rania masih saja berpura-pura menangis yang menyembunyikan senyuman liciknya.
Aku yang akan menang kali ini, batinnya.
“Sebagai akibat dari perbuatanmu, kamu harus bertanggung jawab kepada gadis tak berdosa ini..titik!” ucap Ziva dengan tegas tanpa ingin dibantah.
Darren hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ucapan istrinya sudah mewakili yang ingin dia sampaikan. Untuk Adelia, dia hanya menjadi pendengar yang baik perdebatan kali ini. Adelia segera memeluk bundanya untuk menenangkannya, dia sungguh tak ingin membuat bundanya bersedih.
“Bunda tolong percaya sama Lio. Gadis ini hanya menjebak Lio, dia gadis penyusup yang ingin memata-matai keluarga kita. Ku mohon bunda percayalah, kali ini saja” ucap Adelio sambil mengatupkan kedua tangannya di hadapan bunda tercintanya.
Semuanya tampak bungkan dan tak bisa berbuat apa-apa. Ziva hanya mampu menundukkan pandangannya sambil memegang dadanya yang terasa sesak dengan topik pembicaraan kali ini. Beberapa jam yang lalu, dia begitu bahagia dengan candau gurau bersama keluarganya. Tapi sekarang, semuanya seolah hilang di telan bumi.
“Lia, bawa gadis ini ke kamar tamu dan pastikan dia tidak mendapatkan tekanan dari Adelio” ucap Ziva tegas dengan pandangan yang tertuju kepada putranya.
Adelia segera membawa Rania ke kamar tamu, sementara langkah Ziva kembali terhenti saat tangannya kembali dipegang oleh putranya.
__ADS_1
“Maaf bunda, maaf, sudah membuatmu kecewa”ucap Adelio yang besimpuh di kaki bundanya. Adelio bahkan mencium punggung tangan bundanya dengan penuh kasih.
"Tolong percayalah_"
Ziva menarik tangannya dengan kasar yang berusaha menahan air matanya. Perasaannya kali ini campur aduk, dia tidak bisa berkata-kata lagi dan segera meninggalkan putranya di ruangan itu. Darren yang masih berada di ruangan itu juga mulai bangkit dari duduknya.
“Ayah”
Adelio kembali menatap ke arah ayahnya yang juga tengah menatapnya.
“Pantas saja kamu terlihat buru-buru ingin ke kamar, rupanya kamu menyembunyikan gadis tadi. Apa ayah mengganggumu? Ooh apa gadis tadi gadis pilihanmu? Kalau benar, ayah hanya bisa mendukungmu” ucap Darren yang memilih menggoda putranya.
“Hentikan ayah, sudah berapa kali Lio katakan, bahwa dia gadis gila yang membawaku dalam masalah” ucap Adelio sambil menjambak rambutnya dengan kesal.
“Jujur saja, kamu pasti malu karena ke tangkap basah, iya kan?”
Darren lebih suka menggoda putranya di bandingkan menyudutkan akan perbuatannya.
“AYAH”
Adelio kembali meneriaki ayahnya, dia begitu pusing memikirkan masalah yang menimpanya. Sementara sang ayah hanya bisa menggodanya dan meledeknya yang membuatnya semakin kesal setengah mati.
“Ayah tahu kamu pria sejati, maka persiapkanlah dirimu mulai sekarang. Karena ayah dan bunda akan segera membicarakan pernikahanmu dengan pihak keluarga calon istrimu.”
Darren benar-benar keluar dari ruangan itu, setelah selesai mengatakan rencana pernikahan putranya.
Argghhh
Dengan kesalnya Adelio menjatuhkan barang-barang hias di sampingnya.
Pranggg
Pranggg
Pas Bunga dan guci besar menjadi sasaran kemarahan Adelio.
Ziva memasuki kamar tamu yang di tempati Rania. Tampak Rania duduk di pinggir tempat tidur menghadap ke arah jendela yang sedang memeluk erat lututnya. Rania sedang berpikir keras sambil menggigit kecil kuku ibu jarinya.
Aku harus memikirkan rencana selanjutnya. Semoga si lo..ya itulah, mendekam dalam penjara karena ingin melecehkan ku..ha ha ha ha, hebat kamu Rania. Batin Rania.
__ADS_1
Rania membulatkan matanya saat mendengar langkah kaki semakin mendekat ke arahnya. Dengan cepat, dia pun kembali melancarkan sandiwaranya.
“Hiks…hiks…hiks..aku sudah menjadi gadis yang hina.”
Aduhh, siapa lagi ini, aku bahkan sudah muak pura-pura nangis.
Ziva langsung berhambur memeluk Rania dan memeluknya dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri. Mengingat gadis itu yang menjadi korban perbuatan putranya. Menjadi pokok masalah yang tengah dihadapi keluarganya saat ini.
“Maafin anak tante, Lio akan bertanggung jawab kepadamu nak” ucap Ziva sambil mengelus punggung Rania.
Hemm…baguslah. Semoga dia menekan dalam penjara seumur hidup. Kalau perlu segera usir dia dari kediamanmu, agar aku bisa leluasa menghabisi kalian. Mengingat dia cukup tangguh untuk ku habisi. Setelah dia pergi, sudah dapat kupastikan kalian semua akan berada dalam genggamanku.
“Secepatnya kami akan mengabari keluargamu perihal pernikahan kamu dengan Lio”ucap Ziva dengan tenang.
Deg!
Rania langsung mengeleng cepat menajamkan pendengarannya.
“Insyaallah, Tante akan pastikan Lio bertanggung jawab untuk menikahimu nak.”
Rania langsung menjatuhkan kepalanya di pundak calon ibu mertuanya.
Tidak!!! Jangan lakukan itu. Aku tidak ingin menikah dengan musuhku.
“Kamu akan menjadi bagian dari keluarga kami. Mulai sekarang kamu tak perlu lagi bersedih. Semoga kamu dan Lio bisa hidup bahagia mengarungi bahtera rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah” ucap Ziva tersenyum yang selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Mengapa jadi seperti ini, mengapa harus menikah segala. Bagaimana ini? Mama, Kak Raka, mereka tidak boleh tahu masalah ini. Apa yang harus ku lakukan sekarang. Identitas ku, ya identitas ku…sepertinya masih aman. Mereka tidak boleh tahu, astaga aku bahkan jadi pusing memikirkannya.
Rania menggigit bibir bawahnya memikirkan nasibnya setelah ini. Dia tidak menyangka masalahnya akan serumit ini. Ditambah rencana pernikahannya akan segera diatur.
Jalan satu-satunya aku harus kabur dari rumah ini secepatnya. Aku tidak akan menikah dengan musuhku. Bisa apes hidupku, terus bertarung dengannya. Tidak... TIDAK!!!!!.
Rania segera menundukkan pandangannya dan tak mampu berkata-kata lagi mendengar seluruh ucapan bunda Ziva, calon ibu mertuanya.
Bersambung......
Jangan lupa like, love, komen dan vote nya 😊
Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1