Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Keterpurukan Rania


__ADS_3

Malfin sedikit kecewa melihat reaksi Adelia yang sama sekali tidak mengingatnya, Tapi dia merasa lega melihat Adelia kembali sadar dari tidur panjangnya.


Tak masalah kamu tidak mengingat ku Lia, yang jelas aku sangat senang melihat mu tertawa lagi. Batin Malfin.


Adelia baru saja sadar dengan kondisi amnesia. Tak mungkin, Adelia bisa mengingat semuanya dengan baik. Butuh waktu lama untuk membuat kondisinya seperti sedia kala.


Bahkan dia mampu melihat dengan jelas kebingungan Adelia menatapnya barusan.


"Semoga kamu cepat sembuh, seluruh keluarga kita selalu mendoakan yang terbaik untukmu" ucap Malfin tersenyum.


"Yang sabar nak, cepat atau lambat, Adelia pasti akan sembuh dan mengingat semuanya" ucap Darren sambil menepuk pundak calon menantunya.


Malfin hanya mengangguk setuju, dia tak boleh egois dengan kondisi Adelia saat ini.


Adelia hanya mengangguk pelan dengan raut wajah bingungnya melihat orang yang sama sekali tidak dikenalinya.


“Ya sudah sebaiknya kamu istirahat saja sayang. Dan kalian semua sebaiknya keluar, karena putri cantik bunda butuh istirahat ” ucap Ziva lalu meminta yang lainnya untuk keluar.


Mereka semua bergegas keluar. Malfin segera menghubungi kedua orang tuanya bahwa Adelia sudah sadar dari komanya. Dan kabar tersebut membuat kedua orang tuanya sangat senang dan sangat bersukur kepada Tuhan karena masih memberikan hidayahnya untuk calon menantunya.


Sementara di kediaman Alexander…..


Rania terlihat sangat menyedihkan, kondisi tubuhnya semakin kurus dan tak seceria lagi seperti sedia kala, hanya wajah pucat yang terpancar diwajahnya.


Mata panda menghiasi kelopak matanya, hampir setiap malam dan setiap waktu gadis itu menangis memikirkan kondisi keluarganya. Nafsu makannya sudah tak ada lagi, dia berharap Tuhan segera mencabut nyawanya.


Gadis itu melamun menatap keluar jendela mengamati burung-burung yang bertengger riang di tangkai pohon rindang. Tatapannya kosong, sesekali menghela nafas panjang.


Semua orang membencinya dan mengutuknya sebagai gadis jahat yang tak bisa memiliki kebahagiaan lagi. Rania benar-benar terpuruk saat ini. Tak ada keluarga tempatnya berlindung, hanya ada keluarga musuhnya yang sebentar lagi akan menendang nya keluar dari rumah mewah itu.


Terdengar suara ketukan pintu dari luar, Rania segera menyeret tubuh lemasnya mendekati pintu tersebut.


“Siapa?” ucapnya pelan, karena pintu kamarnya selalu saja di kunci dari luar.

__ADS_1


Ceklek


Pintu kamarnya terbuka lebar, dan menampilkan kepala pelayan bersama dua pelayan wanita. Rania sedikit terkejut melihat kedatangan mereka.


“Nona muda, silahkan ikuti kami” ucap Bu Lastri dengan sopan.


Rania hanya menggangguk dan kembali mengambil sesuatu yang sempat dia lupa di atas nakas.


Rupanya cadar yang sangat dia benci untuk digunakan sehari-hari, karena pasalnya selama ini cadar tersebut dia gunakan saat akan membunuh para mangsanya. Sekarang, dia seolah terikat dengan cadar tersebut dan merasa kurang pada dirinya. Selama keluar dari kediaman Alexander, dia harus memakainya.


Rania mengikuti langkah kaki kepala pelayan keluar dari rumah utama, dia ingin bertanya, namun kembali di urungkan. Akhirnya dia pun hanya mampu mengikuti langkah kepala pelayan hingga tiba di sebuah klinik di kediaman Alexander.


“Untuk apa membawaku kesini?” tanya Rania yang sudah berdiri di depan klinik di kediaman Alexander. Bahkan Rania sangat tahu betul tempat tersebut.


“Silahkan masuk nona, saya tak berani menjelaskannya” ucap Bu Lastri sambil menundukkan pandangannya.


Rania menghembuskan nafasnya dengan kasar dan segera masuk ke dalam klinik tersebut. Deru nafasnya terdengar ngos-ngosan, karena sudah seminggu ini, dia tak pernah berjalan jauh di pagi hari. Rania terus berjalan dengan tatapan kosong, hingga suster yang bertugas di klinik tersebut segera menghampirinya.


“Mari nona, saya antar” ucapnya ramah.


Dari punggungnya Rania sudah tidak asing lagi dengan pria tersebut, bahkan sudah mengenali nya, hingga pria itu mengalihkan pandagannya ke arahnya.


Rania langsung menutup melututnya tak percaya melihat pria tersebut. Rania segera berlari dan langsung menghambur memeluknya.


“Kakak, hiks hiks hiks”ucap Rania diiringi isak tangis pecah. Rupanya pria tersbut adalah kakak nya, Raka.


Sementara pria tersebut hanya diam dengan tatapan kosong yang sama sekali tidak membalas pelukannya. Cukup lama Rania memeluk kakak nya hingga dia pun segera melepaskan pelukannya. Rania mengamati seluruh tubuh kakaknya yang dipenuhi luka yang hampir mengering.


“Kakak. Ini aku…Rania” ucap Rania yang berderai air mata sambil menangkup wajahnya. Sementara sang kakak hanya diam dengan tatapan kosongnya yang sama sekali tak menatapnya.


“Nona, selama pria ini berada di klinik, dia tak pernah berbicara sepatah kata pun” ucap suster yang menemani nya di ruangan itu.


"Kakak, apa yang terjadi kepada mu"ucap Rania sambil memegang kedua pundak kakaknya.

__ADS_1


Sementara kakaknya hanya diam dan sama sekali tak menjawab ucapan nya.


"Kakak, tolong jawab aku!" ucap Rania, sambil memukul-mukul dada bidang kakaknya.


Sementara sang kakak, hanya diam saja, layaknya mayat hidup yang sudah tak mampu berbicara. Seluruh tubuhnya dipenuhi luka cambuk dan goresan benda tajam.


Rania begitu kasihan melihat kondisi kakak nya saat ini, dia sangat menyesali perbuatannya yang berakibat pada kehancuran keluarga nya.


Rania memeluk kembali kakak nya dengan tangis yang semakin pecah, bahkan dia pun ikut menjambak hijabnya dengan perasaan hancur.


"Tolong, jangan seperti ini kak, aku sangat menyayangimu. Aku rela berbuat apapun demi keluarga kita kak....hiks hiks hiks" ucap Rania dengan tangis pilu. Hidupnya benar-benar terpuruk saat ini.


Sementara Min yang berada di ruang perawatan sebelah mengepalkan tangannya mendengar suara yang sangat dibencinya saat ini. Dia bersumpah tidak akan lagi mengenal ketuanya, apalagi berhubungan baik.


Aku membencimu nona. Batinnya.


Rania terus menangis memeluk kakaknya, sedangkan kakaknya hanya diam tanpa ekspresi. Sepertinya saraf dan mentalnya sudah terganggu, hingga pria itu tak mampu mengeluarkan suara nya.


"Sebaiknya nona menyuapi nya, sedari pagi. Pria ini tak memakan makanannya" ucap suster tersebut.


Rania melirik nampan yang berisi makanan di atas nakas. Air matanya kembali luruh dengan sendirinya. Dengan perlahan Rania menghapusnya dan segera mengambil nampan tersebut.


Rania lalu menyuapi kakaknya sedangkan sang kakak hanya menatapnya diam.


"Kakak, makan ya" ucap Rania yang mencoba membujuk kakaknya.


Namun sang kakak segera mendorongnya hingga nampan yang berisi makanan terjatuh dan berserakan di lantai. Raka tampak ketakutan dan memilih bersembunyi di samping tempat tidur.


Rania hanya mampu terkejut dengan air mata yang membasahi pipinya. Hingga tubuhnya kembali merosot ke lantai. Rania memegangi dadanya yang begitu sesak melihat kondisi kakaknya. Takdir sungguh kejam terhadap keluarganya.


Bersambung.....


Jangan lupa, like love komen dan vote ya 🤗

__ADS_1


Terima kasih 🙏 🙏🙏


__ADS_2