
Adelio berjalan beriringan dengan Kendrick melewati lautan manusia yang tengah berhura-hura diiringi musik yang terus menggema di lantai dasar club malam Claro.
"Hai tuan tampan, yuk gabung bersama kami" ucap wanita cantik tersenyum manis sambil menghalangi jalan Adelio.
Sorot mata Adelio begitu tajam menatap wanita cantik di hadapannya, hingga aura-aura dingin menyelimuti di sekitarnya. Wanita cantik itu hanya mampu tersenyum kikuk yang sudah tak memiliki keberanian untuk menggoda Adelio.
Kendrick yang berada di sampingnya hanya mampu melihat situasi disekitarnya dan tak ingin ikut campur dengan urusan atasannya.
Sedang Adelio kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar club malam Claro. Adelio sudah muak berada di tempat hiburan malam tersebut. Kendrick segera membukakan pintu mobil untuk atasannya. Adelio bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk tenang di kursi belakang.
Kemudian disusul Kendrick yang menempati kursi kemudi. Semuanya aman, Kendrick melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Disepanjang perjalanan tak ada obrolan diantara mereka berdua hingga tiba di kediaman Alexander.
"Kau sudah bekerja keras hari ini. Pulang lah beristirahat" ucap Adelio kemudian turun dari mobil nya.
"Baik tuan" ucap Kendrick sambil mengangguk patuh.
Kepala pelayan dan dua pelayan wanita menyambut kedatangan Adelio. Sikap acuh selalu saja ditunjukkan Adelio kepada mereka. Adelio melangkahkan kakinya menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga.
Suasana rumah utama tampak sepi, sepertinya kedua orang tuanya sudah tertidur. Mengingat dirinya pulang di larut malam begini. Adelio meregangkan otot-ototnya berjalan menuju kamarnya.
Saat berada di depan pintu kamarnya, dengan pelan Adelio membuka pintu kamarnya. Hanya lampu tidur yang menerangi kamarnya. Adelio segera mengambil remote control untuk menyalakan lampu penerang di dalam kamarnya.
Adelio mengedarkan pandangannya ke arah tempat tidur. Tampak Rania sudah meringkuk di atas tempat tidur sambil memeluk guling. Adelio membuka jasnya lalu melemparkannya ke sofa. Kemudian berjalan membuka lemari pendingin. Mengambil satu kaleng minuman sari buah lalu meneguknya hingga tandas.
Adelio kembali melirik ke arah tempat tidur, dimana sosok wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya sudah tertidur pulas. Adelio menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati tempat tidur.
"Berani-beraninya gadis gila ini tertidur pulas, bahkan tidak menunggu ku pulang" gumam Adelio sambil duduk di pinggir tempat tidur.
Adelio memandangi wajah cantik Rania yang tengah tertidur pulas. Adelio tersenyum tipis menutup mulutnya tak percaya dengan sikapnya saat ini.
Dia pun kembali memandangi wajah Rania. Tangannya mulai membelai lembut wajah Rania hingga ucapan Alfhat terlintas di pikirannya.
Adelio dengan kesalnya mencubit hidung mancung Rania. Tak ada reaksi yang dilakukan istrinya, Adelio segera menghentikan aksinya, lalu mendekatkan wajahnya ke wajah Rania. Tanpa rasa canggung, Adelio langsung mencium kening Rania.
"Kau milikku dan hanya milikku" gumam Adelio sambil membelai wajah Rania.
__ADS_1
Adelio kembali berpindah mencium kedua mata Rania, hidung dan terakhir mencium mesra bibir Rania ya sudah membuatnya candu. Adelio terus mengoceh menyebut Rania sebagai miliknya.
Cukup lama Adelio mendaratkan ciumannya di bibir manis Rania, hingga Rania menggeliat dan merasakan sesuatu menimpa tubuhnya. Rania mampu merasakan benda kenyal menyapu bibirnya. Betapa terkejutnya dirinya melihat seorang pria berada di atas tubuhnya.
Rania langsung memukul kepala pria tersebut. Kedua bola matanya ikut membulat sempurna yang belum melihat rupanya. Dan akhirnya pria itu melepaskan ciumannya.
"Hah hah.... pencuri!!!" teriak Rania dengan nafas memburu.
"Awwww" Rania memegangi keningnya yang baru saja dijitak pria tersebut.
"Akkhhh, hei....dasar pencuri, kamu kembali menggigit leher ku" ucap Rania dengan kesalnya yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya.
Adelio mendongak menatapnya, membuat Rania membelalakkan matanya.
"Kamu...su-suamiku!_"
"Hemm."
Adelio menatapnya dengan tatapan dingin.
Adelio tergelak tawa mendengar omelan istrinya. Rania mengerutkan keningnya melihat tingkah laku Adelio kepadanya.
"Kau milikku" ucap Adelio menyeringai sambil menunjuk kening istrinya.
"Hah..ya.ya... aku memang milik mu tuan Adelio, tapi sebaiknya kamu menjauh dari tubuhku" ucap Rania dengan mata melotot sambil memukul lengan Adelio.
Karena aku cemburu mencium parfum wanita di kemeja mu. Batin Rania.
Adelio tak bergeming di atas tubuhnya. Jantung Rania kembali berdebar-debar tak karuan ditatap oleh suaminya. Adelio kembali membelai wajahnya hingga tangannya mulai menyentuh rambut panjang Rania.
Rania hanya mampu memejamkan matanya hingga merasakan tangan Adelio menarik rambutnya kemudian turun membelai leher belakangnya.
"Hapus tato di lehermu. Aku tidak suka bekas pria lain masih menempel di tubuh mu!" ucap Adelio dingin sambil berbisik di telinga istrinya.
Rania menggigit bibir bawahnya mendengar ucapan Adelio. Sementara Adelio sudah mengeluarkan sifat aslinya, tak suka jika wanitanya masih menyimpan masa lalunya.
"Aku memberi mu waktu esok hari, jika tato ini masih menempel di lehermu! maka aku sendiri yang akan membakarnya" ucap Adelio dingin lalu menggigit telinga Rania.
__ADS_1
Rania hanya mampu diam seribu bahasa dengan nyali menciut. Kemudian Adelio menempelkan kartu black card di kening Rania. Rania memicingkan matanya mengambil kartu tersebut.
"Gunakan kartu ini untuk menghapus bekas pria brengsek itu. Kendrick yang akan mengantar mu" ucap Adelio dengan tegas.
Rania tersenyum melihat kartu black card pemberian suaminya.
"Terima kasih, aku akan menyimpannya baik-baik" ucap Rania tersenyum. "Apa kamu cemburu dengan tato di leherku tuan Adelio?" tanya Rania.
"Cemburu! tak ada kamus bagiku untuk cemburu" elak Adelio dengan wajah kesalnya.
"Ayo, jujur saja, wajahmu memerah" goda Rania sambil tergelak tawa.
"Kau terlalu cerewet, persiapkan dirimu, aku menginginkan mu" ucap Adelio menyeringai.
"Nggak bisa, kamu bau parfum wanita, sana menjauh dari tubuhku" tolak Rania sambil mendorong tubuh Adelio.
Adelio sama sekali tak mendengar ucapannya, Adelio menginginkan tubuh Rania sekarang juga. Mau tak mau Rania menjadi pasrah saat Adelio mulai melancarkan aksinya mencium mesra bibirnya. Tak mungkin baginya menolak ajakan suaminya yang ingin membawanya menjelajah bersama menuju surgawi.
"Hei tunggu, jangan disobek. Ini piyama tidur pemberian bunda" ucap Rania dengan wajah memelas yang berhasil menghentikan aksi Adelio.
Adelio menjadi gemes melihat tingkah Rania, lalu kembali membungkam bibirnya, wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya.
Kau wanita ku dan hanya milikku selama-lamanya. Batinnya.
Malam panjang bagi pasangan suami istri itu melaksanakan urusan malam nya. Mereka masih saja terjaga demi memadu kasih bersama. Walaupun mereka belum sepenuhnya yakin dengan perasaannya masing-masing, tapi biarlah waktu yang akan menjawabnya.
Adelio menghentikan aksinya dan terlihat jelas wajahnya begitu puas menuntaskan hasratnya. Rasa lelahnya terbayarkan sudah dengan jatah malam yang diberikan oleh istrinya. Adelio tersenyum sambil membelai rambut panjang Rania, sedangkan sang empunya sudah tertidur pulas.
Adelio lalu menyelimuti tubuh Rania. Kemudian memilih turun dari tempat tidur. Adelio memunguti pakaiannya lalu berjalan menuju kamar mandi.
Waktu sudah menunjukkan dini hari. Adelio masih saja melaksanakan ritual mandinya. Setelah selesai, Adelio segera keluar dari kamar mandi dan berlalu masuk ke ruang ganti.
Kini Adelio sudah mengenakan piyama tidur nya. Adelio dengan hati-hati naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Adelio menarik tubuh istrinya masuk dalam pelukannya, kemudian ikut memejamkan matanya mengikuti mimpi indah istrinya.
Bersambung....
Terima kasih atas dukungannya teman-teman ššš
__ADS_1