Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Ini pasti ulah Adelia


__ADS_3

β€œIni berkasnya, sepertinya semalam sesuatu hal terjadi pada tuan Adelio.” Gumam Kendrick sambil menyerahkan berkas penting itu kepada Adelia.


Benar, dan aku harus menggagalkan perceraian nya. Batin Adelia.


Adelia tersenyum di balik cadarnya dan segera membawa berkas penting itu tanpa mengucapkan sepatah katapun apalagi ucapan terima kasih kepada Kendrick.


β€œSikap Adelia sangat aneh, apa karena sebentar lagi dia akan menikah jadi bersikap seperti itu" gumam Kendrick.


Kendrick kembali masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya meninggalkan kediaman ketuanya.


Kini Adelia tengah berada di halaman belakang yang tengah memegang berkas perceraian Adelio dan Rania. Adelia melihat tukang kebun sedang membakar sampah dedaunan di sebuah drum, Adelia berinisiatif menghampiri tukang kebun untuk ikut membakar berkas di pegang nya.


Saat menyadari kedatangannya, tukang kebun hanya tersenyum ramah yang tengah menyelesaikan pekerjaannya.


Inilah jalan terbaik untuk kak Lio dan kak Rania, aku tidak ingin di masa depan kalian menyesalinya. Batin Adelia.


Adelia langsung menjatuhkan berkas perceraian tersebut di atas bara api pembakaran hingga bara api langsung melalap nya.


"Jangan bercerai, haram hukumnya bagi orang-orang yang melakukannya" gumam Adelia sambil menatap berkas perceraian yang sudah hangus terbakar.


Adelia merasa lega bisa menggagalkan perceraian Adelio dan Rania. Adelia lalu melangkah masuk ke rumah utama untuk menemui keduanya.


Sedangkan Adelio dan Rania duduk berhadapan di sofa yang sedang menunggu kedatangan Kendrick. Adelio berdengus kesal melirik Rania yang tengah bersandar santai di sofa. Sementara Rania tampak acuh memainkan hijabnya.


"Kemana saja Kendrick, sudah hampir sejam aku menunggunya" gumam Adelio kesal.


Adelio kembali menghubungi sekretaris nya untuk menanyakan keberadaan nya.


"Kemana saja kau!" cercos Adelio di ujung telepon.


"Saya baru saja tiba di kantor tuan" ucap Kendrick hati-hati.


"Bodoh! mana berkas perceraian nya? aku sedari tadi menunggumu, bahkan kau tidak datang menjemput ku hah!" ucap Adelio kesal sambil mengepalkan tangannya.


"Sebelum ke kantor, saya sempat singgah di rumah tuan untuk membawa berkas perceraian tuan dengan nona Rania dan sekaligus ingin menjemput tuan ke kantor. Hanya saja_"


"Hanya apa bodoh!"


Kekesalan Adelio benar-benar ditunjukkan kepada sekretaris nya.


"Adelia mengatakan bahwa anda yang memintanya untuk mengambil berkas perceraian itu, karena tuan dan nona Rania sedang berunding dan tak ingin diganggu" ucap Kendrick hati-hati dan tahu betul atasannya saat ini kesal.


Tlett.


Adelio mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.


"Ini pasti ulah Adelia!"


Adelio kembali menghubungi kepala pelayan untuk meminta Adelia ke kamarnya. Adelio tidak ingin masalah rumah tangganya merambat ke luar hingga diketahui semua orang di kediamannya.


Tak berselang lama kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar. Adelio sangat tahu siapa orangnya, dia pun melirik tajam Rania sambil mengibaskan tangannya meminta Rania untuk membuka pintu.


Rania segera mengikuti perintahnya untuk membuka pintu kamarnya. Rania membuka pintu dan langsung tersenyum lebar melihat orang yang tengah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Ayo ikut bersama ku" ucap orang itu yang tidak lain adalah Adelia.


"Tapi di dalam_"


Rania bingung mau bilang apa. Sedangkan tangannya sudah di tarik Adelia keluar kamar.


"Kita kunci saja kamarnya dan jangan biarkan kak Lio keluar kamar" gumam Adelia lalu bergegas mengunci pintu kamar tersebut.


"Hei...apa yang kalian lakukan, buka pintunya" teriak Adelio dari dalam.


"Ayo kakak ipar, biarkan saja kak Lio berteriak. Jangan sampai menangkap kita" bisik Adelia dan segera membawa Rania.


Keduanya berlari kecil sambil berpegangan tangan, terdengar tawa riang gembira yang seperti habis memenangkan undian berhadiah.


Darren dan Ziva ikut tersenyum mendengar tawa bahagia keduanya sampai terdengar di meja makan.


"Aku akan mengajak kakak ipar berkeliling di sekitar rumah ini. Tapi tunggu sebentar, aku ingin mengambil bekal sarapan kita" ucap Adelia antusias dan segera berlalu menuju ruang makan.


"Ayah, bunda, maaf aku tidak ikut sarapan bersama kalian. Aku ingin mengajak kakak ipar berkeliling bersama di sekitaran rumah sini" ucap Adelia tersenyum.


"Ooh, kalian semakin akrab saja" ucap Darren tersenyum.


"Adelio mana? mengapa tidak ke kantor? bukankah tadi_" tanya Ziva sambil membawa bekal untuk Adelia.


"Mungkin masih di kamar Bun, ya sudah aku pergi dulu" ucap Adelia cepat-cepat menjauh dari kedua orang tuanya.


Ziva hanya geleng-geleng kepala melihat sikap putrinya m


"Biarkan saja bunda, mungkin Adelia ingin menghibur Rania. Bunda tahu sendiri kan ini hari apa?" ucap Darren sambil menghembuskan nafasnya kasar.


"Sabar bunda, itu sudah menjadi keputusan mereka" ucap Darren sambil mengelus punggung tangan istrinya.


Ziva hanya mengangguk dan kembali menikmati sarapannya yang terasa hambar, mengingat perceraian putranya terlaksana hari ini.


Sementara di kamar, Adelio berusaha mendobrak pintu kamarnya. Adelio sempat menghubungi kepala pelayan untuk mengambil kunci cadangan di kamarnya, namun semua kunci cadangan hilang secara misterius entah siapa yang menyembunyikannya.


Adelio terlihat lelah berkali kali mendobrak pintu kamarnya, dia pun tidak ingin pintu kamarnya rusak karena ulahnya, sehingga memilih menghentikan aksinya.


Adelio terpaksa bekerja dari rumah. Ruang kerjanya menjadi tempat mengubur kekesalannya.


"Adelia, gadis gila! awas kalian" gumam Adelio sambil memeriksa pekerjaannya yang tengah duduk di kursi kebesarannya.


Sementara Adelia dan Rania tampak happy melakukan piknik bersama yang hanya dilakukan di sekitaran rumah. Keduanya tampak duduk bersama di atas karpet kecil sambil menyaksikan pemandangan danau buatan di area kediamannya.


"Aku belum pernah kesini Lia, ternyata tempat ini sangat indah" ucap Rania tersebut.


"Aku juga jarang berkunjung di sini. Semenjak bekerja di rumah sakit, sebulan sekali aku biasa mengajak salah satu pelayan untuk berkunjung di tempat ini. Sebenarnya masih banyak tempat-tempat indah di sini. Dari arah timur terdapat Savana, perkebunan buah-buahan keluarga kami, sayuran hijau dan masih banyak yang lainnya yang bisa dijadikan objek wisata" ucap Adelia tersenyum.


"Kediaman mu seperti negeri dongeng. Aku sangat bersyukur bisa melihat pemandangan indah ini. Lia, sebenarnya hari ini hari terakhir aku berada di kediaman mu. Aku dan kakakku akan pergi sejauh mungkin dari kehidupan keluarga mu" ucap Rania dengan mata berkaca-kaca.


"Maaf jika aku banyak salah dan dosa kepada kamu dan kepada seluruh keluarga mu. Sekali lagi aku minta maaf."


Rania menundukkan pandangannya dan tak ingin kesedihannya di tunjukkan pada Adelia.

__ADS_1


"Jangan katakan itu, mulai sekarang, kakak ipar akan puas menikmati semua ini" ucap Adelia sambil merangkul pundaknya.


"Apa maksudmu?" ucap Rania dengan penuh selidik.


"Ada deh, rahasia. Besok lusa pesta pernikahan ku akan digelar. Aku sangat menunggu kedatangan kakak ipar dan jangan lupa hadiah spesial untuk ku" ucap Adelia sambil mengedipkan matanya.


"Sepertinya aku tidak_"


Adelia kembali menempelkan telunjuknya di bibir Rania untuk tidak melanjutkan ucapannya.


"Jangan katakan itu, semuanya akan baik-baik saja dan seperti sedia kala" ucap Adelia.


Rania memilih bungkam dan tak ingin lagi menimpali ucapan Adelia yang penuh dengan tanda tanya. Keduanya menikmati momen kebersamaannya hingga sore hari.


Malam harinya.....


Seharian penuh Adelio berada di ruang kerjanya, sarapan dan makan siang hanya makanan cepat saji yang mampu dia konsumsi. Seharian bekerja membuatnya penat, bahkan melupakan berkas perceraiannya.


Adelio tampak bersantai di balkon kamarnya menikmati pemandangan indah di malam hari dan belum juga melihat batang hidung Rania.


"Aku ingin ke kamar Lia, aku tidak ingin bersembunyi dari masalah ini. Terima kasih kamu sudah jujur mengatakan semuanya" ucap Rania yang sedang berada di dalam kamar Adelia dan tengah duduk bersama di pinggir tempat tidur.


Ya Adelia sudah menceritakan semuanya perihal berkas perceraian yang sudah di bakar habis dan Rania hanya bisa memaklumi nya.


"Maaf kakak ipar, tapi aku tidak ingin kakak ipar bercerai dengan kak Lio. Tolong pertahankan rumah tangga kalian, aku pikir hubungan kalian sudah ditahap hubungan suami istri" ucap Adelia sambil menunduk yang tidak seharusnya mengatakan semua itu.


Wajah Rania langsung merona merah mendengar ucapan Adelia, entah mengapa kejadian semalam kembali terngiang-ngiang di pikirannya.


"Ayo kakak ipar, aku akan mengantarmu ke kamar dan ikuti saja rencana ku jika ingin berpisah dengan kak Lio" ucap Adelia lalu menarik tangan Rania.


"Tapi_"


Saat di depan pintu kamar, Adelia segera membuka pintu kamar nya menggunakan kunci yang sempat dia sembunyikan. Setelah itu, Adelia mendorong tubuh Rania lalu kembali mengunci pintu kamarnya.


"Adelia apa yang kamu lakukan" ucap Rania sambil memegang handel pintu tersebut.


Sementara Adelio sudah muncul di belakangnya dengan tatapan sulit diartikan yang sedang bersikadap.


"Hemm, baru muncul rupanya" ucap Adelio yang terdengar mengintimidasi.


Rania melangkah mendekati Adelio dengan jantung memompa cepat, semakin mendekat hingga tidak ada jarak dirinya dengan Adelio.


Maaf, aku harus melakukannya.


Rania menarik kerah baju Adelio sambil berjinjit menatapnya dan tanpa basa-basi langsung menempelkan bibirnya di bibir Adelio. Mata Adelio membulat sempurna dengan keberanian gadis gila nya.


Sedangkan Adelia senyum-senyum di dalam kamarnya.


Maaf kakak ipar, aku terpaksa mengakali mu. Batinnya.


Bersambung.....


Jangan lupa like love komen dan vote ya πŸ™

__ADS_1


Terima kasih πŸ™πŸ™πŸ€—


__ADS_2