Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2

Mafia Vs Gadis Bercadar Season 2
Perdebatan ayah dan anak


__ADS_3

Seminggu sudah Adelia di rawat di rumah sakit terbaik negara A, kondisinya belum ada kemajuan. Seluruh keluarga besarnya begitu bersabar menjaganya, saling bahu-membahu dan yang terpenting selalu mendoakan kesembuhan nya.


Doa bersama dan menyantuni anak yatim telah dilakukan orang tua Adelia. Karena kekuatan doa tak bisa dipandang sebelah mata. Doa anak yatim begitu cepat diijabah oleh Tuhan. Dengan dikelilingi orang baik, semoga Adelia bisa terbangun dari tidur panjangnya.


Adelio bergantian dengan orang tuanya menjaga Adelia. Terkadang dia menjaga Adelia di malam hari ataupun di pagi hari. Untuk urusan pekerjaan, sudah beberapa hari ini, Adelio berangkat ke kantor dan tetap saja pikirannya selalu saja tertuju pada kembarannya yang tengah terbaring koma.


Seperti sebelum-sebelumnya, hari ini Adelio terlebih dahulu menjenguk kembarannya sebelum ke kantor. Lagi-lagi dirinya kedualuan dengan Malfin. Dengan terpaksa dirinya memilih duduk di kursi tunggu. Tak berselang lama kemudian muncullah sang ayah sambil menenteng 2 buku dengan sampul bertuliskan lafadz Allah.


“Ayah, dari mana saja?” tanya Adelio sambil bangkit dari duduknya.


“Ayah habis beli buku sebagai pengantar tidur Lia” ucap Darren tersenyum, lalu segera duduk di kursi tunggu.


Adelio ikut duduk di samping ayahnya. Mereka hanya saling diam, hingga Darren memilih angkat bicara.


“Bagaimana keadaan istrimu, apa dia baik-baik saja?” tanya Darren, karena seminggu ini dia jarang pulang ke rumah. Bahkan tak pernah menjumpai menantunya.


“Dia baik yah” ucap Darren acuh.


“Ayah butuh bicara denganmu, tapi tempat ini tak cocok untuk kita bicara berdua” ucap Darren dan terdengar tegas.


Adelio menghela nafas panjang, lalu menggangguk setuju dengan ucapan ayah nya. Mereka lalu berjalan bersama-sama keluar dari rumah sakit. Ayah dan anak itu lebih memilih ke sebuah restoran mewah yang cukup private.


Kini Adelio duduk bersama dengan sang ayah di sebuah ruangan private. Mereka duduk berhadapan yang disuguhkan minuman hangat dengan roti bakar. Entah apa yang akan mereka bicarakan saat ini. Tatapan ayah dan anak itu sama-sama tajam dan mengintimidasi satu sama lain.


“Apa yang ingin ayah bicarakan kepadaku?” ucap Adelio yang tidak ingin berbasa-basi.

__ADS_1


“Sekarang kamu harus jujur. Apa kamu dalang dari kehancuran keluarga Rania?” tanya Darren dengan tatapan tegasnya.


“Mengapa ayah berkata seperti itu? dan tak perlu ikut campur dengan urusanku!” ucap Adelio tegas sambil menatap tajam ayah nya.


Sungguh dia menduga bahwa ayahnya sudah mengetahui semuanya. Pantas saja, Raka dan Min diam-diam dibebaskan dari markasnya dan tengah menjalani pengobatan di klinik di kediamannya pula.


Sudah beberapa hari, Adelio terus menyudutkan Malfin dan Kendrick atas kerjanya yang tidak becus. Namun keduanya hanya mampu angkat tangan. Karena mereka tak bisa berbuat apa-apa jika kedua mantan ketua Mafia The Tiger yang Berjaya dimasanya lah yang sedang turun tangan membebaskan mereka, yakni ayah dan pamannya.


“Tak seharusnya kamu dendam kepada istrimu beserta keluarganya. Bukankah keluarga Rania sudah menjadi bagian dari keluarga kita, tak seharusnya kamu menghancurkan hidup mereka. Kamu sudah menghancurkan perusahaan keluarga Rania, kamu menyembunyikan ibu Rania sejauh mungkin dan terlebih lagi menyiksa kakak Rania."


" Apa dengan cara seperti itu Adelia bisa terbangun dari koma nya hah! Ayo jawab ayah” ucap Darren sambil memegang kerah baju putranya yang sudah terpancing emosi.


“Mereka yang membuat Adelia terbaring koma dan aku tidak bisa mengampuninya ayah!” ucap Adelio sambil mengepalkan tangannya.


“Apakah kejahatan harus dibalas dengan kejahatan? Apa dengan cara membunuh mereka semuanya akan sama?. Apa dendam bisa membuatmu hidup tenang! Ayah sadar, ayahlah yang bersalah di sini, sampai sifat ayah menurun kepadamu” ucap Darren sambil melepaskan tanggannya dari kerah baju putranya.


“Jangan pernah mengganggu keluarga Rania, sekarang mereka sudah menangung akibatnya. Dan ayah bertanggung jawab melindungi mereka” ucap Darren sambil memijit keningnya.


Adelio hanya mampu diam seribu bahasa, dia tak menyangka ayahnya berterus terang mengatakan bahwa melindungi keluarga Rania, musuhnya sendiri. Jelas-jelas merekalah yang melakukan balas dendam kepada Adelia. Adelio tak mengerti jalan pikiran ayahnya saat ini.


“Berdamai lah dengan masalah ini, insya allah semua pasti ada hikmahnya. Hiduplah tenang seperti burung bangau yang selalu terbang tinggi bersama-sama dengan keluarganya dan belajarlah seperti air yang selalu saja mengalir dengan sendirinya dengan arah tujuan yang sama” ucap Darren sambil menghembuskan nafasnya kasar.


Darren kemudian bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan putranya di restoran tersebut. Adelio langsung mengusap wajahnya dengan kasar, dan tak lupa menggebrak meja di hadapannya.


“Argghhh, ayah selalu saja ikut campur!” ucap Adelio yang langsung meluapkan kekesalannya.

__ADS_1


Sementara di ruang perawatan Adelia. Malfin beserta bunda Ziva tengah membersihkan ruangan tersebut. Walaupun jasa petugas kebersihan kerap kali membersihkan ruangan itu, tapi tetap saja bunda Ziva turun tangan demi kenyamanan putrinya di ruangan tersebut. Setelah selesai, mereka bergegas mencuci tangan dan mengganti kembali pakaian steril di ruangan tersebut, demi kesterilan di ruangan itu tetap terjaga.


Malfin kembali menghampiri Adelia, dia tersenyum menatap Adelia yang seperti hanya tertidur pulas. Malfin dengan hati-hati menarik kursi di samping tempat tidur Adelia, lalu dia pun segera duduk di kursi tersebut. Malfin kembali menggenggam tangan Adelia dan tanpa sadar mengecup punggung tangan Adelia dengan mesra.


“Tolong bangunlah, aku merasa bersalah seumur hidupku melihatmu seperti ini. Lia asal kau tau, aku sangat merindukan tawamu dan tingkah malu-malu mu terhadapku” ucap Malfin dengan mata berkaca-kaca.


“Lia sebentar lagi kita akan segera menikah, apa kau hanya ingin terus terbaring di sini? Tidakkah kau mengerti perasaanku? Baiklah aku akan mengatakan sejujur-jujurnya bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu karena aku mulai menyukaimu” ucap Malfin hingga air matanya menetes dengan sendirinya mengenai punggung tangan Adelia.


Malfin menundukkan pandangannya sambil terus menggenggam tangan Adelia dan sesekali menciumnya dengan penuh kasih sayang.


Seolah keajaiban Tuhan datang menghampirinya, air mata Adelia ikut menetes mendengar ucapan Malfin. Seolah Adelia mendengar seluruh isi hati Malfin saat ini. Gerakan tangan yang berada dalam genggaman Malfin, membuat Malfin terhentak kaget hingga mendongak menatap pergelangan tangan Adelia. Terlihat jemari tangan Adelia mulai bergerak pelan.


Malfin langsung tersenyum tidak percaya melihat semua itu. Dia pun segera menekan tombol segi empat yang tertempel di dinding samping tempat tidur Adelia. Terdengar bunyi alaram sebagai tanda untuk memanggil dokter yang menangani Adelia. Ziva yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung menghampiri mereka.


“Adelia bi, Lia bisa menggerakkan tangannya” ucap Malfin antusias.


Bunda Ziva langsung tersenyum dengan perasaan haru dan penuh syukur, dia pun ikut memastikan melihat gerakan tangan yang dilakukan oleh putrinya.


“Masya Allah, terima kasih ya Allah. Semoga putriku cepat sembuh” ucap Ziva dengan rasa syukur.


Tampak dokter dan perawat berjalan terburu-buru menuju ruang perawatan Adelia. Adelio sempat terheran-heran melihat para medis tersebut berjalan menuju ruang perawatan kembarannya. Tanpa pikir panjang, dia pun ikut menyusul mereka.


Bersambung......


Semoga teman-teman semua puasanya lancar 😊

__ADS_1


Jangan lupa like, love komen dan vote ya 🤗


Terima kasih 🙏🙏🙏


__ADS_2