
"Siapa yang melakukan ini" teriak seseorang yang menggelegar di bawah tangga.
Rania hanya mampu terlonjat kaget memegangi kakinya. Sedangkan tangan satunya memeluk pegangan tangga.
"Aduhh, sakit banget. Mengapa aku jadi ceroboh sih, hampir saja tulang-tulang ku remuk" gumam Rania.
Rania segera berjalan terseok-seok menyeret kakinya menuruni anak tangga. Hingga dia pun berpapasan dengan Adelio di ujung tangga, yang tengah mencekik leher tokek dipegangnya.
"Apa ini ulah mu?" tanya Adelio dengan sorot mata tajam yang siap mencabik-cabik tubuh Rania.
Rania hanya mampu menundukkan pandangannya dan tak berani bersitatap dengan sang majikan. Bahkan tak berani untuk buka suara.
"Apa kau tuli hah!"
Adelio kembali membentak gadis bercadar di hadapannya. Karena tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Maaf."
Hanya itu yang berhasil keluar dari bibir manis Rania.
Aku bahkan tak pernah meminta maaf kepada orang lain, ini benar-benar gila.
Rania bergumam dalam hati mengingat ucapannya barusan. Dia tak menyangka bisa mengucapkan kata maaf dengan entengnya. Padahal kata-kata tersebut begitu mustahil untuk dia ucapkan.
"Dasar bodoh! Buang hewan sialan ini" ucap Adelio kesal sambil melemparkan tokek itu ke arah Rania.
Rania refleks menangkap tokek tersebut tanpa kenal takut ataupun jijik. Sementara Adelio berlalu menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga.
Rania masih saja menundukkan pandangannya hingga yakin bahwa Adelio benar-benar pergi dari hadapannya.
"Sok berkuasa sekali. Emm sebaiknya dia yang menjadi target pertama ku kali ini" gumam Rania.
Setelah itu, dia pun bergegas membuang tokek tersebut di tong sampah.
šššš
Malam harinya....
Adelio terlihat bersiap-siap di dalam kamarnya. Kebetulan dia ada jadwal pertemuan tertutup dengan seseorang. Dia sengaja meluangkan waktunya malam ini, demi bertemu dengan orang tersebut.
Belum beres memakai kemejanya, tiba-tiba ponselnya berdering heboh di atas nakas. Adelio berdengus kesal mengambil ponselnya.
"Kendrick"
Tertera nama Kendrick di layar ponselnya. Adelio segera mengangkat panggilan masuk tersebut.
"Bagaimana? apa lokasinya sudah di tentukan? apa kau sudah bersamanya?" tanya Adelio bertubi-tubi.
"Mohon maaf tuan. Tuan Raka mendadak membatalkan jadwal pertemuan anda. Tadi dia sempat mengabari saya, bahwa dia ingin menjemput ibunya di bandara" ucap Kendrick dengan hati-hati di ujung telepon.
Tlep...
__ADS_1
Adelio menutup panggilan secara sepihak. Dia kembali mencengkeram erat ponselnya, dan tak terima dengan keputusan Raka secara tiba-tiba membatalkan jadwal pertemuannya.
"Ucapannya tak bisa di pegang" ucap Adelio kesal.
Dia sungguh membenci orang-orang seperti Raka yang tak bisa di pegang kata-katanya. Adelio kembali mengetik pesan singkat untuk sekretaris nya.
'Segera buat ulang jadwal pertemuanku dengan si racau. Kalau perlu, besok pagi harus final'
Klik
Dengan menekan tombol kirim, pesan singkat itu terkirim dengan cepat. Tak berselang kemudian, Kendrick membalasnya dengan cepat.
'Saya akan usahakan tuan'
Seperti itu balasan dari Kendrick dengan sedikit memberikan emoticon tersenyum. Adelio dengan kesal kembali membuka satu persatu kancing kemejanya, lalu berganti baju dengan pakaian santai.
Adelio seperti sedang dipermainkan oleh Raka. Dia sudah menduga dari awal akan seperti ini kejadiannya.
"Kak Lio, bunda memanggil mu" teriak Adelia dari luar sambil menggedor-gedor pintu kamar kembarannya.
"Iya, aku akan segera menemui bunda" balas Adelio dari dalam.
Adelia segera berlalu menuju kamar bundanya, kebetulan dia sudah menyampaikan pesan sang bunda.
Tok
Tok
Tok
Tampak Adelia, Ayah dan bundanya duduk bersama di sofa sambil bercanda gurau.
"Kemari nak, ada sesuatu yang ingin bunda bicarakan dengan kamu" ucap Ziva dengan lembut.
Adelio segera mendekat ke arah bundanya dan memilih duduk tepat di sampingnya.
"Lio, bunda mau tanya, apakah kamu setuju jika Lia menikah lebih dulu dari kamu nak?" tanya Ziva sambil menggenggam tangan putranya.
"Apa Lia setuju untuk menikah bunda?" tanya Adelio yang juga balik tanya perihal pernikahan kembarannya.
"Aku kurang setuju kak, kita kan kembar, masa nikahnya sendiri-sendiri. Harusnya barengan juga. Pokoknya Lia mau menikah, kalau kak Lio juga menikah" ucap Adelia.
Darren hanya tersenyum mendengar ucapan putrinya yang terdengar seperti rengekan.
"Apa urusannya dengan ku, sebaiknya kamu menikah saja lebih dulu. Aku belum terpikirkan untuk berkeluarga secepat ini" ucap Adelio menolak.
"Tapi ayah dan bunda ingin kita segera menikah."
Adelio hanya mampu menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu melirik ayah dan bundanya.
"Ayah dan bunda tidak memaksa kalian menikah secepatnya. Hanya saja, mulai sekarang kalian harus pikirkan ucapan kami dengan matang. Lio, kamu anak tertua di keluarga ini, ayah percaya kamu bisa memperkenalkan gadis pilihan mu secepatnya" ucap Darren sebagai penengah pembicaraan mereka.
__ADS_1
Ayah itu sama saja, bahwa ayah meminta kak Lio dan aku untuk segera menikah. Batin Adelia.
"Dan untuk Adelia, bersiaplah sayang. Karena, sebentar lagi lamaran silih berganti akan menghampiri mi. Kamu hanya perlu, setuju atau menolak" ucap Darren tersenyum menatap anak-anaknya.
"Kok bisa yah?" tanya Adelia terkejut.
"Tenang sayang, ayah pasti memilih yang tepat untuk mu" ucap Ziva sambil membelai wajah putrinya.
Adelia langsung diam seribu bahasa. Sedangkan Adelio memijit pelipisnya dengan pelan mendengar ucapan ayahnya. Membantah sama saja menyakiti perasaan kedua orang tuanya, termasuk yang dilakukan Adelia saat ini.
"Baiklah, Lio akan usahakan. Tapi, ayah dan bunda harus menerima apa adanya gadis pilihan Lio" ucap Lio lalu bangkit dari duduknya.
"Wah ternyata Lio ku sudah besar" ucap Ziva dengan senyuman bahagianya.
Darren tergelak tawa mendengar ucapan istrinya. Dia tidak menyangka kejadian ini kembali terulang pada putranya. Dulu, dia juga mendapat tekanan dari sang mama yang memintanya untuk segera menikah. Hingga akhirnya dia dipertemukan dengan anak dari musuhnya sendiri.
Mama, lihatlah cucu-cucu mu sudah besar. Sebentar lagi mereka akan segera menikah. Ku harap mama tetap tenang dan turut bahagia di alam sana.
Darren kembali teringat dengan almarhumah mama tercintanya. Sudah hampir sembilan tahun kepergian orang terkasihnya. Darren hanya mampu mengirimkan doa setiap harinya.
Adelio ikut tersenyum hangat menatap raut wajah bundanya yang tampak bahagia. Walaupun tidak mudah lagi, bundanya masih saja tampak cantik. Pantas saja sang ayah begitu memuji kecantikan bundanya. Hingga kecantikan bundanya juga diturunkan kepada kembarannya, Adelia.
"Aku permisi dulu, selamat malam" ucap Adelio undur diri dari hadapan orang tuanya.
"Selamat malam." Ucap mereka kompak.
Adelia hanya bisa berlapang dada, karena dia yakin keputusan yang diambil oleh orang tuanya. Pastilah yang terbaik untuknya.
Adelio segera keluar dari kamar itu. Dia tidak bisa mengobrol terlalu lama bersama keluarganya. Karena pembahasannya selalu saja menyudutkan dirinya.
Tampak bayangan hitam berlalu di depan matanya. Adelio segera menghentikan langkahnya dan menepi di dinding.
Sosok berbaju hitam lengkap, sedang mengendap-endap di lorong kamarnya dan begitu mencurigakan.
Siapa dia, mengapa berkeliaran di lantai tiga.
Adelio terus menajamkan penglihatannya kepada orang itu, hingga berhasil masuk ke dalam kamarnya.
"Sial, berani-beraninya memasuki kamar ku" gumam Adelio, lalu berjalan cepat menuju kamarnya.
Adelio masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa dengan teliti setiap sudut kamarnya. Dan sama sekali tidak menemukan apa-apa.
"Kemana perginya orang itu" ucap Adelio kesal sambil mengepalkan tangannya.
Sedangkan orang itu sedang bersembunyi di balkon kamarnya.
Jangan kemari bodoh, aku bisa membunuhmu segera.
Orang itu membatin mendengar langkah kaki seseorang semakin mendekat ke arahnya.
Bersambung......
__ADS_1
Jangan lupa like, love, komen dan vote nya teman-teman š¤
Terima kasih ššš